
112
Gadis itu sempat menolak, bahkan memberontak dan hampir teriak hingga Sammy harus meredam suaranya dengan kedua tangan. Namun, setelah Sammy iming-imingi bahwa dia hanya ingin menyampaikan berita yang sangat penting, akhirnya Mauza mau menurut padanya saat dia bawa kabur ke suatu tempat.
“Pergi sebentar ya, Pak. Jangan bilang-bilang sama Papa kalau aku pergi. Aku ada kepentingan sama orang ini,” Mauza memberitahu security yang tengah berjaga di pintu gerbang.
“Aku janji nggak akan buat macem-macem,” begitu yang Sammy katakan berulang-ulang saat mereka diperjalanan agar Mauza yakin padanya.
“Kayaknya kamu hobi banget bawa aku kabur, deh,” kata Mauza ketika mereka sampai di pinggir taman, “nggak takut dimarahin sama Papa, ya?”
Sammy hanya tersenyum menunjukkan puppy eyes nya.
“Ih, sok imut.”
“Emang aku imut,” katanya sangat percaya diri.
“Bukan imut-imut, tapi amit-amit. Dah cepetan, katanya mau ngomong penting.”
“Nggak ada yang penting-penting amat sih, Miaw. Cuma kangen doang.”
“Jadi kamu menipuku?” tanya Mauza mengintimidasi.
“Iya!” jawab Sammy dengan lugas. Tanpa ada rasa takut bahaya yang sedang mengancam.
“Berani-beraninya, kamu menipuku, Sam?!”
“Aku suka menipumu, aku suka memaksamu, aku suka menculik mu, dan aku suka semuanya tentang kamu. Sudah jelas?”
“Sammyyyyyyyy!?” Mauza menyeru. Sontak dia mencopot sendalnya untuk memukulkan benda tersebut. Namun Sammy terus berusaha menghindar sehingga terjadilah aksi kejar-kejaran di antara mereka berdua. Bahkan Mauza hampir saja terjatuh karena keslimpet gamisnya sendiri andai Sammy tak menangkap tubuhnya.
Awalnya Mauza marah dan kesal. Tapi karena terus-terusan di ejek dan di cibir oleh Si Pria Korea kesasar itu, entah kenapa kemarahannya perlahan lenyap. Yang ada, Mauza malah jadi ikutan tertawa.
Ugh, Mauza gemas sekali ingin menimpuk kepala Sammy pakai alas kakinya. Sayang, benda ini sulit sekali mengenai tubuh Sammy sampai dia capek mengejarnya.
Sammy yang notabenenya adalah seorang fotografer, memotret Mauza secara candid untuk dia koleksi sendiri. Hasil jepretannya pun, sangat random. Ada yang mangap, mingkem, meringis, merem, mewek dan lain-lain. Sammy baru mau berhenti pada saat Mauza hampir menangis.
“Hapus fotonya plis. Aku yakin aku pasti jelek banget di situ ...” ujarnya sangat memohon.
“Kamu tambah cantik, kok. Beda banget sama yang dulu,” kata Sammy tak sedang berbohong demi menyenangkan hatinya. Karena kenyataannya memang demikian.
“Nggak usah ngrayu-ngrayu. Nggak akan mempan. Sini kameranya, aku hapus sendiri!”
Sammy mengajukan syarat, “Cium dulu baru hapus.”
“Ogah, amit-amit. Itu sama aja menukar harga diri.”
“Ya udah ... biar aja di sini.” Jawaban Sammy benar-benar datar. Seolah setiap ucapan Mauza tak begitu penting baginya.
“Sammy!” Mauza kembali menyeru.
“Apa, Sayang? Ciye manggil-manggil aku terus. Kangen pasti udah lama nggak ketemu.”
“Selain rese, percaya dirimu juga kelewatan deh, Sam.”
