Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Apakah Masih Ada Harapan?


__ADS_3

182


Penyesalan memang selalu datang terlambat. Seperti itulah yang dirasakan oleh Sarah sekarang. Niat hati ingin mendekati Damian lagi agar bisa menjadi wanita pilihannya setelah pria itu dikabarkan sendiri, nyatanya malah justru berakhir tragis. Sebab lagi-lagi, ia justru mendapati kenyataan telak yang menyiksakan.


Damian tetaplah seorang pria laknat yang tak pernah bisa berubah. Pria itu memang mengajaknya menikah, tetapi dia menikahi wanita lainnya juga. Bukankah itu gila? Tak puas kah dia dengan hanya memiliki satu wanita saja?


Padahal, Sarah sudah merendahkan diri dan menyingkirkan rasa malunya dengan mendatangi keluarga Damian lagi, setelah sebelumnya, dia dicap sebagai perempuan yang mata duitan. Tetapi Sarah tak pernah kapok. Dia bodoh karena cinta butanya.


Bahkan, Sarah telah menyia-nyiakan Umar, seorang pria yang sangat tulus mencintainya. Semua demi Damian, pria yang sangat tak pantas dia cintai sebesar itu. Sarah benar-benar menyesal telah berbuat demikian.


Usut punya usut, ternyata Damian memperistrinya hanyalah demi Axel, anak mereka. Sebab Axel tak bisa hidup tanpanya. Sarah percaya, darah lebih kental daripada air. Sebaik apapun ibu tiri, ibu kandung tetaplah yang utama di hati sang anak. Seorang ibu kandung tidak akan pernah tergantikan, sejauh apapun jarak memisahkan.


Ternyata serendah itu Sarah di mata Damian. Dia sama sekali tak berarti apa-apa bagi pria itu, selain hanya seorang perempuan yang dibayar untuk berlapang dada menerima setiap perlakuannya.


Kini Sarah sedang berada di sebuah Cafe milik Umar. Mantan kekasih yang dia sia-siakan. Dia ingin bertemu dengannya satu kali ini saja. Sarah hanya ingin tahu, apakah dirinya masih diharapkan?


Mengetahui betapa Umar mencintainya dan rela melakukan apapun untuknya. Bahkan pernah menentang orangtuanya sendiri demi dirinya.


Batinnya mengatakan, andai waktu bisa kembali di ulang. Dia akan lebih memilih Umar daripada Damian. Setelah dia kaji-kaji berulang kali, ternyata lebih baik dicintai daripada mencintai. Karena demikian lebih menyakitkan. Lebih beruntung lagi jika ternyata keduanya saling mencintai.


Sarah telah melupakan suatu hal, bahwa cinta pasti lama-lama akan tumbuh jika mereka terbiasa. Mungkin sekarang dia belum memiliki cinta untuk Umar, tetapi suatu saat, dia akan selalu merindukannya.


Sarah tahu, ini adalah perbuatan yang rendah. Buruk. Ya, Selalu saja dia seperti ini. Dengan tidak tahu diri, dia datang lagi untuk memohon kepada laki-laki saat semuanya telah usai.


Mengenyahkan rasa tidak tahu dirinya setelah meninggalkan Umar dengan sejumlah luka yang pernah dia torehkan. Namun, Sarah tak punya pilihan selain berharap pada pria itu.


Dan kini lelaki itu benar-benar datang seperti dugaannya. Membuat Sarah jadi sedikit salah tingkah. Jantungnya berdebar lebih cepat, terlebih saat Umar berjalan mendekat ke arahnya.


Sarah tersenyum, “Aku tahu kamu pasti datang untuk menemui ku, Mar.”


Umar diam saja.


“Mar?” Sarah beranjak dan buru-buru menghamburkan dirinya, berniat untuk memeluk Umar. Namun sebelum itu terjadi, pria itu segera menghindarinya.

__ADS_1


“Aku sudah menikah dan aku menghargai istriku,” ujar Umar tegas memberi jarak. “Aku harap kamu mengerti.”


“Maaf ....” Sarah sontak menunduk lesu. Umar menolaknya. Memalukan sekali memang. Akan tetapi Sarah tak mau menyerah sebelum dia menyatakan apa tujuannya kemari.


“Ada apa?” tanya Umar kemudian.


