
140
Waktu sudah cukup petang pada saat Zunaira membuka kedua bola matanya. Dari celah-celah jendela, sinar keemasan matahari sore masuk menyeruak ke dalam ruangan tersebut, yang dia ketahui adalah kamarnya sendiri.
Seingat Zunaira tadi ... dia ada di Bandara. Lalu kenapa dia sudah berada di rumah?
Zunaira menunggu nyawanya terkumpul terlebih dahulu, sebelum otaknya dipaksakan untuk mengingat kejadian sebelum dia berada di sini.
Beberapa jam yang lalu, Nai memang berada di Bandara Soekarno Hatta. Dia kelelahan dan sakit kepala sehingga mengalami kondisi mimisan seperti biasanya.
Buntu membuat Nai kemudian terpaksa menghubungi Umar untuk menjemputnya. Setelah itu, dia sudah tak ingat apa-apa lagi. Kemungkinan besar dia pingsan.
Klek.
Pintu kamar terbuka, disusul dengan suara langkah kaki yang masuk mendekatinya. Dia paham langkah suara itu. Siapa lagi kalau bukan mamanya?
“Sayang? Sudah agak baikan?” Perempuan tersebut menghampirinya, lalu menyentuh bagian-bagian tubuhnya yang dia kira terasa lebih hangat.
“Sudah, Ma,” jawab Zunaira, kemudian bertanya, “tadi siapa yang jemput aku?”
“Umar, dia yang jemput. Dia khawatir sama kamu, jadi bangun dan langsung ke sana,” jawab Vita. Kelegaan terpancar dari wajahnya. Dia sangat paham sifat anaknya yang satu itu. Biarpun terkenal bandel, tetapi Umar adalah sosok yang sangat bertanggungjawab. Tak peduli kondisinya sendiri pun, sedang tidak baik-baik saja.
“Nggak mogok lagi?” Nai bertanya.
“Nggak, mogoknya udahan dulu katanya.”
“Berarti ada kemungkinan untuk lanjut?”
“Bisa jadi.”
Keduanya tertawa kecil. Ada-ada saja tingkahnya Umar yang ngeselin tapi kadang lucu.
“Andrea sudah berangkat ke Semarang kata Bu Wongso,” ucap Vita setelah beberapa saat kemudian.
“Ada kemungkinan nggak, kalau dia bisa balik lagi?”
“Orang tuanya ada di sini, Sayang. Pasti dia ke sini lagi.”
Namun kalimat yang di duga hanya untuk menenangkannya itu, tak jua membuat Nai tenang. Sebab dia tahu Andrea sudah mengirimkan surat pengunduran dirinya ke Zara melalui email. Zunaira berkata demikian terhadap wanita cantik yang duduk di depannya.
“Hanya mengundurkan diri, bukan berarti akan pergi selamanya,” Vita beranggapan.
Memang benar sih. Tapi kenapa Zunaira merasa bahwa perjuangan Andrea hanya sampai di sini. Buktinya, dia tak kunjung menghubunginya.
__ADS_1
Kalau memang benar cinta, kenapa harus pergi?
Selain misterius, dia juga pria yang sangat aneh. Sangat aneh!
∆∆∆
Zara dan Rayyan kembali ke Indonesia setelah beberapa hari kemudian. Lantas keesokan harinya, Zara langsung menuju ke Zara.co. Datang sendiri untuk segera meninjau kantornya yang sudah selama itu dia tinggalkan.
Dan sesama di sana, emosinya hampir tak terkendali pada saat mengetahui bahwa dia tak menemui Andrea di sana.
“Aduh, baru masuk udah pusing aja,” gumam Zara di depan Belle. Dan dia mendapati laporan yang berantakan di bagian gudangnya. Salah satunya keluar masuk barang yang tidak sesuai aturan lantaran tak ada yang mengawasinya.
“Apa cerita yang kamu tahu, Bel? Andrea itu sebenarnya kenapa?” Zara bertanya sambil membuka satu-persatu lembar dokumen yang diterimanya. “Saya belum bilang apa-apa sama dia, lho. Kalaupun memang tetap mau keluar, dia harus serah terima dulu sama saya. Baru nanti disambung ke manajer yang baru. Nggak begini caranya.”
“Yang saya tau, anaknya itu meninggal, Bu. Coba nanti Ibu tanyakan langsung ke orangnya biar lebih jelas. Saya takut salah ngomong,” jawab Belle.
“Masalahnya orangnya masih di Semarang sekarang, Bel.”
Zara juga belum sempat ke rumah mertuanya sehingga dia belum bisa mengetahui masalah ini lebih banyak, selain hanya sedikit informasi. Itupun belum tentu benar.
Belle menawarkan bantuan, “Coba nanti saya bantu hubungi beliau, ya!”
“Okay, Bel. Buat dia mau datang ke sini.”
Zara menghela napasnya sebelum akhirnya ia menjawab apa yang dimaksud oleh Belle, “Sebenarnya udah menduga semenjak awal kalau Andre memang sudah pernah menikah .... Dan menurut saya, apa yang dia lakukan nya itu sudah benar, masalah pribadi nggak perlu di umbar ke orang lain karena bisa menimbulkan penilaian negatif.
