
75
Meski hari ini masih agak demam, Zara dan Rayyan tetap melakukan perjalanannya ke Bogor yang rencananya akan mereka singgahi selama tiga hari ke depan. Hadiah berupa paket honeymoon dari adik-adik mereka.
“Sebenarnya, aku sendiri pun merasa kita nggak perlu jauh-jauh dateng ke sana. Dah gitu, macet lagi,” kata Zara saat mereka hendak pergi, “tapi nggak enak sama Mauza, Umar, Zunei.”
“Kasihan, Ra. Kita harus menghargai pemberian dari seseorang, sekecil apapun itu. Sebab kita nggak tahu gimana cara mereka mendapatkannya.” Rayyan tak terbayang bagaimana cara mereka mengumpulkan uang jajan agar bisa patungan mem-booking Hotel untuknya. Mereka memang adik-adik yang sangat baik dan perhatian. Sepulang mereka dari sana, Ray berjanji akan menggantinya dengan cara lain.
“Permisi, Non!” seru Devi dari arah pintu yang sedikit terbuka.
“Iya, Dev?” Zara menjawab.
“Mobil udah siap, ya!”
“Bilang sama Pak Heru, kita turun sebentar lagi, Dev!”
Devi kembali menyeru, “Oke, Non!”
Zara kembali memusatkan perhatiannya ke suaminya lagi yang tengah menyisir rambut dengan sangat hati-hati. Meski masih sakit, tapi perban terpaksa dilepas karena cukup merepotkan. Ray sedang wara-wiri mandi wajib.
“Sini, aku bantu,” Zara menawarkan diri.
Rayyan menyerahkan sisir sekaligus pomade untuk menata rambutnya. Kemudian duduk untuk memudahkan Zara mengaplikasikan benda itu dan berpesan, “Jangan sampai kena lukanya.”
Zara mengiyakan. “Rambutmu agak ikal kalau panjang. Apa adik-adikmu juga begini?” tanyanya mulai menyisir.
“Hanya aku sama Zunaira yang seperti Papa.”
“Aku mau tahu, denger-denger, Papa sama Opa kamu pernah poligami, apa betul?” pertanyaan Zara merembet ke mana-mana. Namun menurut Ray lebih baik demikian daripada dia mengetahuinya dari orang lain yang kadang tak sepenuhnya benar.
“Benar, tapi Opa melakukannya untuk menolong seorang janda tua.”
“Kalau Papa?”
“Kalau Papa karena kecelakaan. Aku harap kamu nggak men-judge mereka karena masing-masing memiliki alasan.”
Zara menyanggah, “Aku nggak begitu walaupun aku benci sama poligami.”
__ADS_1
“Awalnya aku juga marah, apalagi saat mendengar bahwa ternyata aku hadir di tengah-tengah puncak konflik mereka. Tapi setelah tahu cerita sebenarnya seperti apa, aku segera memaklumi. Sebab belum tentu aku bisa menghadapinya.”
“Terus sekarang hubungan mereka gimana?”
“Hubungan Mama sama Tante Rahma baik-baik aja. Mereka sudah bahagia dengan pasangan masing-masing.”
“Hebat,” kata Zara yang segera di ralat, “hebat bisa damai sama keadaan maksudnya. Bukan poligaminya. Kalau aku sih, no! Kalau kamu berani poligami, aku minta langsung cerai,” Zara menolak secara tegas. “Aku nggak menentang poligami karena hal ini diperbolehkan oleh agama. Tapi nggak buat rumah tanggaku karena aku nggak punya alasan buat dipoligami. Aku baik, aku cantik, aku pintar, aku perhatian, aku subur dan aku punya banyak uang. Kalau kamu sampai nikah lagi, fiks berarti kamunya yang sakit mata.“
“Langsung ngegas,” Ray terkekeh. Perempuan selalu demikian kalau membahas masalah poligami. Padahal dia sendiri yang mulai nanya-nanya duluan.
Zara jadi naik pitam sendiri saat membayangkan andai Ray punya istri dua. Hingga tak sadar, tatanan rambut Ray kini tak berbentuk lagi.
“Ra, rambutku?” Ray menyadarkan.
“Eh, ya ampun!” Zara terkejut dan sontak tertawa sendiri saat melihat Ray mirip manga anime sepak bola, yaitu Kapten Tsubasa. “Sorry, sorry. Aku benerin lagi.”
Mereka terlalu lama bercanda sehingga membuat Miranda menggerutu di bawah. “Kasihan Pak Herunya nungguin kelamaan.”
“Jangan keras-keras omongnya nggak enak sama menantu,” Ruben menasihati istrinya.
Ruben hampir saja tersedak teh yang baru saja diminum. Apa katanya? Zarmintul? Astaga.
...∆∆∆...
