
159
Mauza kembali ke ruangan dengan senyum yang merekah, lantas segera menyiduk nasi ke dalam piringnya banyak-banyak seolah dia sedang dalam keadaan sangat kelaparan.
Hanya ada segelintir orang yang tahu bahwa Mauza sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, namun tak ada satupun yang sedang berusaha untuk menegur. Karena demikian sudah menjadi caranya, kebiasaannya Mauza menghibur dirinya sendiri.
“Mauza kamu kesambet, ya? Aku aja yang laki-laki makannya nggak sampai segitu banyak,” celetuk Sammy mengomentari istrinya.
“Perlu di ruqyah tuh. Jangan-jangan ketempelan demit belakang rumah,” sahut Umar. “Habis, datang-datang langsung berkelakuan aneh.”
“Nggak salah? Yang ketempelan demit bukannya kamu, Mar?” balas Mauza membuat Umar sontak ketar-ketir kelakuannya bakal di bongkar oleh wanita itu di depan banyak orang.
“Buktinya, sampai nggak keluar kamar setengah bulan,” sambung Mauza yang langsung disahuti oleh Vita.
“Bukan cuma itu, Umar juga sampai nggak bisa bedain makanan. Dikasih pisang, yang dimakan malah kulitnya.”
Semua tertawa mendengar penuturan Vita. Mereka terus saja mengolok Umar yang begitu buta nya cinta sama wanita itu. Pesona janda memang luar biasa, katanya.
Malam itu, hanya pasangan Zara dan Ray saja yang pulang mengingat banyaknya schedule esok hari yang mengharuskan keduanya berangkat pagi-pagi buta.
Umar sudah pasti masih di sini, hidup suka-suka. Andre dan Zunaira memilih untuk menginap karena rumahnya cukup jauh.
Sedangkan Mauza dan Sammy, memang sudah benar-benar menetap di rumah ini. Demikian keputusan mereka karena orang tua sempat memberatkannya.
Lantas hidup dengan siapa mereka jika semua anak-anaknya pergi? Begitu yang mereka katakan pada saat Sammy hendak memindahkan istrinya serta ke Bekasi. Bertujuan agar lebih dekat dengan tempat kerjanya. Sekaligus ingin memulai usaha di sana.
“Sammy, Bekasi itu tidak terlalu jauh. Hanya sekitar dua puluh menit dari sini kurang lebih,” ujar Vita menatap sedih putrinya yang akan dibawa suaminya pergi.
“Mama sudah merelakan Kak Ray ikut sama istrinya. Mama juga sudah merelakan Zunai, anak perempuan Mama tinggal sama suaminya karena Andre sudah punya rumah sendiri. Ada pun Umar, dia juga sudah diminta Alma untuk tinggal sendiri kalau sudah menikah nanti. Satu hal yang harus kalian tahu, kami bisa melarang kalian, tapi kami tidak bisa melarang mereka.”
Vita berharap kalimat terakhir dalam penjelasannya barusan dapat mereka mengerti karena setiap anak, mempunyai karakteristik yang berbeda.
Sammy dan Mauza membisu. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Ayolah ... masa dari ke empat anak Mama nggak ada yang mau peduli satupun. Keinginan kami tidaklah muluk-muluk. Kami hanya minta ditemani di rumah ini. Kami janji untuk tidak merepotkan kalian. Kami hanya kesepian ...” papar Vita menahan rasa sesak di dadanya.
Sementara itu, Yudha hanya diam. Duduk di samping mereka tanpa mengatakan apapun. Pria itu sudah menyiapkan hatinya dari jauh-jauh hari bahwa hari ini pasti akan terjadi.
Benar apa yang dikatakan oleh pepatah, anak adalah titipan. Dia tak berhak memiliki karena setelah mereka dewasa, mereka adalah milik pasangannya.
Hanya satu yang tersisa di sini, yakni istrinya yang selalu setia menemani. Mengurusnya tak kenal waktu, tanpa mengenal lelah.
Pada malam itu, pembicaraan dihentikan tanpa jawaban yang pasti dari Mauza dan juga Sammy. Keduanya membutuhkan waktu untuk kembali berpikir. Sebab mereka pun telah memiliki planning sendiri sebelumnya dan impian-impian yang sudah direncanakan matang-matang.
