
142
Nai pulang di antar kan oleh Andrea. Meski tak banyak bicara seperti pasangan lainnya, namun raut wajah mereka jelas menunjukkan bahwa mereka sedang sangat bahagia.
Bahkan Andre sudah bisa sedikit melupakan kesedihannya setelah beberapa hari ini meratapi kepergian putra tercintanya, Fero.
Fero berusia tiga tahun, buah cintanya dengan almarhumah sang istri yang dia nikahi empat tahun lalu.
Mereka berpacaran dari zaman kuliah sampai akhirnya memutuskan untuk menikah setelah Andre berhasil membeli rumah impiannya.
Tetapi tak langsung di tempati, karena pada bulan pertama setelah pernikahan, istri Andre langsung dinyatakan hamil. Orang tuanya melarang Andre pindah rumah untuk sementara waktu, sampai dia melahirkan. Khawatir tak ada yang menjaganya selama Andre bekerja di perusahaan sebelumnya.
Tak masalah jika demikian adalah yang terbaik. Andre menuruti keinginan ibunya walaupun dia sedikit kecewa. Pasalnya, dia sudah tidak sabar ingin menempati rumahnya barunya itu.
Namun nasibnya begitu malang. Sebab sesaat setelah melahirkan anak pertama, istrinya malah dinyatakan meninggal karena mengalami pre-eklampsia. Penyakit yang ternyata sudah dia derita semenjak umur dua puluh minggu kehamilan. Andrea baru mengetahui setelah wanita itu tiada. Dia menyembunyikannya dari Andrea lantaran tak mau membuat suaminya khawatir.
Ini adalah penyesalan terbesar dalam hidup Andrea karena pria itu tak pernah mengantarkan istrinya check up ke rumah sakit. Dia terlalu sibuk mengurusi pekerjaannya dan menyerahkan semuanya kepada Ibunya. Beranggapan bahwa seorang ibu akan lebih tahu karena mereka sesama wanita.
Andrea juga mengira istrinya lebih gemuk karena wanita itu lebih bahagia hidup bersamanya. Beruntung karena memiliki mertua yang sangat perhatian. Tak menyangka bahwa demikian disebabkan karena dia sakit.
Oleh karena sebab tersebut, sosok Andre lama-kelamaan berubah. Bahkan orang tuanya pun hampir-hampir tak mengenali anaknya lagi.
Andrea jadi sosok yang begitu dingin dan sulit untuk disentuh. Dia sudah terlalu jauh tenggelam dalam kesedihan dan penyesalannya.
Pria itu hanya mau tersenyum dan bersikap hangat kepada anaknya saja. Bukan kepada siapapun kecuali membahas masalah yang dia anggap penting.
Tiga tahun. Tiga tahun Andrea dalam keadaan demikian dan sempat membuat Pak Ibra dan istrinya sedikit khawatir akan masa depannya. Hingga akhirnya, ada sosok yang membuat Andrea kembali merasakan jatuh cinta.
Untuk pertama kali setelah sekian lama, Andrea mengagetkan mereka, bahwa dia akan mengenalkannya seorang gadis.
Pak Ibra dan Ibu Wongso sangat antusias. Mereka tak sabar ingin menemui siapa gadis hebat yang sudah berhasil meluluhkan hati anaknya tersebut. Oleh karena itulah mereka secepatnya bertandang ke kediaman keluarga Al Fatir. Yang konon, adalah pemilik perusahaan biro perjalanan wisata paling populer pada masanya.
Gadis itu adalah Zunaira. Putri bungsu dari pasangan suami-istri yang bernama Yudha dan Vita. Cantik, bertubuh mungil, sedikit pendiam, dan terlihat manja.
Tapi tak apa. Justru karena sikap manjanya lah yang mereka butuhkan untuk melengkapi hidup Andrea yang terbilang datar dan monoton. Ya, Andrea telah menemukan gadis yang tepat.
