
169
Umar mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Ada benarnya apa kata Alma barusan. Dia harus menjaga mulutnya dari kata bahaya yang bisa membuatnya menyesal.
“Atau memang Abang mau kita pisah?” tanya Alma lirih. “Kalau memang begitu, aku ikhlas Bang. Mumpung kita juga masih belum terlalu jauh. Abang terpaksa menikahi ku, bukan? Atau Abang masih mencintai wanita itu? Nggak papa ... aku maklum. Memang nggak segampang itu melupakan orang yang kita cinta.”
“Cukup Alma! Jangan bicara omong kosong,” balas Umar. “Simpan pakaianmu lagi!”
“Aku akan ada, bertahan di tempat yang menghargai aku. Dan tempatnya bukan di sini ....”
“Lantas di mana? Aku sengaja membelikan rumah ini untukmu, Alma!”
Kali ini Alma tak menjawab lagi. Dia tak habis pikir. Hanya masalah sesepele ini saja bisa jadi jalan yang panjang.
“Jawab, Al!” desak Umar.
Diamnya Alma Umar sewot. Pria itu membuka koper Alma dan mengeluarkan isinya kembali. Lalu menyimpannya lagi di lemari secara asal.
“Baiklah. Kalau begitu biar aku saja yang pergi dan kamu tetap di sini. Seperti tadi yang kamu bilang, kita akan bertemu lagi kalau di antara kita sudah kembali tenang.”
BRAKK!
Pintu kembali dibanting dengan sangat keras sehingga membuat Alma sangat tersentak.
Alma pun meluruh ke lantai. Dia menangis sejadi-jadinya di sana. Tak peduli andai ada orang yang mendengar teriakannya itu.
“Oh Allah ... apa dosaku? Kenapa Kau kirimkan aku suami yang begitu mengerikan tabiatnya?”
Sekian lama dia menangis, pintu terdengar dibuka. Bi Yati segera masuk dan merangkul gadis yang malang itu. “Yang sabar ya, Mba ... yang sabar. Begini memang yang namanya pernikahan. Pasti ada saja cobaannya.”
“Tolong jangan bilang siapa-siapa tentang Umar ya, Bi. Apalagi ke keluarganya.”
“Tenang saja, Mba. Bibi nggak akan cerita ke siapa-siapa.”
Wanita tua itu kagum. Sudah dilukai sedemikian hebatnya pun, dia masih berusaha melindungi nama baik suaminya. Sayang, pemuda itu tidak tahu diri. Kalau saja wanita ini adalah dirinya, jangan harap pria itu bisa selamat. Pasti benda-benda sudah melayang menimpuk kepalanya.
♧♧♧
Dua hari sudah berlalu semenjak kejadian itu. Dua hari pula Umar tidak pulang ke rumah. Entah tinggal di mana pria itu karena sampai sekarang, dia tak mengabarinya sama sekali.
Alma gelisah. Dia sangat kesepian berada di rumah ini meski ada orang lain yang menemaninya. Tetap saja, dia ingin Umar yang selalu ada di sampingnya. Ya, hanya Umar.
Kalau ada yang bertanya bagaimana pertanyaannya saat ini, ia memang sudah mempunyai perasaan khusus pada saat mereka baru pertama kali bertemu. Alma melabuhkan perasaannya pada pria itu karena telah yakin, Umar akan menjadi pasangannya.
Apakah demikian kesalahan?
__ADS_1
Tentu tidak. Dia mencintai suaminya sendiri. Tidak ada yang salah terlepas bagaimana apapun sikapnya. Namun yang membingungkan, bagaimana dengan perasaan pria itu terhadapnya? Karena yang terlihat, perasaan mereka sepertinya tak sama.
“Gimana caranya biar tahu, di mana posisi Abang sekarang?”
Alma ingin menghubunginya dulu, tetapi dia tak mau pria itu jadi kepedean.
“Apa aku pulang aja ke rumah Ummi? Tapi aku takut dia malah semakin marah.”
Alma menggigit bibir bawahnya. Kesepian memang sunggu menyiksa. Dia sudah bosan dengan semua aktivitas yang dilakukan.
“Mba, ada tamu!” seru Bi Yati dari luar.
Ya ampun, saking sibuknya melamun kan Umar membuat telinganya seperti disumpal. Tak mendengar apapun.
Alma pun bergegas keluar, dia menyambut tamu itu yang ternyata adalah mama mertuanya sendiri. Beliau datang dengan anak ketiganya, Mauza.
“Assalamualaikum!” ucap keduanya bersamaan.
“Waalaikumsalam,” Alma menjawab. “Mama, Mauza? Ayo, masuk, masuk!” Dia mengajak kedua wanita itu masuk ke dalam rumahnya dan menerima serta oleh-oleh yang mereka bawa.
“Wihhh, cuakep buanget rumahnya! Pantesan aja mehong,” Mauza terkagum-kagum saat mulai menjelajahi area. “Terjawab sudah kenapa Umar selalu pelit ke aku sama Zunai. Ternyata dia ngumpulin uang buat beli istana. Menyebalkan!”
