
200
Beberapa hari setelah dirawat, Sammy sudah diperbolehkan pulang. Namun kali ini, Sammy tidak pulang ke rumah mertuanya, melainkan pulang ke rumah Bundanya sendiri. Sebab dia sadar diri dan tidak enak kalau harus merepotkan mertuanya lagi. Mengingat, ia sudah sangat banyak merepotkan mereka. Mengganggu jadwal tidur dan istirahat mereka selama beberapa hari ini.
Meskipun mereka begitu terbuka dan menganggap dia seperti anaknya sendiri, tetapi tetap saja, Sammy lebih nyaman sakit di rumah Bunda. Terlebih, perkiraan sembuhnya masih sangat lama. Bahkan kata dokter, bisa sampai enam bulan lamanya. Ah, tidak, itu tidak enak sekali pastinya. Sammy yang sudah terbiasa seperti kadal lepas, kini mendadak jadi kucing rumahan. Sungguh menyiksa! Untung kucing rumahan ini sudah punya pasangan. Si Miauwza. Kalau tidak ....
“Kalau tidak apa?” tanya Mauza saat Sammy mengeluhkan nasibnya yang sekarang.
“Kalau tidak, ya jadi kucing yang kesepian.”
Mauza memutar bola matanya saat tukang gombal-gambel mulai beraksi.
“Udah ah, buka mulutnya. Makan dulu biar bisa minum obat, dongengnya nanti aja. Aku banyak kerjaan. Ini perbannya juga harus di ganti kan?”
“Maaf ya, aku bikin kamu sibuk. Di sini nggak ada ART, nggak kayak di rumah Mama kamu,” kata Sammy lagi-lagi merasa bersalah. “Atau kamu mau pulang ke rumah Mama, Za? Aku sama Bunda aja nggak papa, kok.”
“Kamu itu omong apa sih, Sam?” tanya Mauza tak habis pikir Sammy berkata demikian padanya. “Aku ini istri kamu, wajib merawat kamu. Aku nggak merasa terpaksa apalagi direpotkan.”
Sammy diam saja. Hanya manik matanya yang berbicara menilai-nilai Mauza yang berkata dengan tulus.
“Lagian apa kata orang nanti, misalkan aku pulang dan ngebiarin kamu di sini? Ntar dikira istri yang cuma mau enaknya aja, giliran susah nggak mau nemenin. Dah lah kamu tenang, jangan khawatir, okay?”
Sammy mengangguk kemudian. Dia pun segera menyelesaikan kegiatannya agar setelah itu, Mauza bisa secepatnya melakukan pekerjaan lain. Terlebih lagi, dia sedang menyambil kerja rumahan menjadi content writer sekarang untuk menambah-nambah pendapatan mereka. Ia tak mau menguras beban dan pikirannya lagi.
Setelah selesai, Mauza berlanjut membersihkan tubuh Sammy dan mengganti perban-perbannya yang ada di kepala, bagian siku, dagu dan lainnya yang ikut menjadi korban. Kebetulan, luka-luka goresan aspal itu sudah mulai mengering, meski masih menyisakan rasa yang teramat pegal.
“Nggak perlu jauh-jauh aku cari pahala. Suamiku adalah pahalaku,” gumam Mauza kepada diri sendiri saat dia sedang merasa lelah, agar dia tetap selalu bersemangat dalam menjalani hari-harinya yang cukup berat.
♧♧♧
Tiga bulan berlalu semenjak kejadian kecelakaan itu. Tiga bulan pula, Mauza setia dan sabar menjalani rutinitasnya sebagai istri sekaligus suster bagi suaminya. Mulai dari merawatnya, mengantarkan nya ke dokter untuk kontrol, terapi, menemaninya olahraga dan lain-lain. Dan itu cukup menghabiskan biaya yang tidak sedikit sehingga mereka harus mengalihkan mobil mereka yang masih dicicil.
Beruntung, di dalam sebuah keluarga, selalu ada anggota keluarga mampu yang bisa membantu mereka dalam kesulitan, siapa lagi kalau bukan Rayyan dan Zara. Mereka bahkan memberikan mobil bututnya agar Mauza tak kesulitan jika ia butuh bepergian ke mana pun.
Namun, usaha tak pernah mengkhianati hasil, sebab kini perjuangan Mauza telah berbuah manis. Sammy sudah mulai berjalan pelan-pelan meskipun ia tetap harus menggunakan alat bantu berjalan, dari walker kemudian kruk. Ya, sesuai tahapannya.
