
Bab 37.
“Salah dua-duanya,” ujar Yudha kepada anak kandungnya sendiri, “seharusnya kamu tahu perkataanmu itu sensitif. Itulah kenapa kita dianjurkan menjaga sikap, di mana saja, termasuk di rumah sekali pun. Mengerti?”
"Mengerti, Pa ..." jawab Mauza lemah.
Setelah dipikir-pikir, perkataan papanya barusan memang ada benarnya. Seandainya tadi tidak ada bercandaan soal anak, pasti makan malam akan berjalan baik-baik saja.
Tapi....
Mauza kira kakak iparnya yang baik sekaligus seorang Hafidzah itu akan menjawab dengan cerdas. Bahwa pertanyaan soal kabar, pekerjaan, relationship, anak atau keluarga—memang bisa saja terlontar dari siapa saja, termasuk orang yang dia temui di luar sana. Semacam bahasa umum yang digunakan oleh orang-orang awal mereka bertemu setelah sekian lama, sekadar untuk berbasa-basi.
Dan apakah kita bisa melarang mulut mereka?
Jawabannya adalah tidak.
Alangkah baiknya jika kakak iparnya itu selalu berprasangka baik dan menjawab seperti ini, “tolong doakan supaya disegerakan,” atau “mungkin sebentar lagi, bantu doakan, ya?” atau “iya, nih, belum. Mungkin disuruh pacaran dulu. Pacaran halal! (bisa mengatakannya dengan senyuman supanya lebih enak dipandang”, atau masih banyak lagi jawaban lain tanpa harus menyambar dan menyimpulkan bahwa orang tersebut sedang bermaksud negatif. Demikian dari pandangan Mauza sendiri, entah orang lain. Yang jelas, mulut orang tak selalu menjadi belati apabila kita pandai menyikapinya.
Dan kali ini Mauza mengenyahkan rasa tinggi hati, “Aku nggak mau dibilang benar sendiri, Kak Hamidah. Aku mengakui kesalahanku dan aku minta maaf yang sebesar-besarnya, karena tanpa sengaja ucapanku sudah menyinggung Kak Hamidah. Dari hati yang terdalam, aku sama sekali nggak bermaksud sampai ke situ. Aku harap permasalahan ini nggak jadi lebar dan kita tetap berhubungan baik. Tolong maklumi, aku buruk dan masih perlu banyak belajar....”
Hamidah yang membungkam tanpa menanggapi permintaan maaf Sang Anak, membuat Yudha kembali menatap menantunya. Wanita itu sedang menunduk sedih dan siap menerima teguran, “Kamu juga, Hamidah. Kamu sudah lama menjadi bagian dari keluarga kami, seharusnya kamu mampu mengenal dengan baik adik-adikmu itu seperti apa. Mereka tak sama, ke semuanya mempunyai pembawaan yang berbeda-beda.
“Umar yang sedikit usil, Zunaira yang pendiam, dan Mauza ya, seperti yang kita lihat barusan. Jangan kamu ambil hati setiap perkataannya yang kadang tidak sedang bersungguh-sungguh. Kenali dan dekatilah mereka. Dia bukan orang yang hanya akan kamu bersamai sehari dua hari, tapi selamanya. Jangan kamu anggap orang lain apalagi saingan yang harus dilawan. Kalian adalah sosok kakak yang akan menjadi contoh untuk mereka ....”
Yudha menjelaskan satu-persatu bagaimana sifat anak-anaknya agar menantunya itu mau mengenal dengan baik. Sebab Yudha merasa Hamidah seperti sangat menjaga jarak, bukan malah sebaliknya. Masa awal-awal pernikahan, Yudha berusaha memakluminya. Tapi semakin ke sini, dia merasa Ray juga mengikuti tabiat istrinya yang jauh dan semakin menutup diri.
“Anakku tidak bermaksud membuatmu tersinggung, jadi bersikap biasalah. Maklumi sebuah keluarga pasti selalu ada perbedaan seperti ini. Tolong dimaafkan,” sambung Yudha terhadap menantunya yang hanya menunduk dan menahan air mata seolah dia adalah pihak yang paling ter zalimi.
__ADS_1
Namun bukannya legawa dan menerima masukan dari mertuanya, Hamidah justru beranjak berdiri, “Maaf semuanya, saya izin ke kamar dulu. Sekali lagi aku juga minta maaf karena sudah mengacaukan makan malam kalian.”
“Nanti Mama antar makananmu ke dalam, ya, Nak,” ujar Vita berusaha tak menunjukkan kepada siapa ia memihak.
Tapi respon Umar kali ini mengejutkan semua orang, “Mama ini apa-apaan, sih. Toh ada suaminya. Nggak usah naik turun tangga, nanti sendinya kumat. Nggak semangat goes.”
