Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Keluarga Kompak


__ADS_3

“Tanganku basah,” gumam Zara pada saat ia tengah dirias di pagi hari yang penuh sejarah ini.


“Belum apa-apa dah keluar keringat dingin,” seorang perias menanggapi, “kirain kalau udah biasa tampil di depan publik, udah ngga ada rasa grogi lagi.”


“Mungkin semua pengantin akan ngerasain hal yang sama.”


“Bener juga, sih. By the way, mau minum dulu, nggak?”


Zara mengiyakan, kemudian menyabet botol minum di depannya yang berisi sereal hangat. Sebab ia tidak sarapan makanan sejenis nasi uduk, lontong sayur, apalagi gorengan.


“Coba Zara perkirakan, menurut Zara ini terlalu tebal nggak?” perias berjenis kelamin perempuan itu bermaksud menanyakan blush on yang baru saja ditimpakan ke pipi bagian kiri, namun lebih dekat ke bagian mata.


“Udah, cukup.”


“Riasan bagian mata, udah oke belum?” dia bertanya lagi, “biar kita enak dua-duanya. Saya juga gitu sama orang lain. Jadi nggak ada kata kurang ini dan itu. Kasihan kan, udah bayar mahal-mahal malah nggak puas sama make up nya. Saya nggak mau mengecewakanmu.”


“Tapi ini udah pas, kok, Kak. Sesuai sama keinginan aku.”


“Oke, deh kalau gi--”


Brakkk!


Ucapan Sang MUA harus terhenti sebelum selesai pada saat pintu terbuka paksa. Pelakunya adalah Mike. Bocah itu membawa dua orang lain di belakangnya.


Zara berdecak pelan, “Ya Allah ... Mike, bisa pelan-pelan, nggak? Ini Tante-Tantenya sampai berjingkat.”


“Untung lipstiknya nggak sampai nyebrang ke Kalimantan gara-gara kaget,” Inne tertawa, “nangis saya kalau make up nya hancur huhuhu....”


“Ini, ada yang mau ketemu,” kata Mike datar dan menunjukkan dua laki-laki dan perempuan yang telah berusia senja.


“Assalamualaikum....”


“Waalaikumsalam,” jawab Zara. Dan dia baru ngeh kalau salah satu dari mereka ada yang sangat mirip dengan calon mertuanya, “Eh, kok Opa ini mirip sama Papa, ya?”


“Ayo, siapa tebak?” perempuan tua itu mendekatinya, “ayo, salim. Ini Oma sama Opanya Rayyan.”


“Oh, my God... jadi ini Oma Ros ... Opa Haikal?” Zara merasa tak terduga.


Kedua orang tersebut membenarkan.


“Benar, kan, dugaanku.” Zara langsung beranjak, berniat untuk menghampiri laki-laki dan wanita tua yang masih cantik itu. Ya, pasti mudanya cantik sekali. Opa pun masih gagah, tinggi besar seperti orang-orang timur tengah. Berdasarkan informasi yang didapat, darah yang mengalir di keluarga Haikal Al Fatir memang keturunan dari orang-orang itu.

__ADS_1


Setelah menyalami dan memeluk Oma, Zara mengatupkan tangannya kepada Opa Haikal karena beliau bukan mahramnya.


“Tadi sudah saya bilang, nanti saja ketemunya kalau sudah selesai di sulap. Tapi istriku tidak sabar ingin sekali bertemu denganmu,” Opa Haikal menjelaskan alasannya kenapa mereka datang menyerobot seperti ini.


“Penasaran. Oma ingin melihat sendiri. Secantik apa artis yang dinikahi cucu kita.” Oma Ros tersenyum dan menggenggam tangannya, “Maaf ya, Nak. Kemarin tidak ikut hadir di acara lamaran. Coba kalau anak kita omongnya tidak terlalu mendadak. Pasti kita bisa kita usahakan.”


“Nggak papa, Oma... yang penting sekarang kalian sudah datang.”


“Ya sudah. Sekarang Oma sama Opa tidak penasaran lagi.”


“Eh, kok saya pula dibawa-bawa? Yang penasaran situ, malah saya yang dikambinghitamkan.” Suami Oma Ros menggerutu.


“Iya-iya, salah omong sedikit saja jadi panjang,” balas Oma Ros pada sang suami, sesaat kemudian beliau kembali memusatkan pandanganya ke depan, “sebenarnya Oma masih ingin lebih lama lagi di sini. Ngobrol sama menantu anakku. Tapi Zara masih belum selesai di rias. Kasihan sama mereka, nanti tidak selesai-selesai pekerjaannya kalau terus diganggu.”


Inne dan dua orang lainnya tertawa, “Tidak apa-apa, Oma.”


“Kita ngobrol lagi nanti, ya.”


“Iya, Oma.”


Kedua orang itu tak bisa berlama-lama karena Zara masih dalam mode tidak boleh diganggu. Keduanya berpamitan keluar meninggalkan Zara, Mike, Inne dan orang-orang yang membantunya.


