
150
Mauza mendekati Umar sesaat setelah pria itu ditinggalkan sendiri. Mauza menarik kursi di sebelahnya sekadar ingin bertanya dengannya mengenai pertemuan mereka barusan.
“Gimana, Mar?”
“Gimana apanya?” Umar tampak cuek saja. Tak peka dengan pertanyaan yang dimaksud oleh kembarannya.
“Yang tadi. Lu bukannya udah ketemuan sama Alma?” Mauza memperjelas.
“Biasa aja,” Umar menanggapi.
“Kenapa kamu nggak mau nadzor dulu?” sesaat setelah berpikir, Mauza kembali bergumam, “tapi gapapa sih, percaya aja lah Mar. Keliatannya Alma juga udah glow up, kok. Pas banget buat tipe-tipe cowok kek kamulah.”
Umar tampak tak peduli dengan semua celotehan Mauza.
“Kamu jadi mau ngelamar dia kan?”
“Demi Papa,” jawab Umar singkat.
“Eh, yang bener! Nggak gitu konsepnya. Niatkan semua karena Allah. Menikah adalah untuk ibadah. Tempat kita berlindung dari kejahatan syahw-”
“Serah lu aja, Za. Gue nggak peduli. Ambilin makan sana!” sela Umar. Dia agak tercubit saat Mauza menyinggung soal urusan syahwatnya, mengingat apa yang sudah pernah dia lakukan bersama Sarah di luar ikatan pernikahan. Umar berharap Tuhan menyembunyikan aibnya yang satu ini.
“Kok malah jadi nyuruh aku, sih?” Mauza menggerutu. “Ambil sendiri lah. Punya tangan, punya kaki sendiri kok, nyuruh-nyuruh orang! Kek orang sakit aja.”
“Za, cepet ambilin!” titah Umar memaksa.
“Nggak mau!”
“Mauza!”
Mauza lantas meninggalkan Umar sembari menjulurkan lidah. Kembali kepada suaminya yang tengah berbicara dengan teman-teman kerjanya dulu di Zara.co. Malas sekali jika dia harus menemani orang kurang waras seperti Umar. Ya, memang sudah nggak waras.
“Jadi kamu kerja sama Ustaz Ray di luar? Lebih asik dong!” singgung Damar.
“Ya, asik nggak asik. Kalau ada kerjaan mah, mendingan di telatenin aja. Mumpung lagi ada,” jawab Sammy.
“Lebih banyak kayaknya gajinya nih.”
__ADS_1
“Mau banyak mau dikit yang penting halal, ya nggak, Bro?” dia menepuk pundak temannya yang lain.
“Kalau bisa sih yang banyak tapi halal juga, Bro. Wekawekaweka hahaha!”
“Ada yang begitu?”
“Ada lah!”
Sammy dan teman-temannya saling berbisik dan terbahak-bahak setelah itu. Entah apa yang baru saja mereka bisikkan.
Melihat candaan suami dan temannya yang semakin ngawur, Mauza menarik suaminya, “Yuk ah, cari camilan. Laper nih, dari pagi kita kan, belum sempat sarapan.”
Atas permintaan istri tercinta, Sammy pun berpamitan kepada temannya. Lalu menemaninya ke penjual d'crepes.
“Dari wanginya aja udah enak banget, nih. Hmmm ....” Mauza menghidu aroma makanan tersebut sambil sesekali menoleh ke atas pelaminan. Dia sudah bisa bernapas lega sekarang, karena akhirnya adik bungsunya sudah bisa menemukan pengganti cinta lamanya.
Pandangan Mauza beralih kepada Sammy yang sedang menerima telepon dari seseorang. Mauza tersenyum. Kini sudah tak ada lagi kekhawatiran dalam hatinya karena hal tersebut.
“Ngapain ngeliatin aku gitu? Tersepona sama ketampanan aku?” tanya Sammy sesaat setelah memasukkan ponselnya kembali ke kantong saku.
Mauza langsung mencebik kan bibirnya. Menyanggah walau anggapan Sammy barusan memang ada, sedikit terlintas dalam benaknya. Dia tak mau lelaki itu nanti ke ge-eran.
Oleh karenanya, Mauza mengalihkan topik, “Seru banget acaranya. Seandainya resepsi di gedung itu murah,” katanya serupa orang yang sedang menyesali yang telah lalu.
“Ya nggak nyesel juga, kamu jangan salah paham. Aku cuma lagi ngomong-ngomong biasa.” Mauza menyodorkan d'crepes yang kini sudah ada di tangannya, “Nih, makan yang anget-anget dulu biar nggak kebawa perasaan.”
Sammy hendak menerimanya, namun dia urungkan karena justru yang mendarat adalah bibirnya di kening Mauza. “Aku sayang kamu, Za ...”
