Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Keputusan Paling Tepat


__ADS_3

“Kirain nggak beneran,” balas Zara berusaha menelan ludahnya susah payah. Kenapa ia sampai tidak sadar Ray sudah ada di sini? Di depannya? Batinnya bertanya-tanya. Bahkan suara mobilnya pun tidak ia dengar.


Kemudian Zara pun menoleh ke arah parkir. Ternyata sudah ada mobil Rub*con di sana yang baru saja menempati posisi.


Milik siapa lagi kalau bukan milik pria ini?


Ray menarik kursi di depannya, kemudian bertanya, “Kenapa cuma pesan jus?”


“Kukira cuma ini yang lebih sehat.”


“Lebih sehat?” Ray mengulang.


“Iya, lebih sehat. Daripada kopi.” Zara masih loading ketika Ray mengulang pertanyaannya. Dia baru mengerti setelah Ray menarik gelasnya dan menenggak jusnya sampai tandas.


“Kenapa dihabisin?” tanyanya menuntut.


“Katanya sehat.”


“Nggak gitu juga caranya, Ray. Itu milikku.”


“Pesan lagi,” ujarnya seolah tak peduli. Padahal sudah Zara minum setengahnya.


Sebenarnya Zara kesal. Tapi ... entah kenapa mau ngambek pun tidak bisa. Duh, malah jadi salting (salah tingkah) kalau dilihatin begitu.


“Jangan liatin terus!” cebiknya segera menutup wajah dengan buku menu. Tapi sayangnya ditarik lagi oleh pemilik suara bass di depannya.


“Kalau udah nikah jangan terlalu banyak keluar rumah, ya. Kalau bisa pakai cadar, lebih bagus.”


Terus terang Ray merasa cemburu, acap kali Zara menampakkan paras menawannya di depan banyak orang. Tapi ini sudah menjadi konsekuensinya menikahi perempuan yang berprofesi sebagai publik figur. Namun mungkin pelan-pelan, dia bisa sedikit mengubahnya supaya lebih terkontrol lagi. Yaitu dengan cara yang ia sarankan barusan.


“Aku belum siap ... banyak kerjaan yang harus dilakukan di luar. Belum lagi harus syuting, terutama untuk brand ku sendiri,” Zara mengaku sedih. Berapa harga yang harus ia keluarkan seandainya ia membayar model atau influencer lain, pikirnya.


Akan lebih bermanfaat jika biaya penghematan tersebut, dialokasikan untuk kesejahteraan karyawan. Atau kata lain bonus.


“Nggak papa, pelan-pelan yang penting tahu batasnya,” kata Ray yang langsung ditanggapi unjuk rasa.


“Kamu omongin soal batas, kamu sendiri kenapa suka pegang-pegang.”


Skakmat. Pria itu nyengir dan merasa bersalah. “Semoga diampuni. Suka khilaf kalau lihat kamu. Berasa udah jadi suami.”


“Takutnya ada yang liat....”


“Malaikat.”


“Nah, tu tahu,” cibirnya. Sesaat kemudian, Zara kembali mengatakan, “Kita belum bahas lagi rencana ke depan.”


Mumpung mempunyai waktu untuk bincang berdua, Zara menggunakan kesempatan ini untuk menyinggung persoalan tersebut. Sebab beberapa waktu lalu, waktu pertemuan yang digunakan teramat singkat sehingga pembicaraan belum sampai melebar luas.

__ADS_1


“Contohnya?” Ray bertanya.


“Planing kita setelah menikah. Tentang kerjaan aku, kerjaan kamu, semuanya.”


“Seperti kataku tadi, kalau kamu belum bisa mengurangi aktivitasmu di luar, nggak papa. Aku nggak akan menghalangimu. Yang penting tahu batasan dan tetap menjaga diri demi kehormatan suami. Tapi pelan-pelan, kamu berikan kepercayaan kepada orang lain, supaya kamu bisa punya waktu lebih banyak di rumah. Karena prioritas seorang perempuan setelah menikah adalah keluarganya.”


Zara mengangguk setuju. Memang tak mudah mengubah kebiasaan dalam waktu sekejap mata tanpa melalui proses. Hello, this is real world. Bukan sulap, bukan sihir, apalagi sepatu yang auto cling setelah di usap-usap sama tukang semir.


Kendati demikian, Zara pasti akan terus berusaha agar bisa menjadi istri yang taat.


“Syukur alhamdulillah kalau kamu nggak keberatan aku tetap bekerja, Ray. Yang pasti, aku nggak mungkin berhenti. Usahaku menyangkut banyak orang yang ada di dalamnya. Mereka banyak berharap dari pekerjaan ini.”


Ray mengangguk mengerti.


“Ray, apa kamu mau balik ngajar lagi?” tanya Zara beberapa saat kemudian.


“Tentu.”


“Tapi bukannya ....”


Mengetahui maksud Zara, Ray sontak menyela, “Ada beberapa banyak yang udah mulai kuingat. Tapi maaf ... mungkin penghasilanku akan jauh lebih sedikit daripada pendapatanmu selama ini. Tapi insyaallah, cukup.”


