Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Tenang, Cuma Kaki yg Lumpuh


__ADS_3

199


Mauza terpaksa disuntik obat penenang oleh dokter karena histeris pasca mendengar kabar buruk mengenai suaminya. Tak hanya itu, dia juga memaksakan diri untuk meloncat dari tempat tidurnya demi bisa menemui Sammy.


Sedangkan Utami sendiri, wanita itu sudah sadar dari pingsannya. Beliau meminta kepada salah satu dari orang yang ada di sana untuk mengantarkannya ke IGD menemui sang anak. Sebab Sammy belum dipindahkan karena pada saat ini, semua kamar sedang penuh. Dan rencananya, mereka akan memindahkan Sammy ke ruangan yang sama dengan istrinya, Mauza.


“Ayo, Bu. Saya temani ke bawah, ya?” ucap Zara mewakili semua orang. Tentu setelah mendapatkan izin dari sang suami.


“Terima kasih, Nak. Terima kasih,” balas Utami.


Keduanya pun turun menuju ke sana. Memasuki lift dan melewati lorong yang begitu panjang, lalu masuk ke sebuah pintu khusus yang langsung menghubungkan mereka ke dalam IGD.


“Di sebelah sana,” tunjuk Zara ke tempat tidur yang paling ujung.


“Ah, anakku ...” Utami terisak begitu melihat sang anak yang biasa ceria, kini lemah di atas tempat tidur dengan beberapa luka di beberapa bagian tubuhnya. Dan yang paling menonjol adalah di bagian kaki. Karena di bagian itu ada gulungan dengan benda yang tebal.


“Jangan khawatir, Bu. Anak Ibu sudah kita tangani semaksimal mungkin. Dia sudah sadar tadi dan sempat mencari keluarganya. Tapi mohon maaf, kami beri beliau obat penghilang rasa sakit agar dia bisa beristirahat. Jadi, jangan diganggu dulu, ya?” papar dokter perempuan yang menghampiri mereka.


“Gimana keadaan anak saya yang sebenarnya, Dok? Dari keadaannya yang seperti ini, nggak mungkin dia nggak kenapa-kenapa?”


“Saya tegaskan sekali lagi, Anda jangan khawatir. Anak ibu hanya mengalami cedera patah tulang kaki di bagian ini,” dokter menunjukkan dengan tangannya, “saya juga sudah cek organ dalamnya secara menyeluruh, dan Alhamdulillah, Anak Ibu tidak mengalami masalah apapun.”


“Anak saya nggak lumpuh total kan, Dok?”


“Jika melihat usianya yang masih muda, saya yakin sekali anak Anda bisa cepat sembuh. Tulang yang patah bisa menyambung lebih cepat daripada pasien patah tulang yang usianya lebih tua. Tapi dengan beberapa catatan, harus rajin kontrol ke dokter, rajin minum obat, rajin fisio terapi dan lain-lain sesuai anjuran dokter spesialis orthopedi nya.”


“Alhamdulillah.” Napas kedua wanita di depan dokter itu berangsur lega.


“Kapan anak saya dipindahkan ke ruang rawat?” tanya Utami lagi.


“Secepatnya, ditunggu sebentar lagi, ya. Kami sedang menyiapkannya.”


“Terima kasih, Dok,” jawab Utami dan Zara bersamaan.


“Sama-sama Ibu, baik saya tinggal, ya....”


∆∆∆


Sammy mendesis saat dia sadarkan diri. Butuh waktu selama beberapa lama untuk mengumpulkan semua informasi yang ada dipikirannya, kenapa dia bisa terbaring di tempat ini. Seperti kepingan-kepingan puzzle yang mulai tersusun, kemudian membentuk sebuah ingatan yang berangsur jelas.


Ada rasa sakit tak terperi di semua bagian tubuhnya terutama di bagian kaki. Dan Sammy sudah paham apa yang terjadi di sana, sehingga dia tak terkejut pada saat dokter menyampaikan berita tersebut.


Dokter menjelaskan, singkatnya, dia tidak mengalami lumpuh total. Dia masih bisa diberikan kesempatan untuk sembuh dan berjalan kaki seperti biasa lagi, tentunya setelah beberapa bulan konsisten mengikuti berbagai macam pengobatan.


Sebenarnya bukan soal itu yang Sammy pikirkan sekarang, tetapi Mauza lah yang sangat dia khawatirkan. Suami macam apa aku ini? Begitu batinnya terus merutuk. Bukannya menemani sang istri di tengah sakitnya, dia malah menambahkan kesengsaraan lain. Belum lagi nafkah lahir maupun batin yang mungkin tak bisa dia berikan selama sakit.

__ADS_1


“Tepatnya berapa bulan aku bisa jalan lagi?” tanyanya pada Dokter yang tengah menanganinya.


“Tidak bisa dipastikan seberapa lamanya, tapi menurut yang sudah-sudah, seseorang yang mengalami patah tulang akan bisa berjalan dalam waktu tiga sampai enam bulan. Asalkan, tidak terlalu memaksakan diri untuk melakukan pekerjaan berat,” jawab dokter memaparkan.


“Lama! Yang seminggu sembuh nggak bisa?” katanya lagi terdengar galak.


Dokter terkekeh, “Hebat, ya. Energinya masih full meskipun kondisinya seperti ini.”