Cici menelan ludah susah payah saat menerima surat pemutusan kerjasama dari Belle Zahir, wanita yang diwakilkan untuk menemuinya sekarang. Jangan ditanya bagaimana rasanya, terang saja ia kecewa sekali.
“Apa nggak ada satu kesempatan lagi untukku, Belle?” Cici terdengar memohon.
“Mohon maaf, tapi ini perintah dari Bu Zara langsung, saya hanya menjalankan tugas saja,” jawab Belle menahan rasa tak enak hati. Sebetulnya dia amat kasihan, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
“Padahal ....” Cici kembali bersuara berniat membela diri, tetapi dia urungkan karena sudah pasti percuma. Zara sudah membubuhkan tanda tangan di lembar kertas ini yang artinya, keputusan sudah final. Tidak dapat di ganggu gugat.
“Silakan jika ada yang ingin ditanyakan lagi, Bu,” kata Belle lagi, “kalau jawaban saya kurang memuaskan atau meyakinkan, Ibu Cici bisa menghubungi Bu Zara langsung. Tapi saran saya, kirim pesan saja, soalnya beliau sedang tidak mau diganggu.”
“Sudah, tapi hanya dibaca,” jawab Cici tampak putus asa.
“Baik, jadi semuanya sudah jelas, ya, Bu. Ada lagi yang bisa saya bantu?”
__ADS_1
“Nggak ada ....”
“Ya sudah, kalau begitu saya pamit undur diri. Mari selamat sore, Bu Cici....” Belle mengangguk sopan, kemudian melenggang pergi. Meninggalkan wanita yang sedang putus asa tersebut.
Sepeninggal Belle, Cici langsung menuju ke kediaman Ibu Tia Rumana untuk mengunjungi calon mertuanya tersebut, sekaligus menanyakan bagaimana nasib pernikahan mereka di tengah-tengah badai bencana seperti ini.
“Semoga Ibu Tia ada di rumah sekarang.”
Tia Rumana. Saat ini wanita itu sedang tinggal di rumahnya terdahulu. Tapi sudah sendiri karena kakek-neneknya telah tiada.
Harapan terbesarnya, pernikahan ini masih bisa dilanjutkan bagaimana pun caranya. Karena Cici tak sanggup menahan malu terhadap semua orang yang sudah diundangnya.
Namun anehnya, waktu ia sampai di gang rumah Tia, Cici justru melihat mobil taksi yang baru saja berhenti di depan rumah Tia.
Rasa penasarannya cukup besar sehingga Cici berjalan agak tergesa agar cepat tiba di sana. Entah kenapa ia begitu yakin bahwa Fasad kembali ke rumah ini. Mungkinkah dia akan menyerahkan diri?
Nyata. Kecurigaannya terjawab pada saat melihat Fasad keluar dengan menggendong ransel besar. Tapi celakanya, saat hampir menggapai kendaraan tersebut, roda mobil langsung melaju cepat membawa pria itu pergi lagi darinya.
“Fasad! Fasad! Tunggu aku, Fasad!” Cici berteriak sekeras mungkin dan berusaha mengejarnya. Sayang, kaki kecilnya jelas tak mungkin bisa meraih tingginya terbang sang elang.
Wanita itu meraung tanpa suara hingga wajahnya pucat dan bibirnya membiru. Tubuhnya jatuh di aspal yang kering. Di sana ia melihat beberapa tetes matanya yang jatuh berserakan.
“Kenapa kamu ninggalin aku, Fa... kenapa kamu ninggalin aku....” lirihnya disela isak.
Dalam keadaan demikian, Cici merasa sepasang tangan lembut mengusap bahunya. Wanita itu adalah Tia. Tak berapa lama wanita itu berkata, “Biarkan dia pergi jauh untuk menenangkan diri.”
“Terus bagaimana dengan pernikahan kami dan kasusnya, Bu?” tanya Cici hampir tercekat, “aku tahu, Ibu melakukan ini karena Ibu sayang padanya, tapi cara Ibu salah besar.”
Tia membungkam.
“Kenapa Ibu tak membiarkan Fasad mempertanggungjawabkan perbuatannya? Kenapa Ibu justru mendidiknya menjadi seorang laki-laki pengecut?”
“Ibu tak punya pilihan,” jawab Tia akhirnya. Dia tak bisa mengatakan hal lain lagi. Terpaksa. Ibu mana pun tidak akan tega apabila putranya dipenjara akibat kesalahan yang tidak sengaja dia perbuat. Fasad sedang sakit. Tia takut jeruji besi semakin memperparah keadaan anaknya sekarang.
“Fasad harus kembali, Bu. Fasad harus kembali,” kata Cici lagi, “aku hamil, Bu. Aku hamil anaknya.”
Pengakuan Cici membuat Tia sangat terkejut. Apa? Hamil? Anaknya?
__ADS_1