Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Happy Family


__ADS_3

186


“Mana tuh anak, katanya mau nunggu di POM,” gumam Dara mencari-cari mobil keponakannya, setelah beberapa meter mereka keluar dari halaman kompleks.


“Tahu. Nggak jadi berangkat kali,” balas Alif.


“Mana mungkin? Mereka udah keluar duluan daripada kita.”


“Siapa tahu ada masalah mendadak. Bukannya mereka tukang ribut?”


“Sama kayak kamu juga.”


“Kamu yang mulai,” balas Dara menyalang tajam.


“Kamu!”


“Kamu!”


“Kamu!”


“Kamu!”


Dan terjadilah aksi saling menuding. Tidak ada yang mau mengalah. Mereka belum berhenti sebelum Sakira berteriak, meminta mereka untuk diam.


“Kayak gitu aja kenapa harus ribut sih, Mi, Pi?” kata Sakira tak habis pikir. “Nggak enak dilihat orang.”


Di mobil itu hanya ada Dara, Alif dan Sakira saja karena anak lelaki mereka mempunyai kegiatan sendiri di hari libur panjang ini. Mereka sedang naik salah satu gunung yang ada di Jawa Barat.


Sebenarnya Alif ingin sekali ikut anak-anak lelakinya bertualang. Tetapi setelah dipikir-pikir, sepertinya dia sudah tidak sanggup lagi mendaki gunung. Yang ada, malah bisa mengganggu keseruan perjalanan mereka. Sebab, pria itu sudah tidak sekuat dulu dan sudah gampang mengeluh sakit pinggang. Maklum, bapack-bapack.


Alhasil, Alif memutuskan untuk mudik ke tempat kelahiran istrinya. Sekalian mengajak keponakannya Mauza dan Sammy yang kebetulan, tertarik untuk ikut untuk berlibur ke daerah itu.


“Huaah!” Dara menguap lebar-lebar sehingga membuat Alif sontak berkomentar.


“Amit-amit, baru masuk ke mobil sudah langsung ngantuk. *****.”


Dara melihat bagaimana pria itu berekspresi padanya. Sengit sekali.


“Nggak bisa kena AC, Da,” balas Dara terkekeh.

__ADS_1


“Kira, cepat telepon Si Semut itu, buang-buang waktu saja mereka,” titah Alif pada sang anak. Sambil mengomel.


“Tunggu sebentar, ya. Lagi bales chat ayang,” balas Sakira.


“Heh, siapa yang suruh kamu ayang-ayangan!” Alif mendelik. Dia memang sangat melarang anak perempuannya pacaran sebelum dia menyelesaikan S2 nya. Tapi yang namanya anak muda, mana bisa dilarang. Terlebih usianya juga sudah cukup dewasa. Sakira juga ingin seperti anak muda yang lain. Ingin tahu bagaimana rasanya dekat dengan lawan jenis.


“Ihh, Si Papi mah kayak nggak pernah muda aja,” Sakira mendengus sebal. Namun dia tidak berani melawan Papinya, yang jika marah akan sangat menyeramkan seperti orang yang tengah kesetanan. Semua barang di sekitarnya bisa melayang di udara. Demikian sudah sering terjadi, penyebabnya tak lain adalah karena Arash, adik lelakinya yang sering berbuat onar macam preman.


“Cepat telepon Mauza, Kira,” imbuh Dara menyahuti. Dia tidak ingin suaminya yang gampang naik darah itu kumat. Lantas bisa membatalkan rencana perjalanan ini.


“Za, kamu ada di mana?” tanya Sakira saat telepon tersambung, “kami udah di POM lho. Kok kami cari-cari nggak ada?”


“Loh, loh. Kami kan, ada di belakang kalian dari tadi, Cintah,” jawab Mauza.


“Ya Allah, Za! Ngapa nggak ngomong dari tadi, dah. Kami juga lagi nungguin.” Sakira, Dara dan Alif teriak bersamaan


“Kami kira kalian emang sengaja berhenti mau pipis dulu atau apa.”


“Nggak. Kami nungguin kalian. Emang kalian habis dari mana? Bukannya harusnya kalian di depan.” Sakira berkata demikian karena Mauza keluar lebih dulu daripada mereka.


“Kami habis dari Market sebentar. Eh, lihat mobil kalian jadi kami ikuti.”


“Ya udah, yuk jalan yuk!”


∆∆∆


Beberapa jam berlalu. Saat ini mereka sudah tiba di rest area Kledung Pass. Rest area yang menyajikan pemandangan indah antara dua gunung; Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.