Keduanya masih bertikai. Tidak ada yang mau mengalah apalagi Sammy, sehingga Mauza pasrah saja saat foto-foto jeleknya tersimpan di sana. Dia menyerah daripada capek berdebat yang hampir tidak ada ujungnya.
“Awas kalau kamu sampai nekat bawa fotoku ke dukun!” ancam Mauza.
“Nggak sampai di guna-guna juga kamu udah cinta sama aku, Miaw.”
__ADS_1
Mauza memutar bola matanya. Tetapi tak bisa dipungkiri, sepertinya ucapan itu memang benar. Sedikitnya rasa suka itu memang ada dan dia menyadarinya karena kebersamaan mereka selama ini. Hanya saja, Mauza selalu menutupinya demi menjaga perasaan orang lain yang lebih dulu menyukai Sammy.
Pun tak baik perempuan lebih dulu menyatakan cinta. Meski sah-sah saja dilakukan jika memang itu satu-satunya jalan, andai si lelaki itu tak peka atau terlalu lama menggantungkan hubungan yang sedang mereka jalani.
Dari cara tersebut memang banyak yang berhasil meski banyak juga yang memandang bahwa itu perbuatan yang rendah. Sebab dalam Islam sendiri, hakikatnya perempuan memang harus memiliki rasa malu.
Iya kalau pernyataan cintanya diterima. Kalau ditolak?
Mungkin rasanya seperti dilempari kotoran penuh.
Berhubung masih di sini, Mauza pun mempertanyakan kenapa ada Sammy di rumahnya dan kenapa dia bisa mengikutinya ke belakang. “Bukannya waktu itu kamu dipecat? Udah dimarahin sama Opa juga?”
“Emang,” jawab Sammy singkat dan tak terlalu peduli.
“Kok jawabnya gitu doang, nggak jelas,” Mauza gemas sendiri, “ayolah jawab yang bener. Jangan sampai aku mati penasaran.”
“Tanya sama Pak Ustaz dong, kenapa aku di undang.”
“Aku lagi tanya sama kamu, jangan malah dilempar ke orang lain. Tinggal jawab aja apa susahnya, Semut?”
“Kalau aku lagi males jawab gimana?”
“Terserah.”
Mauza beranjak berdiri, dia meminta Sammy untuk segera mengantarkannya pulang lantaran dia merasa mereka sudah pergi terlalu lama. Bisa gawat dan panjang urusannya kalau Papa dan Mama sampai tahu, dia pergi bersama Sammy.
Lagi pula, selain Mauza sedang tidak punya jawaban yang tepat dan masuk akal, gadis itu juga tidak pandai berbohong pada orang tuanya.
Sammy menjawab, “Belum juga kencan, Miaw.”
Sebel banget dipanggil Miaw sama Sammy, memangnya aku anak kucing?
“Serius mau pulang sekarang?” tanya Sammy memastikan.
“Iyalah, masa besok?”
“Janji nanti sampai di rumah kolang-kaling, ya!”
“Bahasa apa itu, Sam?”
Sammy menekuk tiga jari tengahnya hingga menyisakan jari jempol dan kelingking, kemudian menempelkannya ke telinga.
“Ribet.” Mauza menanggapi.
“Kamu aja yang lola.”
Sammy menepuk jok motor belakangnya saat mereka tiba di parkir motor. “Naiklah, Tuan Putri!”
Mauza duduk miring di motor Sammy. Motor melaju kencang. Serupa disengaja, Sammy berulangkali mengerem mendadak jika mendapati polisi tidur. Maka berkali-kali itu juga kepala Mauza membentur punggungnya.
“Cari-cari kesempatan ya? Biar aku nempel?” Mauza langsung menembaknya dengan pertanyaan ini. Dia paham apa isi otak cowok seperti Sammy yang hampir 100% penuh dengan pikiran kotor. Piktor, piksum, pikkar, pikjor.
Sammy diam saja.
“Bisa pelan-pelan nggak sih? Aku takut jatuh,” protes Mauza.
“Katanya mau cepet sampai?” jawab Sammy.
