Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Menyesal


__ADS_3

146


Dalam sepersekian detik, Umar membenamkan bibirnya. Menghempaskan tubuh Sarah ke sofa dan terjadilah apa yang seharusnya tak terjadi.


Umar benar-benar gelap mata. Emosinya tak terkendalikan saat melihat wanita ini dengan mudahnya kembali ke rumah, terang-terangan menolaknya dan hanya meminta maaf setelah sekian banyak penderitaan yang dia alami.


Ya, wanita tak tahu diri ini harus tahu bagaimana rasanya diperlakukan sekeji itu.


Sarah tak pernah tahu bagaimana bingungnya Umar memikirkannya setengah bulan ini hingga ia tak dapat melakukan apapun. Bahkan sampai mengabaikan semua pekerjaannya dan berdebat dengan kedua orangtuanya.


Kalau tak cinta, kenapa dia tak memintanya untuk menjauhinya sejak dulu? Dia justru membiarkan hubungan mereka tetap berjalan dan membiarkan perasaan Umar jadi semakin dalam.


“Sembunyi di mana kamu selama ini, pembohong?” tanya Umar.


“Aku tidur di rumah temanku,” jawab Sarah enggan menutup-nutupinya lagi. Toh, Umar sudah mengetahui semuanya sekarang.


∆∆∆


Umar beranjak setelah merasakan kepuasannya. Dia tatap sekali lagi lamat-lamat wanita yang sedang menangis pilu itu. Merasai harga dirinya yang telah terkoyak.


Tunggu. Sejak kapan Sarah punya harga diri?


Bukankah semuanya sudah terenggut sebelum insiden ini terjadi?


Jadi, apalagi yang perlu disesali dan ditangisi? Dia sudah rusak. Jadi hancurkan saja sekalian. Seperti ini kan, yang mereka mau?


Semua laki-laki membutuhkan wanita hanya untuk menuntaskan hasrat sek sualnya. Apalagi selain daripada itu?


Cinta? Apa itu cinta?


Tidak ada cinta baginya. Cinta adalah milik mereka yang memiliki kuasa. Bukan milik orang kecil sepertinya yang tak punya apa-apa.


Umar berdiri membelakangi Sarah saat wanita itu berpakaian, kemudian memberikannya penawaran, “Aku tanya kamu sekali lagi, Sarah. Setelah apa yang terjadi saat ini, apa kamu masih menolak ku?”


Namun yang terdengar adalah tangisan yang semakin keras. Kejadian barusan masih menyisakan perih di hati Sarah. Celakanya, dia tak pernah bisa melawan.


“Sarah, aku nggak butuh tangisanmu, aku butuh jawabanmu sekarang!” hardik Umar. Dia mendekati Sarah lagi dan mengangkat dagu wanita itu agar mau menatapnya, “Ini penawaran terbaik dan terakhir untukmu, aku nggak akan pernah mengulang lagi. Apa kamu mau menikah denganku?”

__ADS_1


Lantaran takut, Sarah kemudian memelankan suara isakan nya.


“Jawab?!” bentak Umar semakin keras.


Tak berapa lama, pelan tapi pasti, Sarah menggelengkan kepala.


Sontak emosi pria itu semakin menjadi. Mukanya merah dan membabi buta. Dia menendang meja di depannya hingga meja itu terjungkal.


“Brengseekkk?! Memangnya kamu siapa, Sarah! Berani-beraninya kamu menolak ku!”


Umar mengucapkan berbagai macam umpatan. Dia pikir, Sarah akan menyerah dan bertekuk lutut dengan apa yang baru saja dia lakukan terhadapnya. Ternyata tak berpengaruh sama sekali. Sarah tetap saja menolaknya.


Demikian adalah penghinaan paling tragis yang pernah Umar alami. Seberapa malunya tak dapat di ukur. Umar merasa di telan jangi.


Sebagai seorang pria, penolakan dari perempuan adalah hal yang paling memalukan dalam hidupnya. Terlebih, penolakan itu keluar dari mulut seorang perempuan yang biasa-biasa saja seperti Sarah. Lain hal jika perempuan tersebut adalah seorang Cinderella atau Tuan Putri.


“Maaf Umar, maaf ... seharusnya aku nggak pernah coba-coba bermain dengan perasaan. Kamu laki-laki baik, Umar. Kamu pasti akan punya istri yang baik juga. Nggak seperti aku. Aku cuma perempuan miskin yang punya banyak noda,” kata Sarah pada akhirnya. Dia memeluk tubuh Umar dari belakang berharap bisa sedikit menenangkannya. Benar, Umar bisa sedikit tenang. Meskipun Sarah masih merasakan getaran tubuh pria itu. Getaran emosi, kecewa, sakit dan penyesalannya.