Kembali kepada mereka berdua yang sedang berada di perjalanan.
“Berarti besok Mas Andre bisa masuk kerja lagi kan?” tanya Zunaira mencari-cari topik agar suasana tak terlalu beku.
Andre menoleh, “Ya, kalau maumu begitu.”
Zunaira mengingat kata-kata dan saran kakak iparnya sebelum dia berada di sini.
__ADS_1
Andai Andre tak mau memulainya, maka dialah yang mengalah menjadi orang sedikit cerewet. Belajar dari pengalaman Zara sendiri yang juga mempunyai suami seperti gunung es atau kulkas sepuluh pintu semenjak lahir, bisa perlahan-lahan berubah karena dirinya suka memulai duluan.
“Tak apa sesekali membahas yang nggak penting. Tanyakan dia hal-hal kecil yang berupa bentuk perhatian. Dengan begitu kalian jadi cepat akrab,” ucap Zara beberapa saat yang lalu.
“Goda dia dengan rayuan-rayuan manis supaya dia lebih banyak senyum. Jangan malu, nanti lama-lama akan terbiasa. Aku yakin Andre nggak kaku-kaku amat. Dia cuma lupa caranya hidup senang karena udah terlalu lama sendiri dan selalu menganggap dirinya adalah penyebab utama kematian istrinya. Kehilangan memang bisa mengubah kepribadian seseorang. Jadi kamu harus sabar.”
“Memangnya apa alasan Mas Andre keluar? Kamu belum cerita ke siapa pun,” tanya Nai lagi.
“Aku hanya ingin menjaga perasaanmu,” jawab Andrea.
Zunaira menatapnya sembari mengerutkan kening, bermaksud untuk meminta penjelasannya lebih lanjut.
“Kupikir kita tak perlu bertemu lagi setelah kamu menolak melanjutkan hubungan kita,” sambungnya.
“Memangnya aku nolak, dih? Aku cuma butuh waktu,” ujar Nai menjelaskan ulang maksudnya selama ini yang dianggap Andre adalah sebuah penolakan. “Kalaupun ada yang harus keluar, akulah orangnya. Aku yakin Mas Andre lebih dibutuhkan oleh Kak Zara di sana.”
Andre menarik sudut bibirnya, kemudian mengatakan, “Jangan samakan, aku hanya orang luar. Sedangkan kamu anggota keluarganya.”
“Kak Zara nggak pernah mandang aku bagian dari keluarganya. Di kantor, dia selalu tegas kepada siapa pun, nggak peduli aku adiknya sendiri. Lagian kalau keluar, memangnya Mas Andre sudah punya lowongan kerjaan di tempat lain?”
“Banyak.”
“Kan nggak mesti dapat tempat yang pas. Lagian nggak mudah juga adaptasi di tempat yang baru.”
“Laki-laki dan perempuan itu beda. Mereka nggak begitu terpengaruh sama lingkungannya kecuali bayaran yang di dapatkan,” jawabnya membuat Nai akhirnya mengerti. Kenapa sebabnya pria lebih betah di tempatkan manapun daripada wanita. Sebab kaum lelaki memang sudah diciptakan lebih tangguh dari wanita semenjak mereka lahir.
Di tangan kirinya terdapat kunci mobil dan sudah dipastikan, bahwa pria itu akan pergi. Tak peduli penampilannya berantakan, bahkan hanya memakai kaus dalam dan celana pendek saja. Untung cakep, kalau tidak, mirip seperti gembel jalanan yang suka tidur di kolong jembatan.
“Apa lihat-lihat?” tanya Umar sinis.
“Apaan sih, Kak? Nggak jelas,” balas Zunai tak habis pikir dengan pertanyaan ketus Umar. Datang-datang langsung dijutekin. Salahnya apa coba?