“Jangan memaksa mereka, Moy. Biarkan mereka mengambil keputusannya. Kalau kamu terus bersikap seperti tadi, kamu bisa merusak rumah tangganya,” ujar Yudha menasihati istrinya di malam hari.
“Iya, Mas. Aku nggak akan memaksa mereka lagi. Maaf ... aku sudah bersikap sedikit egois.”
“Aku paham perasaanmu,” ujar pria itu memeluk pinggang istrinya dari samping. “Kamu hanya kesepian, kan?”
“Ya, begitulah.”
“Gimana kalau kita program lagi aja.”
Sontak Vita menjauhkan tubuhnya dari suaminya itu. Terkejut? Tentu saja. “Jangan ngawur, Mas! Mau balapan sama mantu?”
“Katanya kesepian. Jalan satu-satunya ya, punya bayi lagi. Masih bisa, kan?”
__ADS_1
“Ih, kamu ngeremehin kemampuan aku, ya?”
“Tidak bermaksud begitu. Cuma tanya.”
Sebenarnya, Vita tidak terlalu khawatir akan risiko hamil di atas usia 40 tahun. Pasalnya, dunia kedokteran sekarang sudah semakin canggih. Hampir semua problem bisa diatasi oleh mereka yang berpengalaman dan pendidikan tinggi. Kendati demikian, dia tetap memutuskan untuk tidak melakukannya. Sudah waktunya dia hidup tenang tanpa harus bangun-bangun tengah malam lagi.
“Meskipun masih bisa, tapi lebih baik nggak usah. Sakitnya sih, nggak seberapa lama. Malunya seumur hidup.”
“Malu sama siapa?” pertanyaan Yudha terdengar konyol.
“Ih, laki-laki emang nggak peka, ya!” wanita itu semakin berang.
“Ngapain mikirin orang? Capek banget.”
“Sudahlah, Mas. Sudah bener kita begini. Sudah waktunya kita merawat cucu. Nggak pantes kelihatannya kalau kita malah sibuk sendiri. Mereka juga butuh perhatian banyak dari kita. Nanti dikiranya nggak sayang. Jadi orang tua kan, serba salah ....”
“Cuma ngasih saran. Nggak perlu ditanggapi betul-betul kalau tidak mau.” Yudha membaringkan tubuhnya mengakhiri pembicaraan mereka pada malam itu.
Namun pada keesokan harinya, mereka malah mendapat kabar gembira. Sebab Mauza dan Sammy, akhirnya menyetujui Vita untuk menetap.
Cukup mengejutkan. Padahal Yudha dan Vita sudah benar-benar ikhlas jika Mauza dan Sammy juga akan meninggalkannya seperti anak-anaknya yang lain. Tapi jika begitu keputusannya, tentu saja mereka sangat bersyukur.
“Kalian nggak terpaksa, kan?” Yudha pun memastikan karena tak ingin demikian terjadi.
“Insyaallah, engga, Pa. Kami sudah mantap untuk menetap di sini,” jawab Sammy penuh keyakinan setelah semalam kembali memikirkannya matang-matang.
“Syukurlah kalau begitu.”
Vita tersenyum. Raut wajahnya kembali ceria. Wanita itu mengucapkan rasa syukurnya berulang-ulang.
♧♧♧
“Nai,” panggilnya begitu duduk di samping ranjang. Kemudian memberitahu tentang apa yang sedang dirasakannya sekarang. Perasaan yang membuatnya susah tidur. Ya, dia masih lapar karena tadi hanya bisa menelan sedikit. Ada sesuatu yang sangat dia inginkan, namun sungkan untuk mengatakannya karena mereka tak sedang berada di rumahnya sendiri.
“Tapi bukannya baru makan, ya?” Nai keheranan melihat Andre terus menepuk-nepuk perutnya yang berbunyi. “Mau aku bikinin apa?”
“Nggak usah bikin apa-apa. Pesenin sate aja.”
“Sejak kapan Mas Andre suka sate?”
“Sejak sekarang.”
“Mas Andre ngidam ya?”
“Nggak tahu.” Andre meminta Zunaira untuk menggeser posisinya. Lalu menyusulnya untuk berbaring, kemudian menarik selimut.
“Jangan tidur dulu, aku pesenin sekarang, nih.”
“Kasih tahu aja kalau udah dekat.”