“Aku hanya tanya kegiatan aja, Ray. Sama sekali nggak mempermasalahkan soal penghasilan. Paham bahasan itu terlalu sensitif untuk seorang laki-laki.” Zara belajar dari pengalaman sebelumnya.


“Syukurlah,” Ray bernapas lega.


Kedua alis Ray saling bertaut yang menandakan eskpresi keingintahuan.


“Aku ingin kita membuat kesepakatan.”


“Kesepakatan apa?”


“Aku trauma banget sama perceraian. Jadi sampai kapan pun, di dalam pernikahan kita nggak akan pernah ada kata itu,” serta-merta Zara menambahkan, “apa pun permasalahan yang nanti akan terjadi, bukan hubungannya yang putus, tapi problemnya yang harus kita perbaiki.”


“Apa dasarnya kamu sampai punya pikiran seperti ini?” Ray bertanya.


“Sebenarnya ini umum dibicarakan. Semua orang pasti menginginkan pernikahan mereka selamat. Satu untuk selamanya. Tapi khusus untukku, memang ada hal yang lain.” Jeda sesaat, Zara melanjutkan, “Mungkin sebentar lagi kamu akan mengingat semuanya. Dan yang aku takutin, di saat itu kamu bakal ninggalin aku. Karena ternyata, kamu menyadari kalau sebenarnya ... aku bukanlah orang yang terlalu penting.”


Zara menghela napas setelah menjelaskan ketakutan terbesar dalam dirinya selama ini.


“Aku bukan tipe laki-laki seperti itu.”


Hamidah adalah bukti bahwa Ray bukan lelaki yang gampang meninggalkan pasangannya kendati di rundung persoalan sebesar apa pun.


“Semua orang juga bisa bilang kayak gitu,” sebenarnya Zara agak kecewa dengan jawabannya, “tapi awas loh, aku pegang kata-kata-kata kamu.” Semburat wajah perempuan itu begitu mengancam.


“Aku takut sama Tuhan.”

__ADS_1


“Kalau takut, kenapa kemarin kamu sampai bercerai.”


“Kan aku dah bilang kemarin, bukan aku yang menceraikan. Tapi dia.”


“Dia siapa?” Zara meminta Ray untuk lebih memperjelas.


“Mulai mancing-mancing.”


Zara tertawa.


Sudah tak heran. Sepertinya semua wanita akan bersikap demikian demi bisa melihat bagaimana reaksi lelakinya. Dan ini adalah naluri alamiah seorang wanita untuk mengetahui, apakah dirinya sosok yang paling dicintai?


Sebab rasa cemburu memang sengaja Tuhan lahirkan untuk menghiasi manusia yang diciptakan dari tulang rusuk ini.


“Kamu mau kita punya berapa anak?” Zara menahan rasa malu saat bertanya seperti ini. Oh my God!


Dengan lugas, Ray menjawab, “Lebih dari tiga.”


Lagi-lagi Zara tersenyum. Dia sudah tidak terlalu khawatir jika pun, kesuburannya akan menurun seiring bertambahnya usia. Ia sudah menyimpan banyak cadangan sel telur di egg banking.


Kesimpulannya, Zara bisa hamil kapan pun dia mau. Meski dengan catatan, andai fisiknya masih kuat dan sehat. Namun untuk soal yang satu ini ... bukannya setiap orang memang harus selalu menjaga kesehatannya?


But whatever ... Zara, kamu sudah mengambil keputusan yang paling tepat.


♡♡♡


Waktu berlalu begitu cepat. Sebuah ruangan nan megah kini sudah mulai di dekorasi untuk disulap menjadi sebuah tempat perayaan sakral yang akan dilakukan esok hari.


Malam ini, semua keluarga sudah menginap di Hotel tersebut. Baik keluarga mempelai perempuan mau pun laki-laki, semua menempati kamar mewah sebagai hadiah dari Miranda yang sangat bahagia karena akhirnya putrinya bisa menikah. Seperti seharusnya.


“Alhamdulillah, bebanku bisa sedikit terangkat. Zara sudah kupertemukan dengan laki-laki yang tepat. Demikian dengan keluarganya.”


Ruben memeluk istrinya dari belakang, “Ya, usahamu menjembatani mereka sudah berhasil.”


“Semoga Mas Wirawan bahagia melihat putrinya bahagia. Meski nggak bisa dipungkiri rasa bersalah ini masih tetap bersarang dalam diriku.”


Keduanya telah berjanji, akan menjalani hukuman sama-sama atas kesalahan yang mereka perbuat di masa silam. Namun begitu, mereka tak menyerah untuk terus memperbaiki semuanya.


“Sepertinya kita butuh pengawalan ekstra. Aku takut besok ada penyusup,” ujar Miranda sesaat setelah mendengar kabar dari someone bahwa Fasad sudah berada di sekitar sini.


Ruben mengangguk pasti, “Kamu jangan khawatir.”


Bersambung.


aku gak cross check ulang. Kalau ada keanehan silakan komen di paragraf aja ya.


jan lupa like, share dan votenya

__ADS_1


__ADS_2