Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Selamat Untuk Kita


__ADS_3

192


“Kamu hamil nggak?” begitu yang Sammy simpulkan saat Mauza mengatakan bahwa dia telah melewatkan jadwal menstruasinya, ditambah lagi dengan tanda-tanda yang menyertai.


“Eh, hamil?” Mauza mengerjap kan matanya berulangkali. Tak percaya. “Mana mungkin? kita belum melakukan program apapun.”


“Ya, siapa tahu. Kamu juga selalu bilang mual kayak gini tiap pagi.” Sammy tetap kekeuh dengan pandangannya.


“Nggak ah. Ngaco kamu, Yank. Sana berangkat! Nanti bisa telat.” Mauza mendorong tubuh Sammy keluar karena jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh lebih. Dan dia ada jadwal pemotretan pagi ini.


Sammy berpesan sebelum ia turun, “Aku berangkat, ya. Kalau ada apa-apa, kamu telepon aku.”


“Ya!”


Pintu tertutup.


Sammy menuruni tangga. Secara kebetulan, dia berpapasan dengan Vita yang ada di bawah sana.


“Udah mau berangkat?” wanita itu bertanya.


“Iya Ma,” jawab Sammy.


“Kakak iparmu hari ini masuk nggak?”


“Masuk karena ada jadwal live sama pemotretan.”


“Kalau begitu sebentar,” kata wanita itu berlalu ke belakang untuk mengambil sesuatu.


Hingga tak berapa lama dia kembali dan menyodorkan sebuah paper bag kecil berisi makanan berkuah. “Mama nitip ini buat kakak iparmu, ya. Jangan dimiringin, takut lepas tutupnya.”


“Wow apa ini?”


“Sayuran hijau. Zara bilang ASI-nya lagi agak seret, jadi Mama kasih sup ini. Bilang sama dia dimakan langsung, ya. Nggak enak kalau udah dingin. Soalnya sayur ini nggak bisa di panasin.”


Sammy mengiyakan, sebelum akhirnya pria itu berlalu pergi.


∆∆∆


Pintu lift terbuka. Seorang wanita memakai abaya hitam keluar dari dalam sana, menuju ke ruangannya sendiri.


Wanita tersebut adalah Zara. Ya, dia sudah kembali ngantor tiga hari ini karena Arka dan Arsha sudah bisa dia tinggalkan bersama baby sitter nya. Namun tidak full satu hari penuh, karena begitu semua urusannya selesai, Zara akan segera pulang.


“Belum pada datang, ya?” dia bergumam sendiri. Lantas membuka agenda yang sudah sekretaris persiapkan untuknya. “Waduh, banyaknya jadwalku hari ini.”


Zara takut tidak bisa pulang lebih awal. Jelas, yang dia pikirkan adalah kedua bayinya. Jangankan setengah hari, setengah menit saja berpisah, dia sudah sangat rindu dengan mereka.


Prioritasnya sekarang adalah Arka dan Arsha. Posisi Ray perlahan sudah mulai tergeser. Bahkan pagi tadi pun, pria itu tak berhasil mendapatkan sedikit kecupan darinya.


“Maaf ya, suamiku. Sabar, ya. Nanti aku sisihin waktu buat kamu juga, kok. Selamat, kamu lulus ujian. Empat puluh hari sudah mau lewat.”


Fokus Zara kini terbagi pada saat pintu terdengar diketuk.


“Siapa?” seru Zara.

__ADS_1


“Sammy!” jawabnya tak kalah seru.


“Oh ... masuk, Sam!”


Pintu terbuka. Mata Zara langsung memusat ke sebelah tangan Sammy yang tengah membawa oleh-oleh, diletakkan nya di atas meja.


“Titipan dari Ibu mertua kita,” katanya tersenyum samar, “langsung di makan, Zar. Jangan tunggu nanti. Mama bilang sayur ini nggak enak dimakan dingin.”


“Lagian siapa juga yang bisa tahan.” Zara mengendus baunya yang super enak.


“Ya udah, aku cuma mau nyampein itu doang. Aku sama temen-temen mau prepare. Kami kamu tunggu di sana.”


Zara mengangguk dan membiarkan pria itu pergi, sebelum akhirnya dia melahap titipan makanan dari mama mertuanya itu.


Zara: makasih, Ma. Uenak.


Zara menyertakan foto dirinya saat dia mengirim pesan tersebut.


Mamer: bilang sama Devi, suruh sering-sering bikinin sayur itu biar ASI-mu lancar.


Zara: iya, Ma.


Sebenarnya bukan tidak lancar, hanya saja, Zara punya dua bayi sehingga dia harus mempunyai stok yang lebih banyak. Apalagi keduanya sangat kuat menyusu.


