
145
Sudah semalaman Umar tidur di rumah Sarah. Makan-makanan seadanya yang tersisa di kulkas wanita itu. Masak sendiri, mengurus semuanya sendiri meski sedikit kerepotan karena dia masih amatiran.
Dan demi melancarkan aksinya agar bisa menemui Sarah kembali, Umar juga menyembunyikan mobilnya di tempat parkir umum agar keberadaannya di sini tak terlalu kentara.
Dengan begitu, Sarah dapat mengira bahwa dia memang tak berada di sana.
Namun, nasib Umar justru sangat sial hari ini. Sebab saat dia menuju ke ATM untuk membeli keperluannya, semua kartunya sudah tidak aktif. Ada pun yang tersisa di rekening ponselnya namun tak seberapa. Umar jarang menyimpan uangnya di rekening ponsel karena dia tipe orang yang sedikit boros, apalagi jika sudah melihat diskon iklan market place.
“Aku sampai lupa kalau Papaku dosen,” gumamnya sambil menghirup asap rokok.
Sudah pasti Papa lebih pintar dan cerdik darinya. Kalau tahu seperti ini, Umar sudah ancang-ancang dari kemarin untuk mengambil semua uang tunainya di bank dan membuat kartu baru yang tak diketahui oleh Papanya.
Sudah ditinggal pergi calon istri, berantem sama orang tua, ATM nya di blokir, jadi pengangguran, nggak bawa baju ganti. Sialan. Jika boleh, Umar akan mengumpat sepuasnya.
∆∆∆
Empat hari berlalu.
Untung Umar kaburnya ke rumah ini, coba kalau Umar kaburnya ke Hotel. Berapa duit yang harus pria itu keluarkan untuk menyambung hidup?
Dan mungkin ke depannya, Umar harus mencari tempat penginapan yang murah, tapi yang banyak fasilitasnya supaya bisa lebih menekan pengeluaran.
Tetapi ... gimana caranya dia bertahan hidup?
Umar tak bisa melakukan apapun. Bahkan hanya memasak dan mencuci bajunya sendiri saja, dia masih sangat kesulitan. Selama ini dia begitu dimanjakan oleh mamanya. Setiap pagi, setiap saat, semua keperluannya sudah tersaji di depan mata. Wanita itu begitu memperhatikannya sepenuh jiwa dan raga. Dialah satu-satunya wanita yang paling dicintai sebelum akhirnya datang sosok lain. Hingga posisinya tergantikan.
Ah, bicara soal Mama, Umar jadi rindu dengan Mamanya. Dia masih ingat teriakan wanita itu saat dia hendak pergi. Kendatipun sedang sangat marah, Mama tak pernah mendoakan kejelekan baginya.
Umar menyayangkan kutukan mamanya yang malah mendoakannya jadi orang sukses. Harusnya, anak sepertinya dikutuk jadi perkedel saja biar hidupnya lebih berguna, batinnya berpikir.
Umar menyesal telah berbuat demikian terhadap orang tuanya. Padahal, persoalannya hanyalah sepele. Hanya urusan cinta. Namun, sampai hati dia menyakiti mereka.
Padahal, belum tentu Sarah mencintainya. Sebab kalau cinta, dia akan tetap di sini dan tak akan pernah pergi. Perlahan-lahan, Umar mulai menyadari.
Kenyataan ini membuat Umar kembali sakit hati. Apapun yang dilakukannya, pengorbanannya, waktunya yang terbuang, semua sia-sia. Tak berguna.
Sarah benar-benar wanita yang tega. Tak punya perasaan!
__ADS_1
Tak ingatkah dia, kebersamaan mereka sebelum semua ini terjadi?
♧♧♧
Umar tidur di kamar atas. Sengaja memilih tempat ini karena menurutnya, ini tempat paling nyaman karena dekat dengan jendela yang langsung mengarah ke balkon.
Pria itu menggeliat. Saat ini jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Entah sudah berapa jam ia tidur, yang pasti dia tak ingat apa-apa lagi setelah adzan isya berkumandang.
Baru Umar ketahui, ternyata tak melakukan apapun baginya cukup membosankan dan membuatnya gampang sekali mengantuk.
“Begini ya, rasanya jadi pengangguran nggak punya banyak duit. Pantes banyak orang yang bunuh diri karena stres.”
Bangun tidur, Umar memantik korek apinya. Menyalakan rokok, lalu membuka jendela.
Dia merokok sambil memainkan gitar yang tersedia di sana. Lalu bersenandung lagu galau yang sesuai dengan isi hatinya saat ini. Sesekali Umar bergumam sendiri seperti ODGJ.
“Apa aku sudah mirip seperti penyanyi ges?” Pria itu celingukan. “Kok nggak ada yang nyahut? Dah macam orang kurang setengah ons aja aku, ni.”
Umar berhenti sesaat ketika dia berniat memantik korek, karena rokok pertamanya telah habis terhisap. Namun sebelum Umar melakukannya, dia mendengar suara seseorang yang tengah menutup pintu gerbang.
Suara itu begitu jelas sehingga ia tak perlu menajamkan telinganya. Sebab selain hari sudah sangat larut malam dan sunyi, di sini hanya ada dia saja yang menghuninya.
