Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
SHUT UP!


__ADS_3

Seorang sipir, yang merupakan penanggung jawab pengawasan dan keamanan di penjara, mengantarkan seorang narapidana berjenis kelamin laki-laki keluar untuk menemui keluarganya. Orang itu adalah Fasad. Dia sudah memakai seragam barunya berwarna orange.


“Nak ....” sebuah kata terucap dalam, bersamaan dengan luncuran air mata yang keluar dari sosok wanita tua sang putra semata wayang.


Fasad duduk di depan ibunya yang entah bersama siapa. Pria itu bahkan terlalu bingung harus menganggapnya siapa? Temannya? Kekasihnya? Keluarganya? Istri? Atau apa?


Perempuan itu bukan siapa-siapanya, namun selalu ada untuknya di saat ia sedang terpuruk sekalipun.


Padahal Fasad tak pernah memperlakukannya dengan baik selama ini. Tapi Cici tak pernah mundur seolah tidak ada kamus menyerah dalam hidupnya.


“Sejauh dan selama apapun kamu pergi, kamu akan tetap berakhir di sini, Fa,” ucap Cici tanpa mendapat tanggapan apa-apa dari lelaki di depannya selain bergeming dan membuang muka. “Jadi percuma saja kamu kabur karena usaha kerasmu akan tetap sia-sia. Terimalah dan jalanilah hukumanmu. Hanya dengan cara inilah kelak kamu bisa kembali bebas.”


“Shut up!” jawab Fasad menyentak.


“Jaga emosi kamu, ini di penjara. Kamu bisa habis kalau nggak bisa mengontrol diri.”


Tia terdiam. Sebenarnya dia tidak setuju dengan kata-kata Cici barusan karena rencananya adalah ingin anaknya tetap pergi jauh.


Tetapi ... apa boleh buat? Ia belum bisa mendebatnya di tempat ini.


“Ibu akan mencari cara agar bisa mengeluarkanmu dari sini,” kata Tia setelah itu.


“Bu ....” perempuan yang selalu bertolak belakang dengan pemikiran Tia itu pun menyela.


“Tempat ini nggak layak untuknya!” kata Tia dengan suara teredam.


Cici pun geram, entah hidup di mana ibu-ibu ini sebelumnya sehingga otaknya sedemikian bebal dan dangkal. Tak salah kan? Jika dia mengatakan bahwa Fasad salah asuhan?

__ADS_1


Cici menggenggam tangan Tia, menelisik bola matanya dan mencoba bicara dengan suara pelan agar ucapannya bisa lebih masuk ke dalam relung hati, “Percayalah, ini tempat terbaik untuk Fasad agar dia segera bisa mempertanggungjawabkan kesalahannya, Bu. Agar dia juga bisa cepat hidup bebas. Tolong jangan terlalu membelokkan Fasad ke arah lain, Bu. Aku tahu Ibu menyayanginya, aku pun begitu. Tapi bukan seperti ini caranya. Jadi biarkan dia menjalani hukuman.”


Cici tak bosan-bosannya mengulang perkataan yang sama agar Ibu Tia semakin mendengar.


“Fasad ... berjanjilah untuk berubah setelah ini ....” Cici mengeluarkan kertas hasil USG terakhir kali ia melakukan pemeriksaan, lalu menunjukkannya, “karena sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah ....”


Fasad sontak terkesiap. Dia mengernyit penuh tanda tanya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Apa? Ayah?


♧♧♧


Zara pulang dalam keadaan kesal bad mood. Ya, sebenarnya demikian akibat ucapan wanita tua bodoh yang salah paham dengannya itu. Namun demi orang-orang yang ditemuinya, Zara tetap berusaha bersikap tak pernah terjadi apa-apa.


“Non, susunya di minum dulu.” Tiba-tiba Devi membawakan segelas minuman hangat dan sepiring potongan berbagai macam buah ke depannya. “Harus di minum ya, Non. Kasihan baby twins nya. Pasti belum makan juga siang ini ... jadi saya bawain buah.”


“Makasih, Dev.”


Namun sepertinya perkataan Devi hanya angin lalu karena setelahnya wanita itu tertidur. Dia sudah sangat mengantuk.


“Nggak boleh ada laki-laki yang lewat sini, ya, Mba. Kalau ada orang depan yang masuk, suruh lewat pintu belakang saja,” ujar Rayyan karena posisi tidur Zara menampakkan lekukan. Sedangkan memindahkan atau membangunkannya juga tidak mungkin. Sebab jika Zara sudah membuka mata, maka dia tidak akan bisa tidur nyaman seperti ini lagi. Pasalnya sudah banyak pekerjaan yang tengah menantinya. Paket sudah menumpuk menunggu tindaklanjutan dari si pemegang amanah.


Oleh karenanya, pria itu meninggalkannya berniat untuk membersihkan diri sejenak.


Namun baru saja Ray selesai menggosok gigi, terdengar suara telapak kaki orang masuk ke dalam kamarnya sehingga ia cepat-cepat menyudahi aktivitasnya untuk memastikan siapa orang tersebut.


“Kenapa nggak bangunin aku kalau kamu pulang?” tanyanya saat Ray keluar.


Ray kaget. Lah, bukannya tadi pas dia tinggal masih tidur sangat nyenyak? Mulutnya terbuka lagi. Kenapa tahu-tahu Zara sudah ada di sini?

__ADS_1


“Nggak mungkin aku bangunin, kamu lagi tidur nyenyak,” kata Ray tak bisa menjawab dengan hal lain lagi.


“Hem.”


Ray kembali masuk ke kamar mandi. Tetapi bukannya pergi, Zara malah menungguinya di depan pintu.


“Kok masih di sini?” tanya Ray keheranan, “tutup pintunya. Aku mau mandi.”


Zara tak menjawab. Dia tetap bergeming menampakkan wajah datarnya sehingga Ray kembali bertanya, “Apa kamu membutuhkan sesuatu?”


“Ya!” jawabnya singkat.


“Apa?”


“S*ks.”


“Ok.”


BERSAMBUNG.


.


.


.


Maaf genks, otor lagi agak kleyengan. Segini dulu ya. Besok lanjut lagi lihat keadaan Mauza di tempat barunya. Hehe kalau ada yang tanya, kenapa Mauza sampai kerja di sana, soalnya perusahaan travel papa yudhot emang udah gulung tikar ya. Penjelasannya ada di season 2 di judul "tak sanggup berbagi".

__ADS_1


Bagi yang belum baca judul itu silakan mampir ke sana. Supaya tempe, gimana silsilah orang tua mereka. Tapi janji jangan nangis ya. Soalnya papa yudhotnya punya dua bini.


Selamat malem jumat genks. Jangan lupa ibadah😂


__ADS_2