Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Tersugesti


__ADS_3

Karena lagi baik, aku tambahin 1 bab lagi. Tapi plis, like dulu bab sebelumnya ya!


86


Sebenarnya Zara ingin memberitahukan Sammy bahwa Zunaira sedang sakit oleh karena sebabnya. Akan tetapi rasanya ini tidak perlu karena hanya bisa menambah keingintahuan Sammy saja. Yang kemudian malah bisa membuat Sammy semakin tak bisa melupakan gadis itu.


Lagi pula, waktunya sudah sangat sempit. So, Zara tidak bisa lagi berlama-lama di tempat ini karena sekarang, Ibu Rakasiwi sudah menunggunya di ruang rapat. Mungkin lain kali, ia akan berbicara lagi empat mata dengannya jika ada kesempatan.


“Udahlah, lagi males bicara panjang lebar. Yang penting dia udah aku kasih tegur.” Kemudian, Zara menuju ke ruang rapat di mana di sana sudah berkumpul banyak orang sehingga dia meminta Belle untuk segera memulai rapatnya.


“Baik acara rapat kita hari ini akan membahas lanjutan yang kemarin, ya, Bapak-Ibu semuanya ....” kata Belle kepada semua orang yang hadir di sana dan segera menyalakan layar.


Sedangkan di tempat lain, Sammy tetap berusaha tersenyum pada wajah-wajah penuh tanya temannya untuk menunjukkan bahwasanya ia sedang dalam keadaan baik-baik saja.


“Syukurlah kamu keluar dengan kepala utuh,” ujar Damar menyambutnya di ruang kerja mereka.


Sammy segera menanggapi, “Lu pikir Zara mau makan gue di dalam sana?”


“Gue takut dipecat, Bro. Gue nggak yakin masih bisa di sini kalau nggak ada, elu. Lu ibarat jantungnya team. Karena kamu kami bisa hidup.”


“Lebay lu. Udah tenang aja, masalah gue udah beres.”


“Lu ada masalah apa, sih?”


“Nggak usah kepo!”


“Pelit lu, Sam!”


Sammy kembali melanjutkan pekerjaannya lagi. Sepertinya ia akan disibukkan dengan berbagai macam aktivitas ke depannya. Tak mengapa. Minimal ini bisa sedikit melupakan masalah yang sedang menghinggapinya akhir-akhir ini.


“Sejauh jarak dan sedalam lautan memisahkan, kalau jodoh ... pasti kita akan tetap bertemu, Nai,” batin Sammy begitu yakin. Entah mengapa ia mempunyai tekad untuk memperjuangkannya.


“Karena aku bukan pengecut!”


...∆∆∆...


Satu Minggu sudah berlalu semenjak rapat terakhir dengan Ibu Rakasiwi. Kini produk-produk terbaru Zara sudah mulai di produksi sebanyak mungkin karena Zara yakin, kali ini penjualannya akan kembali membludak.


Pasalnya, baru beberapa hari saja mereka memosting iklan, kolom komentar sudah dibanjiri oleh ribuan orang yang berminat untuk memesan produk ini. Pun banyak yang ingin datang secara langsung ke tempat penjualan, seperti cabang, agen ataupun lain sebagainya.


Zara sendiri pun semakin sibuk membantu marketing team nya agar hasil akhirnya nanti bisa mencapai batas maksimal. Bukan hanya itu saja, kadang di waktu-waktu luang, dia juga ikut menemani sang suami mengisi acara-acara majelis ilmu. Di sana, dia diperkenalkan oleh Rayyan kepada banyak orang mulia yang mempunyai kelebihan dalam bidang ilmu dalam agama Islam, seperti: ahli dalam tafsir, ilmu hadist, ilmu kalam, bahasa Arab dan paramasastranya seperti saraf, nahwu, balagah dan sebagainya.


Sungguh pertemuan yang luar biasa. Zara menyukai orang-orang seperti mereka yang membuat namanya menjadi semakin harum. Dan perlahan ... ia mulai terlepas dari hujatan-hujatan yang dulu sering diterimanya. Lihatlah, betapa mudahnya Tuhan membalikkan dunianya dalam sekejap waktu.


