Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Menculik Seorang Gadis


__ADS_3

111


Flashback


“Udah sampai mana progresnya?” tanya Rayyan dua hari lalu kepada Sammy saat pria itu datang bersama ayahnya, mengunjungi lokasi pembangunan sekolah yang terletak di daerah Bekasi.


Sammy menunjukkan dokumen yang dibawanya sembari menjelaskan apa-apa saja kendalanya selama dia meng-handle proyek tersebut.


“Sudah beberapa hari, daerah ini diguyur hujan deras sama angin kencang, Pak. Jadi kami sering kehilangan waktu kerja. Kalau untuk yang satu ini, saya nggak tahu gimana solusinya. Cuaca memang nggak bisa diprediksi. Pagi ini cerah, siang atau sore hari nanti tiba-tiba bisa hujan deras,” papar Sammy kepada mereka berdua.


“Tidak apa-apa. Kalau hujan jangan diteruskan. Bahaya juga buat para pekerja,” sahut Yudha memosisikan diri andai dia menjadi mereka yang juga sama-sama mempunyai anak-istri, dan selalu di harapkan keselamatannya.


Tentu saja tak akan berkah memperkerjakan orang di atas kemampuan mereka, sebab darinya bisa mendapatkan doa yang jelek.


Ketiganya berkeliling untuk melihat satu-persatu bangunan yang sudah berdiri meski masih terbilang sangat mentah. Sesekali menyapa para pekerja yang tak sengaja mereka temui.


“Berapa lama lagi perkiraan selesai?” tanya Rayyan kepada Sammy. Ketiganya lantas mencari tempat duduk agar bisa berbincang lebih banyak.


“Maksudnya sampai tahap mana nih, Pak?” Sammy mengerut bingung, “kalau sampai tahap finishing, saya dan Mandor kira masih cukup lama.”


Samar, Ray menganggukkan kepala. “Kamu ada masukkan atau pendapat lain, Sam? Siapa tahu ada yang terlewat dari kami?”


“Oh iya, ada-ada.” Sammy membuka ponselnya dan menyampaikan sesuatu, bahwa, sebaiknya mereka segera melakukan registrasi Dapodik dari sekarang mengingat berapa lamanya pendaftaran ini di proses oleh pusat. Hal ini bisa terjadi karena kesalahan sistem ataupun keterlambatan petugas dalam menginput data yang telah dimasukkan.


“Supaya nanti ketika pembangunan selesai, pendaftaran pun juga selesai dan langsung bisa diresmikan,” paparan Sammy terdengar mudah dipahami.


“Oh ya-iya, ide bagus itu,” sahut Yudha setelah Sammy selesai bicara. Pintar juga rupanya dia, dalam hatinya diam-diam memuji. “Ada lagi?”


“Marketing atau promosi. Tapi saya kira, untuk orang-orang seperti Anda mungkin lebih mudah karena sudah mempunyai nama.”

__ADS_1


Sammy pikir, istri Rayyan juga seorang influencer yang otomatis mempunyai pengaruh besar di dalam pandangan masyarakat. Pasti mudah baginya untuk membantu membagikan informasi secara luas.


“Sebaiknya juga mulai saja dari sekarang supaya nanti nggak terlalu grabak-grubuk kalau waktunya sudah mepet.”


Ray dan Yudha terdiam, sebab menyimak penjelasannya.


“Untuk menghindari bujet yang terlalu besar, saya sarankan supaya mengenalkan kepada orang-orang terdekat dulu. Karena dari mereka, nanti sekolah baru ini akan disebar luaskan secara gratis.”


“Terima kasih atas saranmu, Sammy,” ucap Rayyan yang ditanggapi baik oleh pria itu.


“Kriteria seperti apa guru yang Anda mau, Pak? Biar saya catat.”


Rayyan menjawab, “Yang pasti, utamanya mayoritas guru pendidik di sini nanti setidaknya lulusan Diploma, baik dalam bahasa Inggris ataupun Arab. Kalau lainnya, umum saja.”


“Baik. Ada lagi?”


“NPWP belum kita ajukan,” jawab Rayyan. “Tapi sepertinya kalau untuk itu, perlu dikonsultasikan dulu sama pengacara. Nggak bisa sendiri. Kita juga perlu rapat lagi untuk membahas banyak hal setelah ini.”


