
Bab 14.
Malam ini dilalui Zara dengan perasaan yang sangat hampa. Dia membiarkan saja dirinya tidur di atas kursi panjang dekat kolam renang untuk menikmati kesunyian. Termenung sendiri dalam kalut dan sepi. Larut dalam perasaan. Rindu dalam jiwa tanpa makna.
Dalam hidup, Zara juga pernah mencintai dan dicintai oleh seseorang. Tapi sayang, mereka harus berpisah karena Tuhan mereka berbeda.
Butuh waktu yang lama Zara menyembuhkan luka karena bukan hal yang mudah untuk melupakan pria tersebut. Sekarang, dia mulai bisa mencintai seseorang lagi setelah membiarkan hatinya terlalu lama kosong. Walaupun kali ini Tuhan mereka sama, namun nyatanya, Tuhan masih belum menghendaki dia berbahagia dengan pilihan hatinya. Sering kali Zara berpikir, salahnya di mana? Kenapa nasibnya sedemikian buruk?
Karena malam semakin dingin, Zara pun masuk ke dalam kamarnya. Dia berniat untuk mengambil hoodie yang hangat. Namun pada saat ia membuka lemari, dia malah justru menemukan jaket Rayyan terlipat rapi di sana. "Aku lupa belum mengembalikannya. Tapi kalau aku kembalikan sekarang, aku takut jadi buntut masalah. Jadi, aku biarkan dia di sini untuk menemani hari-hariku. Kuharap, ini bukan jaket kesayanganmu."
Matanya tiba-tiba mengembun tanpa ia kehendaki, mengingat kenapa jaket ini bisa terbawa padanya. Perlahan, dia pun menyentuh dan memakaikan jaket itu sebagai pengobat rindu.
“Besok hari pernikahanmu, Ray. Jadi biarin malam ini aku peluk bayanganmu sebelum hal ini dilarang. Aku sayang sama kamu, Ray. Sayang banget ....” Zara memejamkan matanya sembari merentangkan tangan. Dia bergerak seolah-olah dirinya tengah memeluk objek bayangan tersebut, kemudian berputar-putar dan berakhir rebah di atas ranjangnya. “Maaf aku lancang panggil nama kamu.”
Sedang di seberang sana, Rayyan seperti terpanggil pada saat Zara menyebut namanya. Batinnya seolah tersentak karena matanya tiba-tiba terbuka pada saat teringat wanita itu. “Zara ... kenapa aku memimpikannya?”
Dalam mimpinya, Rayyan melihat gadis itu berdiri di atas perahu, sendiri dan semakin menjauh. Sedang dirinya dipinggir sungai dan hanya bisa melihat tanpa bergerak. Tapi anehnya, tatapan Zara begitu menyedihkan.
“Apa arti dari mimpiku tadi?”
Namun Rayyan sama sekali tidak bisa mengartikan mimpi tersebut dan baru akan ia sadari setelah beberapa lama kemudian. Yakni setelah semuanya benar-benar terjadi dan dia menyesalinya.
Sementara Zara sendiri, tengah menghubungi Grace di malam-malam seperti ini untuk menyampaikan sesuatu.
“Ape, Lu ngehubungin Gue malem-malem? Ganggu aja,” ujar Grace terdengar setengah kesal, “jangan bilang mau minta tolong, ye. Aku nggak mau, ini sudah hampir pagi.”
“Nggak, kok, Grace. Aku Cuma mau ngasih tahu sesuatu aja sama kamu.”
“Ya apa, buruan.”
__ADS_1
“Besok aku mau tetap datang ke nikahan Ustaz Ray sama Hamidah.”
“Hah, yang bener? Serius, kamu, Zar? Bukannya kemarin kamu bilang—”
“Aku tahu,” potong Zara, “aku berubah pikiran.”
“Kamu ini gimana, sih!” panggilan terputus. Sepertinya Grace sangat marah. Namun Zara tak peduli dan tetap pergi ke sana walau sendiri. Ini untuk membuktikan diri kepada beberapa orang bahwa di antara mereka memang tidak pernah ada hubungan. Dan Zara akan bersikap tegar untuk itu.
Keesokan paginya, Zara membuka lemari dan mengambil salah satu abaya pesta dari dalam lemarinya. Setelah memilih, dia juga mengeluarkan pleated shawl berwarna senada dan memakainya usai memakai make up. Cantik dan elegan terlebih dengan tubuhnya yang tinggi, membuatnya semakin terlihat sempurna.
