
76
Segelas air minum baru saja diletakkan di atas meja, disusul dengan suara kaki kursi yang ditarik mundur. Seorang perempuan kisaran usia hampir enam puluh tahunan mendudukkan diri di sana.
“Minum dulu, Nak,” ujarnya kepada perempuan muda yang belum bisa berhenti menangis semenjak kekasih hatinya pergi. “Berapa minggu usia kehamilanmu?”
“Lima minggu, kalau menurut HPHT, Bu,” jawabnya.
Tia Rumana menghela napas. Wanita tua itu terdiam selama beberapa saat untuk menguasai diri. Dia lelah dengan semua masalah yang datang bertubi-tubi. Belum selesai masalah kemarin, sekarang datang lagi masalah lainnya yang jauh lebih besar. Bahkan sangat memalukan seperti baru saja dilempar kotoran, tepat di wajahnya. Sabar. Hanya itu yang dapat dia lakukan sekarang.
“Sudah diperiksakan ke dokter?” tanya Tia lagi.
“Belum. Aku hanya mengeceknya dengan testpack.” Cici mengeluarkan benda itu dari dalam tasnya untuk ditunjukkan.
Tia mengambilnya, dan lagi-lagi ia menghela napas setelah melihat semua alat tersebut bergaris dua merah terang.
“Fasad harus tetap pulang, Bu. Dia harus tanggung jawab.” Air mata Cici yang awalnya agak menyusut kini kembali menderas.
“Sebenarnya Ibu bingung ... jangankan dimintai untuk tanggung jawab, hanya mengucap ijab kabul saja, Fasad nggak bisa melakukannya. Saat ini situasinya sedang sulit,” jawab Tia terdengar berat, “seharusnya, sebagai perempuan kamu harus pandai menjaga diri....”
Cici semakin menunduk malu. Nasihat itu menusuk dirinya. Sudah pasti semua orang akan menganggapnya wanita gampangan. Murahan.
“Karena kalau sudah seperti ini, bukan kamu saja yang dirugikan, melainkan anakmu juga,” sambung Tia, “secara biologis, Fasad memang ayahnya, tapi secara nasab, dia akan mengikutimu. Anak ibu, bukan anak ayah.”
“Tolong jangan salahkan satu pihak, Bu. Ini kesalahan kami berdua.” Cici tidak mau seratus persen disalahkan, sebab Fasadlah yang terlebih dahulu memulai semuanya.
“Ibu tahu anak Ibu seperti apa. Fasad itu tergolong anak yang sulit menyukai perempuan. Ibu yakin dia tidak akan masuk kalau kamu menutup pintu.”
Lagi-lagi Cici merasa tertohok.
“Ibu tahu Fasad pun salah. Atas nama anakku, Ibu minta maaf. Namun kamu harus tahu, Nak. Nasi sudah menjadi bubur, semua sudah terlanjur. Tak baik terus merenungi kesalahan karena yang harus kamu lakukan adalah menjaga amanah ini.” Tia mengusap lembut perut Cici. “Tolong jaga cucuku. Aku akan ikut bertanggung jawab menjaganya.”
Keduanya saling berpandangan. Tia mengangguk meminta Cici menyetujui perkataannya. Dan sepakat untuk saling menjaga bayi itu seraya menunggu hingga Fasad kembali.
__ADS_1
Lantas kemudian keduanya saling berpelukan. Tidak ada hal lain lagi yang bisa mereka lakukan selain ikhlas. Menerima setiap keadaan yang sudah menjadi garis takdir hidup ini.
...♧♧♧...
Kyai Mohd. Noor bukanlah orang yang gemar menonton televisi seperti orang-orang pada umumnya. Beliau juga tak mempunyai ponsel model kekinian, selain perangkat sederhana yang hanya digunakan untuk menelepon dan berkirim pesan.
Jangankan melihat gosip di sosial media, punya akun saja tidak. Jadi jangan salahkan jikalau lelaki tua itu selalu tertinggal berita dari luar. Sebab waktunya memang lebih digunakan untuk mengajar di Ponpes.
Kyai Mohd. Noor hanya mengetahui bahwa Ustaz Rayyan alias mantan menantunya, sudah menikah lagi dengan artis terkenal.
Sebenarnya kabar ini lumayan mengusik relung hatinya. Sebagai seorang ayah, dia diam-diam memikirkan anaknya yang ditinggal menikah secepat ini. Bahkan hanya dalam waktu hitungan bulan.
Meskipun sah-sah saja bagi mereka hendak berbuat ulah seperti apa--atau bahkan mau mengawini empat perempuan sekaligus pun, itu bukan urusannya. Tetapi tetap saja beliau merasa keterburuan ini melukai hati anaknya.