“Di rumah juga gitu,” sahut Utami. Satu-satunya orang yang menemani anak itu. Sedangkan Zara sudah pamit pulang karena dia menggatakan tak bisa meninggalkan anak-anaknya lebih lama. “Biar badan lagi demam tinggi pun, dia masih jalan-jalan, main terus kayak nggak ngerasain sakit,” sambungnya.


“Masyaallah.” Dokter tersenyum mendengar cerita konyol itu. “Laki-laki harus tangguh ya, Mas!”


“Iya, dong!” jawab Sammy tak terlalu tanggap. Sebab otaknya hanya dipenuhi oleh Mauza saja saat ini. Mauza, Mauza dan Mauza.


Usai dokter pergi, Sammy pun segera menanyakan wanita itu, “Mana, Bun? Kok nggak ke sini-ke sini?”


“Iya, iya, Nak. Ya Allah. Sabar, Mauza nya juga baru sembuh.”


“Udah dihubungi belum?” Sammy menuntut.


“Udah, Sayang. Tunggulah sebentar. Istirahat saja dulu. Jangan terlalu banyak cakap.”


“Aku nggak mau istirahat kalau Mauza belum datang,” kekeuhnya.


“Minta tolong ambilin kursi roda, Nak!” titah Vita kepada Umar. Di sana hanya ada Yudha, Vita dan Umar saja karena yang lain sudah pulang lebih dulu.


“Udah, nggak usah khawatir, suamimu nggak papa. Dia udah sadar tadi Mama di telepon sama Bunda Utami,” Vita memberitahu anaknya.


“Bener, nggak papa?”


“Ada tulang yang patah, tapi insyaallah segera membaik kalau rajin kontrol sama terapi.”


“Patah?!” pekik Mauza.


Vita memperjelas, “Iya, kakinya.”


“Apa?!” suaranya masih meninggi. Berbagai macam masalah membayang di pikirannya. “Ayo cepat, Mar!” Mauza tak sabaran pada saat melihat kembarannya bergerak secara slow motion.


“Antar lah dia ke sana Mar, sepertinya kami butuh makan dulu,” ucap Yudha dan diiyakan oleh anaknya itu.


Mereka pun kemudian pergi ke tempat Sammy berada. Hanya mereka berdua yang boleh memasuki ruangan. Bergantian dengan Utami.


“Mana?” tanya Mauza saat keduanya sudah berada di ruangan tersebut.


“Sabar Maemunah!” jawab Umar setengah kesal, “itu ruangannya ada di pojok.”

__ADS_1


“Kamu jalannya kek orang yang belum makan seminggu, Mar.”


“Udah di bantuin dorong malah nyuruh cepet-cepet, dasar saudara nggak tahu di kasih untung!” gerutunya.


“Diem lu, Mar. Lagi sakit masih juga di omelin.”


“Habisnya kamu sih, cerewet.”


Sebentar kemudian, mereka pun berhenti. Umar menyingkap tirai sembari berkata, “Tuh, tuh, suami kamu!”


“Sammy ....” ucap Mauza begitu melihat sang suami.


“Mauza?!” senyum di wajah Sammy langsung mengembang. Dia langsung merasa jauh lebih baik berkali-kali lipat daripada sebelumnya pada saat melihat wajah yang dirindukannya itu. “Za, aku kangen kamu, Za...”


“Cih, lagi sakit kok sempet-sempetnya mikirin kangen,” gumam Umar yang tentu saja di dengar oleh mereka.


“Suruh orang itu pergi aja, Za!” usir Sammy kepada musuhnya yang kadang-kadang juga bisa akur kalau sedang terpaksa.


“Lagian siapa juga yang mau nemenin kalian cepaka-cepiki? Mangnya gue obat nyamuk? Masih mending gue lihat monyet pacaran daripada lihat kalian bucin-bucinan. Bikin enek?!” balas Umar lantas pergi.


Kedua manusia itu tak peduli apa yang baru saja Umar katakan. Anggap saja dia emang nyamuk beneran. Nyamuk jumbo.


Sebab Mauza kini beranjak berdiri untuk memeluk suaminya.


“Aku khawatir sekali kamu kenapa-kenapa, Sam ... cepet sembuh, ya. Aku janji nggak bakal sedih lagi.”


“Kamu udah baca?” kata Sammy bermaksud menanyakan hadiah yang akan diberikannya. Ia tahu, bunga itu akan sampai di tangan Si Penerima.


“Udah,” jawab Mauza, “lagian pakai acara beli bunga-bungaan segala, sih?”


“Pengen aja, biar romantis. Aku nggak pernah ngasih kejutan buat kamu.”


“Sekalinya ngasih, nyawa jadi taruhan.”


“Aku nggak papa, cuma sakit dikit. Anggap aja ini pengorbanan cintaku buat kamu.”


Kini Mauza melepaskan pelukannya dan bertanya sembari menatap kaki Sammy yang terluka, “Bener, kaki kamu ...?”


Sammy tersenyum misterius, “Tenang, cuma kaki aku aja yang lumpuh. Bagian yang lainnya enggak. Jadi aku bisa menghamili kamu lagi.”


“Ihhh!” Mauza tertawa, dia hampir saja mendorong tubuh Sammy seperti biasanya andai pria itu tak segera memberinya aba-aba.


“Awas! Awas!” kedua bola mata Sammy membola memberinya peringatan.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2