Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Pukul Aku, Ra... Pukul!


__ADS_3

51


Perasaan Ray menjadi aneh. Dia seperti tidak asing dengan rumah ini.


Pria itu pun bertanya-tanya sendiri, sedekat apa hubungannya dulu dengan Zara, sehingga dia merasa sering datang ke tempat ini?


Sementara Zara sendiri sengaja terus berjalan menuju ke taman belakang setelah menyadari Ray mengikutinya.


“Zara ....” panggil Rayyan membuat Zara berhenti dan menoleh.


Rayyan terus mendekat hingga dia berhenti tepat di hadapan Zara. Mereka saling berhadap-hadapan meski Zara memalingkan muka untuk menghindari kontak mata.


“Sepertinya kamu benci sekali denganku,” ujar Rayyan menyadari dari tatap mata dan roman mukanya, “mungkin kesalahanku terlalu besar. Andai itu benar, tolong maafin aku, Ra. Aku cuma manusia biasa. Tolong, katakan apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku padamu?”


Dengan segera Zara menjawab, “Untuk apa kamu minta maaf, kalau kamu aja nggak ingat masalahmu sendiri?”


“Kalau bisa, aku akan kembali ke masa lalu untuk memperbaiki semuanya,” jawab Ray menanggapi jawaban berupa pertanyaan tersebut, “tolong bantu aku jelaskan semuanya, Ra. Karena cuma kamu yang tahu, sementara orang lain tidak.”


Oleh karenanya, Zara berbalik badan. Suasana hening selama beberapa saat sebelum Zara kembali berhadapan, “Ceritanya panjang.”


“Bukan masalah.”


Sehingga akhirnya, Zara mulai mengisahkan, “Kita bertemu pertama kali di depan studio televisi. Aku terpaksa asal masuk mobilmu yang tengah melintas karena sedang menghindari wartawan. Alasannya, karena aku malas di wawancarai. Tapi nahas, setelah kamu mengantarku ke suatu tempat ... ponselku malah tak sengaja tertinggal di mobilmu. Itu yang membuat kita bertemu lagi keesokan harinya.”


Zara menceritakan awal mereka bertemu, hingga pertemuan-pertemuan selanjutnya yang membuat mereka jadi dekat. Yang paling berkesan adalah saat Ray menolongnya sewaktu hampir dilecehkan oleh seorang fans di depan Cafe pertemuan kedua mereka.

__ADS_1


“Kamu bilang kalau pakaianku saat itu terlalu seksi, jadi kamu melingkarkan jaketmu di tubuhku. Sebab selain kurang sopan, kamu juga takut ... takut tergoda.”


Ray tersenyum mendengarnya.


“Sampai sekarang, aku masih menyimpannya. Bukan apa-apa. Sebab saat aku ingat, kamu sudah beristri. Jadi aku batal mengembalikannya karena tak mau perkara sepele itu jadi kesalahpahaman.”


Lantas setelah itu, Zara melanjutkan, bahwasannya mereka bertemu lagi di lain hari pada saat adiknya ulang tahun dan buka puasa bersams. Dari situ berlanjut ke pertemuan-pertemuan selanjutnya hingga hari raya selesai.


“Kamu buat aku jatuh cinta, Ray. Kamu menunjukkan semua perhatianmu dan memperlakukanku lebih dari sekadar teman.


“Tapi setelah aku terbuai sama sikapmu yang kupikir punya perasaan sama, kamu justru melarangku nyebut nama kamu lagi dan memintaku untuk tak lagi saling mengenal.


“Aku kuat walapun saat itu aku memang lagi dirundung masalah yang sangat besar. Sangat besar.


“Aku tegar walau pun semua orang membenciku karena berita murahan yang nggak pernah aku lakukan. Tapi aku ambruk, aku retak, aku hancur saat kamu yang mengatakannya. Bahkan rasa sakit itu mampu membuatku melakukan percobaan bunuh diri....”


“Ya, aku tahu aku salah. Seharusnya aku nggak terlalu banyak berharap karena dipertengahan, aku mengetahui sebuah fakta, kalau ternyata kamu sudah melamar perempuan lain sebelumnya.


“Namun perasaanku nggak bisa dicegah karena kamu terus memberiku harapan. Kamu nggak pernah melarangku untuk berhenti memupuk perasaan.


“Dan yang lebih menyakitkan, kamu tinggalin aku gitu aja tanpa kejelasan apa-apa. Kamu menikah dengan wanita lain seolah kamu nggak pernah punya masalah sama aku. Aku mengira kamu sengaja melalukannya karena kamu menikah sangat mendadak. Cepat sekali begitu kedekatan kita berakhir. Aku terluka, Ray. Kamu jahat sekali.


“Hanya ada satu orang yang selalu ada sama aku, gimana pun keadaanku. Sayang, di saat aku sudah mulai menerimanya, dia ninggalin aku juga karena suatu hal....


“Aku sakit ... sendirian ... nggak ada yang peduli....

__ADS_1


“But, okay. Aku nggak papa. Aku selalu bilang sama diriku sendiri agar aku kuat ... agar aku tetap berdiri tegak. Nggak lupa aku juga selalu berterima kasih sama diriku sendiri untuk selalu sabar menerima cobaan yang bertubi-tubi dan segala kelelahannya.


“Sampai akhirnya, aku benar-benar bisa bangkit lagi dan kembali menjadi diriku sendiri yang dulu. Bisa tersenyum, menangis, bahagia dan membahagiakan orang-orang terdekat.


“Tapi sekarang, saat aku sudah mulai bisa belajar melupakan semuanya, kamu malah datang lagi....


“Apa kamu pikir aku benda nggak berguna yang bisa kamu pungut kapan pun kamu mau?”


Kali ini Ray menyela pembicaraannya, “Kalau seperti itu kenyataannya, aku memang patut dibenci.”


Ray menyayangkan segala sikapnya yang dulu. Pantas saja Tuhan menghukumnya dengan sedemikian mengerikan. Sebagian orang juga mengatakan, lupa ingatan adalah sebuah penyakit paling fatal di antaranya.


“Kamu bilang aku benci? Ya, AKU BENCI SAMA ORANG MUNA SEPERTI KAMU,” ujar Zara dengan penekanan, “aku benci kamu yang dulu. Kamu yang merasa paling benar, paling mulia sendiri seolah orang banyak dosa sepertiku nggak boleh mengenal orang sepertimu.”


Ray seketika menghentikannya, “Pukul aku, Ra!” Ray mencondongkan wajahnya, mempersilakan Zara melakukan apa saja di bagian itu, “pukul aku sepuasmu, walau pun mungkin rasa sakitnya nggak akan pernah sama seperti yang pernah kamu rasain.”


Ray memejamkan matanya, bersiap menunggu Zara mendaratkan pukulan.


Dan ... nyata.


Setelah Zara mengangkat satu tangannya, detik berikutnya tamparan itu mengenai pipinya sangat keras, hingga permukaan kulit Ray terasa memanas.


Entah mendapat keberanian dari mana, sejurus kemudian, Ray langsung menarik Zara ke dalam pelukan. Dan di saat itulah, dia merasakan debaran yang sama.


•••

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2