Mike sendiri sudah memakai jas keren, lengkap dengan memakai sepatu. Dia baring di atas ranjang sambil menunggu kakaknya selesai dipoles alat-alat berwarna-warni, yang Mike pikir itu adalah palet lukis sama cat airnya. Aneh. Kenapa perempuan suka sekali melukis wajah mereka? Biar apa?


Baju pengantin berwarna putih yang Ray kenakan tengah dililit kain songket oleh mamanya. Sedangkan di kepalanya telah dipakaikan peci berwarna hitam. Tubuhnya yang tegap dan cambang tipis yang tumbuh teratur di sekitar dagunya, menambah kesan maskulin. Vita seperti melihat suaminya versi muda karena mereka mempunyai banyak kemiripan.


“Semoga acaranya hari ini berjalan lancar, pernikahanmu langgeng sampai akhir hayat.” Yudha memeluk dan mendoakan putra pertamanya.


“Aamiin.”


Sejurus kemudian pintu kamar terbuka, disusul oleh kelima orang yang melongokkan kepalanya. Adalah keluarga fenomenal, Alif, Dara dan anak-anaknya: Sakira, Aarash dan Aariz.


“Udah siap belum? Lama sekali kalian ini? Ngapain aja?” tanya Alif. Orang yang mempunyai predikat paling darah tinggi sepanjang masa.


“Iya, ni. Lama kali!” Dara ikut-ikutan.


“Abaikan keluarga bar-bar,” Umar mencibir.


“Tidak boleh seperti itu, Sayang. Jawab aja, sebentar lagi, Om, Onti ... begitu lebih baik di dengar,” Vita menasihati.


“Tinggal apa yang belum, Ta?” tanya Dara sambil berjalan masuk ke dalam kamar. Melihat keponakan pertamanya yang baru saja selesai dirapikan bajunya.

__ADS_1


Vita menjawab, “Udah semua. Tinggal turun aja kita.”


Dara mendekati Ray, tersenyum penuh arti saat memperhatikan sambil mengusap-usap baju berbahan satin yang dikenakan. Sedangkan yang ditatap hanya berusaha menahan senyum geli.


“Ck! Dulu Onti yang suka gendongin kamu waktu masih bayi, lho, Ray. Tapi sekarang....”


“Apa?!” Alif langsung nyamber cemburu.


“Tahu begini Onti menolak lahir zaman old.”


Alif sewot kepada sang istri, “Berani-beraninya!”


“Mami ayuk, Mi. Lagi ngapain, sih. Nggak liat itu Kak Ray nya geli dipegang-pegang begitu.” Sakira menarik maminya keluar. Semua anaknya pun turut memaki.


“Iya, udah tua masih aja ganjen.”


Semua yang ada dikamar tertawa bersamaan.


“Ketahuan istrinya kurang dimanjakan.” Yudha menyindir di depan orangnya langsung.


“Berani-beraninya!” ujar Alif menajamkan mata.


“Sudah usia lanjut, jadi sudah tidak punya banyak kosakata lagi ya, Pak. Yang keluar cuma berani-beraninya terus dari tadi.”


“Berani-beraninya!” Alif bercanda lagi dan saling meninju. Ah, seru sekali. Mereka suka suasana ramai seperti ini. Keluarga mereka memang selalu kompak dan penuh warna.


Setelah sejenak berdoa bersama demi kelancaran acara sakral ini, semuanya pun keluar menuju ke lantai satu; tempat di mana pernikahan ini akan diberlangsungkan.


Vita menggandeng putra pertamanya, sedangkan Yudha diapit oleh kedua putri kesayangannya. Hanya Umar saja yang ngenes, karena lagi-lagi harus berjalan sendirian.


“Gini amat nasib jadi anak laki-laki tanggung. Di sayang mama enggak, di sayang papa juga enggak, Ayang juga belum punya, sial.” Umar menggerutu sepanjang koridor.


Namun Umar bukan peserta terakhir, karena tak jauh di belakangnya, ada laki-laki dan perempuan yang juga sedang berjalan sambil berdebat.


“Fa, aku bilang berhenti!” cegah Cici melarang Fasad meninggalkan restoran tempat mereka melakukan sarapan, yang sebenarnya hanya digunakan Fasad sebagai sebuah alasan saja. Sangat tak masuk akal kalau hanya sarapan saja, dia harus lari ke tempat ini.


“Aku mengantarmu ke sini hanya untuk sarapan, bukan untuk yang lain.” Cici masih menahan tubuh Fasad agar dia berhenti di sini. “Fa, tolong jangan macam-macam di sini. Ini bukan tempat biasa, apa kamu udah nggak punya malu?”


“Aku hanya ingin melihat melihat Zara bahagia, itu saja ...,” lirih Fasad terdengar sangat frustrasi.


Bersambung.

__ADS_1


Ya Allah gais, dah ngetik banyak2 malah kehapus😭😭😭😭


aku nulis lagi ini, tapi gak sama kayak pertama huhuhu😭😭


__ADS_2