“Aku menyesal sudah menyuruhmu pergi,” katanya dengan lesu.


“Sudah aku prediksi dari jauh hari. Suatu saat, kamu pasti akan mengatakan hal ini.” balasan Umar bak anak panah yang tepat melesat di titik jantung wanita di depannya.


Sarah mengatakan sebuah alasan, kenapa dia datang kembali, “Kamu benar, Mar. Damian ... Damian telah melukaiku lagi. Dia memang pria yang jahat.”


“Bukankah sama seperti yang kamu lakukan? Tidak perlu dijelaskan juga pasti kamu paham. Kamu sudah berulang kali mendengarnya.”


Deg. Lagi-lagi perkataan Umar terasa menusuk. Benar apa katanya. Ke mana saja dia selama ini sampai ia tak pernah sadar akan banyak hal? Padahal Umar sudah sangat sering menceramahinya. Bahkan mungkin sampai mulutnya berbuih.


Semua baru terasa di saat semua telah tiada.


“Hah? Apa? Coba ulangi lagi?” Umar lantas tertawa. “Apa aku nggak salah dengar?”


“Aku hanya bertanya, Umar. Tidak akan memaksamu.”


Umar menunjuk letak pikirannya, “Di mana otakmu? Gunakan otakmu itu, Sarah! Sampai kapan kamu terus jadi wanita yang bodoh? Aku ini sudah punya istri!”


Umar menekankan intonasinya di akhir kalimat.


“Aku yakin kamu nggak mencintainya,” balas Sarah segera.


“Cinta atau nggak cinta itu bukan urusanmu!”


“Kamu hanya mencintaiku, Umar!” Sarah masih percaya diri.


“Nggak, kamu salah besar. Andai misal pun cinta ini masih ada, aku tetap nggak akan meninggalkan Alma demi wanita sepertimu. Alma seribu persen lebih baik dan lebih cantik darimu.”

__ADS_1


Sarah terisak.


Ketegangan terjadi di antara keduanya. Beruntung, tempat duduk mereka cukup jauh dari yang lainnya.


Beri apresiasi kepada Aris yang telah memberikan papan reservasi setiap kursi yang ada di dekat Umar dan Sarah.


“Cukup aku yang pernah menghiba padamu, Sarah. Jangan kamu ulangi lagi pada laki-laki lainnya yang kelak menyukaimu. Lupakan semua masa lalumu itu. Kamu nggak akan pernah bahagia kalau kamu terus terjebak di sana.”


Umar tersenyum puas sebelum dia pergi dan berpesan, “Move on!”


Umar mengendarai mobilnya pulang. Dia tidak peduli lagi dengan wanita itu. Mau nangis kek, mau jungkir balik, salto, ngesot, atau mau menginap di sana sekalipun. Terserah dia saja mau berbuat apa. Sudah cukup dulu dia dipermainkan begitu rupa.


Masih ingat jelas betapa dia menderita gara-gara wanita itu. Dan yang paling parah adalah saat ia tidak bisa berdiri tegak selama sebulan lamanya. Tak bisa makan, tak bisa tidur karena galau dan terus menanti kabar, kapan Sarah kembali.


Satu hal yang pasti, Umar sudah memberinya kesempatan. Dan kesempatan itu hanya datang satu kali. Dia sudah punya masa depan sekarang. Jadi tidak perlu melihat masa lalu lagi. Salahnya sendiri, di seriusin malah nggak mau.


Ah, sudahlah. Bodoh amat. Umar tidak mau mengungkit-ungkit kenangan itu lagi dalam pikirannya. Tidak ada gunanya memikirkan wanita yang tidak tahu di untung itu. Selain hanya buang-buang energi dan waktu saja!


Yang jelas, dia harus cepat-cepat sampai di rumah sekarang karena Alma sudah sangat menunggunya.


Umar sampai di rumah pukul setengah sembilan malam. Namun tepat di garasi, dia mendapati rumah yang begitu gelap.


Loh, ada apa ini? Mati listrik kah?


Mata Umar mengedar. Kalau mati listrik, kenapa lampu tetangga sebelah masih menyala terang?


Lantas kenapa dengan rumahnya? Apakah korslet?


“Alma! Alma!”


Umar menyalakan ponselnya untuk ia jadikan senter. Kemudian masuk ke dalam menggunakan kunci cadangan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2