“Mama sama Mauza sengaja datang ke sini, Nak. Habis semenjak menikah, Umar nggak pernah bawa kamu datang ke rumah,” ujar Vita kepada sang mantu. “Kemarin datang juga cuma sendiri.”
“Agak cuek memang orangnya. Kita yang waras harus sabar.”
“Aku sabar sekali, Ma.”
“Gimana kabarmu, Nak?” Vita kembali bertanya.
“Alhamdulillah baik, Ma.”
“Syukurlah,” Vita tersenyum, “Ummi Zul gimana kabarnya? Kamu sering berkabar sama beliau kan?”
“Alhamdulillah, beliau juga baik. Kebetulan kami saling berkabar hampir setiap hari.”
“Memang seharusnya begitu, Nak. Kabari terus orang tua kita meskipun misalnya kita sibuk. Mumpung mereka masih ada. Karena menjadi yatim piatu sepertiku sangat tidak enak.”
Alma memberikan kekuatan wanita ini dengan cara menggenggam tangannya.
“Ah, tidak apa-apa, Nak. Mereka tiada semenjak aku umur belasan tahun, sudah sangat lama sekali. Jadi rasanya sudah biasa....”
Mauza kembali setelah berkeliling. “Umar mana sih? Katanya di rumah?” dia bertanya.
Tentu saja Alma terkejut. Bukannya sudah dua hari ini Umar tidak pulang? Apa dari kemarin Umar bersembunyi? Bisa-bisanya?!
__ADS_1
Alma mendadak was-was. Bagaimana ini? Aku harus jawab apa? Batin Alma. Gadis itu tak pandai berbohong. Beruntung dia belum sempat ditanyai apa-apa tentang Umar. Bagaimana kalau sudah dan jawabannya tak sesuai? Ketahuan berbohong adalah tindakan paling memalukan.
“Ngapain cari-cari aku? Kangen?”
Namun tiba-tiba, suara dari atas menyahut keras.
Kedua wanita itu mendongak kecuali Alma. Dia masih enggan melihat suaminya itu yang telah berulang kali menyakiti hatinya.
“Kamu ngapain di atas sendirian? Kek maling aja,” Mauza berlari menyusulnya. “Dari tadi dicariin bukannya turun.”
“Lagi olahraga, nggak lihat apa?”
Suara keduanya mengobrol masih terdengar sayup-sayup.
“Kalian nggak lagi berantem, kan?” tiba-tiba saja Vita bertanya demikian yang membuat Alma sontak tergagap.
“Eh, engga, Ma. Engga.”
“Syukurlah.” wanita itu bernapas lega. “Soalnya Mama tahu betul bagaimana sikap anak itu yang memang agak susah diimbangi. Mungkin cuma Mauza yang bisa klop sama Umar karena dia kembarannya. Kalau yang lain jarang-jarang.”
Vita menggenggam tangan menantunya dan menatapnya intens. “Mama minta maaf jika ada perlakuan Umar yang kurang menyenangkan, baik sekarang ataupun nanti. Kami akui ... pasti ada kesalahan kami dalam mendidiknya. Kamu tahu bukan? Satu tundun pisang walaupun mereka keluar dari satu pohon, mereka tak bisa tumbuh sama rata. Demikian yang kami alami.”
Mata Alma berembun melihat ketulusan wanita itu saat menatapnya. Dia memahami sekali bagaimana perasaannya. Lihatlah, dia saja sangat sabar menghadapi sikap Umar selama puluhan tahun, kenapa dia yang baru hitungan hari rasanya sudah tak sanggup?
“Alma maklum, Ma. Jangan khawatir, Umar memperlakukan Alma dengan baik, kok ....”
Vita terdiam. Dia tahu Alma tengah menutupinya. Namun, dia enggan mengorek lagi lebih dalam lantaran tak ingin membuat hati Alma semakin sempit karena terus menerus merenunginya. Umar masih bisa berubah dan dia yakin itu.
“Mama titip Umar ke kamu, dia hanya bisa disentuh dengan cinta. Buat dia mencintai kamu, Nak. Supaya dia lemah dan lebih mudah di arahkan.”
Alma mengangguk, “Alma janji ....”
“Terima kasih, Nak. Terima kasih. Kamulah harapan kami.”
Tak berapa lama, Umar dan Mauza turun. Mereka sempat berbincang, sekadar minum kopi dan ngemil sama-sama. Sebelum akhirnya Mauza dan Vita berpamitan pulang.
“Akur-akur ya, kalian!” pesan Vita saat mobil mereka mulai melintas.
“Iya dong, Ma. Kami akan selalu akur. Iya kan, Al?” kata Umar sangat percaya diri dan membuat Alma memaksakan senyum. Merasa diberi kesempatan, pria itu juga merangkul dan mencium pipi Alma di depan mereka seperti tak punya rasa malu.
Sembarangan, nggak tahu diri setelah apa yang dia lakukan. Alma sangat kesal.
Usai mobil mereka menjauh, Alma pun melepaskan tangan Umar yang masih ada pundaknya. “Jangan sok akur,” ucapnya lantas beranjak masuk.
“Alma!” Umar pun mengejarnya. Berniat menjelaskan, kenapa dia masih ada di sini.
__ADS_1