
Bab 45
“Mampir ke apotek Century, dulu, Pi,” ucap Miranda suatu hari kepada Ruben pada saat mereka dalam perjalanan pulang dari kantor.
“Mau beli apa?” Ruben bertanya.
“Biasa, macam-macam obat buat persediaan. Stok di rumah udah menipis.”
“Nggak ada cara lain, selain itu?”
“Aku cuma bisa mengontrol semuanya pakai obat, Pi. Kalau enggak, aku dah masuk RS dari dulu.”
“Makanya jangan terlalu stres, karena semua penyakit berawal dari sini.” Ruben menunjuk kepalanya.
“Gimana nggak stres mikirin anak kita. Usianya udah 31 tahun lebih, tapi belum nikah-nikah,” ujarnya disertai mata yang berembun, “apa mungkin ini kesalahanku di masa lalu, jadi dia yang harus menanggungnya?”
“Jangan selalu menyalahkan diri seperti ini,” Ruben mengusap punggung istrinya, “nggak ada kaitannya dia dengan masa lalu kita. Kesalahan kita, akan menjadi tanggung jawab kita nanti. Sudahlah ... tugas kita sekarang jaga kesehatan, supaya bisa mendampingi mereka lebih lama lagi. Terutama Mike yang masih sangat membutuhkan kita.”
Miranda tak lagi bersuara.
Dia baru membuka suara ketika mobil sudah sampai di depan apotek yang dituju, “Sebentar, ya, Pi.”
“Apa perlu aku temani?”
“Nggak usah. Sebentar aja, kok.”
“All right.”
Miranda memperbaiki hijab dan kemeja tuniknya yang berantakan. Kemudian mengambil tasnya dan turun masuk ke dalam apotek tersebut. Mengeluarkan selembar resep dokter, kemudian menyerahkannya kepada apoteker yang bertugas.
“Baik, ini saja, Bu? Apa ada yang lain yang nggak pakai resep?”
“Vitamin ....” Miranda menyebutkan beberapa suplemen dan vitamin yang diperlukan.
“Baik, Bu. Ditunggu sebentar, ya.”
Miranda mengiyakan. Dia hendak berbalik badan, namun urung pada saat melihat pemuda yang dia kenal menyodorkan resep kepada apoteker lainnya. Tepat sebelah dia berdiri.
“Ustaz Ray,” ujarnya membuat pria itu menoleh bingung.
“Iya? Saya?” ujar Ray menunjuk dirinya sendiri.
“Iya, Anda. Memangnya Anda punya berapa nama?” tanya Miranda keheranan karena melihat Ray bingung dengan wajahnya, “dah nggak mau kenal lagi kamu sama Tante? Lupa kamu terkenal karena siapa?”
“Em, permisi, maaf, Bu. Apa anak saya berbuat salah?” tanya seorang wanita sontak mendekat. Usianya diperkirakan hampir sebaya dengan Miranda. Wanita itu adalah Vita Anggraeni. Dia baru saja mengantar anaknya terapi okupasi. Lalu mampir untuk membeli obat yang tak tersedia di farmasi rumah sakit itu.
__ADS_1
“Nggak sih, Cuma jadi sombong aja sekarang,” balas Miranda tak segan-segan.
“Sebelumnya Ibu mengenal anak saya?”
“Kenal lah. Kenal sekali malah. Dia dulu sering ke rumah saya ngisi kajian. Saya itu Maminya Zara Angel.”
“Zara Angel, maksud Ibu ...?” Vita bertanya-tanya.
“Iya, Zara kan salah satu muridnya. Kami sangat dekat, loh sebelumnya. Saya juga heran, kenapa kok, sekarang Ustaz Ray jadi seperti ini. Coba, deh tanyain sama anaknya. Dia sombong sih, sekarang. Mentang-mentang anak saya dulu ....” bla... bla... bla... Miranda menjelaskan sejak kapan Ray berubah.
"Makanya jangan asal percaya sama berita belum benar. Tante rasa kamu itu bukan orang yang kurang pengalaman. Tapi kok, bisa kemakan sama ...." Miranda terus mengomel. Dia tipe wanita yang belum berhenti bicara jika semua unek-uneknya selesai.
Ray terdiam kebingungan.
“Angel?” ulang Ray memastikan. Apa Angel yang mengantarkannya kemarin? Kepalanya mendadak berdenyut karena mencoba memaksakan diri untuk mengingat sesuatu.
Tapi sepertinya pertanyaannya diabaikan karena kini mama dan tante-tante itu malah berbincang sendiri dan merencanakan pertemuan lagi di lain di tempat. Entah apa yang akan mereka bicarakan, Ray tidak tahu.
🌺🌺🌺
“Sayang...” panggil Miranda kepada Zara begitu dia sampai di rumah hampir larut malam.
Zara yang pada saat itu tengah menemani Mike belajar di ruang tengah sontak menoleh, “Ya, Mam?”
Terlebih dahulu Miranda meletakkan kantong plastik obatnya, sebelum kemudian ikut bergabung dengan mereka.
“Udah, ah. Mike capek.”
“Tapi besok mau dikumpulkan, jadi kamu harus mengerjakannya sekarang. Sampai selesai, okay?”
“Nggak, besok aja. Otakku udah nggak bisa mikir. Nanti bisa gagar otak,” jawab Mike kemudian memeluk maminya setelah itu.
