
Ide konsep stage yang di wujudkan oleh Belle dan tim memang tidak diragukan lagi. Dekorasi yang berada di tengah-tengah Mall itu memang sangat menarik pengunjung. Estetik dan mewah, namun tetap menonjolkan ciri khas brand dari Zara.co. yang simpel dan lebih banyak memiliki warna pastel.
Bukan hanya tersedia tas-tas yang akan diluncurkan, tetapi juga terdapat beberapa game, give away, spot foto cantik dan promo-promo produk unggulan yang menggiurkan.
“Apa ada lagi keluarga yang mau ditunggu, Bu?” tanya Belle kepada Zara.
“Nggak ada, Bel. Di mulai sekarang saja acaranya,” jawab Zara. Pasalnya dia sudah melihat mama mertua dan adik iparnya selain tamu penting seperti Ibu Rakasiwi dan rekan-rekan sesama artisnya.
Speaker mulai dibunyikan. Belle pun segera membuka acaranya.
“Assalamualaikum warahmatullah ....
“Pertama-tama, kami menghaturkan selamat siang dan selamat datang di Mall Ci******* Jakarta Timur dalam rangka ....
“Sebagai insan yang senantiasa percaya akan kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa, maka sudah selayak dan sepantasnya kita senantiasa melambungkan pujian syukur ke Hadirat Allah Subhanahu’wa’taalla, karena hanya oleh kasih dan karunia-Nya lah, kita dapat berkumpul di tempat yang amat harmonis ini ....”
Di samping stage, ada Mauza yang entah datang dari arah mana, mencolek sang adik yang berdiri di depannya sehingga membuat gadis itu menoleh penuh tanya.
“Ada yang mau ketemu sekarang,” ucap Mauza pelan.
Zunaira mengikuti arah pandang Kakaknya. Tepat di belakang sana, ada seorang lelaki tengah tersenyum padanya dan menganggukkan kepala sebagai isyarat bahwa ini memang rencana mereka berdua.“Kenapa kebetulan sekali? Padahal aku lagi cari cara supaya bisa ketemu dia.”
“Tapi aku takut kalau sampai Mama tahu, Kak ...,” kata Zunaira setelah beberapa saat menimbang-nimbang.
Mauza menarik tangannya agar gadis itu menjauh dari lokasi, “Nggak papa, Kakak yang tanggung jawab. Ayo temui dia.”
“Makasih, Kak.” Sorot mata Zunaira melunak. Bahasa tubuhnya menunjukkan kasih.
“Ya, cepatlah!” untuk lebih meyakinkannya lagi, Mauza mengangguk dan tersenyum.
Usai Zunaira pergi bersama Sammy, Mauza menyendiri di dekat bagian informasi. Dia mengajak security yang ada di sana untuk sekadar berbincang agar dia tak terlalu bosan menunggu mereka berdua.
Demikian dilakukannya agar Mama mengira mereka pergi bersama.
“Ujan-ujan gini enaknya minum apa, ya, Mbak?” tanya security yang berada di dekatnya saat ini.
“Minum beer, Pak,” Mauza asal jawab.
“Beer ada di pelukanmu, mengajarkanku apa artinya kenyamanan, kesempurnaan, cinta ... haaaa ....”
“Ya ampun, bisa-bisanya Si Bapak malah lawak!” Mauza tertawa dibuatnya.
“Buat obat ngantuk. Saya agak ngantuk ini, dari pagi jagain pintu.”
“Kenapa harus dijagain, Pak?” canda Mauza. “Takut digotong semut?”
“Bisa aja ....” Mulut Bapak itu terlihat menguap-nguap. “Mbak kok malahan duduk di sini nemenin bapak-bapak seperti saya? Mbok ya masuk ke dalem, emangnya nggak mau lihat artis, atau cogan-cogan.”
Mauza tersenyum, “Saya hampir tiap hari lihat artis, Pak. Jadi udah gumoh.”
“Moso?”
“Bener, saya kan adeknya Ustaz Ray, istrinya Kak Zara.”
__ADS_1
“Ah masa? Yang bener ah!” Orang itu tak percaya dan malah mengira bahwa Mauza hanya sedang bercanda saja seperti tadi.
“Lha, kalau nggak bener emange piye?” akhirnya, Mauza ikut-ikutan bahasa Jawa medok juga.
“Beda, Mbak ....”
Untuk apa juga saya ngaku-ngaku? Batinnya agak kesal.
Dalam hati Mauza berpikir, apa mungkin tidak ada kemiripan dalam dirinya dengan Ray, atau anggota keluarganya yang lain misalnya, sehingga terkadang wajah ini begitu membedakan?
Bukan sekali dua kali, bahkan Mauza sering dianggap orang lain apabila bepergian dengan mamanya sendiri.
Mauza akui dia bukan tipe perempuan yang suka merawat diri. Apa itu fashion? Apa itu make up? Body goals? Ia tak terlalu peduli.
Apa karena sebab ini juga yang menyebabakan dia menjomblo di usianya yang dikatakan sudah cukup dewasa?
Entahlah. Mauza sedang malas memikirkannya. Baginya, utama yang harus ia lakukan di dunia ini sebagai makhluk hidup adalah ibadah dan berbuat baik, sebagaimana yang Tuhan perintahkan. Masa bodoh dengan masalah penampilan karena Mauza percaya, pasti akan ada pria yang menerima apa adanya suatu saat nanti.
