
89
“Dulu ... Mami sering periksa kandungan di rumah sakit itu.” Miranda menceritakan pengalamannya saat mereka sedang dalam perjalanan.
“Waktu Mami hamil Mike?” Zara bertanya.
“Waktu hamil kamu juga.”
“Wow, lama juga rumah sakit ini di dirikan.”
“Lama ... udah puluhan tahun lebih sampai pemilik aslinya aja udah nggak ada. Sekarang yang megang anaknya, pun udah tua juga.”
“Hebat, bisa sampai turun-temurun.”
“Karena mereka nggak pernah berhenti untuk terus meng-upgrade fasilitas maupun pelayanannya.”
“Tapi sepertinya emang beda aja deh, Mam. Antara rumah sakit negeri sama rumah sakit swasta,” kata Zara berpendapat. Pasalnya, dia sering mendengar keluhan banyak orang di luar sana tentang perbedaan ini. Dan yang paling mencolok yang umumnya terlihat adalah masalah biaya dan pelayanan. Rumah sakit swasta biaya berobatnya pasti mahal tapi sesuai juga dengan pelayanan dari dokter, perawat dan fasilitasnya. Sedangkan di rumah sakit pemerintah biayanya lebih murah bahkan gratis dengan adanya asuransi kesehatan.
“Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing,” kata Miranda menanggapi ucapan anaknya barusan, “balik lagi, mereka lebih nyaman ke mana. Sesuai apa enggak sama bujet yang mereka miliki?”
“Lebih nyaman lagi yang gratisan forever, Mam.”
“Zaman sekarang mana ada yang gratis?” Miranda langsung ngegas. “Cuman nempelin roda mobil ke depan toko aja, mesti keluar uang kita warna kuning.”
“Yang penting masih warna kuning, Mam. Belum sampai yang warna biru.”
Sesampainya di rumah sakit, keduanya langsung menuju ke lantai tempat Dr.dr. Junita Indarti, SpOG (K) berpraktek.
“Lama nggak nungguinnya?” tanya Zara sedang malas menunggu terlalu lama. Tak tahu kenapa hari ini terasa sangat panjang. Dia lelah dan ia ingin segera beristirahat di rumah.
“Nggak, habis ini selesai. Kamu pasien yang terakhir.”
Keduanya masuk setelah nama Zara dipanggil. Tentunya setelah di cek berat badan, tensi dan yang lainnya.
“Oh my God, Ny. Miranda Haucun sahabatku forever, how are you?” sapa dokter Junita begitu melihat teman lamanya.
“Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat walaupun udah tua-tua begini,” jawab Miranda menyambut pelukan Dokter Junita.
“Usia boleh tua, tapi jiwa harus tetap muda, iya kan? Ini juga, tiap hari makin cantik aja,” dokter itu mengalihkan pandang kepada Zara yang tengah tersenyum mendengar obrolan kedua orang paruh baya itu.
“Thank you, Dokter.”
“Siapa dulu bibitnya?” Miranda membanggakan dirinya.
“Oh, jelas. Apalagi dapet investornya dari negara asing, makin oke hasilnya!”
Suster mempersilakan keduanya untuk duduk di tempat yang disediakan sementara mereka menyampaikan keluhannya kepada Dokter Junita.
“Berarti belum terlalu merasakan mual, ya?”
“Iya, cuma agak enek aja kalau cium bau yang lumayan nyengat,” jawab Zara kepada dokter, “itu pun baru tadi pagi. Mungkin tersugesti karena terus mikirin omongan Mami.”
__ADS_1
Miranda membenarkan, bahwa dialah yang menduganya pertama kali.
“Kapan dicek nya, Cintah?”
“Tadi pagi, Dok,” jawab Zara.
“Haid terakhir mulai tanggal berapa?”
Zara menyebutkan tanggalnya sesuai yang dia ingat. Kemudian diperintahkan untuk baring di brankar agar bisa segera dilakukan pemeriksaan lewat USG.
“Maaf ya, Bu. Saya buka sedikit atasannya,” ujar suster yang sedang bertugas. Lalu mulai mengoleskan gel di permukaan perut Zara.
“Nggak papa, Sus.”
“Kok malah sama Maminya? Kenapa nggak sama suaminya yang hensem itu, hmm?” Tanya Dokter Junita.
“Nggak lah, ntar diminta sama kamu,” seloroh Miranda.
“Oh iya, bener juga, ya? Paling susah gue kalau lihat berondong.” Dokter Junita tertawa setelahnya.
“Jangan pernah bawa suamimu ke sini, Sayang. Atau kamu akan menyesal!” ujar Miranda lagi.
“Ya Allah, Mam ....” Zara geleng-geleng kepala melihat dua orang tua ini bercanda. Pantas saja maminya rada gesrek. Ternyata teman-teman seangkatannya memang hampir seperti itu semua bentuknya.
“Canda ya, Nak ... jangan masukin ke hati, masukin aja ke ginjal ....”
Dokter Junita mulai melakukan tugasnya untuk melakukan pemeriksaan. Dia mulai menggeser transducer untuk untuk mencari posisi yang pas, sembari matanya terus menatap layar monitor.
Zara mengangguk dan tersenyum melihat mahkluk kecil yang sangat dia cintai semenjak mengetahui kehadirannya.
“Eh, tapi, kok?” wajah dokter yang tiba-tiba terlihat berubah aneh, membuat Zara dan Miranda juga ikut menegang.
“Kenapa, Dok?” tanya kedua orang itu segera secara bersamaan.
“Ini kantungnya ada dua sepertinya.”
