Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Kamu Yakin?


__ADS_3

122


Ray menjatuhkan kepalanya di sandaran kursi mengingat-ingat masa yang telah lalu.


“Aku nggak merasa diriku paling benar. Tapi bukannya kamu yang dulu menarik ulur hubungan kita sampai aku berada di titik jenuh, hingga tak mau berharap lagi dan orang lain masuk hatiku.”


Bukan tak pernah memperjuangkannya, bahkan sebelum Ray berhenti berharap, dia telah beberapa kali mendatangi rumah Hamidah untuk meminta kejelasan. Namun, wanita itu selalu menolak menemuinya.


Terang saja kopi yang panas menjadi dingin. Sebab pemilik terlalu lama mengabaikannya. Jadi, siapa yang salah?


Lalu di saat dia menyerah dan mulai terisi harapan lain, Hamidah justru datang kembali dan mengatakan bahwa dia ingin melanjutkan hubungan mereka sampai ke jenjang pernikahan.


Apabila ada yang bertanya, kenapa harus bercerai?


Setiap orang, pasti akan berusaha mempertahankan hubungan pernikahannya, apapun yang terjadi.


Namun di dalam pernikahan Rayyan dan Hamidah, hubungan mereka benar-benar keruh. Watak Hamidah yang sulit diimbangi, membuat rumah tangga mereka jadi berantakan.


Ray selalu ingin menyatukan, tetapi Hamidah selalu ingin memisahkan. Mereka hampir tak pernah mempunyai pikiran yang sejalan.


Ray yang terlalu menderita oleh karena sakitnya, membuat Tuhan akhirnya memberikan jalan lain dengan cara menghilangkan ingatan dan melumpuhkan kakinya selama beberapa lama.


Dan dari sanalah, perpisahan itu terjadi. Hamidah menggugatnya di pengadilan, yang ternyata dilakukan olehnya hanya untuk sebuah gertakan. Tapi sayang, permintaannya justru dikabulkan hingga dia menyesali tindakannya sendiri.


Sempat ada permintaan dari Hamidah untuk rujuk kembali. Tapi Ray menolak karena pada saat itu, Ray merasa hidupnya lebih tenang tanpa ada Hamidah lagi.


Ray percaya dengan hukum alam. Jadi tidaklah heran, jika yang kurang baik untuknya akan pergi. Sebab alam akan menyeleksi dengan sendirinya.


Di tempat lain, Miranda pun demikian. Wanita itu baru saja membaca surat terbuka yang baru saja ditulis oleh Hamidah.


Miranda malah mengira Hamidah butuh pengobatan ruqyah karena mungkin ada jin yang bersarang di tubuhnya.


“Kasihan orang tuanya yang udah susah payah membangun dakwah. Pasti namanya jadi ikutan jelek.”


...∆∆∆...


Di tempat lain, Mauza pun sama seperti Rayyan. Dia geram bukan main atas pernyataan yang ditujukan kepada kakak iparnya. “Jatuhnya kayak nantangin ini, mah, yak?”


Mauza menunjukkan ponselnya kepada Vita. Sehingga wanita itu ikut berkomentar, “Padahal setahu Mama, Kakakmu itu sudah berusaha mempertahankan Hamidah. Selalu ngalah dan diam demi keutuhan rumah tangga mereka, tak peduli harga dirinya seorang suami di injak-injak. Bukan omong kosong semata, tapi karena Mama melihat dengan mata kepala sendiri waktu mereka tinggal sama kita di sini.” Mata Vita mengembun pada saat dia mengingat bagaimana anaknya diperlakukan.

__ADS_1


“Padahal Kyai Mohd Noor baik sekali orangnya, Uminya juga. Kenapa anaknya malah ....” bibir Mauza terlalu enggan mengatai Hamidah dengan bahasa yang buruk.


“Entahlah. Terkadang, Allah hadapkan kita dengan orang-orang seperti itu melainkan hanya untuk mengujinya, Nak. Allah uji umatnya dari arah mana saja yang Dia kehendaki. Entah dari istri, anak, menantu, saudara, orang tua, atau bahkan yang paling banyak ... dari ekonomi.”


Mauza mengiyakan. Dia sangat setuju dengan penjelasan mamanya barusan.


“Bener nggak sih, Ma? Kalau Kak Rayyan itu punya hati lain waktu mereka masih suami istri?” Mauza bertanya lagi.


Vita menjelaskan apa yang dia ketahui tanpa bermaksud menjatuhkan siapapun. Bahwa sebenarnya, Ray memang masih mempunyai perasaan kepada Zara pada saat itu.


Akan tetapi ... dia tidak pernah berusaha untuk mencari tahu, bermain hati di belakangnya, apalagi terang-terangan menunjukkannya kepada siapapun, terlebih kepada Hamidah yang pada saat wanita itu masih menjadi istrinya. Karena Ray juga menyayangi Hamidah sebagaimana seorang istri. Dan dia begitu menjaga perasaannya.