Umar beranjak. Dia menuruni anak tangga tanpa menyalakan lampu. Bersamaan dengan itu, Umar melihat bayangan dan suara telapak kaki seorang perempuan. Sedang berjalan menuju ke ruang tengah yang diyakininya adalah Sarah.
Bahkan sorot lampu dari dapur yang meneranginya semakin memperjelas, bahwa sosok itu adalah wanita yang dia cari-cari dan dia pikirkan selama ini sampai ia hampir hilang kewarasan.
Sambil terus waspada dan berusaha menahan dirinya yang dipenuhi dengan luapan amarah, Umar terus menuruni anak tangga hingga akhirnya ia tiba di bawah.
Tepat di samping saklar lampu, Umar berhenti. Kemudian menekan tombol itu.
Tik.
Lampu terang benderang bersamaan dengan suara Sarah yang memekik. Mata wanita itu menatapnya dengan mata yang membola hingga hampir keluar dari rongganya. “U-Umar?!”
Umar bertepuk tangan dan tersenyum menyeringai.
“Kenapa kamu bisa masuk ke rumahku?”
“Apa pertanyaan itu penting?” Umar menanggapi pertanyaan Sarah dengan pertanyaan pula. “Bagus! Baguuus! Bagus sekali Sarah, teruskan saja permainanmu. Kita lihat akan sampai di mana kamu merasa lelah.”
__ADS_1
Umar mendekati Sarah sehingga wanita itu terus berjalan mundur.
“Ma-maafin aku, Umar. Aku mengacaukan hari pernikahan kita dan mungkin saja mempermalukan mu,” ujarnya terdengar sangat ketakutan.
“Aku sudah pernah bilang bukan? Aku nggak pantas jadi pendampingmu. Bukankah waktu itu semuanya sudah jelas, aku nggak bersedia dinikahi. Tapi ... tapi kamu malah datang sama Papa kamu dan memaksaku yang nggak berdaya menolak ini,” paparnya.
“Nggak bersedia kamu bilang?!” hardik Umar. “Apa seperti ini caramu menghentikanku! Kamu pergi seenaknya tanpa berpikir gimana perasaanku, Sarah! Aku bahkan menunggu kepastian mu sampai hampir gila! Di mana akal pikiranmu?!” Umar mengguncang tubuh Sarah dengan mata yang membeliak tajam.
“Umar ... maafin aku Umar. Aku nggak tahu lagi gimana caranya untuk menolak ...” isak Sarah sambil menoleh ke belakang sangat panik. Kini tak ada lagi baginya ruang untuk melarikan diri. Dia sudah berada disudut dan posisinya telah terpojok.
“Kurang ajar kamu Sarah!” bentak Umar. “Wanita kurang ajar!”
“Maafin aku, Mar ... aku sama sekali nggak bermaksud seperti itu ....”
Mendadak lidah Sarah menjadi kelu melihat roman wajah Umar yang sedemikian mengerikan. Dia tak pernah mendapati wajah Umar seperti ini selain perlakuan lembut yang selalu ia terima.
“Apa yang harus aku lakukan supaya kamu memaafkanku?” tanya Sarah memohon pengampunan.
Umar semakin mendekat dan menempelkan tubuhnya ke tubuh Sarah, hingga keduanya tak lagi ada cela selain lapisan kain yang melekat pada diri masing-masing. Dan itu membuat tubuh Sarah semakin gemetaran. Berkeringat dingin. Takut akan hal buruk yang akan Umar lakukan terhadapnya.
“Kamu tahu apa yang bisa kamu lakukan untuk menebus kesalahanmu?” tanya Umar.
Sarah menggelengkan kepalanya cepat dan meluruhkan air matanya yang sedari tadi berembun.
“Tubuhmu!” sambungnya membuat Sarah menjerit sekeras-kerasnya.
“Jangan Umar!” Sarah meraung, bibirnya memucat. “Kumohon, jangan lakukan yang satu itu. Jangan sakiti aku. Kamu bisa ambil semuanya yang aku punya, rumah, mobil, motor, atau ruko? Kamu bisa ambil asal janga-”
“Sebenarnya aku memang lagi butuh,” sela Umar. “Karena gara-gara kamu, aku jadi kehilangan semuanya. Tapi sayang sekali ....” Umar membelai pipi mulus Sarah, “aku nggak berminat karena aku lebih butuh tubuhmu itu!” pria itu menyeringai.
“Kumohon Umar ...” rintih Sarah terus memohon, namun tak dipedulikan oleh Umar yang sudah gelap mata terhadapnya.
“Nggak, Sarah. Jangan harap aku akan mengampunimu. Kamu harus tahu rasanya dikecewakan dan dipermalukan di depan banyak orang. Aku bahkan sudah merasakan jauh lebih sakit daripada apa yang akan menimpamu kali ini.”
Dalam sepersekian detik, Umar membenamkan bibirnya. Menghempaskan tubuh Sarah ke sofa dan ....
Bersambung.
Kalian mau aku up nggak besok?
__ADS_1
Cus komeng👇