Mauza bertepuk tangan dan merasa sangat bahagia pada saat Sammy sudah bisa melangkahkan kakinya cukup jauh, sesuai dengan kesepakatan yang dia tentukan.
“Kamu hebat,” puji Mauza kepada sang suami dan diciumnya segera.
“Iya lah, aku pengen cepat sembuh biar bisa kerja lagi, bosan.”
“Kamu harus lebih banyak berjalan lagi setelah ini.”
__ADS_1
“Okay siapa takut!”
Betapa Sammy sangat bangga mempunyai istri tangguh seperti Mauza. Setelah sekian lama, terjawab sudah rasa penasaran hampir semua orang. Inilah kenapa dia tak dijodohkan dengan Zunaira, sebab Tuhan selalu punya jalan lain yang tidak bisa mereka ketahui. Pasalnya, belum tentu kepribadian Zunaira yang cenderung lebih lemah, akan kuat menghadapi cobaan hidup seberat ini bersamanya. Ya, Mauza adalah orang yang tepat untuk mendampingi Sammy. Sammy janji akan berikan segalanya setelah dia bisa sehat kembali.
“Pengen liburan lagi, Za,” ucap Sammy membelah keheningan diantara mereka.
“Emang kita masih punya duit? Hihihi.” Mauza tertawa geli mengingat betapa kerenya mereka selama beberapa bulan belakangan ini. “Kayaknya kita harus ngerampok dulu, deh.”
“Aku nggak bisa ngerampok. Soalnya kalau ketahuan nggak bisa lari.”
“Pakai jurus ilang, Sam. Pergi ke du Kun dulu kita.”
Mauza dan Sammy saling menertawakan kekonyolan mereka. Dalam keadaan susah, berhalu atau berkhayal adalah sebuah hal yang sering mereka lakukan agar selalu dalam keadaan waras. Demikian dilakukannya untuk melengkapi kehidupan yang tidak bisa mereka dapatkan di dunia mereka yang nyata.
Namun kini kebersamaan mereka harus terganggu pada saat Mama Vita mengabarkan bahwa Zunaira sedang melahirkan di RS terdekat.
“Kita harus ke sana sekarang,” ucap Mauza. Mengambil kunci dan membantu Sammy menuju ke dalam mobil. Pergi ke mana pun mereka, dialah yang selalu menjadi supirnya sekarang. Kondisi terdesak membuat Mauza jadi jago menyetir. Bahkan diklaim bisa menyaingi pembalap asal Spanyol terdahulu.
♧♧♧
Di salah satu rumah sakit, lahir seorang anak perempuan yang cantik dan mungil seperti ibunya, bernama Nasya Talitha Azalia. Yang berarti, gadis ajaib yang selalu di lindungi.
Ya, bagaimana tidak ajaib? Dia sangat mudah dilahirkan. Tubuhnya yang mungil membuat proses persalinan tersebut terjadi sangat singkat. Kontraksi pun hanya sebentar. Bahkan Zunai tidak merasa kepala bayinya sudah keluar pada saat dia sedang dibawa ke rumah sakit.
“Kalau anak kita masih hidup, pasti sekarang udah lima bulanan ya, sekarang?” bisik Mauza mengira-ngira. Mereka sedang melihat baby Nasya sedang tertidur pulas di tempatnya.
“Sudahlah, jangan diingat-ingat,” balas Sammy juga membisik di telinga istrinya. “Jangan pikirkan perkara yang bikin kamu susah. Ikhlaskan semua yang udah terjadi.”
Mauza membenarkan posisi Baby Nasya yang miring, “Nai, ini baby kamu maunya tidur miring terus. Padahal udah diperbaiki, tapi lagi-lagi begini dia.”
“Iya, susah memang. Mungkin dia lebih nyaman tidur dengan posisi begitu,” balas Zunaira yang kelihatan masih lemas pasca persalinannya.
“Bahaya nggak sih? Ntar kepalanya bisa peyang. Baby born kan kepalanya masih lembek.”
“Posisi bayi tidur itu paling bagus telentang, biar pernapasannya juga lebih enak. Jadi kita yang tua yang harus jeli ngawasin dia,” sahut Zara menurut penjelasan dokter spesialis anaknya. Mereka tak membawa anak-anak karena sedang dibawa liburan oleh Nena dan Engkongnya.
“Bayi telen tang bahaya lah!” Umar menyahuti.
“Ya, nggak dong, malah bagus begitu,” Zara mengernyit tak mengerti.
“Bisa mati!” balas Umar sangat serius.
Alma yang mengerti lantas tertawa, “Dah, Kak. Jangan di dengerin dia mah, emang suka ngaco.”