Zunaira yang sedari tadi ikut-ikutan merasa tegang, kini tak kuasa menahan tawanya, “Skip, skip, iklan mau lewat!”
“Iya, nanti biar aku yang bawa ke atas,” ujar Ray akhirnya ikut beranjak berdiri, kemudian mengantarkan istrinya ke kamarnya yang ada di lantai dua.
Dan berhubung Hamidah yang menyingkir, akhirnya Mauza mengurungkan niatnya pergi. Gadis itu kembali menarik kursi dan menyendok nasi, “Aku harus makan di sini. Kan, aku yang sibuk bantuin Mama masak dari tadi. Papa nih, nggak adil sama anak sendiri, ya? Pelanggaran,” gerutunya.
“Kamu itu terlalu banyak omong, kalau kata Oma itu rem blong,” kata Yudha keheranan melihat keturunannya seperti itu, padahal yang lainnya tidak. Memang ada sedikit kenakalan adiknya (Alif noran) yang menurun pada Umar, tapi masih dimaklumi karena tidak terlalu parah.
“Bukan banyak omong, Pa. Tapi menunjukkan diri apa adanya.”
“Iya, Papaku tersayang... Mauza minta maaf, ya. Lain kali nggak akan Mauza ulangi lagi,” ucap Mauza serupa orang yang tengah berjanji.
Usai makan malam dengan suasana yang sedikit menegangkan, Yudha dan Vita sengaja mengajak suaminya untuk bicara berdua di kamar mereka.
“Mas, sepertinya menantu kita kok, agak ter singgungan, ya? Sikapnya kurang ....” bibir wanita itu terasa berat untuk sekadar mengucapkannya, kendati di sini hanya ada mereka berdua.
“Mau ter singgungan atau tidak, kita memang harus menjaga sikap, kan?” Yudha menanggapi.
“Tapi kalau masalah seperti tadi, menurutku hanya masalah sepele. Kasihan juga aku lihat anakku disalahkan. Tadi sehabis makan dia nangis di kamarnya. Ternyata Mauza Cuma pura-pura kuat aja di depan kita. Aku langsung peluk dia. Dia minta maaf, kelihatan menyesal sekali dan janji nggak bakal ngulangi lagi.”
“Mungkin suasana hatinya memang sedang kurang baik.”
__ADS_1
“Setelah kita melihat seperti ini ... apa kamu yakin, anak kita bahagia dengan pernikahannya, Mas?” Vita merasa ada yang aneh karena Ray berubah menjadi pribadi yang sangat tertutup. Selain kurus, raut wajahnya juga seperti tertekan.
“Bahagia atau tidak. Sudah bukan urusan kita lagi.”
“Tapi Ray itu anak kita ... kasihan aku lihat dia, Mas.” Vita mengingat kenangan. Semenjak kecil, Rayyan sudah menjadi anak yang kurang beruntung. Disebabkan karena berbagai polemik yang terjadi di antara mereka berdua. Sekarang, dia juga dapat istri yang banyak kurangnya. Hati ibu mana yang tega?
“Apa boleh buat? Dia sendiri yang memilih, jadi biar dia yang menerima konsekuensinya.”
Yudha sudah berkali-kali meyakinkan anaknya sebelum dia menikah. Dan pada saat itu, Ray sangat yakin akan pilihannya. Menduga wanita yang hadir dalam mimpinya tersebut adalah jawaban. Padahal di waktu lain, ada seorang wanita lain lagi yang hadir bersimbah air mata. Sendirian di atas perahu dan semakin jauh.
“Tapi terlepas dari semua itu, aku yakin Ray bisa mendidiknya dengan baik,” sambungnya lagi.
“Aku pikir anak Kyai tidak seperti itu.” Vita menganggap anak Kyai akan terdidik dengan baik dan menjadi wanita yang salihah. Salihah yang dimaksud adalah baik dalam segala hal termasuk kesabaran yang seharusnya juga dimiliki.
“Anak Kyai juga manusia. Bukan berarti harus sama seperti ayahnya.”
“Mungkin ekspektasiku yang terlalu tinggi.”
“Jangan hanya karena kejadian ini, kita hanya melihat dari satu sisi saja. Aku yakin Hamidah mempunyai banyak kebaikan lain yang tidak kita lihat,” Yudha mencoba berpikir positif.
Tapi baru saja keduanya selesai berbicara, terdengar kegaduhan dari luar kamar. Di susul suara mobil yang melesat cepat dari halaman rumah.
Ya Tuhan....
Ada apa lagi ini?
Keduanya sangat cemas dan bertanya-tanya.
__ADS_1