
119
Wanita yang bernama Umi Tatum tersebut tidaklah bingung melihat anak perempuannya menangis. Beliau sudah tahu dengan apa yang baru saja terjadi di antara mereka sebab karena kecerobohan anaknya sendiri. Oleh karenanya, Umi Tatum hanya berujar, “Selesaikanlah masalah kalian. Aku tak mau ikut campur.”
Selepas bicara seperti itu, beliau langsung pergi. Pun tidak berusaha mencari tahu apa yang akan mereka bicarakan lantaran sudah terlalu malu, walau sekadar menampakkan diri di depan mantan menantunya. Mengingat, apa saja yang sudah Hamidah lakukan selama ini demi mencapai ambisinya.
“Rayyan sudah datang ke sini, Abi,” Umi Tatum melapor kepada suaminya yang sedang bepergian.
“Sama siapa dia datang?”
“Sendiri.”
“Baiklah. Aku segera pulang,” ujar Kyai Mohd Noor sebelum menutup panggilan.
Sementara di ruang tamu, Hamidah masih menangis di hadapan Rayyan sehingga membuat pria itu bingung dan bertanya-tanya sendiri, sebenarnya ada apa dengan Hamidah? Kenapa malah jadi dia yang nangis? Bukankah dia peran antagonisnya di dalam masalah ini?
“Kenapa kamu menangis?” tanya Ray tak habis pikir, “aku belum mengatakan apapun.”
“Maafkan aku ....” ujar Hamidah disela isak. “Aku hanya nggak tahu gimana cara mengekspresikan rasa cemburuku setelah mendengar kalian bahagia. Aku sama sekali nggak bermasud begitu pada awalnya, apalagi berniat untuk merendahkannya. Tapi nggak tahu kenapa, itu semua terjadi begitu aja. Aku akui aku bodoh, aku sangat ceroboh ....”
“Secara nggak langsung, berarti kamu mengakuinya. Kalau sindiran yang kamu unggah adalah untuk kami?” sahut Rayyan setelah Hamidah selesai bicara.
Hamidah mengangguk pelan.
“Jahat sekali jarimu, Hamidah. Kamu membuat kami ....” Ray membiarkan Hamidah mencari sendiri jawabannya.
“Maaf. Aku hanya manusia biasa yang tak bisa lepas dari kesalahan.”
“Apa yang membuatmu terdorong untuk melakukannya? Apa kami pernah berbuat jahat padamu? Jelaskan!”
Hamidah tak menjawab.
Rayyan kembali menunjukkan ketikan jari yang Hamidah buat sendiri.
Hijabnya bukan untuk Tuhan, tapi untuk manusia. Agar dia senantiasa disukai, dipuja, dan dimiliki oleh seorang yang dicintainya. Boleh saja. Tapi dimataku, itu semua adalah kemunafikan.
Atau keduanya memang sama-sama muna?
__ADS_1
Yakin baru empat bulan sudah sebesar itu? Kanker atau miom?
Dasar perempuan banyak drama. Dari dulu juga begitu. Pelakor.
Kami baik-baik saja kalau kamu tak pernah ada.
“Biar aku jelaskan langsung padamu, Hamidah. Supaya kamu nggak sembarangan menuduh. Zara berhijab bukan untukku. Dia berhijab setelah mendapatkan hidayahnya. Tepatnya sepulang dia melakukan Umrah,” ujarnya menanggapi status Hamidah yang pertama. “Dan itu jauh sebelum kami kembali dekat.”
Hamidah menyimak.
“Zara juga bukan terkena kanker atau miom seperti yang kamu tuduhkan. Istriku memang hamil 4 bulan. Kalau kamu curiga, kenapa lebih besar daripada usianya, karena Zara mengandung bayi kembar.”
Deg! Hamidah terkejut. Wajahnya langsung pias.
“Kak ....”
Rayyan menyelanya, “Aku beri kamu kesempatan untuk bicara, tapi nanti setelah aku selesai menjelaskan semuanya. Tolong dengarkan.”
“Tapi, Kak, aku-”
Namun Ray tetap tak peduli, “Ketiga, kamu bahas pelakor di sini. Zara aku nikahi setelah kita resmi bercerai. Bahkan setelah kamu melewati masa idah. Dia bukan pelakor seperti yang kamu tuduhkan karena aku nikahi dia dalam keadaan masih suci.”
“Terakhir, ini harus kamu pahami baik-baik,” sorot mata Ray menajam menemui bola mata di depannya, “aku tidak pernah berpura-pura amnesia. Aku terapi di rumah sakit, berjuang selama berbulan-bulan supaya aku bisa pulih dan ingatanku bisa segera kembali. Ada dokternya dan hasil diagnosa rumah sakit yang nggak mungkin bisa dipalsukan oleh siapapun, karena ancamannya adalah pidana. Cek saja kalau kamu masih menganggap ku begitu.”