Mata wanita itu berkilauan, dia merasa haru. “Aku juga ...” balasnya.
Sementara di ujung, ada Zara yang tengah duduk sendiri menunggu suaminya kembali. Sesekali dia menyeruput jusnya sembari menatap layar ponsel. Melihat foto-fotonya barusan di pelaminan bersama Nai dan Andrea. “Oh my God. Makin melar aja badanku.”
Zara menghela napas berat. “PR berat nih, kalau udah lahiran.”
Beberapa menit berlalu, Zara masih saja sendiri.Tak ada tanda-tanda Ray kembali padanya.
“Katanya cuma mau ketemu sama temen. Tapi lama banget.”
Terlalu lama menunggu membuat Zara bosan sehingga dia tak betah lagi duduk di sana. Oleh karenanya dia beranjak, memutuskan untuk bergabung dengan Maminya yang tampak akrab mengobrol dengan Tante Dara. Entah apa yang mereka bicarakan karena kelihatan menyenangkan sekali sampai keduanya tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Namun pada saat Zara hampir tiba di sana, seorang pelayan yang membawa setumpuk stainless kotor berjalan cepat ke arahnya. Bahkan saking tingginya, stainless-stainless tersebut menghalangi pemandangan kedua matanya. Sehingga tak menyadari ada seorang wanita hamil yang tengah melintas.
Pun dengan Zara. Dia tak menyadari ada bahaya yang nyaris mengenainya karena sedang fokus pada satu titik, yaitu maminya. Beruntung, seseorang berlari menghentikan laju pelayan ceroboh tersebut dengan memasang badan agar bahaya itu berhenti di sana. Membuat semua stainless jatuh berhamburan dan menimbulkan bunyi yang sangat berisik.
“Zara!” pekik Miranda dan hampir semua orang yang melihat kejadian.
Zara yang baru menyadari tersebut terkejut dan sontak menjatuhkan tasnya. Dia melihat seseorang yang tersungkur di belakangnya dan cepat-cepat pergi. Entah kenapa, Zara seperti pernah mengenalinya.
“Tunggu!”
Namun, orang itu tak mau menoleh sedikit pun.
Semua orang berlari menggampiri termasuk Miranda, begitu kejadian tragis yang nyaris melukai anaknya terjadi. Wanita itu langsung memaki pelayan tersebut yang berulang kali meminta maaf karena kecerobohannya. Sedangkan Ray segera mengamankan istrinya ke tempat duduk semula.
“Kan aku dah bilang, tetap di sini sampai aku balik. Kenapa kamu malah pergi?” tanya Rayyan mengingatkan kata-katanya sebelum dia meninggalkan Zara. “Begini akibatnya kalau kamu nggak nurut sama suamimu, Ra.”
“Maaf ... aku cuma bosan karena kamu perginya terlalu lama,” jawab Zara sangat berasa bersalah sekaligus sedih karena dihakimi seperti ini. Padahal dia juga sedang sama-sama merasa sangat panik. Sebenarnya bukan demikian respon yang dia harapkan dari suaminya.
“Untung kamu baik-baik aja. Kalau nggak ....” Rayyan menjeda kalimatnya, “aku nggak bisa maafin diriku sendiri.”
Tak berapa lama, semua anggota keluarga terkecuali pengantin yang masih sibuk di pelaminan, datang menghampiri untuk menanyakan kondisi Zara sekarang. Mereka bersyukur karena wanita itu baik-baik saja kondisinya.
“Yang nyelametin tadi siapa, ya?” tanya Miranda kepada semua orang yang ada di sana, kemudian berpusat pada anaknya sendiri, “kamu tadi lihat nggak, gimana ciri-cirinya Sayang?”
“Nggak, Mam. Dia membelakangi aku terus. Dipanggil juga nggak nyaut, nggak nengok,” jawab Zara.
“Berarti emang nggak mau di temuin kali, ya? Dah lah, anggep aja itu Angel,” kata Dara tak mau ambil pusing.
“Ray kalau kamu ke mana-mana, jangan ninggalin Zara sendirian. Bilang sama Mami dulu biar bisa gantian nemenin dia. Udah tahu istrinya ceroboh,” omel Miranda kepada menantunya.
“Iya, Mam,” jawab Ray menunduk.
Umar menahan tawa melihat pria terhormat itu tak berkutik di depan mertuanya. Haha! Rasain!
Sementara itu di luar, seorang lelaki tersenyum sembari menatap gedung yang baru saja dia tinggalkan.
“Aku pernah bilang padamu, bukan? Aku akan selalu menjagamu di mana pun. Makasih banyak Zar. Kamu udah menyadarkanku betapa berartinya 'dia' dalam hidupku.”
♧♧♧
__ADS_1
Bersambung.
Main tebak-tebakan, ah. Siapa coba orang ini?