Namun ada hal yang masih menjadi beban terbesar. Zara tidak pandai berbahasa Arab sehingga terkadang, ia tidak tahu apa yang suaminya bicarakan dengan teman-temannya menggunakan bahasa itu. Hingga pada suatu saat, dia pun juga meluangkan waktu untuk belajar bahasa Arab agar bacaan Alquran nya pun semakin baik lagi.


...∆∆∆...


Now where could this mischivous grin possibly lead us to?


Stay tuned for a whole lot of madness coming your way soon, #Zaralovers.

__ADS_1


“Ada rencana apalagi kamu, hmm?” tanya Miranda di pagi hari saat melihat banyaknya iklan video terbaru dari akun Zara.co.


“Mau launching produk baru, Mam,” jawab Zara.


“Seriusly?” kedua bola mata Miranda langsung membulat. Dia ikut senang mendengar capaian putrinya tersebut.


“Yeaa!”


“Di mana grand openingnya?”


“Di Mall Ci*******, Mam.”


“Emang udah beres pengurusannya seperti siapa EO nya, yang mau ngisi acaranya, dan lain-lain?” Miranda mengkhawatirkan hal ini, sebab memang tidak mudah meluncurkan produk/brand terbaru di antara banyaknya para pesaing yang lebih hebat pastinya. Terlebih Zara juga masih seorang pemula.


Tapi kalau dipikir-pikir, menurut Miranda kemampuan bisnis anaknya selama ini memang cukup baik. Kemungkinan keahlian Zara seratus persen menurun darinya. Hmm cukup hebat juga dia rupanya.


“Nggak tahu, Sammy sama Belle yang ngurusin. Aku tinggal terima beres,” jawab Zara meletakkan ponselnya agar lebih sopan saat berbicara dengan orang tua.


“Mami sibuk banget jadi nggak tahu kamu mau ngapain aja. Mana besok mau ambil raport Mike di sekolah. Pusing Mami bagi waktunya.”


“Usahain tidur yang cukup, Mam. Aku nggak mau Mami drop. Besok kalau aku bisa, aku yang ambil nggak papa ....”


Miranda mengangguk, “Untung Mike udah makin ngerti, jadi kurang perhatian pun dia udah nggak banyak protes lagi. Paling minta ditemenin tidur kalau malam, udah itu aja.”


“Tapi Mami tetep bisa dateng ke acara launching tas terbaru aku, kan, Mam?”


“Kapan waktunya?”


“Ya, Mami pasti usahakan,” kata Miranda akhirnya menyepakati, “gimana, semuanya aman? Maksud Mami ... nggak ada teror-teror lagi?”


“Sejauh ini sih, nggak ada, Mam. Mungkin nggak, ya? Kalau orang itu cuma mau sekadar iseng?”


“Nggak tahu juga. Coba kalau Mami indigo, pasti dah tahu siapa orangnya.”


“Izh, si Mami. Bisa-bisanya malah kepikiran jadi orang Indihom. Yang dikasih lihat begitu aja pengen normal kayak kita. Mang nggak serem lihat setan?”


“Lebih sereman manusia yang lagi ditagih utang daripada setan.”


“Relate banget!”


“Pagi-pagi dah rapi begini mau ke mana?” Miranda menyentuh kerudung yang Zara pakai.


“Mau ke rumah Mama. Mau nengok Zunaira sekaligus mau ngundang mereka. Nggak enak ngundang mertua lewat pesan. Kesannya kayak nggak sopan aja.”


“Oh iya, ya. Mami malah belum sempat jenguk Zunaira.”


“Nggak papa. Pasti mereka ngerti, kok.”


“Sama Ray juga?” tanya Miranda lagi.


“Iyalah, sama siapa lagi?”

__ADS_1


“Orang kok nggak pernah pada di rumah. Pergi melulu, kapan liburnya? Kerja, kerja, kerja, tipes.”