__ADS_1
“Nggak cuma bayi, orang dewasa pun kalau Telen tang juga bahaya,” Rayyan menjelaskannya pada sang istri dan membuatnya seketika tertawa, “udah paham belum?”
“Umar bener-bener kamu, ya!” Zara melemparkan bantalnya mengenai pria itu yang sengaja menjulurkan lidah. “Mirip kayak apa ya, By kalau dia gitu?”
“Yang suka melet-melet itu kuyang sebenernya, tapi dia cocoknya jadi leak.”
Semua orang tertawa. Tidak ada yang tersinggung meskipun begitu karena konsepnya adalah bercandaan. Mereka keluarga yang rukun. Tetap solid meskipun terkadang ada saja yang selalu bikin ulah. Terutama Mar-Kumar.
“Tinggal Alma nih, sekarang. Tiga bulan itu sebentar lho. Kalian udah ada persiapan?” tanya Zara kepada wanita itu yang stay kalem.
“Baru lima puluh persen, Kak. Tinggal setengah lagi nyusul,” jawab Alma. “Katanya sih Ummi Zul yang mau menuhin, jadi ya udah. Santai aja.”
“Masih nyaman di bawa tidur?” Zara bertanya lagi. Sebab perut Alma sudah nampak membuncit dan kelihatan sesak bernapas.
“Susah, Kak. Sekalinya bisa tidur malah udah menjelang subuh. Disitu yang suka bikin sakit kepala. Tapi mau gimana? Aku tetep harus bangun.”
“Makanya kalau siang jangan tidur, nanti nggak kayak kalong,” balas Umar kepada Alma.
“Ngomong doang mah, gampang.” Alma sudah berani membalas sekarang.
“Sudah berkontribusi apa kamu sama istrimu, Mar?” tanya Rayyan.
“Boro-boro, Kak. Ini suami yang durhaka!” Seharusnya Umar yang menjawab, tetapi malah Alma yang menyahutinya segera. Sudah waktunya Alma mengadu kepada saudaranya, betapa dongkolnya dia selama ini kepada sang suami. Ya, yang penting hanya dengan suaudara kandung, bukan yang lain.
“Hei! Kamu bilang boro-boro, aku ini satu-satunya investor kamu loh, kalau enggak kamu nggak bakal bisa besar begini,” balas Umar.
“Kalau cuma investasi, hewan juga bisa,” balas Rayyan. “Jangan begitu Umar, kamu juga harus bertanggungjawab. Pernikahan itu nggak melulu tentang berhubungan suami-istri. Banyak kewajiban yang harus kamu lakukan, terutama kalau istrimu lagi mengandung anak kalian.” Serta-merta Rayyan menjelaskan kepada sang adik, apa saja tugas-tugas suami jika istrinya sedang demikian. Sebab rumah tangga yang bahagia tergantung bagaimana seorang suami memperlakukan istrinya.
Tetapi Alma akui, Umar sudah tidak semenyebalkan dulu. Perlahan-lahan dia sudah mulai berubah walaupun tetap saja, masih ada ulah-ulah Umar yang kadang bikin dirinya kesal. Dan Alma menganggap bahwa demikian adalah ujian untuknya.
Di tengah-tengah keseruan mereka berbincang, Sammy dan Mauza memilih untuk keluar dari ruangan. Entah kenapa, bahasan seperti ini kerap membuat mereka merasa terasing. Mungkin karena dunia mereka yang sangat berbeda. Bagaikan langit dan bumi. Secara fisik Sammy merasa kurang, secara anak, mereka juga belum punya, secara ekonomi juga sangat jauh tertinggal.
Bukannya ia tak suka, bukan begitu. Namun untuk menjaga hatinya sendiri, bukankah lebih baik mereka menghindar saja? Mereka punya hak untuk itu.
Dan kepergian mereka nyatanya kini telah disadari oleh semua orang yang ada di sana. Membuat mereka lantas bertanya-tanya.
“Seharusnya kalian jangan bahas ini dulu di depan mereka.” untuk pertama kalinya Andre berbicara. Sedari tadi ia hanya diam lantaran tak ingin melukai hati seseorang, walaupun, mereka juga tak pernah berniat demikian. Mereka hanya sedang bincang biasa saja.
Kini semua orang terdiam menyadari kesalahan yang tak mereka sengaja.
“Mereka baru saja melalui hari yang sangat berat,” lanjut Andre membuat semuanya berlarian seketika untuk mengejar saudara mereka yang kurang beruntung.
Bersambung.
__ADS_1