Ray menghela napasnya sejenak, “Sekarang, aku sudah mengingat semuanya. Kenapa aku kecelakaan, yang tak lain awal permasalahannya disebabkan oleh karena keras kepalamu waktu itu yang tetap ngotot untuk pergi. Qadarullah mungkin jodoh kita memang sudah seharusnya sampai di sini. Lagi pula, kamu yang memutuskan untuk berpisah. Jadi jangan sekali-sekali kamu menyesalinya. Itu perbuatan yang memalukan.”
“Aku baru sadar kalau aku masih sangat mencintaimu,” kata Hamidah segera setelah Ray selesai bicara. “Bisakah kita sama-sama lagi?”
“Nggak,” tolaknya segera membuat Hamidah pucat pasi, “aku sudah sangat bahagia sama Zara. Lagipula, sebentar lagi aku mau jadi seorang ayah dari wanita yang sangat aku cintai. Jadi nggak pernah ada sedikitpun terlintas di pikiranku untuk menikah lagi.”
“Ray!” seru Hamidah semakin panas mendengar Rayyan semakin memuji istrinya.
“Kamu nggak pernah memberiku kesempatan sedikitpun. Apa sebegitu nya kamu benci aku sampai-sampai kamu menghindar dariku sejauh ini? Apa nggak ada kenangan yang tersimpan setelah kita sering melakukan segala hal sama-sama?” tanya Hamidah memberondong.
“Bahkan dulu, semenjak kita serumah pun, aku selalu seperti ini. Mengemis cinta dan mela curkan diri, supaya kamu melihatku.”
“Kamu tahu nggak? Aku dari tadi nahan diri supaya nggak ngomong kelewatan yang bisa menyinggung perasaanmu,” kekeh Rayyan. Entah kenapa wanita itu tak pernah bisa bertemu dengan pikirannya. Dialah orang pertama yang menyebabkan semua penderitaannya terjadi. Tetapi malah menyalahkan orang lain. Bukankah itu sangat aneh?
__ADS_1
“Ya sudahlah, penjelasanku sudah selesai. Aku harap, kamu punya itikad baik untuk meluruskan berita bohong yang kamu buat.” Rayyan beranjak berdiri setelah urusannya benar-benar selesai.
“Rayyan!”
Namun, panggilan Hamidah membuatnya kembali menatap. Dan tiba-tiba--
Bruk!
Hamidah memeluknya. Ini sengaja dilakukan olehnya karena wanita itu melihat Zara dan Mauza yang entah semenjak kapan sudah berada di ambang pintu rumahnya.
“Aku masih mencintaimu.” dia mengakuinya sekali lagi tanpa merasa sungkan kepada seorang pria yang jelas-jelas sudah berstatus sebagai suami orang.
Dan Hamidah pikir, Ray akan melembut karena pengakuan dan perlakuannya yang memelas, seperti yang biasa ia lakukan dulu. Tetapi ternyata dugaannya salah, karena pria kini menghempaskan tubuhnya.
“Kamu keterlaluan!” Ray sangat jengkel. Dia berniat untuk segera meninggalkan wanita depresi ini agar tak terjadi suatu hal yang bisa menimbulkan fitnah. Namun pada saat berbalik badan, Ray begitu terkejut karena pria itu sontak mendapati istri, adik, dan mantan mertuanya mengawasi mereka dari depan sana.
“Assalamualaikum, Pak Kyai,” Zara mengatupkan kedua tangannya kepada sosok yang baru saja datang setelah dirinya.
“Waalaikumsalam,” balas pria itu mengangguk dan tersenyum.
“Udah selesai urusannya, By?” tanya Zara kepada sang suami sembari menarik tangannya.
“Sudah,” jawab Rayyan. Dalam hatinya menyerukan sebaris kalimat, beri aku kesempatan untuk menjelaskannya sebelum terjadi kesalahpahaman.
“Okay kita pulang,” ujar Zara tersenyum dan menarik tangan suaminya. Tetapi sebelum mereka melangkah, Zara terlebih dahulu menyempatkan diri untuk berpamitan kepada Tuan Rumah, “Hamidah, kami pulang dulu, ya? Oh iya, lain kali jangan peluk-peluk suami orang. Dosa. Pasti kamu juga nggak mau dituduh jadi pelakor, kan?”
Hamidah membisu.
Telak. Dia menelan sendiri mentah-mentah tuduhan keji tersebut.
Usai ketiganya pergi, Kyai Mohd Noor menyorot tajam anaknya, satu tangannya terangkat, dan tamparan keras sontak mendarat di pipinya.
“Memalukan! Keterlaluan! Kami kecewa padamu!”
Tangis Hamidah semakin pecah. Wanita itu meluruh ke lantai, “Maafin aku Abi... maafin aku ....”
Kyai Mohd Noor tak peduli. Pria itu meninggalkan anaknya dalam keadaan kesakitan. Baik fisik, maupun jiwanya.
__ADS_1
Bersambung.