“Carikan pengacara yang baik dan jadwalkan kita supaya bisa melakukan pertemuan,” titah Yudha menunjuk Sammy lagi.


“S-saya lagi, Om?” Sammy tampak keberatan.


“Lalu siapa lagi? Urus semuanya sampai tuntas, kalau tidak ingin Mauza aku jodohkan sama laki-laki lain.”


Hah? Sammy menganga dibuatnya. Apa ini berarti dia masih diberikan kesempatan untuk mendekati putrinya?


Namun, untuk membuka mulut saja rasanya dia tak terlalu berani. Alhasil, dia hanya diam-diam memikirkan sampai akhirnya kedua orang itu hampir pergi.


“Kami akan mengadakan acara empat bulanan di rumah Papa. Datang saja ke sana dua hari lagi,” ujar Rayyan saat mereka masuk mobil. “Sekali lagi thanks bantuannya. Nanti bonusnya dikirim pertengahan bulan.”

__ADS_1


Sammy tersenyum dan mengepalkan tangannya ke udara setelah mobil mereka pergi. “Yes, yes yess! Bonusnya dapat dua. Mauza plus-plus.”


Bertepatan hari itu, sore harinya Sammy datang ke sana sendiri, membawa serta kamera dan menaiki motor gedenya. Berniat menculik gadis cerewetnya untuk jalan-jalan.


Awalnya, memang tidak ada yang menyadari kedatangannya selain Ray, Yudha dan Umar karena selain tempat duduk laki-laki dan perempuan dipisahkan, dia berpenampilan sangat beda hari ini. Jika biasanya dia memakai baju formal atau setengah formal saat bekerja, kini dia memakai baju Koko. Baju yang menurut cewek 'keren' tapi tidak pernah ia pakai selain hari raya.


Tetapi pada saat pertengahan, Zunaira tak sengaja mendapatinya. Gadis itu hanya tersenyum samar dan menatapnya sekilas. Apakah dia sudah berdamai dengan keadaan yang sempat tidak diharapkannya? Sammy tak bisa menduga-duga


Namun pria itu berharap, semoga hubungannya dengan Zunaira tetap baik-baik saja walaupun pernah terjadi huru-hara di antara mereka.


Beberapa menit berlalu. Waktu yang ditunggu-tunggu, akhirnya datang juga. Sebab keberuntungan sedang berada di pihaknya. Sammy melihat Mauza beranjak ke arah belakang.


Perlahan, Sammy menggeser duduknya dan semakin menjauh. Lantas pada saat semua orang lengah, Sammy pun ngibrit seperti Jerry yang tengah dikejar oleh Tom. Dia melesat sangat cepat mengikuti ke mana Mauza pergi.


Selama beberapa menit di sana, Sammy melihat Mauza yang jorok itu terus menunduk sambil membuang ingusnya di lengan. Hiiii... itu menjijikkan sekali sehingga ia berinisiatif mencarikan tisu untuknya.


Tak jauh. Sammy menemukan benda itu di sudut meja. Huh, benda sebesar ini saja dia tak melihatnya. Sebab Mauza terus saja menunduk tanpa mau menatap sekitar selain memanggil-manggil Bibi yang entah berada di mana.


Pada saat itu area belakang tampak sepi. Tak ada satu orang pun yang melintas kecuali setan yang terus membisik, “Ayo, cepat bawa gadismu pergi sebelum orang lain datang melihatmu.”


Mauza belum menyadari siapa dirinya saat Sammy mengulurkan tisu hingga dia menerimanya. Heran. Padahal jelas-jelas Sammy sedang tersenyum padanya. Suaranya pun terdengar keras.


Apa mungkin otaknya sudah geser sehingga prosesnya lumayan lama saat digunakan untuk berpikir?


Namun sesaat kemudian, Mauza mendongak lagi. Tatapannya begitu terkejut, mulutnya menganga. Bahkan Sammy yakin kotak tisu ini bisa masuk ke dalam mulutnya yang biasa cerewet itu.


Tak mau menunggu lebih lama lagi, dan aji mumpung tak ada orang yang melihatnya, dalam sekali tarik, Sammy sudah bisa membawa Mauza keluar. Kemudian menaikkannya ke atas motornya.


Bersambung.

__ADS_1


Nikahin nggak, nih? 🤣


__ADS_2