
Bab 35
“Ibu senang sekali kamu berubah,” kata Tia bernapas lega.
“Aku juga senang kalau Ibu senang.”
“Jangan seperti itu lagi ya, Nak ... jangan buat Ibu terus merasa bersalah karena nggak bisa memilihkan ayah yang baik untukmu.”
“Nggak ... Fasad kan, udah janji. Kalau begitu lagi siap dipotong—”
“Burungnya?” sela Tia.
“Gajinya ...” kekeh Fasad meralat celetukan Sang Ibu barusan, “kalau burungnya nanti Ibu nggak bisa punya cucu.”
Tia ikut-ikutan tertawa, “Tapi, omong-omong soal cucu? Kapan kamu mau kasih Ibu cucu, hmmm? Ibu kesepian di rumah. Mau gendong tapi nggak ada yang di gendong. Mau dongeng, nggak ada mau dengerin.”
“Nanti kubelikan Ibu ‘kucing dulu sebagai gantinya,” canda Fasad memberikan pilihan lain.
“Hhh alasan!” cebik Tia pura-pura kesal. Keduanya menuju ke dalam rumah dan duduk di tempat makan yang di atasnya sudah tersaji beberapa lauk-pauk. Sengaja Tia persiapkan untuk menyambut kepulangan anaknya yang katanya hanya sendiri.
“Sibuk ya, istrimu?” Tia bertanya sembari menuangkan air minum ke dalam gelas anaknya, berikut untuk dirinya juga.
“Lumayan,” jawab Fasad berusaha menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Suasana pun mendadak sendu setelah ibunya bertanya tentang istrinya.
Hah, istri?
Hubungan mereka bahkan telah berakhir dan hanya tinggal status di atas kertas saja. Fasad sudah menceraikan Zara malam lalu.
Saat Zara melepaskan kancing-kancing bajunya hingga menyisakan pakaian inti, Fasad menggelengkan kepala agar Zara berhenti melakukan tindakannya. Pula dia sendiri yang membantu menutupnya kembali. “Jangan pernah lakukan ini, Zara. Aku bilang nggak perlu.”
“Kenapa? Apa aku nggak menarik di matamu?” tanya Zara kecewa dengan penolakan yang baru saja dialaminya. Padahal, banyak sekali lelaki yang mengantre untuk mendapatkan dirinya, tapi di saat dia dengan sukarela mela curkan diri di depan lelaki ini, ia malah ditolak mentah-mentah.
“Bukan nggak menarik. Semua laki-laki yang melihatmu pun pasti akan jatuh cinta dengan tubuh yang kamu miliki. Lain dari itu kamu baik, kamu cantik, kamu kaya, terkenal, punya nama, seorang pewaris tunggal dan masih banyak lagi,” jawab Fasad dengan uraian panjang dan memuji agar Zara tak berkecil hati dengan penolakannya, “tapi bukan itu masalahnya, okay? Aku tidak ingin melakukannya dengan wanita yang terpaksa melakukannya.”
“Aku nggak terpaksa. Kalau aku terpaksa, mana mungkin aku menawarkan diri dengan kerelaan,” jawab Zara tak habis pikir, “aku sempat berharap, dengan kita melakukan hubungan sek sual, aku bisa mengubah keputusanmu.”
“Nggak, keputusanku sudah bulat. Kita cerai. Pulanglah, aku talak kamu. Kamu bukan istriku lagi.”
Deg....
Lantang sekali Fasad mengucapkannya seperti manusia tak berperasaan. Sungguh ini menyakitkan sekali bagi wanita di depannya yang langsung menjatuhkan diri ke lantai. Zara menangis sejadi-jadinya hingga suaranya memekik ke pendengaran. Baru kali ini Fasad mendengar Zara menangis sepilu itu selama beberapa tahun bersama. Gadis itu merasa kesakitan sekali seperti orang yang baru saja ditinggal mati.
__ADS_1
“Apa salahku, Fasad ... apa salahku? Apa aku yang harus menanggung kesalahan orang tuaku?” isaknya tak tertahankan, “aku butuh kamu di saat semua orang ninggalin aku, Fasad. Aku memang punya keluarga ... tapi sesungguhnya aku tak punya siapa-siapa lagi setelah Papi pergi ... plis ... Fasad plis ....”
“Nggak, Zar. Silakan pergi, aku tunggu gugatanmu atau aku yang akan melakukannya. Yang jelas lebih cepat lebih baik.”
Malam itu, Fasad meninggalkannya dan mengunci pintu kamarnya, membiarkan Zara menangis seorang diri. Hingga beberapa menit kemudian terdengar pintu utama ditutup. Untuk memastikannya, dia mengecek ke depan. Ternyata Zara sudah pergi keluar dari unitnya.
Fasad mempunyai pemikiran yang luas. Sebab menurutnya, pergi setelah menidurinya adalah sebuah tindakan yang sangat bejat. Belum lagi jika nanti benihnya tumbuh dan mereka sudah dalam keadaan sendiri-sendiri—maka anaknyalah yang akan menjadi korbannya.
Ya, Fasad hanya akan melakukannya setelah keduanya mempunyai komitmen untuk tetap bersama. Namun, pria itu merasa tak pantas berada di sisi wanita sempurna seperti Zara. Dibanding dirinya yang banyak sekali mempunyai kekurangan. Secara material maupun imaterial. Lagi pula Zara tak mencintainya, dia tak mau menjadi orang yang egois dengan menggunakan kelemahan Zara demi kepentingannya sendiri. Belum lagi pandangan orang-orang terhadapnya yang kelak bisa menjadikannya sosok pria kerdil yang bisanya menumpang hidup dari kekayaan dan ketenaran istrinya.