“Kak Umar mau ke mana?” melihat kondisinya yang sedemikian berantakan membuat Nai tak tahan untuk bertanya. Masa mau pergi penampilannya begitu? Yang benar saja. Dia itu habis mimpi dan nggak sadar langsung minggat, atau gimana?
“Mau cari cewek!” Umar tak peduli. Ia bahkan tetap melintas seenaknya dan mengabaikan orang yang ada di samping Zunaira sekarang.
Tak sopan! Batin Nai kesal. Menyebalkan sekali memang.
“Aku bilangin Papa, ya?” ancamnya.
“Sok atuh, nggak peduli saya!” pria itu menutup pintu mobilnya dengan keras yang mereka kira disengaja.
“Kenapa dia?” tanya Andrea. Pria itu belum tahu seperti apa sesungguhnya sikap semua saudara-saudara Zunaira yang lain.
__ADS_1
“Dia kakakku yang paling jelek. Kalau lagi kesal sama satu orang, semua orang ditemuinya juga pasti dikeselin. Aku kasih tahu dari sekarang supaya kamu nggak kaget nantinya.”
Pria itu tak menanggapi. Hanya matanya yang berbicara.
Nai tak bisa membayangkan andai rumah ini dipenuhi oleh orang-orang seperti Umar. Pasti umurnya nggak bakal bisa panjang. Bahkan mungkin bisa mati berdiri.
“Umaaar!?” seru Vita mengejar anak curut itu. Namun terlambat karena mobilnya sudah melesat cepat.
Vita berhenti di depan pintu. Melihat kepergian anaknya sambil berkata dengan menggebu-gebu, “Durhaka sama orang tua, Mama sumpahin jadi orang sukses!”
Vita percaya doa ibu adalah doa yang paling mustajab. Jadi dia menjaga bibirnya agar tak salah mengucap meski keadaannya sedang sangat jengkel.
“Mama ada apa sih, Ma?” Zunaira bertanya.
“Ya biasa ... dia kan nggak pernah akur sama Papanya,” jawab Vita. “Padahal lagi dibilangin baik-baik, tapi dia malah ngira kita yang pilih kasih sama anak. Dijelasin seperti apa juga nggak mau ngerti, jadi berantem lah mereka. Tahu ah, Mama pusing!”
Wanita itu pergi. Bahkan saking pusingnya, dia sampai tidak menyadari ada siapa di samping Zunaira sehingga gadis itu cepat-cepat menoleh. “Maaf ... Mama nggak bermaksud begitu,” katanya sangat tidak enak hati.
“Aku tahu,” ujar Andrea agar Nai tak terlalu mengkhawatirkannya. Dia bukan cewek baperan yang apa-apa dipikir sampai rambutnya botak separuh. “Sepertinya aku harus secepatnya pulang.”
“Nggak mau mampir dulu?”
“Nggak, aku banyak urusan. Surat-suratmu segera dikumpulkan supaya cepat di urus.”
“Mas Andre!”
Nai menghentikan pria itu saat akan kembali masuk ke mobilnya.
“Aku mencintaimu!”
Andre tersenyum bangga karena akhirnya Nai mau mengakui di depannya secara langsung.
“Aku pun begitu,” balasnya sebelum pergi.
Sementara di tempat lain, Umar menuju ke rumah Sarah. Melenggang masuk ke dalam rumahnya setelah berhasil membobol pintu dapur. Ya, sekuat itu!
Anehnya saat masuk, Umar menemukan piring kotor di wastafel pencucian yang sepertinya belum lama di gunakan. Dia pun bertanya-tanya, apakah Sarah masih ada di rumah ini?
Atau wanita itu memang sengaja membohonginya karena menolak untuk dinikahi dan ditemui lagi olehnya?
“Sarah?! Sarah?!” gegas Umar mencari-cari jejaknya.
Bersambung.
__ADS_1
Mau ngomong apa kalian sama Umar 🤣
Deterjen dipersilakan.