
“Alhamdulillah ... sampai,” ujar Rayyan ketika baru saja tiba di gedung besar terdiri dari empat lantai itu. Kantor sekaligus outlet yang menyambung dengan warehouse di belakangnya.
“Aku kerja dulu, ya,” kata Zara memohon diri, “makasih karena masih di izinin keluar-keluar rumah.”
“Aku meridhoimu karena tujuanmu tak lain hanya untuk kebaikan.” Rayyan tersenyum.
Zara mengulurkan tangannya dan dibalas Rayyan dengan kecupan di kening.
Astaga ... rasanya Heru ingin tenggelam ke dasar laut melihat keromantisan mereka.
Mobil masih mengawasi Zara masuk ke dalam ruangan. Sebelum akhirnya melesat menuju ke Ponpes Darussalam.
Jadwal mengajar masih tetap, yaitu setiap hari Kamis dan Sabtu. Sedangkan hari-hari lainnya, di isi untuk acara kajian secara online mau pun offline, misal: seminar, acara talkshow, atau tamu undangan di program-program acara keagamaan.
Semenjak menikah dengan Zara, sekaligus pulih dari amnesianya, secara otomatis namanya juga semakin dikenal di kalangan masyarakat. Bahkan sudah ada acara terjadwal selama enam bulan ke depan yang membuatnya tak bisa lagi menerima tawaran apalagi cuti.
Ray menganggap semua ini adalah rezeki dari Tuhan. Tapi Ray juga yakin, dia tidak seberuntung ini jika tak menikahi Zara. Lantaran belakangan sebelum kecelakaan, ia hanya mengajar tetap di Ponpes karena undangan pun sudah sangat jarang.
Setelah dikaji-kaji berulang kali, ternyata beda istri beda rezeki pikirnya.
“Pak Heru langsung pulang saja,” kata Ray saat mulai memasuki gerbang besar Ponpes Darussalam.
“Tapi kata Non Zara sama Bu Miranda disuruh tungguin sampai selesai,” Heru sedikit membantah, “takut kejadian kemarin terulang lagi.”
Rayyan menahan tawa. Begini akhirnya kalau para wanita sudah pada kena penyakit parno. “Ya sudah kalau begitu. Saya nggak punya pilihan.”
“Bukan itu saja, kalau setiap hari Kamis, saya juga disuruh ikut masuk.”
Keheningan menjeda selama beberapa detik, sebelum keduanya tertawa bersamaan.
Ah, iya. Ray mengerti. Ada Hamidah yang juga mengajar di sana. Namun bukannya mereka ada di tempat terpisah?
Jarak antara Ponpes putra dan putri sangatlah jauh, dan mereka tak akan mungkin bertemu jika memang tak ada acara yang mengharuskan.
Namun sejauh ini, Zara selalu mempercayainya. Tak pernah khawatir suaminya bakal menyeleweng di tempat ini, apalagi mengekangnya.
Ray masih belum terlalu paham apakah Zara demikian karena dia mempunyai perspektif yang lebih luas? Ataukah mungkin karena rasa percaya dirinya yang tinggi?
Sebab dari awal Zara sudah menjelaskan, wanita itu mempunyai segalanya. Andaikan dia yang berani berbuat macam-macam, maka bukan Zara yang rugi. Melainkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Benar-benar wanita yang menantang. Dan Ray menyukai itu.
♧♧♧
“Oh, jadi dia salah satu team nya Zara,” gumam Vita setelah mencari tahu lewat profil yang tertera pada akun @Sammy_yunchen. Yang menyatakan dirinya adalah seorang pengambil gambar.
“Biarkan saja dulu selama mereka hanya sebatas berkirim pesan. Toh, anak kita pun menolak di ajak keluar. Kecuali, kalau mereka sudah berani pergi bersama. Maka kita harus mengambil sikap tegas,” Yudha menanggapi kecemasan istrinya.
“Tapi Sammy menyinggung cara mendidik kita, Mas.”
“Seharusnya kamu tidak perlu tahu itu. Ini akibat kamu lancang membacanya.”
“Maaf ...” ujar Vita menunduk, “aku terlalu berlebihan, ya?”
“Aku tahu kamu hanya khawatir. Tapi kita sebagai orang tua sebaiknya cukup menjaga dan mengarahkan. Tak boleh terlalu mengekangnya karena bisa menghilangkan rasa percaya diri mereka sama kita.”
“Semoga anak kita bisa menjaga diri.”