“Yang bener kamu, Dok?” kata Miranda tak percaya.
“Lho nggak percaya. Nih, kukasih lihat.” Dokter Junita mengeprint hasil USG tersebut setelah menemukan posisi yang pas. Terlihat dua kantong janin begitu jelas di kertas itu saat Miranda melihatnya.
Zara semakin berkaca-kaca. Tak salah dugaannya. Rayyan mempunyai keturunan kembar dari orang tuanya. Dan ini menurun pada kehamilannya. Tetapi dia sangat bersyukur diberi dua bayi sekaligus di usianya yang sudah tergolong matang ini.
Tak lama kemudian Miranda berujar, “Untung dikasih dua, bukan tiga, Nak. Gimana nyusuinnya kalau punya bayi tiga. Kanan kiri sudah penuh.”
“Gampang! Tambah bini cie, lai. Iya, tak?” celetuk Dokter Junita.
“Sampai berani menantuku poligami, dia akan berhadapan langsung denganku!” tegas wanita itu.
“Zara dong yang marah, masa emaknya.”
“Dia kalau marah terlalu sederhana. Palingan, ih jangan gituuu, bodo amat, terserah kamu!, ya udahlah gapapa,” Miranda menirukan gaya bicara anaknya, “kalau aku sih, mon maaf nggak bisa kayak gitu. Harus jedar-jeder biar puas.”
__ADS_1
“Ketahuan ya, Say. Siapa yang paling galak di sini ....” Dokter tersebut duduk untuk mencatat hasil pemeriksaannya dan menulis resep. Sementara itu, Zara dibantu duduk oleh susternya.
“Makasih, Sus ....”
“Sama-sama Ibu, Zara.”
Zara duduk di depan Dokter Junita untuk mendengarkan penjelasannya.
“Karena masih lima minggu, jadi detak jantung janinnya belum terdengar,” ujar dokter Junita, “nanti bisa terdengar jelas biasanya di usia tujuh minggu. Tapi ....”
Kedua wanita itu tidak sabar dengan lanjutan penjelasannya.
“Di usia-usia sekarang ini sebenarnya sangat rawan, apalagi hamil kembar.”
Wajah Zara berubah pias. Wajar jika dia merasa takut karena dirinyalah yang paling bertanggung jawab atas keadaan ini. Ya, meskipun tetap ada peranan penting dari suami dan keluarganya juga nantinya.
“Kamu jangan nakut-nakutin anakku dong, Dok.” Miranda menyela.
“Dokter Junita nggak nakut-nakutin. Ini fakta supaya Zara lebih waspada aja karena di usia sekarang ini, janin sangat butuh perhatian ekstra. Jangan sampai jatuh, jangan sampai kena guncangan terlalu keras, harus dijaga sekali pola makannya, banyakin minum air putih dan vitamin, tidak boleh kelelahan, dan tidur yang cukup. Terakhir, ini yang paling penting, TIDAK BOLEH STRES,” papar Dokter Junita panjang lebar, “takutnya janinnya nggak berkembang,” sambungnya.
“Nah, tolong bilangin dia, Dok. Zara sibuk banget akhir-akhir ini ....” tatapan Miranda mengarah kepada anaknya yang justru mempunyai perasaan lebih buruk daripada sebelumnya gara-gara penjelasan dokter barusan.
“Penganten baru itu harusnya bulan madu ... kok malah sibuk. Happy-happy dulu, lah. Kerjaan mah, nanti. Kalau kurang dana kan, tinggal bilang, Mam, transfer dong! Semiliar!”
“Dia yang happy, tapi gue yang stres kalau sedemikian banyaknya.”
“Demi cuculah, Mir. Apalagi yang mau kamu harapkan di dunia ini? Semua sudah kamu miliki.” Dokter Junita menyerahkan resep kepada Zara, “Nih, Dokter Junita kasih vitamin yang paling bagus. Di minum pagi sama sore sebelum tidur.”
“Makasih, Dok,” jawab Zara. Keduanya langsung pulang pada saat itu, dan segera menyampaikan kabar baik ini kepada Rayyan yang sudah sedari tadi tak sabar menunggu kepulangannya.
Kebahagiaan pria itu bertambah berkali-kali lipat setelah mengetahui bahwa Zara tengah mengandung bayi kembar. Maka, nikmat Tuhan mana lagi yang mereka dustakan?
Sedikit terbesit dalam benak Miranda, bagaimana perasaan mantan istri menantunya jika sampai mengetahui hal ini?
Wanita itu tak sabar ingin melihat bagaimana respon Hamidah nanti. Apakah tetap tenang seperti Zara dulu waktu sengaja dipanasi di depannya? Atau justru sebaliknya?
Wow! Pasti ini sangat seru.
Sedangkan di tempat lain, Ada Zunaira yang sedang termenung sendiri di kamarnya. Ada kabar terbaru bahwa kakak iparnya telah mengundang dirinya, Mama dan Mauza untuk mendatangi acara grand opening di salah satu Mall yang ada di kawasan Jakarta Timur.
“Di mana ada acara yang melibatkan Kak Zara, pasti ada Kak Sammy juga di sana. Ini kesempatan aku supaya bisa minta maaf secara langsung sama Kak Sammy.”
Zunaira berharap bisa menemukan cara untuk berbicara berdua dengannya di sana hari nanti.
Dia berencana demikian karena tengah bingung, kenapa Sammy memblokirnya? Apa pria itu sudah tak mau mengenalnya lagi?
Atau ada yang menyuruhnya untuk menjauhinya?
Bersambung.
follow instagram untuk info update visual dll @ana_miauw
__ADS_1