“Cepet sampai ke Rahmatullah maksudmu?”
__ADS_1
“Makanya pegangan, taruh kedua tanganmu di perutku,” balas pria itu.
Itu sih cuma modus aja, Mauza paham apa maksud kadal buntung ini. Tetapi di sisi lain, dia masih ingin selamat. Oleh karenanya, Mauza terpaksa melingkarkan tangannya di pinggang Sammy yang sesekali dibalas dengan usapan lembut di punggung tangannya.
“Haram, Sam. Haram! Nggak usah pegang-pegang!”
Ingin rasanya Mauza memberinya pelajaran. Sayang, lagi-lagi dia ingat Sammy sedang menyetir. Dia takut pria itu lengah dan akhirnya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Aspal di bawahnya sangatlah keras. Kendaraan di sekitarnya besar-besar dan lajunya kencang. Ih amit-amit. Dia tak ingin kepalanya bocor apalagi sampai ko it di tempat.
Tidak ada pilihan lain selain menahan diri. Demikian Mauza berpikir jika dirinya ingin selalu dalam keadaan aman.
Lima menit berlalu.
“Za?” panggil Sammy.
“Apa?”
“Nggak, cuma memastikan aja. Habis udah nggak ada suaranya lagi.”
Mauza tak menanggapi.
“Za?”
Mauza berdecak. Dia gemas sekali kepada Sammy yang berulangkali memanggilnya. “Apalagi ya ampun, ngomong nggak sekalian aja.”
“Love u!”
Sunyi. Mauza tak bisa membalas karena terlalu bingung apa yang harus dia jawab. Mauza pikir jurang luas dan dalam membentang di depannya. Kenyataan ini tidaklah mudah untuk ditaklukkan.
Srit!
Ban motor berdecit. Keduanya tiba di depan rumah. Dengan berjalan mengendap-endap, mereka berjalan lewat pintu samping yang mengarah ke belakang. Namun pada saat Mauza menoleh, dia pun heran karena Sammy masih saja mengikutinya.
“Kamu kenapa ikutin aku? Kamu lewat depan lah. Kalau gini caranya kita bisa ketahuan habis pergi bareng.”
“Biarpun mereka nggak tahu, tapi Tuhan Maha Melihat, Mauza.”
Meski tanggapan Sammy memang benar begitu, tapi entah kenapa Mauza sebal sekali mendengarnya. Sammy ini memang Oneng atau apa? Setan kok nyeramahin setan.
“Ehmm!?”
Tapi sedetik kemudian, suara deheman yang sengaja dikeraskan barusan, membuat keduanya cepat-cepat menoleh.
“Papa?” Mauza terkesiap pada saat melihat sosok lelaki itu sudah menghadang mereka di depan pintu. “Aku bisa jelasin, Pa. Sammy yang bawa kabur aku. Tadi aku udah bilang aku nggak mau. Dia yang maksa aku buat ngikutin dia karena ada hal penting yang mau di omongin. Tapi sampai di sana aku dibohongin sama dia, Pa. Ternyata dia cuma mau ngerjain aku katanya ... bla ... bla ... bla ... jadi kalau Papa mau marahin, Papa mara ....”
Satu tangan Yudha yang terangkat membuat penjelasan Mauza sontak terhenti. Ajaib. Hanya Yudha seorang yang bisa menghentikan laju cepat kereta api jurusan Jonggol itu.
“Sudahlah, kalian Papa nikahkan saja. Papa ketar-ketir lihat kalian pergi ngumpet-ngumpet begini. Sammy, segera siapkan maharmu!”
Sammy membeku di tempat.
“Za, aku mau pingsan, tolong pegangin.”
“Kalau situ mau pingsan, ya pingsan aja. Ngapain musti info dulu?”
Bersambung.
Waktu dan tempat dipersilahkan, Sammy. Kalau mau pingsan, emak-emak detergen siap nangkep.
__ADS_1