
137
Semua orang keluar saat jenazah si kecil Fero sedang di urus. Tidak ada kata-kata yang terucap di antara mereka selain merasai kesedihan yang menyiksa.
Kehilangan buah hati tercinta adalah kejadian sekejap yang dapat membuat hati berubah menjadi gelap gulita.
Ini adalah mimpi buruk bagi Andrea. Sebuah bencana yang sangat besar sedang dialaminya. Dia hampir tidak bisa mengatasi perasaannya saat membayangkan seperti apa hari esok tanpa Fero lagi.
Tak ada yang bisa lagi dia peluk, tak ada yang bisa dia kecup, dan tak ada lagi yang menyambut kepulangannya dengan wajah cerianya. Bahkan de sahan napasnya pun tak akan pernah bisa lagi Andrea rasakan.
Kesedihan menyelubungi hati dan jiwanya. Mengingat anaknya tak mempunyai kesempatan untuk tumbuh besar, bermain, bersekolah, mengaji, melakukan apapun yang menjadi hobinya, meraih cita-citanya dan lain-lain seperti seorang anak pada umumnya.
Seandainya dia dapat memilih ... tetapi itu tidak mungkin. Karena Tuhan pasti punya maksud dan tujuan tertentu, kenapa dia masih diberi kesempatan untuk tetap hidup di antara kedua orang tercintanya yang sudah menghadap lebih dulu.
Vita dan Yudha mendekati anaknya, masing-masing duduk sebelah kanan dan kiri.
“Mama mengerti perasaanmu, pahami dulu semua sebelum kamu menghakiminya,” ujar Vita merangkul sang anak. “Tak pantas bersikap menyalahkannya di saat mereka sedang berduka.”
Zunaira hanya diam saja. Hanya air matanya lah yang berbicara.
“Kita akan bicarakan nanti kalau waktunya sudah tepat. Sekarang, kita antar mereka ke rumahnya, ya,” imbuh Vita lagi.
Semuanya beranjak pergi. Yudha dan Vita mengikuti mobil ambulan yang melaju di depannya. Menuju ke rumah duka.
Sesampainya di sana, rumah Andrea sudah ramai para pelayat. Zunaira dan Vita mengambil tempat duduk, sementara Yudha mengambil air wudhu di tempat yang disediakan untuk ikut menyolatkan jenazah.
∆∆∆
“Turut berduka cita, Pak Andre. Bersabarlah, kamu tidak kehilangannya. Fero anak yang masih suci, insyaallah dia yang akan menemuimu dan menolongmu di akhirat kelak,” kata orang tua yang dipanggil ustaz itu.
__ADS_1
Andrea mengangguk dan mengucapkan rasa terima kasihnya pada beliau. Sebelum kemudian, dia menundukkan lagi pandangannya ke gundukan tanah yang sudah menjadi tempat keabadian putra tercintanya. Tepat di samping makam almarhumah sang istri.
Yudha dan Vita pun mendekat. Mengucapkan belasungkawa nya dan berpamitan karena hari sudah mulai menggelap dan hari hampir hujan.
“Terima kasih atas kedatangannya, Om. Maafkan saya,” ujar Andrea menatap kedua orang yang akan menjadi mertuanya tersebut.
“Sama-sama, Ndre,” jawab Yudha dan Vita bersamaan.
“Ayo pamit sama Om dan Tante dulu, Sayang,” titah Vita terhadap anak bungsunya yang sedari tadi memilih diam saja.
“M-Mas Andre, Om, Tante, kami pulang dulu,” ujar Zunaira dengan senyum yang dipaksakan. Tak semudah itu dia melupakan bahwa Andrea telah membohonginya. Apapun alasannya, sungguh tak dibenarkan menyembunyikan status dengan cara demikian. Apalagi pembohongan ini dilakukan dengan cara bersama-sama. Ya Tuhan ... kenapa semua orang begitu jahat padanya?
“Iya, Nai. Bu Vita, Pak Yudha, terima kasih dan hati-hati dijalan,” balas Bu Wongso dan suaminya.
Ketiganya memasuki mobilnya dan mobil melesat arah jalan pulang.
Dan diperjalanan lah, Zunaira menanyakan, kenapa mereka sudah datang lebih dulu ke rumah sakit sebelum dirinya. “Apa Papa sama Mama di kasih tahu sama mereka?”
“Tapi pas kita selesai bahas, Andre bilang anaknya harus dibawa ke rumah sakit lagi karena keadaannya semakin parah. Menurut cerita yang kami dengar, Fero itu kena RSV. Virus yang menyerang saluran pernapasan yang sudah dia derita semenjak umur satu tahun.”