“Aku cuma takut menyakiti kamu, Mar ...” sambung Sarah. “Karena aku ... aku nggak bisa mencintai kamu.”


Tanpa mengatakan apapun, Umar melepaskan tangan Sarah dari tubuhnya. Lalu melangkah pergi.


Sarah langsung berlari ke kamarnya. Dia membuka laci lalu segera menenggak pil kontrasepsi darurat. Dia tak mau berurusan lagi dengan pria itu, sekarang ataupun kelak hari nanti.


“Anggap saja apa yang baru aku berikan adalah penebus rasa bersalahku padamu,” gumam Sarah. Pula segera membersihkan diri untuk menghilangkan cairan lelaki itu yang masih menempel di tubuhnya. Dia tak mau ketidakberdayaan nya kali ini kembali merusak hidupnya. Seperti dulu.


Sementara itu, Umar keluar. Dia berjalan kaki menuju ke tempat parkir mobilnya yang ada di gedung seberang. Pria itu terlentang di atas kap mobil. Merenungi kesalahannya yang baru saja melakukan dosa besar.


“Maaf, Tuhan ....”


Setelah berdiam diri sejenak, Umar masuk ke dalam mobilnya, lalu memejamkan matanya sejenak.


Dia terbangun pada saat adzan subuh mulai terdengar. Barulah setelah itu, dia menyalakan mobilnya. Memutuskan untuk kembali pulang.


Tepat di depan rumah, dia bertemu Papa yang hendak menuju ke masjid. Pria itu melihatnya dari atas sampai bawah. Bola matanya menelisik, menaruh kecurigaan.


“Kau tampak kacau sekali, Umar!”

__ADS_1


Umar diam saja.


“Sudah acara kaburnya?” pertanyaan Yudha terdengar mengejek, “Papa kira kamu mau pergi selamanya. Yang lama dong perginya. Kalau perlu tunggu kami mati dulu biar kamu bisa bebas.”


“Yud!” panggil Abah dari dalam mengurungkan niat Umar yang hendak meminta maaf.


“Ya, Bah.” Yudha menoleh. Rupanya orang tua itu meminta bantuannya untuk mengambilkan sandal. Keduanya berjalan ke masjid sama-sama. Sengaja tak memakai motor agar langkah kakinya dapat terhitung pahala.


Umar seakan tertampar dengan semangat Opanya. Meskipun jalannya sudah tak segesit dulu dan kakinya sering sakit, tapi tak menyurutkan semangatnya untuk beribadah. Sementara dirinya, masih muda, sehat, gagah dan perkasa, tetapi malah pemalas. Mungkin karena inilah yang membuatnya semakin tak terarah.


Umar pun bingung, sebenarnya dia itu keturunan siapa? Kenapa dia paling beda sendiri?


Opa adalah Kyai Haji. Papanya seorang dosen PAI, Kakaknya adalah seorang Ustaz modern yang lebih sering membahas persoalan masalah anak-anak remaja, sekaligus pendiri sekolah anak Islam. Sementara dirinya?


Tak ada yang bisa dibanggakan darinya selain terus membuat kerusuhan. Dia selalu menyusahkan banyak orang terutama orang tuanya!


Dengan menyampingkan rasa malu, Umar melanjutkan langkah kakinya ke dalam. Tepat di ruang tengah, dia berhenti saat melihat ibunya.


Kendatipun tak ada ucapan yang keluar, namun dari matanya, Umar bisa melihat binar kebahagiaan. Ya, wanita itu senang melihat anak curut tak berguna ini kembali.


Dia adalah orang yang paling tak peduli seberapa besar kesalahannya. Dia akan tetap menerimanya, bagaimanapun kondisinya.


Setelah beberapa saat saling pandang, keduanya mendekat.


“Ma ...” ucap Umar dengan suara tercekat.


“Sini, Nak ... peluk Mama Sayang,” balas wanita itu merentangkan tangan.


Keduanya saling memeluk, Umar tergugu. Dia mengucapkan permintaan maafnya berulang-ulang pada wanita itu.


Dia telah berdosa besar padanya hanya karena wanita brengsek yang bukan siapa-siapanya.


Wanita brengsek yang tak pernah bisa dibandingkan dengan sosok yang satu ini. Pengorbanannya, kasih sayangnya, rasa cintanya, dan semua yang dia curahkan setengah hidupnya.


Bersambung.


Alhamdulillah, akhir bulan. Bulan ini aku nulis 60 ribu kata lebih di sini. Semoga gak pada bosen.

__ADS_1


__ADS_2