Kini dia menatap jam. Tiga puluh menit sudah berlalu. Hatinya mulai cemas, kenapa adiknya belum juga kembali?
Sementara di tempat lain.
“Kita balik ke sana, yuk! Aku takut Mamaku nyariin. Kak Za juga udah nungguin dari tadi. Kasihan kalau dia juga yang nanti malah jadi sasarannya,” ujar Zunaira kepada seorang lelaki yang bermata sipit di depannya.
Sammy menjawab, “Oke, tapi betul, ya? Kamu besok sudah mulai masuk kantor.”
“Iya, tadi Kak Za bilang begitu. Jangan lupa dibuka blokirnya.”
Zunaira senyum-senyum. Hatinya berbunga-bunga seperti orang yang lagi jatuh cinta pada umumnya. Keduanya kembali dari arah belakang dengan jalan terpisah agar pertemuan mereka tak dicurigai.
Sekarang Zunaira bisa bernapas lega karena masalah ini sudah clear. Dia sudah minta maaf atas perkataan Umar waktu lalu, dan yang lebih menyenangkannya lagi, keduanya sudah bisa kembali saling terhubung.
Sammy: sampai jumpa besok. Kalau nggak sibuk, besok aku ajak kamu makan siang.
Begitu DM yang diterima Zunaira sambil saling menatap dari kejauhan. Lantas dia pun membalas:
Zunaira: oke.
Tanda hati dari Sammy terselip sebagai penutup percakapan mereka kali ini. Senyumnya semakin mengembang pada saat Sammy memberikannya kiss dari arah sana.
Zunaira pun segera menghubungi Kakaknya untuk menanyakan keberadaannya sekarang.
“Kakak di bagian informasi, nih. Sama Bapack-Bapack,” jawabnya dari seberang, “udah selesai?”
“Udah ... maaf ya, Kak. Aku terlalu lama.”
“Nggak papa.”
Panggilan di tutup. Setelah mereka bertemu, keduanya langsung kembali ke lokasi. Suasana masih ramai saat mereka kembali. Sepertinya tak ada yang menyadari kepergian mereka karena situasi tampak aman-aman saja.
♧♧♧
Keesokan harinya, Zunaira sudah mulai masuk kantor. Gadis itu tampak cantik, rapi dan lebih segar daripada biasanya pada saat menemui keluarganya pagi hari.
__ADS_1
“Seneng banget yang mau pertama kerja hari ini?” sindir Vita kepada sang anak.
Zunaira menjawab antusias, “Iya, Ma. Aku seneeeng banget.”
“Terima kasih sudah mau mengalah sama adik,” ucap Yudha kepada anak keduanya, “kamu buat Papa bangga.”
“Sama-sama, Pa.” Mauza tersenyum.
Khusus hari ini, Zunaira di antar oleh papanya sendiri ke kantor. Entah kenapa lelaki itu seperti berat melepas anaknya yang satu ini untuk bekerja.
“Jangan terlalu capek, ya. Makan yang teratur dan nggak boleh sampai dehidrasi,” Yudha mengingatkan anak bungsunya pada saat mereka tiba di tujuan.
“Iya, Pa.” Zunaira menyalami papanya. Kemudian turun dan di antar oleh security ke lantai yang dituju.
Sama seperti Mauza beberapa waktu lalu, dia juga di perkenalkan oleh manajer keuangan lama ke staf-staf lain, termasuk Sammy, lalu diberikan setumpuk dokumen untuk dipelajari.
Namun anak ini sungguh berbeda menurut manajer keuangan lama itu. Sebab Zunaira tak seperti Mauza yang lebih cekatan dan lebih banyak bicara. Sehingga dia lumayan kesulitan saat membelajarinya.
“Bukan seperti ini, Ibu Nai. Kan, tadi sudah saya jelaskan,” ujarnya mengoreksi hasil laporan yang baru saja Zunaira kerjakan.
“Oh, ada yang salah ya, Bu?”
“Ini susunannya masih banyak yang salah,” sahutnya lagi, “kamu sendiri tahu apa tidak tugas-tugas manajer keuangan itu apa saja?”
Zunaira menggeleng.
“Owalah, memangnya kamu ambil jurusan apa?”
“Ekonomi,” jawabnya.
“Pantesan kamu agak kesusahan, ini bukan bidangmu,” sahutnya segera. Tapi sebetulnya mudah saja kalau Zunaira memang sudah berpengalaman pikirnya. Sayangnya anak ini belum tahu apa-apa, bahkan untuk membawa dirinya sendiri saja, dia terlihat masih kurang percaya diri.
“Baiklah, saya harus lebih sabar lagi sepertinya.”
Sepeninggalnya wanita itu dari sana, Zunaira menggigit bibir bawahnya. Ada perasaan tak nyaman yang sedang dia rasakan dan tidak bisa dia ungkapkan. Hari pertama kerja, gadis itu pulang dalam keadaan kurang baik-baik saja.
Dia bahkan hampir lupa apa tujuannya masuk ke sana, karena semua itu seakan sudah tak berarti lagi saat ini. Zunaira down.
Sammy: tadi siang aku ajakin makan siang bareng kenapa malah nggak mau?
Zunaira: besok-besok saja, Kak.
Sammy: kenapa?
Zunaira: nggak papa.
Sammy: kok kamu aneh, sih?
Zunaira tak membalas. Dia memejamkan matanya. Kepalanya mulai pusing lagi.
Bersambung.
Simpan votenya untuk besok, ya!
__ADS_1