“Kalau Mama tahu semuanya kenapa Mama nggak pernah cerita sama aku, Ma?” tanya Zunaira menyesali keadaannya.
“Sebenarnya, kami juga nggak tahu semenjak awal,” jawab Vita mulai menjelaskannya, “Pak Ibra, istrinya dan Andrea sendiri jujur pada saat hari pernikahan Mauza. Kita ngobrol di sana waktu itu. Tapi ... kami memilih untuk menyembunyikannya dulu dari kamu karena pasti akan seperti ini kejadiannya. Jadi kami tunggu waktu yang tepat.”
“Sampai kapan, Ma?” sela Zunaira menahan rasa sakitnya dibohongi oleh banyak orang, “sampai kami menikah dulu?”
“Nggak seperti itu maksud kami, Sayang,” sanggah Vita karena dugaan tersebut tidaklah benar. “Kami hanya nggak mau kamu gagal lagi. Karena kami lihat ... kamu sudah mulai punya perasaan sama Andrea. Dan Andrea juga sama-sama baru jatuh cinta lagi setelah istrinya meninggal saat melahirkan anak pertamanya. Kalian punya luka yang hampir sama. Jadi kami pikir, kalian bisa saling mengobati satu sama lain dalam sebuah hubungan.”
“Jadi Andrea juga takut kamu pergi juga setelah dia jujur,” sahut Yudha sembari fokus ke arah jalanan yang sudah mulai di guyur hujan. “Bukannya kami mendukung Andrea berbohong, sama sekali tidak. Tadi Mamamu sudah menjelaskan.”
__ADS_1
“Dia sudah mengaku bersalah karena nggak jujur dari awal sama kita. Orang tuanya juga. Mereka khawatir kamu membatalkan pernikahannya. Padahal, mereka sudah begitu berharap.”
Vita menggenggam tangan putri bungsunya, “Maafin Andrea, Sayang. Dia itu sebenarnya laki-laki baik. Dia jadi pendiam seperti itu karena masa lalunya yang kelam. Bicaralah kalian berdua. Andrea akan menjelaskan semuanya sama kamu.”
“Ini nggak masuk akal, Ma. Justru dengan cara seperti ini yang membuat aku malah jadi semakin kecewa. Bukan apa-apa, ini soal kepercayaan,” kata Nai angkat bicara.
“Ya, Mama tahu seberapa kecewa kamu. Tapi jangan jadikan ini sebagai alasan kalau kamu akan menjauhinya. Kamu dan Andre hanya butuh ruang waktu, bukan untuk berpisah. Pikirkanlah baik-baik.”
Jeda beberapa detik, Vita melanjutkan, “Kamu harus tahu Sayang. Nggak semua kisah berawal indah. Pun sebaliknya. Jadi sebagai manusia, kita harus bisa mempersiapkan diri. Menerima apapun yang Tuhan berikan.”
Zunaira terdiam. Entahlah. Dia masih terlalu sakit menerima kenyataan yang sebenarnya sehingga ia tak dapat berpikir dengan jernih.
Sementara itu di tempat lain, Andrea baru saja melangkah meninggalkan makam. Dia berbalik badan. Tersenyum dan mengatakan bahwa ia mencintai anaknya, selalu.
Sesampainya di rumah, dia pun segera menghubungi Zunaira. Berniat untuk sekadar menanyakan bagaimana keadaannya sekarang. Meskipun seharusnya Nai yang melakukan, bukan dia. Karena di sini, dialah yang sedang dalam keadaan kemalangan.
Namun baru saja Andrea memanggil, teleponnya langsung dimatikan dan menyusul pesan yang menyakiti hati.
Z: tolong jangan hubungi aku dulu. Aku masih butuh waktu. Aku harap kamu ngerti maksudku, Mas Andre.
“Padahal aku sedang membutuhkanmu,” gumamnya menarik senyum skeptis. Inilah yang dia takutkan semenjak awal. Karena sekarang hubungannya sudah menunjukkan tanda-tanda keretakan.
Untuk ke sekian kali dia ragu akan hubungan ini. Tak yakin bahwa rencana pernikahannya akan tetap berlanjut.
Bersambung.
Warning!!
Aku ucapin selamat buat Mbak berbi kamu dah dilaporkan ke polisi sama salah satu author Dewi Kim, ya.
__ADS_1
#Sebelumakunnyaberbimenghilang