“Bilang aja dah males. Huh, ma jadi apa kamu?”
“Cita-citaku cuma mau jadi suami yang baik.”
Miranda lantas tertawa, “Suami yang baik itu nggak bodoh kayak kamu, Mikhael mukson! Masa suami yang baik dapat nilainya telur terus.”
“Mike mah males belajar orangnya. Gimana bisa jadi suami yang baik,” Zara menanggapi, “lagian masih sebelas tahun dah punya cita-cita nikah. Mau dikasih makan apa nanti istrinya? Cinta?”
“Kasih makan nasi, lah,” jawab Mike serampangan.
“Belum tahu dia kalau harga beras sama minyak itu mahal.” Miranda menciumi anak laki-lakinya dengan gemas.
"Mami kok pergi terus, kapan nggak pergi?" tanya Mike, "ajak dong, anak ganteng ini ke Mall."
__ADS_1
"Mami sibuk, cari uang buat kamu sekolah. Mike ke Mall sama Mbak Devi aja, ya."
"Males, ah," cebik Mike tak setuju.
“Tadi, Mam manggil aku ada apa?” Zara menyela pembicaraan mereka.
“Besok Mam ada rapat sama klien di Ampera. Kamu sibuk, nggak?”
“Kenapa? Mami minta ditemenin?”
“Iya, soalnya jadwal Om padat. Jadi nggak bisa nemenin Mami. Tapi kalau kamu mau.”
“Sebenernya ada pemotretan, tapi bisa dipending, kok. Nggak harus besok.”
“Okay,” Miranda tersenyum. Namun senyum yang sulit di artikan. Niscaya hanya dirinya saja yang tahu. Sementara Zara tidak menyadarinya.
Hingga keesokan harinya, mereka pun berangkat ke tempat yang dituju.
Awalnya memang tak ada yang salah. Zara merasa semua baik-baik saja tanpa kejanggalan. Mereka bertemu dengan beberapa orang untuk membicarakan masalah pekerjaan.
Tapi pada saat sesi rapat sudah selesai, Mami meninggalkannya di dekat kolam ikan. Dari izinnya, beliau hendak melaksanakan salat zuhur. Zara tak mengikuti karena sedang berhalangan. Namun hingga sepuluh menit berlalu, Mami tak kunjung jua kembali.
Dia menyadari bahwa ini sudah direncanakan oleh maminya, setelah ia mengetahui, ada seorang laki-laki berdiri di belakangnya. Pria bertubuh tegap, memakai kemeja berwarna abu-abu dan celana semi formal. Jelas membuatnya kaget setengah mati.
“Zara Angel,” ujarnya menatapnya pasti, “tapi kemarin kamu hanya memperkenalkan dirimu sebagai Angel.”
“Orang yang benar-benar lupa ingatan nggak akan mempermasalahkan itu,” Zara membalas ucapan Ray barusan. “Kenapa kamu di sini? Mana Mami aku?”
Tapi tampaknya Ray tak peduli dengan pertanyaannya, “Aku memang nggak ingat apa pun, Ra. Tapi di sini ...” Ray menunjuk dadanya, “aku merasakannya. Ditambah dengan cerita-cerita yang aku dengar dari semua orang terdekat, bahwa kamu adalah masa laluku yang pernah tertinggal karena kesalahpahaman. Sehingga kita harus berakhir seperti ini.”
“Nggak, kamu salah besar. Aku nggak punya masa lalu sama kamu. Saat kita pernah dekat, kamu udah punya calon istri sendiri. Jadi jangan mengada-ada.”
“Tidak peduli apa pun itu, aku tetap akan memperjuangkanmu.”
“Lucu. Setelah kamu nggak bahagia sama wanita lain, terus kamu minta aku jadi cadangannya? Nggak malu, kamu?” tegasnya.
Sesungguhnya Zara tak mengetahui bahwa Ray memang sudah sendiri. Ia hanya sekadar mengira-ngira saja, karena tidak mungkin pria ini mendekatinya di saat dia masih mempunyai istri. Ia juga tahu Mami lebih selektif daripada dirinya. Jadi, wanita tua itu tak akan mungkin mengizinkan seorang pria mendekatinya dengan status yang tak pasti.
“Dengan kamu berbicara seperti itu, aku jadi semakin yakin kalau kita punya....”
“Percaya dirimu terlalu berlebihan,” sela Zara menyorot tajam, “aku masih punya harga diri meskipun kamu menganggapku murahan!” ujarnya lagi penuh penekanan. Kemudian Zara beranjak dari tempatnya. Tapi sayang, dia tertahan oleh tangan kokoh yang memegangnya kuat-kuat.
“Kalau aku dulu pernah gagal, kali ini aku nggak akan biarkan kamu lepas lagi,” bisiknya tepat di telinga yang membuat tubuhnya meremang, "aku akan melamarmu ke rumah."
"Jadi laki-laki itu harus gentle, pantang menyerah, jangan takut ditolak, harus gerak cepat supaya nggak keduluan sama orang lain. Gagal coba lagi, jatuh, bangkit lagi. Pepet terus sampai dia merasa nggak punya pilihan."
__ADS_1
Ray mengingat kata-kata Umar beberapa waktu lalu.