“Dari wajahmu seperti ada yang kurang beres,” ujar Tia membuyarkan lamunan Sang Anak. Bukan seorang ibu namanya kalau tidak bisa memahami apa yang terjadi pada belahan jiwanya.
“Lain kali aku ceritakan, Bu. Tapi maaf kalau kali ini aku kembali mengecewakanmu lagi,” jawab Fasad dengan suara lemah, hampir tak terdengar.
“Nggak papa. Hiduplah sesuai dengan isi hatimu, Nak. Jangan paksakan sesuatu yang sekiranya bisa menyakiti diri sendiri. Lagi pula kamu sudah dewasa, Ibu yakin kamu bisa menentukan hidupmu. Kamu sendirilah yang paling tahu, mana yang terbaik,” kata Tia dengan bijaksana. Ia tak mau ego sendiri karena setiap orang pasti mempunyai sudut pandang yang berbeda. Baik menurutnya, belum tentu baik bagi Sang Anak. Demikianlah dari pengalaman yang sudah-sudah dia alami sepanjang hidupnya.
“Boleh aku memelukmu?” ujar Fasad membuat Ibu tersenyum.
“Why, not?”
Keduanya beranjak dan saling memeluk dalam tawa.
“Maaf, Bu. Karena selama ini aku terlalu sibuk di luar.”
“Ya, kamu terlalu sibuk mengurusi orang lain ketimbang Ibumu yang sudah tua ini....”
“Mulai sekarang aku akan lebih memperhatikanmu dan akan lebih sering pulang ke rumah.”
“Nggak papa, Ibu memaklumi kalau semua orang itu butuh makan, dan kita nggak bisa mendapatkannya kalau hanya duduk diam di rumah saja.”
“Cari kerja apa, ya, yang bagus?” Fasad bertanya.
“Gampang sekarang, mah. Apalagi pengalamanmu di dunia entertain sudah banyak. Nggak melulu jadi manajer.”
“Iya, Bu,” jawab Fasad mulai memikirkan planning ke depan.
🌺🌺🌺
Zara baru saja keluar dari rumah sakit besar yang ada di kota tersebut. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan serta prosedur yang harus dilakukan, akhirnya, dia berhasil menyimpan sel telurnya di sana atau kata lain yang lebih dikenal egg freezing. Tak main-main, biayanya hingga mencapai ratusan juta rupiah. Dan semua itu ditanggung oleh Miranda yang mendukung penuh keputusan yang dilakukan oleh Sang Anak.
“Sekarang kamu dah aman, kamu bisa hamil di usia berapa aja kamu mau, Sayang.”
__ADS_1
“Iya, Mam.”
“Tapi kalau kamu menikah, tentu akan mencoba yang alami dulu, kan?” Miranda bertanya lagi.
“Tentu,” jawab Zara pasti.
“Are you still a virgin?"
Zara menatap Maminya dan menganggukkan kepala tanda mengiyakan bahwa dia masih perawan.
"Mami doakan, semoga tahun depan kamu sudah punya pasangan lagi tanpa harus menunggu lebih lama.”
“Semoga saja begitu, tapi kalau aku belum menemukannya, Mami jangan maksa, ya?”
“Nggak, nggak maksa. Paling Cuma nyuruh cepet-cepet.”
“Apa bedanya, Mami?” Zara memutar bola matanya malas.
“Kita ke mana setelah ini? Mau makan, mau nongkrong di Cafe, ke salon, shopping atau liburan ke luar negeri?” Miranda menawarkan semua ini hanya karena ingin membahagiakan anaknya saja. Sebab dia tidak tahu cara seperti apa lagi untuk membuat dirinya terlihat menyayanginya.
“Daripada liburan, mending kita Umrah aja. Aku belum pernah.”
“Are you sure?”
“Yaa ... itu lebih baik daripada kita pergi ke tempat yang jelas nggak ada manfaatnya kecuali hanya buang-buang uang. Pulang dari sana, bukannya happy malah tambah pusing mikirin tagihan. Belum lagi tanggung jawab kita sama Tuhan setelah itu.”
Miranda mengangkat jempolnya, “Kamu hebat, Sayang!”
“Harus, Mam. Anak Papi Pur harus hebat.”
Kendati wajah Miranda masih mengu lum senyum, namun mukanya terlihat berubah. Dia terdiam selama beberapa lama seperti tengah memikirkan sesuatu. Zara menyadari perubahan itu meski dia pura-pura acuh.
Ah, tapi ya sudahlah. Apa yang harus dibahas apalagi disesali lagi. Waktu tidak akan pernah kembali dan dia tak mungkin bisa mengubah sejarah yang telah terjadi.
“Kita akan pergi Umrah secepatnya. Besok, Mami mau ke agen biro perjalanan wisata,” ujar Miranda beberapa detik setelahnya, “nanti malam kamu siapin paspornya, ya.”
“Okay, Mam.” Dalam hati, Zara melanjutkan, banyak yang akan ia minta di sana. Terutama untuk dirinya sendiri dan almarhum papinya.
Bersambung.....
Setelah ini (mungkin beberapa bab lagi), cerita ini akan melompat ke -/+ satu tahun kemudian. Yang pasti lebih seru karena dari ke semua tokoh itu akan menjadi sosok yang baru, jadi ... nantikan keseruannya, ya!
__ADS_1