Zara tergelak tawa mendengar gerutuan Maminya barusan.


“Awas, jangan capek-capek. Jaga kesehatan. Takutnya kamu lagi hamil malah nggak tahu. Udah periksa belum?” tanya Miranda lagi yang sontak membuat Zara menoleh.


“Apaan, sih, Mam. Orang baru nikah kemarin udah disungging hamil. Jangan emak-emak komplek, deh.” Zara mendadak bete. Belum nikah disuruh cepet-cepet, sekarang sudah menikah disuruh cepet hamil juga. Emangnya pada mau ke mana sih, kok suruh cepet-cepet terus?


“Eh, jangan remehin omongan Mami, lho. Kamu itu nikah pas selesai haid. Sekarang udah haid lagi belum?”


Sedemikian jauhnya Mami memperhatikan dirinya, pikir Zara. Tapi kali ini dia senang karena itu tandanya, Mami sayang padanya.


“Ya belum lah, Mam. Kan, belum waktunya.”


Zara menandai siklusnya di kalender yang memang belum mencapai lingkaran. Sebab siklusnya bisa dibilang lebih panjang dari rata-rata wanita kebanyakan karena kadang bisa mencapai 35 hari kalau sedang eror, capek, atau stres. Maka dari itu, ia tidak terlalu yakin berharap lantaran takut kecewa.


“Besok dicek, ya. Lebih cepat tahu lebih baik. Supaya kamu sendiri juga bisa lebih menjaga dari awal,” kata Miranda lagi yang ditanggapi setengah tak peduli. Ah, mana mungkin secepat itu? Batinnya terus saja menampik.


“Iya ....”


Tapi kini perhatian mereka tersita pada sosok yang sedang menuruni anak tangga. Harum sabun langsung menyebar ke mana-mana termasuk menyusup ke hidung mereka berdua.


“Pagi, Mam,” sapa Rayyan begitu sampai di bawah.


“Pagi, juga,” Miranda menjawab dengan seulas senyum.


“Masih menjadi misteri, kenapa laki-laki kalau habis mandi wangi sabunnya bisa sampai ke mana-mana? Sedangkan aku, mandi satu jam pun kurasa tetep biasa aja. Padahal merek sabunnya sama,” celetuk Zara membuat Miranda sontak mencibir.


“Alah, namanya juga bucin. Suami bau ketek, pun kamu bilang bau surga.” Miranda beranjak dari duduknya dengan tawa mengejek.


“Suami Mami, kali tuh yang bau ketek.”


“Nggak papa yang penting banyak duwit.”


Dasar, anak sama ibu sama-sama jahil, batin Rayyan menertawakan mereka berdua yang sebenarnya lebih mirip hubungan pertemanan daripada seorang anak dan ibu.


“Yuk, langsung berangkat aja,” Rayyan mengulurkan tangannya dan di sambut oleh istrinya itu untuk berdiri.


“Tapi kamu belum sarapan.”


“Aku kangen sarapan di rumah Mama.”


“Oh, iya. Okay-okay.” Zara mengangguk mengerti.


Keduanya masuk ke dalam mobil dan segera menuju ke rumah Mama Vita.


Namun di perjalanan, diam-diam Zara tak henti memikirkan ucapan Mami tadi yang menyinggung dirinya soal kehamilan. “Besok dicek, ya. Lebih cepat tahu lebih baik. Supaya kamu sendiri juga bisa lebih menjaga dari awal.”


Benar juga kata Mami, tidak ada salahnya kalau dia cek terlebih dahulu. Toh, dia tidak harus pergi jauh-jauh ke rumah sakit. Ada alat tes kehamilan yang bisa dibeli di mana pun.


Akan tetapi karena terus memikirkan membuat Zara tersugesti hingga merasakan keanehan. Tiba-tiba dia jadi mual mencium aroma parfum mobil ini. Bau parfum yang biasanya aman-aman saja di hidungnya.

__ADS_1


__ADS_2