“Seperti yang aku bilang kemarin, jangan biarkan dia pergi keluar tanpa alasan yang jelas,” kata Yudha lagi.
Namun kekhawatiran mereka ternyata benar-benar terjadi. Karena satu minggu setelahnya, Zunaira mendesak mamanya untuk mengizinkannya pergi keluar. Dengan alasan ingin menonton.
“Sendiri, Ma,” jawab Zunaira sudah siap dengan pakaian perginya.
Dengan hati-hati Vita menawarkan, “Mama temenin, ya?”
Namun Zunaira menggeleng, “Nggak mau, ah, Ma. Zunai kan, sudah besar. Masa ke mana-mana masih selalu ditemenin?”
Batin Vita mencelos. Baru sekali ini Zunaira terdengar membantahnya. Jangan sampai dia berubah gara-gara pengaruh Si Sammy itu. Bisa-bisa Vita akan marah besar terhadapnya.
“Kalau boleh jujur, Mama lebih percaya sama Kak Za karena selain berani, dia sulit ditembus hatinya, Nak,” batin Vita tak bisa menyuarakan lantaran takut menyinggung perasaan anaknya.
“Zunai, Sayang. Mama temenin kamu karena Mama juga mau beli sesuatu di Mall. Okay?”
“Nggak mau, Zunai mau pergi sendiri aja ....”
“Atau Zunai malu ditemenin sama Mama? Ditemenin sama Kak Za atau Umar mau, ya?” wanita itu masih berusaha untuk membujuk. Aneh, kenapa mendesak sekali, pikirnya. Kenapa dia terus menolak?
“Ih ... nggak mau,” Zunaira tetap menolak, “aku nggak mau pergi sama siapapun.”
__ADS_1
Vita menghela napas, “Ya sudahlah kalau maumu begitu. Pergilah. Tapi ingat, setelah selesai langsung pulang. Jangan mampir-mampir ke tempat lain yang tidak ada faedahnya.”
Zunaira mengiyakan, kemudian mengulurkan tangannya untuk berpamitan.
Zunaira pergi bersama taksi online yang sudah menunggunya di depan gerbang.
Mata Vita berkaca-kaca membayangkan perubahan anak bungsunya ini.
Benar apa kata hampir semua alim ulama. Anak adalah titipan. Dia bukan milik kita yang bisa kita genggam erat-erat selamanya. Sebab suatu saat nanti mereka akan pergi bersama orang pilihannya.
Kini ia merasa semua anaknya sudah besar dan perlahan semakin menjauh. Tinggallah nanti ia berdua dengan sang suami menanti terbitnya fajar dalam kesepian.
“Umar, tolong bantu Mama awasin adek, Nak,” ucap Vita menghubungi anak itu yang tengah berada di Cafe keluarga.
“Adek?” tanya Umar terdengar bingung. Pasalnya, Mauza ada bersamanya karena si kembar itu tidak pernah terpisah. Namun pertanyaannya terjawab saat selanjutnya Mama menyebut nama adiknya yang lain.
“Iya, Zunai pergi nonton sendiri. Kamu tahu di mana biasanya kalian nonton?”
“Tahu Ma.”
“Susul dan bawa dia pulang kalau ternyata bohong.”
“Siap, Ma,” kata Umar lagi tanpa banyak membantah. Dia tahu benar jika Mamanya sedang sangat ketakutan.
Umar pun gegas mengendarai motornya untuk menuju ke lokasi. Di jalan, ia mengumpat karena tahu dengan siapa belakangan ini Zunaira berhubungan.
“Cowok brengsek, berani-beraninya lu pacarin adek gue dengan cara seperti ini. Kamu juga Zun! Bisa-bisanya kamu merendahkan dirimu untuk laki-laki itu!”
Sesampainya di sana, Umar pun terlebih dahulu memaksa petugas untuk mencari riwayat penjualan tiket atas nama Zunaira atau Sammy. Setelah diketemukan, Sammy pun menuju ke teater itu. Beruntung, jam penayangan film yang mereka beli belum di mulai.
Ternyata dugaannya tak meleset. Karena pada saat pria berbadan tegap itu sampai di sana, dia langsung menemukan adiknya bersama Sammy sedang duduk berdua menunggu teater dibuka.
Dengan menahan emosi yang membara, Umar pun sontak menarik adiknya untuk pulang.
“Pulang!” ujar Umar membuat Zunaira terkejut sampai membeliakkan mata.
“Apa-apaan ini?” Sammy langsung berdiri. Pria itu belum mengetahui siapa Umar sesungguhnya.
To be continued.
__ADS_1