“Tapi kesalahannya di sini, dia juga nggak jujur sama Nai, calon istrinya sendiri. Sebagai sesama perempuan, saya juga ikut kecewa,” papar Zara.
“Tapi apapun itu, yang penting kerjaannya di selesaikan dulu. Jangan kabur begini dalam keadaan berantakan ....” wanita itu memijat kepalanya sendiri yang terasa mumet. “Kamu bisa bantu saya, nggak?” ujar Zara kepada wanita itu.
“Apa nih? Masalah apa?” Belle sangat kepo.
“Masalah percintaan, mau nggak?”
“Kapau Ibu Zara yang nyuruh mana bisa ditolak,” kata Belle pada akhirnya memasang telinganya untuk mendengarkan tugasnya. “Ohh ... oke, oke, baik. Terima gaji.”
“Gaji terus dinaikin. Mata duitan,” omel Zara membuat Belle tertawa lepas.
Ketukan di pintu membuat mereka menyerukan kata secara bersamaan, “Masuk!”
Orang itu adalah Zunaira. Gadis itu masuk untuk membawa laporan yang Zara minta.
“Apa saya harus keluar?” sahut Belle.
__ADS_1
“Keluarlah, kamu sudah tidak saya butuhkan!” canda Zara membuat wanita itu pura-pura menangis. Berbeda dengan Zunaira yang justru tertawa.
Zara membaca semua laporan yang ada di tangannya. Wanita tersebut menganggukkan kepala pertanda bahwa laporan Zunaira sejauh ini cukup aman, meskipun pekerjaannya sering dia tinggal dan dikerjakan dengan tidak fokus karena terus-menerus memikirkan Andrea.
“Apa ini kasnya bakal mencukupi estimasi pajak yang sudah mau jatuh tempo?” Zara mengernyit membaca dokumen itu karena besarnya estimasi, lebih besar dari angka kas perusahaan.
“Pembayaran pajak bisa ditekan, Kak,” jawab Zunaira menunjukkan metode pencatatan yang digunakan untuk menurunkan pajak. “Ini nggak melanggar peraturan dan sah secara hukum.”
“Ada kurang setuju sama metode ini. Supaya lebih jelas dan ngomongnya lebih enjoy, gimana kalau kita bahas lagi besok hari Sabtu di Cafe Kenangan. Gimana?”
“Baik, Kak ...” Bukan Zunaira kalau dia kuasa melawan meskipun isi kepala mereka berbeda. Sebab menurutnya, apa yang dikerjakan sudah memakai cara yang paling efektif dan efisien.
Tapi apa boleh buat kalau memang demikian kemauannya?
“Kok aku merasa aneh? Kalau cuma mau bahas masalah kerjaan, kenapa harus jauh-jauh ke Cafe Kenangan coba? Apa mungkin, dia mau ngajak orang lain juga?”
Dan tepat pada hari itu dan di jam yang ditentukan, Zunaira menuju ke Cafe yang sebelumnya mereka sepakati.
Sembari menunggu, Nai pun memesan kopi dan beberapa camilan sekalian untuk makan siang karena sudah mendekati jamnya. Namun sudah sejam berlalu, Zara tak kunjung datang.
“Tumben kayak gini ... biasanya Kak Zara selalu on time.”
Tak ada yang dilakukan selain memakluminya dan berpikir positif. Mungkin wanita berperut besar itu sibuk dengan suaminya yang manja.
Tak lama berselang, datang seorang lelaki mendekat dan menarik kursi. Nai langsung terkesiap. Harum tubuh dan tatapan mata itu seakan menghipnotisnya. Dia adalah Andrea Hirata. Pria yang sudah beberapa hari terakhir menghilang bagaikan ditelan bumi.
Sudah Zunaira duga sebelumnya. Pasti ada yang tidak beres karena beberapa waktu lalu, dia tidak begitu yakin dengan ucapan kakak iparnya yang terasa aneh.
Kalau hanya akan membahas masalah pekerjaan, kenapa Zara memintanya untuk bertemu di luar? Seperti tidak ada tempat lain saja. Bahkan kantor pun sangat luas kalau hanya sekadar ingin duduk berdua.
Dan ternyata dugaannya benar. Dia dijebak. Pasti ada banyak pihak yang ikut membantu merencanakan pertemuan ini.
“Nai, apa kamu mau jadi istriku?” ujarnya langsung menyodorkan cincin.
“Maksud kamu apa?” Sontak Nai langsung beranjak. Terang saja dia marah. Datang-datang langsung bicara seenaknya seperti orang yang tak punya perasaan. Memangnya dia tali layangan yang bisa ditarik ulur semaunya? Keterlaluan.
“Nai, apa kamu mau jadi istriku?” pria berwajah datar itu mengulang.
“Hampir sepuluh hari kamu pergi tanpa alasan yang jelas. Sekarang kamu tiba-tiba dateng, ngomong kayak gini. Apa itu namanya kalau bukan gila?” sembur Zunaira. Dadanya bergemuruh menahan emosi yang melanda. Dan tanpa aba-aba, air matanya seketika lolos tanpa di izinkan.
Andrea diam saja. Pria itu tak memiliki banyak kosakata untuk menjelaskan semuanya kepada wanita ini. Satu hal yang sudah pasti dia rasakan. Dia mencintainya.
Bersambung.
__ADS_1