Usai memesan, Zunaira kembali meletakkan ponselnya. Dia pun melihat Andrea yang kini sedang merapat ke perutnya, menyayangi kehadiran calon bayi mereka.
“Mas, ingat nggak tadi?”
“Ingat apa?”
“Kak Mauza kelihatannya sedih banget waktu aku bilang mau ngasih kabar baik.”
__ADS_1
“Hmmm.”
“Salah nggak sih kalau aku ngasih tahu kabar begini di depannya?”
“Mau sekarang atau nanti bakal tahu juga akhirnya,” Andre menanggapi.
“Aku jadi nggak enak sama Kak Mauza. Kasihan juga.”
Andre tidak menanggapi lagi. Dan beberapa menit setelahnya, pria itu justru terlelap. Bahkan sampai pesanannya tiba pun, Andrea juga tak mau bangun dari tidurnya. Alhasil, Nai membiarkan saja sate itu tergeletak di atas meja. Aneh-aneh saja, pikirnya.
Sementara di kamar lain, Mauza memunggungi Sammy setelah aktivitas percintaan mereka. Wanita itu merapatkan selimutnya. Tanpa sadar, air matanya mengalir mengingat banyaknya kesalahan yang sudah dia perbuat, yang membuatnya berpikir, apakah semua itu bisa menjadi penyebab kesulitannya saat ini?
Utamanya adalah, menikahi pria yang dicintai oleh adik kandungnya sendiri. Sampai kapan pun, ia tidak akan pernah bisa melupakan hal tersebut.
“Aku dulu juga pernah mengolok kekurangan orang lain sebagai bahan candaan. Sebenarnya niatnya nggak kayak gitu, tapi nggak tau kenapa mulutku suka lepas gitu aja,” ucap Mauza menceritakan bagaimana dirinya dulu pernah melakukan kesalahannya kepada Hamidah.
“Aku nggak sengaja, dan aku pun udah minta maaf sama dia. Tapi tetep aja aku takut, ini jadi sebab kesulitan kita.”
“Makanya kalau ngomong itu dijaga, jangan ceplas-ceplos. Gini kan, akibatnya?”
Namun, bukan seperti itu tanggapan yang ingin Mauza dapatkan. Dia hanya butuh dukungan dari Sammy. Sebuah pelukan, atau kalimat-kalimat penenang.
“Samm ...” Mauza balik badan menghadap pria itu. “Aku mau tanya sesuatu, apa boleh?”
“Hmmm.”
“Kalau seandainya nanti aku nggak bisa memberikanmu keturunan, apa kamu masih tetap-”
“Za,” sela Sammy segera, “jangan pernah ceritakan soal perpisahan. Aku nggak mau dengar.”
“Aku cuma butuh jawaban.”
“Aku nggak mau kamu ajak berandai-andai, Za. Waktu kita masih panjang, pernikahan kita pun masih seumur jagung. Jadi pikirkanlah sesuatu yang lebih baik!”
“Sam ....”
“Nggak, aku nggak butuh omongan apa-apa lagi.” Sammy menyelimuti tubuhnya juga karena hawa kamarnya semakin dingin.
“Sammy!”
“Apalagi ya, ampun. Ribet banget lah, kayak nenek-nenek.”
“Ini lho! Kamu tarik semua selimutnya sampai aku nggak kebagian. Sembarangan kamu, mah.” Mauza menunjukkan tubuhnya yang hampir terbuka semua.
Sammy membagi selimutnya sembari berkata, “Makanya jangan curhat terus.”
“Apa hubungannya?”
“Ada kalau disambung-sambungin.”
“Begitu ya, semua laki-laki? Padahal istri itu kadang cuma butuh di dengar, tapi malah di abaikan. Makanya banyak istri yang suka curhat di luar rumah. Itu karena suaminya nggak mau jadi pendengar yang baik.”
“Udah deh, Za. Pusing. Aku juga punya banyak masalah kali. Bukan cuma kamu doang.”
Sammy tak peduli. Pria itu membelakangi dan menutup telinganya dengan bantal. Suatu kebiasaan yang sering pria itu lakukan jika tak mau mendengarkan Mauza bicara.
Semakin bertambahlah kesedihan Mauza pada saat itu. Sehingga esoknya, dia berbagi hari dengan mata yang bengkak.
__ADS_1
Bersambung.
Jangan lupa votenya onti2 kesayangan!