
Bab 39.
Awalnya, Yudha memang merasa tidak perlu ikut campur urusan rumah tangga mereka. Tetapi untuk kali ini, dia hanya ingin meluruskan saja agar tak terjadi kesalahpahaman andai berita ini sampai di telinga besannya. Sebab asal mula terjadinya pertengkaran mereka berdua disebabkan karena ketidaksengajaan putrinya. Sekali lagi, bukan karena di sengaja. Terlebih, Mauza juga sudah meminta maaf padanya langsung setelah itu.
“Kenapa jadi ruwet begini masalahnya, ya, Ma?” tanya Zunaira yang juga sama-sama takut.
Bukan kali pertama keluarga ini mengalami huru-hara. Tapi kali ini adalah yang paling dahsyat dan menggemparkan seluruh isi rumah. Bahkan para pekerja mereka pun merasa tidak nyaman dibuatnya.
“Kita doakan yang terbaik buat Kakak ya, Nak ....” perempuan yang telah melahirkan anak tersebut memeluk kedua anak perempuannya. Mereka pun masuk ke dalam rumah dan memilih untuk duduk bersama di ruang tamu sembari menunggu kabar terbaru.
“Semoga masalah ini segera selesai tanpa ada keributan lagi. Kasihan anakku.”
Sementara di tempat lain, Rayyan tengah mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi untuk mengejar mobil yang membawa istrinya pergi.
Sebenarnya tidak terlalu masalah jika Ray membiarkannya. Toh, jika sudah merasa lelah, dia akan kembali dengan sendirinya.
Namun, berapa episode yang dia perlukan untuk membuat drama?
Sementara tempatnya belum bisa dia pastikan, aman atau tidak.
Ray tidak ingin dikecam sebagai suami yang tak bertanggungjawab. Tak bermaksud mendoakan yang kurang baik ... tapi Hamidah pergi dalam keadaan marah. Andai terjadi sesuatu yang tak diinginkan, dialah pihak pertama yang akan disalahkan banyak orang. Belum lagi penyesalan yang akan dialaminya.
Di suatu sisi, pasti ada rasa sayang untuk wanita itu. Bagaimana dan seperti apa pun sifatnya, mereka sudah lama menikah. Jangan ditanya lagi apa yang sudah mereka lakukan bersama, karena sudah pasti sangatlah banyak. Mulai dari bangun tidur, sampai mereka tidur lagi, mereka ada di tempat yang sama.
“Nggak masalah kalau kamu ingin menyendiri untuk sementara waktu, asalkan aku tahu di mana kamu tinggal.”
__ADS_1
Mobil yang Ray kendarai memang lebih bagus daripada mobil yang dia kejar. Tetapi kemampuan seorang driver daripada dirinya jelas sangatlah jauh—sehingga dia tak bisa mengimbangi kecepatannya. Beberapa kali Ray berhasil mengimbangi lajunya, namun tak lama kemudian, dia tersalip lagi.
Ray tak habis pikir. Kenapa pengemudi online sangat nekat membawa penumpangnya dengan kecepatan tinggi dan ugal-ugalan?
Hamidah kah yang menyuruhnya?
Apakah pekerja itu tidak takut dipecat?
Dan yang paling fatal, apakah mereka tidak takut mati?
Namun kini mereka mendapati lampu lalu merah, sehingga lampu itu berhasil menghentikan lajunya. Tapi sayang, posisi Ray ada di belakang mobil tersebut dan terjepit di antara mobil-mobil lain.
“Hei, berhenti saya bilang!” seru Ray disertai bunyi klakson berulang kali, “tepikan kendaraanmu dan turunkan istri saya!”
“Saya bisa melaporkanmu ke atasanmu supaya kamu dipecat!” Ray kembali membunyikan klakson mobilnya berulang kali, tak peduli mengganggu kenyamanan di sekitar.
Karena tak mendapatkan respon, pria itu terpaksa menepi, turun dan menggedor kaca mobil di depannya. Di lihatnya wanita itu sedang menutup telinganya menggunakan kedua tangan.
“Hamidah, jangan suruh dia mengebut, kalian bisa celaka! Kalau kamu mau pergi, pergilah! Aku hanya ingin bicara sebentar!” sorot mata Ray melunak pada saat melihat wanita itu menatapnya sekilas, "jangan keras kepala, turunlah, kita bicara sebentar."
Ray beralih ke depan dan berusaha membuka paksa pintunya, “Turun kalau nggak mau saya kasuskan!?”
Tapi pengemudi itu tampak tak memedulikan. Seolah tahu apa yang orang ini katakan hanyalah sebuah gertakan saja. Karena begitu lampu berganti warna hijau, mobil langsung melesat sangat cepat.
“Dia hanya mau mendengar orang yang membayarnya.”
__ADS_1
Lantaran tak ingin terjadi sesuatu yang tak diinginkan, akhirnya Ray putuskan untuk tak lagi mengejar demi keselamatan mereka bersama.
“Ya sudah, kalau itu maumu. Tapi kalau kita ketemu lagi, jangan bilang aku nggak peduli. Aku sudah berusaha mengejar, tapi kamu abaikan.”
Ray menepikan mobilnya untuk mengirim pesan kepada Hamidah.
Ray: Oke, kalau itu maumu. Padahal aku hanya ingin tahu kamu mau ke pergi ke mana. Karena arah mobil yang kamu tumpangi sekarang nggak ke rumah Abi, apalagi Apartemen kita yang jelas berlawanan arah.
Maafkan aku, Hamidah. Kalau selama beberapa bulan ini aku belum bisa menjadi suami yang kamu inginkan. Tapi ketahuilah, setiap hari, setiap waktu, aku selalu membenahi diri. Berusaha menjadi suami yang baik untukmu.
Sekali lagi maafkan suamimu yang banyak kurangnya ini.
Kabari aku kalau kamu sudah tenang, karena aku sendiri akan menjemputmu pulang.
Usai mengirim pesan, ekor mata Ray mulai berair. Bukan karena ia lemah—bukan. Tetapi ia tidak tahu bagaimana cara melampiaskannya.
“Mungkin hadirnya kamu dalam hidupku adalah sebagai ujian. Ya, kuanggap begitu karena darimulah aku belajar.”
Dengan perasaan kacau, Ray pun akhirnya mencari jalur putar balik. Namun karena kurangnya konsentrasi saat menyetir, dia mengalami kecelakaan di perempatan jalan. Berniat menghindari bus besar yang akan menerjangnya dari arah berlawanan, Ray malah menabrak rumah penduduk setempat dan membuat dua pengemudi motor lainnya terpental dan terluka parah.
Ray langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat dan langsung dinyatakan kritis oleh dokter yang menanganinya.
Bersambung....
Segini dulu, besok lanjut lagi.
__ADS_1