Tak peduli Grace marah padanya, dia tetap datang dengan membawa undangan yang diterimanya kemarin. Tapi di luar dugaan, dia malah melihat Grace sudah berada di depan rumah dengan memakai pakaian laki-laki. Sebab dia tak ingin Zara merasa sendiri.
“Aku akan selalu ada untukmu dan bisa menjadi siapa pun yang kamu butuhkan. Dalam kondisi bagaimana pun.”
“Thank you, Grace.” Zara tersenyum penuh rasa terima kasih.
“Panggil aku Ilham Nur Fasad.”
🌺🌺🌺
Rayyan sudah sampai di pelataran masjid tempat dilaksanakannya acara pernikahan mereka. Pun dengan semua keluarga yang turut hadir menyaksikan akad nikah sederhana ini—yang mengundang sekitar kurang lebih hanya seratus orang saja. Serta dilarang mengambil gambar terkecuali fotografer wedding yang memang mereka sewakan.
“Masih lama sampainya, Kak?” tanya Mauza kepada bermaksud menanyakan Hamidah dan rombongan keluarganya.
“Sebentar lagi, lagi nyebrang,” jawab Rayyan.
Mauza mengangguk, begitu juga dengan orang tua mereka yang bernapas lega setelah mendengar bahwa calon pengantin perempuan sudah dekat. Sebab acara ini sudah mulur setengah jam lamanya demi menunggu mereka.
“Kenapa bisa telat katanya?” Yudha juga bertanya kepada istrinya.
__ADS_1
“Macet katanya, Mas.”
“Oh ....”
Tak berapa lama, terlihat satu rombongan keluarga memasuki pelataran masjid. Terutamanya Hamidah yang mengenakan warna pakaian senada dengan calon suaminya. Wanita itu menampilkan senyum bahagia saat disambut oleh keluarga calon mempelai pengantin pria.
Namun, kini tatapan mereka bukan hanya fokus kepada Hamidah—tetapi kedatangan seorang wanita yang mengenakan purdah bersama seorang pria di sampingnya, hingga Rayyan pun ikut terpana.
Meski begitu, Rayyan sangat mengenali dua bola mata sipit yang menatap ke arahnya. Semakin mengecil karena terhimpit senyuman. Dan yang membuatnya sakit adalah, dia datang bersama seorang laki-laki gagah di sampingnya. Hampir tak mengenali karena tampilan Grace saat ini sangat berbeda sehingga membuatnya berpikir, apakah dia calon suaminya? Ia tak paham, kenapa hatinya terasa aneh dan entah kenapa, dia tak menyukai perasaan ini.
“Siapa yang mengundangnya?” tanya Rayyan pada kepada Sang Adik, yakni Umar.
“Meneketehe?” jawab Umar tak acuh, “tapi kalau nggak ada yang ngundang, mana mungkin dia bisa datang ke sini?”
Benar juga, batin Rayyan tak menampik.
Pun sama dengan yang Vita gumamkan kepada suaminya, “Kenapa Zara ada di sini, Mas?”
“Bukannya mereka saling mengenal? Mungkin dia di undang oleh anak kita,” jawab Yudha mengira demikian. Dia selalu berpikir positif.
Hamidah dan Zara duduk di tempat yang berbeda. Zara di sebelah kiri paling ujung—sementara Hamidah duduk tak jauh dari Rayyan beserta penghulu dan para saksi.
“Apa acaranya bisa langsung dimulai?” tanya Pak Penghulu hingga tatapan semua orang fokus kepada kedua sosok mempelai.
“Bisa, Pak,” jawab Umar mewakili mereka semua. Sebab tak ada yang menjawab sekalipun calon pengantin itu sendiri. Huh, geramnya.
“Ustaz Ray, apa sudah siap?” tanya Penghulu lagi.
Anggukkan kepala dari Rayyan dan jawaban siapnya membuat semua orang bernapas lega—terutama Hamidah.
__ADS_1
“Bismillahirrahmaanirrahiim....”
Suasana begitu khidmat pada saat penghulu mulai membacakan doa. Grace menoleh kepada Zara untuk memastikan keadaannya sekarang. Ternyata di luar dugaannya, dia terlihat sangat tegar seperti tak pernah terjadi apa pun padanya. Bukankah dia wanita yang hebat?