Seharusnya, Ray lebih sedikit bersabar menunggu sakit hati mereka sedikit memudar. Baru setelah itu, dia bebas berbuat sesukanya. Demikian jika dia bisa mempunyai pemikiran lebih luas.
Sesungguhnya Kyai Mohd. Noor tidak terlalu mengetahui apa pun selain anaknya yang memang mempunyai sifat sedikit tersinggungan. Mungkin itulah penyebab mereka bercerai.
Sebab mencintai itu memperjuangkan. Sebab mencintai itu tak gampang melupakan.
“Sekarang gimana keadaan Hamidah, Umi?” tanya Kyai Mohd. Noor pada istrinya.
“Dia baik-baik saja,” jawab sang istri. Dan sepertinya beliau memang tak tahu apa maksud suaminya bertanya seperti ini, sehingga ia kembali melemparnya, “Kenapa memangnya?”
“Bukannya Ustaz Ray sudah menikah lagi?” lelaki itu memperjelas.
“Biar sajalah. Kan, dia yang minta cerai,” jawab Umi tak ambil pusing.
“Aku harap dia baik-baik saja.”
“Oh, harus! Harus baik-baik saja. Dia harus menerima segala konsekuensi dari keputusan yang dia buat sendiri.”
“Ray sudah sembuh sekarang,” kata Kyai Mohd. Noor lagi, “seandainya Hamidah bisa bersabar sedikit lagi waktu itu, pasti anak kita nggak akan jadi janda.” Pria ini menghela napas. “Untung belum punya anak.”
__ADS_1
Kalau nanti istri Ray yang sekarang bisa hamil, pasti ada masalah di anak kita, batin beliau melanjutkan.
Sementara yang dibicarakan malah sedang ketar-ketir sendiri karena sudah berani muncul ke permukaan media. Hamidah lemas membaca komentar-komentar pedas dari para netizen pada saat melihat postingan yang menandai dirinya.
Ini baru di alaminya sepanjang hidup sehingga cukup membuatnya sedikit terguncang. Ternyata dia tidak sekuat itu menghadapi cemoohan orang. Perih sekali.
“Apa ini? Muncul mantan koar-koar tanda hidupnya sekarang kurang bahagia hahaha!” tulis dari salah satu akun yang bernama Habengx.
“Belum move on kali,” balas yang lainnya.
“Kalau mau nikahan mewah ya, bilang toh? Jangan diem-diem bae. Giliran dah cerai baru aja nyesel. Lagian setahu gue si Z kan memang kaya dari lahir, lu miskin kali, makanya gak dirayain hahaha,” tulis Ramoza.
“Nyesel ya, Mbak? Makanya punya suami itu dijaga baik-baik. Servis yang maksimal dan lakukan perawatan di @klinikglowup.” Yang satu ini malah promo.
Namun di sisi lain, juga ada banyak yang pro terhadapnya hingga mendoakannya agar diberikan jodoh yang lebih baik dari Ustaz Rayyan.
Dia juga membaca beberapa komentar yang menghujat Zara dan Rayyan karena sudah termakan berita tersebut. Tak jarang makian pedas menggunakan keyboard jebol pun kian bermunculan.
“SABAR YA, MBAKNYAH. PASTI MEREKA AKAN DAPAT BALASANNYA. BENTAR LAGI PALING CERAI. BIASANYA ARTIS KAN GITU. KAWIN CERAI, KAWIN CERAI. BANYAK ANAK BANYAK BAPAK,” tulis sebuah akun dari tukiyem dan masih banyak lagi.
“Ya elah, ini Ustaz gatel tau aja yang lebih bening. Suka sama visual yang seksi2 ya?”
“Tahu, nih. Si Zara juga asal nyomot aja. Takut nggak laku kali. Secara umurnya dah banyak!”
“NGGAK BISA LIBUR SEBENTAR AJA YA, TAZ. BARU BEBERAPA BULAN CERAI DAH KAWIN LAGI. DASAR USTAD C*BUL.”
“Ustaz kok tukang bohong. Pura-pura amnesia lagi, hih dua-duanya murahan!”
Dan masih banyak lagi dari puluh ribuan komentar yang kian hari kian bertambah. Hamidah juga merasa akunnya langsung di geruduk ribuan followers hingga akun yang awalnya hanya ratusan pengikut, kini bertambah menjadi sembilan puluh ribu pengikut.
“Tapi entah kenapa aku menyesal telah melakukannya. Aku benar-benar bingung sama diriku sendiri. Ini terlalu melukaiku....” batinnya merongrong cemburu.
Bersambung
__ADS_1