Demikianlah mengapa mereka bukan lagi seperti bayi yang lahir bulan kemarin, sebab Arka dan Arsha lebih gempal di banding usia seharusnya.


Kling.


Ponsel Zara kembali berdering.


Tadinya, Zara hendak mengabaikan pesan itu dan lekas-lekas melanjutkan aktivitasnya. So, dia harus segera menuju ke studio, banyak orang yang sedang menunggunya di sana.


Namun, Zara urungkan niatnya setelah dia mengintip siapa yang mengirimkannya pesan kali ini. Sebab pesan tersebut dia terima dari adik iparnya, Mauza.


Mauza: Kak, ntar kalau nggak sibuk kita bicara sebentar, ya? Boleh?


“Ada apa, ya? Nggak di sempetin takutnya penting.” Zara semakin penasaran.


Zara: okay, tunggu sekitar dua jam lagi. Nanti biar aku yang hubungi kamu.


Mauza: tengkyu.


∆∆∆


Beberapa jam berlalu, Zara akhirnya Zara selesai merampungkan tugasnya hari ini. Dia pun sudah menghubungi Mauza dan berniat akan segera kembali ke rumah.


“Bel? Gimana? Udah kamu terima?” Zara menanyakan apa yang diperintahkan nya pada wanita itu beberapa saat yang lalu.


“O, iya. Ini Bu,” Belle menyodorkan kotak kecil berupa paket tersebut.


“Makasih ya, Bel.”


“Sama-sama syantik,” jawab Belle.

__ADS_1


“Kamu kasih aja paket itu ke Sammy langsung.”


“Ok.”


Belle segera menemui Sammy untuk menyerahkan paket tersebut. Pun segera kembali dengan Zara setelahnya.


“Mau ke mana lagi habis ini, Bestie?”


“Pulang dong, Bel. Dah kangen banget sama anak. Kamu mau ikut? Udah selesai kan, kerjaannya?”


“Hayuklah, sekalian aku mau tengok dua snowman kecil.”


Mereka memanggilnya demikian karena Arka dan Arsha memang mirip seperti gumpalan salju yang sangat putih dan menggemaskan.


Sementara di tempat lain, Sammy sedang penasaran apa yang diberikan oleh Zara untuk istrinya.


“Paket apa ini?” gumamnya, “duit bukan?” Hmm. Duit melulu yang manusia ingat.


Ya, beberapa saat yang lalu Mauza dan Zara saling terhubung. Mauza hanya ingin menceritakan apa yang dirasakannya akhir-akhir ini kepada kakak iparnya. Sekadar ingin berbagi.


Entah kenapa dan apa sebabnya, Mauza malah lebih nyaman berbagi dengan Zara daripada yang lain. Bukan berarti Zunaira dan Alma tidak amanah. Pasti semua orang punya alasan tersendiri, di mana dia merasa nyaman.


Sepulang dari kantor, Sammy langsung menyerahkan titipan itu ke istrinya.


“Dah kaya kurir je en te aja aku. Pagi nganter paket makanan, sore nganter paket barang.”


“Kalau kamu sering dititipin, itu berarti tandanya kamu amanah.” Mauza mencium singkat pipi suaminya sebagai tanda terima kasihnya.


“Apa sih, itu isinya?”


“Testpack.”


“Kayak gitu aja kamu mesti minta?” tegur Sammy, “jangan malu-maluin, ah. Aku juga bisa beliin kamu setoko-tokonya kalau perlu.”


“Kamu kalau ngomong taiknya besar. Sembarangan aja. Ini dikasih, bukan minta,” sungut Mauza mencebikkan bibirnya.


“Cepat pake! Aku mau tahu hasilnya,” titahnya terdengar memaksa.


“Jangan berekspektasi terlalu tinggi, ya. Takutnya nanti kecewa ....”


“Udah kebal,” jawab Sammy sudah menyiapkan hati agar dia tak kecewa.


Mauza masuk ke dalam kamar mandi dan mulai menampung urinnya ke dalam wadah yang memang di sediakan dari paket tersebut.


“Buka, Za. Mau lihat. Lama banget,” protes Sammy setelah beberapa menit dipenjarakan di luar.


“Sabar. Lagi proses.”


Tak berapa lama, wanita itu pun keluar. Dia langsung memeluk suaminya.


“Udah, nggak papa kalau masih belum,” Sammy mencoba menenangkan begitu mendengar isakan kecil di punggungnya. Karena dia pikir, demikian adalah pertanda kurang baik.


“Selamat buat kita, Sam. Kita mau jadi orang tua. Doa kita terjawab.”

__ADS_1


To be continued


__ADS_2