“Gilaaaa, bagus banget pemandangannya, woy!” Mauza menjadi orang yang paling happy karena dia adalah orang yang sangat jarang melihat keindahan itu secara langsung. Terlebih lagi, suasana kota juga nampak sangat cerah. Awan kapas berserakan menghiasi di setiap sisi gunungnya tanpa menghalangi kerucut nya yang menjulang.


Gunung besar yang berdiri gagah di hadapannya, membuat Mauza teringat akan kisah-kisah pangeran zaman dahulu yang membangun istananya di atas awan. Ah, indah sekali baginya. Seandainya dia ditakdirkan hidup di sini, pasti dia bisa healing setiap hari tanpa harus merogoh koceknya.


“Katro,” balas Sammy. Padahal dia juga sama-sama kagum. Bahkan, pria itu sudah berhasil membidik gunung tersebut beberapa kali jepretan. Dengan kamera canggihnya.


Berbeda dengan Sakira, Alif dan Dara. Mereka adalah orang-orang santuy karena sudah sangat sering menjumpai pemandangan semacam ini. Sudah terhitung puluhan kali mereka melewatinya. Tentu saja begitu. Sebab daerah ini adalah tempat mereka pulang.


“Aku mau foto, dong!” pinta Mauza.


“Aku juga, aku juga!” Sakira ikut menempel erat di sisi kiri Mauza dan mulai berpose.

__ADS_1


Sammy menahan senyum melihat istrinya karena terlihat tak nyaman. Pasalnya posisi Kira begitu menghimpitnya seolah tempat yang luas itu begitu sesak.


“Inilah yang disebut, the real ketempelan,“ bisik Alif di sebelah kirinya yang kebetulan sedang melihat bagaimana cara Sammy memegang kamera.


“Anak siapa itu, Om?” kekeh Sammy.


“Anak Burung Dara,” jawab Alif serampangan.


Tak berapa lama, dengan gerak tak sabaran, Alif menyingkirkan Mauza dan anaknya sendiri. “Udahlah, cepet-cepet! Lama sekali kalian fotonya. Satu kali aja cukup.”


Mauza dan Sakira tampak kecewa karena mereka belum puas berpose dengan gaya yang lain.


“Huuhh! Bilang aja Om juga kepengen!” omel Mauza.


Benar saja, pria itu kini menarik istrinya untuk berpose mesra.


“Yang bagus ya, Sam!” Dara berpesan.


“Papi aku emang nggak mau kalah orangnya,” Sakira mengadu.


“Dahlah, kita tinggal aja yuk!” Mauza mengajak Sakira ke dalam rest area lebih dulu. “Kita cari yang anget-anget.”


Mauza dan Sakira masuk ke dalam sana dan mulai memesan makanan berkuah hangat. Untuk menghangatkan tubuh mereka yang terasa dingin. Begitu hawa yang mereka rasakan di daerah ini.


Sedangkan Alif dan Dara masih di tempat tadi. Rupanya, mereka belum mendapat gambar yang pas menurut mereka. Padahal, menurut Si Fotografer, beberapa gambar yang dibidiknya sudah keren. Ya, setiap orang memang memiliki selera yang berbeda. Dan Sammy memklumi hal itu.


“Kasihan Si Sammy, lho. Dia sendiri malah nggak ada yang motoin,” kata Dara saat mereka selesai.


“Nasib fotografer memang begini, Onti,” balas Sammy menurut pengalamannya. “Mereka cuma ada di belakang layar.”


“Tapi Onti kan, baik hati. Jadi biar Onti yang fotoin kamu.”


Penawaran terbaik dari Dara membuat Sammy tersenyum. Karena akhirnya ada orang yang peduli. Ya iyalah, Sammy kan juga pengen posting juga di lovagram, hehe. Dia juga anak muda normal pada umumnya yang suka membagikan kegiatannya di media sosial.


Dengan senang hati, Sammy pun berdiri dan berpose. Mempercayakan semuanya kepada Ontinya itu untuk membidik gambar dan backround nya yang sangat indah. Tentunya setelah dia ajarkan caranya memakai, karena Dara tak pernah sekalipun memakai barang aneh itu.


Namun setelah selesai, Sammy dibuat tercengang pada saat melihat gambarnya sendiri yang jauh dari ekspektasinya. Ada yang meleyot, ada yang mengerut, ada yang mengerucut. Semuanya dibidik pada saat dirinya belum ada di posisi yang siap.


“Pengambilan gambarnya udah pas, Onti. Tinggal pengambilan nyawanya.”

__ADS_1


Sammy tidak tahu. Haruskah ia tertawa atau menangis saat ini?


Bersambung.


__ADS_2