Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Surprise Gagal


__ADS_3

183


“Alma!”


Sudah terhitung lima kali Umar memanggil, namun nihil. Tak terdengar jawaban. Suasana rumah begitu senyap seperti tak berpenghuni. Ke mana pula mereka? Apa mereka kabur sama-sama? Atau jangan-jangan, mereka diculik?


Umar berkeringat dingin. Dia juga manusia biasa yang juga mempunyai rasa cemas. Umar takut terjadi apa-apa pada Alma dan asistennya rumah tangganya. Mengingat hanya ada mereka berdua saja di sini, terlebih semuanya adalah perempuan. Makhluk lemah yang terkadang, hanya untuk melindungi dirinya sendiri saja, mereka tak mampu. Ya, meskipun tak semuanya begitu.


Umar menyalakan lampu ruang tamu, kemudian berlanjut menyalakan lampu tengah, dan yang terakhir ke kolam renang.


“Padahal nggak korslet,” gumamnya.


Dan pada saat ia berbalik badan hendak kembali ke dalam, Umar terkejut dengan kemunculan Alma di depannya. Terlebih saat mendengar suaranya yang mengagetkan.


“Taraaaa!” seru Alma. Dia membawa kue ulang tahun di tangannya. “Selamat ulang tahun!”


“Ya Tuhan, Alma!” sahut Umar meninggi dan tampak marah. “Jangan pernah lakukan hal seperti ini lagi. Kamu membuatku jantungan!”


Alma tersenyum lebar setelah berhasil membuat Umar terkena prank nya. “Suprise!”


“Nggak ada surprise-suprise an. Aku nggak suka kamu ngelakuin ini. Tolong jangan berbuat bodoh!”


Senyum Alma langsung sirna. Ternyata Umar beneran marah, ya?


“Tapi aku cuma mau ngasih Abang surprise. Abang kan, ulang tahun hari ini. Hampir semua orang yang ulang tahun, pasti dapat kejutan istimewa. Ada yang di lempar telor, dikasih tepung, disiram air, diceburin ke kolam, bahkan ada juga yang sampai rumahnya di acak-acak. Dan mereka senang-senang aja, kok. Kan nantinya mau dikasih hadiah,” papar Alma menurut pengalamannya sendiri yang sudah-sudah.


“Tapi bukan dengan cara begini, Alma. Besok-besok kalau kamu berbuat seperti ini lagi, suatu saat kalau kamu sedang dalam keadaan bahaya, kamu nggak akan bisa dipercaya lagi sama semua orang, termasuk aku. Bisa saja mereka mengira bahaya itu cuma sebuah prank, seperti yang sering kamu lakukan.”


Usai berkata demikian, Umar berlalu.


Alma terdiam. Dia kecewa. Dia kembali ke dalam dengan langkah kaki yang lesu.


Alma meletakkan kue buatannya lagi ke meja dengan perasaan yang tak menentu. Padahal tidak mudah membuat kue ulang tahun dan semua kejutan itu.


Umar juga tidak tahu berapa jam Alma berkutat di dapur. Bahkan dia telah menyiapkan dinner dan kado spesial untuknya. Tapi kini semua usaha kerasnya di patahkan mentah-mentah. Ah, ini menyakitkan sekali.

__ADS_1


Mungkin bagi pria itu hanyalah persoalan sepele. Tetapi bagi wanita, ini adalah persoalan yang sangar besar. Duh, Alma baper. Mukanya kian memerah dan lama-kelamaan, wanita itu tak bisa menahan air matanya lagi.


Come on. Ayolah Alma! Jangan merasa paling didzolimi di sini. Kamu juga bersalah. Kamu sudah membuat suamimu hampir jantungan. Bukankah kamu sudah mendengar apa penjelasan Umar barusan?


Alma menekan sisi ke egois an nya demi bisa memperbaiki hubungan mereka kembali. Untuk itu, ia mencoba mendekati Umar dengan cara meminta maaf dan berjanji untuk tak mengulanginya lagi.


Namun sayang, Umar membisu. Pria itu tak sama sekali tak menanggapinya. Dia kalau sudah marah emang serem.


“Aku nggak bermaksud bikin kami cemas, Bang. Cuma sekedar bikin surprise. Maaf kalau menurut mu aku udah keterlaluan.” entah berapa kali Alma mengatakan hal tersebut. Tetapi tak kunjung mendapatkan jawaban. Pria itu justru meninggalkannya ke kamar mandi, kemudian setelahnya, langsung merebahkan tubuhnya ke ranjang tanpa memedulikan dirinya lagi.


Umar butuh waktu sebentar untuk mendinginkan kepalanya, setelah mengalami banyaknya kejadian yang menimpanya hari ini. Sudah capek, lapar, emosi, eh malah dikerjain. Hati siapa yang nggak dongkol?