“Ada yang memang tidak kita kendalikan, Sayang. Yaitu hati manusia. Kita tidak bisa menuntut sebesar apa, seorang suami harus mencintai kita. Cinta itu tak bisa dipaksakan. Namun selayaknya seorang istri, kitalah yang harus membuat suami mencintai kita. Tunjukkan diri kalau kita lebih baik dari siapapun yang mereka pikir, bisa menggantikan posisi kita sebagai istrinya.”


“Begitu ya, Ma?” Mauza merebahkan kepalanya di pangkuan Vita. Dia sedang ingin lebih banyak mendengar tentang cara berumah tangga. Untuk dia jadikan bekal perjalanan hidupnya dengan suaminya kelak.


Vita mengiyakan, “Jarang ada laki-laki yang baik dan bertanggung jawab di zaman sekarang, Sayang. Masih diberi Allah suami yang baik saja, harusnya banyak-banyak bersyukur.”


“Iya, sih. Kalau aku ada di posisi Hamidah, mending bersyukur aja ya, Ma? Kan Kak Ray nggak selingkuh, nggak pernah neko-neko. Kalau kitanya sabar, nurut, pasti lama-lama juga bisa cinta mati, klepek-klepek.”


“Kayaknya ini calon-calon istri sabar kayak yang ada di Indosaur,” seloroh Vita membuat Mauza sontak tergelak.


“Kalau lihat modelan suami kek Sammy, kayaknya aku emang harus gitu, deh, Ma.”


Berbeda dengan Mauza dan Mamanya, Zunaira justru sibuk dengan urusannya sendiri karena merasa tak dilibatkan dengan semua urusan atau masalah mereka.


Mungkin mereka masih menganggapnya anak kecil yang belum matang dalam menyikapi masalah, sehingga dia jarang diperdengarkan atau dibebankan masalah-masalah yang berarti.


Namun, tidak masalah bagi Zunaira. Justru gadis itu merasa bebas. Sebab dia tak perlu ikut pusing untuk memikirkannya. Dan dia pikir, keluarga besarnya juga tak akan kekurangan orang-orang yang hebat dengan segala macam cara berpikirnya.


Sore hari di kantor, suara seseorang yang baru saja datang ke kubikelnya, mengalihkan fokus Zunaira dari layar monitor.


“Jadi, kapan aku bisa datang ke rumahmu lagi?” Pria itu bermaksud menanyakan pesan yang Zunaira kirim dua hari lalu, bahwa dia telah menerima pinangannya.


“Jangan sekarang,” jawaban Zunaira membuat Andrea mengernyit tajam. Mungkin dia mengira bahwa ia sedang mempermainkannya. “Maksudku, Kak Za baru saja dilamar Sammy kemarin. Jadi rasanya terlalu cepat kalau Mas Andre juga melamarku dalam waktu dekat.”


Zunaira kira, keluarganya juga butuh bernapas sejenak setelah dua hari kemarin, rumahnya digunakan untuk menggelar acara berturut-turut.


Lagipula, kesannya kurang positif karena seakan-akan, ia juga tak mau kalah dari Mauza.

__ADS_1


“Kapan?” tanya Andrea singkat.


“Tunggu sampai Kak Za menikah.”


“Nunggu sampai menikah?” tanya Andrea tak habis pikir, “kapan jelasnya? Tahun depan? Iya kalau jadi.”


Ah, iya. Zunaira lupa. Andrea Hirata bukan orang yang suka terlalu banyak berbasa-basi. Tidak seharusnya dia memberi penjelasan yang tidak pasti, bahkan berputar-putar.


“Aku dengar Minggu ini juga. Jadi, kamu bisa melamarku bulan ini juga, kok.”


“Baiklah. Aku pegang janjimu.”


Zunaira mengangguk.


“Dengan siapa kamu pulang?”


“Umar lagi menuju ke sini.”


“Ya sudah.” Andrea melenggang pergi.


Ya ampun. Bagaimana mungkin aku akan menikah dengan makhluk sejenis ini? Batin Zunaira bertanya-tanya sendiri.


Bahkan Andrea pergi tanpa mengucapkan salam barang sebaris kata pun padanya. Pria itu benar-benar perwujudan es balok yang nyata.


Beberapa menit berlalu. Zunaira pun turun pada saat Umar sampai di depan kantornya.


“Apa benar? Kata Papa kamu akan dilamar juga?” tanya Umar pada saat mereka sudah dalam perjalanan pulang.


“Ehm, iya, Kak,” jawab Zunaira bersemu.


“Udah dipikirin mateng-mateng?”


“Udah, kok. Andrea itu juga laki-laki baik.”


“Kamu yakin? Perasaan kamu belum lama kenal sama dia. Kamu hanya kenal dia di tempat kerja, kan?” tanya Umar lagi lebih menyelidik.


Zunaira bingung dengan pertanyaan kakaknya sehingga kali ini, ia memilih untuk tak menjawab.


“Aku yakin otakmu ini nggak pintar-pintar amat.”

__ADS_1


Zunaira sontak menoleh, “Maksudnya?”


Bersambung.


__ADS_2