Satu jam kemudian, Umar terbangun. Dia merasakan perut yang amat keroncongan. Di saat demikian lah Umar menyadari, bahwa tidak ada Alma di sampingnya.


Apa dia tadi sudah keterlaluan memperlakukannya sehingga Alma jadi ngambek?


Tak ingin terjadi hal-hal yang tak diinginkan, Umar pun gegas mencarinya. Hingga beberapa saat kemudian, dia mendengar suara berisik di dapur. Di sana ada Bi Yati yang tengah memasukkan banyak makanan ke kulkas.


Umar hendak melangkah ke sana, namun dia urungkan pada saat mendengar wanita tua itu bergumam sendiri.


“Kalau saya yang jadi istrinya, sudah tak kaprokin kue ini ke mukanya!” lanjut Bi Yati menggebu-gebu dan membuat Umar mendelik kan mata.


Asem!


“Saya doain, semoga kalau Mas Umar jalan pakai motor, dia nggak bisa nyalip truk ayam. Terus kalau nyampe rumah, diganggu sama suara tetangga yang lagi motong keramik. Sampai pagi!”


Doa apaan itu, ya ampun!


Umar membungkam mulutnya agar tidak sampai mengeluarkan tawa. Kemudian mundur pelan-pelan sebelum Bi Yati menyadarinya. Mau ngasih pelajaran juga percuma. Emak-Emak kok, dilawan. Manusia sejenis itu tidak akan pernah bisa diajak kompromi.


“Ke mana Alma? Ilang-ilangan terus perasaan.”


Ada perasaan takut wanita itu minggat ke rumah orang tuanya. Kalau benar itu terjadi, maka bencana besar sedang mengancamnya di sana.


Umar pun menuju ke kamar, berniat mengambil ponsel untuk menghubungi wanita itu. Tetapi anehnya, Alma sudah terbaring di sana. Selimut menutupi tubuhnya sampai batas kepala. Huftt ... setidaknya, Umar sudah bisa bernapas lega.

__ADS_1


“Al?” Umar hendak merengkuh tubuh Alma. Tapi perempuan itu malah lebih dulu balik badan. Hmmm, roman-romannya sekarang giliran aku yang bakal dicuekin, nih.


“Maaf ya, Al.”


Tak ada kata menyerah baginya. Umar berpindah ke sisi kanan agar bisa berhadapan dengan wajah cantik Alma.


“Alma sayang ....”


Tidak peduli sekuat apapun wanita itu memberontak, Umar memerangkap tubuh Alma, melu mat bibir wanita itu dan menghisapnya kuat bagaikan seekor lintah. Satu hal yang dia ketahui, perempuan itu suka dipaksa-paksa.


“Al, ada yang mau terbang, nih.” Pria itu memberi tahu apa yang dia rasakan sekarang.


“Mau terbang kek, mau pindah alam kek. Nggak peduli,” Alma menjawab.


Waduh, sadis.


“It's okay, maaf kalau aku terkesan nggak ngehargain perjuangan kamu selama berjam-jam di dapur. Sebenarnya aku cuma nggak mau kamu ngelakuin itu lagi. Apalagi di momen yang nggak pas seperti tadi. Aku baru aja pulang, tubuhku ini masih capek, pikiranku juga masih suntuk. Eh, malah kamu kerjain begitu. Ini nggak lucu. Wajar kalau aku marah,” palar Umar membuat Alma dapat berpikir lebih luas. Intonasinya yang lebih rendah juga membuat penjelasan ini lebih mudah diterima.


Umar mengusap kepala istrinya dan menyentuh dagunya dengan gerakan mere mas. “Sebagai gantinya, aku mau makan semua masakanmu sekarang.”


Alma menghentikan Umar yang tengah beranjak, “Tunggu, Bang! Semua makanan udah dimasukin ke kulkas sama Bi Yati.”


“Ya nggak papa,” Umar tak mau ambil pusing. “Tinggal dipanasin di microwave.”


Biar bagaimana pun Alma adalah seorang istri. Semarah-marahnya wanita itu, dia tak mungkin tega membiarkan Umar bekerja sendiri. Lagipula memangnya pria itu bisa pencet-pencet alat masak perempuan?


Bisa dipastikan, dapur juga pasti akan berantakan akibat ulahnya. Ini sudah pernah terjadi saat dia belajar memasak sendiri. Oh tidak, tidak. Alma tidak ingin dapur bersihnya jadi kapal pecah gara-gara pria ini.


“Biar aku aja yang manasin.” Alma pun menyingkap selimutnya dan beranjak. Dan di saat yang bersamaan, sebuah benda terlibas sehingga jatuh ke permukaan lantai. Benda itu berbentuk persegi panjang, berwarna pink dan dihiasi pita di atasnya.


Umar memungut kado tersebut. “Buat aku?”


Pertanyaan tersebut membuat Alma terdiam selama beberapa saat.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2