
93
Hari pertama Mauza training kerja di perusahaan kakak iparnya, rupanya lumayan menyenangkan. Semua pegawai di sini ramah-ramah menurutnya, bahkan sangat baik memperlakukannya.
Mauza tidak tahu, apakah dia di perlakukan sedemikian baik begini karena mereka sudah tahu siapa dia dan apa hubungannya dengan kakak ipar? Atau pada dasarnya memang seperti itu? Dia hampir tak bisa membedakannya.
Menurut pengalaman sebelumnya di perusahaan lama, sebagai pegawai baru, Mauza kerap disiksa. Ya, seperti itulah istilah kasarnya.
Dia berangkat paling pagi dan pulang paling malam. Sering diberi tugas menggunung dengan dalil supaya lebih cepat menghafal pekerjaan. Setelah sekian lama, ia baru mengetahui bahwa kenyataan ini tidaklah sepenuhnya benar. Karena sebenarnya Mauza hanya dikerjai supaya pekerjaan mereka lebih ringan.
Apa yang seperti itu?
Ada, sering, banyak!
Terkadang di suatu lingkup pekerjaan, memang ada jenis orang-orang yang seperti itu bentuknya. Memanfaatkan kepolosan anak baru demi keuntungan mereka sendiri.
“Nah, ini semua data yang harus kamu pelajari,” ujar manajer keuangan lama memberikan setumpuk dokumen kepada Mauza setelah beberapa menit ia tiba di sana.
Kemudian, dia menunjuk ketiga orang yang berada di kubikelnya masing-masing, “Mulai sekarang mereka adalah tim kamu. Ini akuntan keuangan, biaya, dan ini pajak.”
Mereka tersenyum dan mengangguk menyapanya. Di antaranya dua perempuan dan satu laki-laki.
“Selamat bergabung, Bu. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik,” ujar salah seorang perempuan yang usianya diperkirakan sama dengannya. Hanya saja, dia lebih langsing daripadanya. Eh, Mauza kok jadi minder?
“Sama-sama, terima kasih juga. Tolong dimaklumi kalau saya sebagai personil baru, nanti banyak salah dan banyak tanya, ya!” balas Mauza juga kemudian berkenalan dengan mereka.
Setelah itu, dia juga di antar ke ruangan manajer lain agar Mauza segera dapat mengenali ke mana saja dia harus bekerjasama.
Di antaranya yang paling menonjol adalah Andrea, si es beku yang ada di bagian pergudangan, Belle Zahir si cantik yang biasa tampil di permukaan bersama Zara untuk bagian marketing dan ... tentu saja termasuk si manusia tampan titisan opa-opa Korea, Sammy dan juga teman-temannya yang lain.
“Oh, ternyata dia nggak dipisah. Ada di sekitar sini juga?” batin Mauza bertanya-tanya, “baru tahu gue. Berarti kita akan sering ketemu, dong?”
__ADS_1
Sammy ada di lantai empat. Dia ada di satu ruangan bersama dua editor yang biasa memproduksi iklan-iklan di akun perusahaan ini.
“Mereka di sini, tapi sewaktu-waktu juga bisa pergi kalau dibutuhkan oleh Bu Zara di tempat lain. Tergantung di lokasinya,” jelas perempuan itu menjawab isi hatinya.
Tak ada yang terlewat, Mauza juga di ajak berkeliling ke warehouse di belakang gedung yang besar ini. Wuih, Mauza menahan diri untuk tidak bertingkah memalukan seperti yang biasa dia lakukan di rumah saat menemukan sesuatu yang baru yang menurutnya amazing. Baru kali pertama ia melihat gudang sebesar ini secara langsung. Lebih betahnya lagi, banyak cowok-cowok ganteng pula! Halah, mata ini bakalan seger kalau lihat yang gitu-gitu.
Saat hari sudah mulai sore, hampir semua orang termasuk Mauza mulai meninggalkan kantor ini terkecuali di store/outlet yang ada di lantai satu. Sebab store memang tutup lebih malam. Pukul sepuluh paling lambat.
Selain di sini, kabarnya kakak ipar akan membuka beberapa cabang lagi di tempat lain. Salah satunya di Mall tempat dia melakukan grand opening minggu depan.
“Boleh nggak kalau aku nyesel karena udah terlalu banyak main-main selama ini,” gumam Mauza saat sudah berada di perjalanan pulang. Memakai taksi karena belum bisa nyetir mobil sendiri.
“Eh, tapi semua orang punya jalan takdir sendiri-sendiri, sih. Masa semua manusia jadi pengusaha sukses? Entar yang jadi kaki siapa, dong?”
Mauza segera mengucap istighfar karena tanpa sadar ia telah mengkufuri nikmat yang banyak Tuhan berikan padanya.
Padahal kalau dipikir-pikir, hidupnya tak pernah kekurangan walaupun terkadang, dia harus mengerti keadaan, bahwa sudah banyak yang berubah daripadanya.
Sesampainya di rumah, Mauza langsung di sambut mamanya dengan rasa bangga. Perempuan itu langsung bertanya banyak hal tentang bagaimana hari pertamanya bekerja di sana.
“Alhamdulillah semua temen Mauza baik-baik banget, Ma. Mereka nggak bosan ngasih tahu aku yang cerewet and masih banyak tanya ini,” jawab Mauza antusias, “mungkin inilah yang dinamakan the power off pakaian dalam, eh orang dalam hehehe.”
Vita terkekeh, “Kakak ipar ada di sana?”
Mauza kembali menjawab, “Katanya sih, nggak berangkat. Nggak tahu kenapa.” Namun kemudian dia teringat sesuatu tentang desas-desus yang dia dengar di kantor tadi siang, “Eh?”
“Kenapa, Nak?” Vita segera bertanya begitu melihat ekspresi sang anak.
“Denger-denger kemarin Kak Zara habis mukul orang di minimarket, Ma.”
“Yang benar kamu, Nak?” Vita tak percaya mendengar hal ini. Hah? Menantunya memukul orang? Ada-ada saja.
__ADS_1
“Iya bener, coba nanti Mama telepon Kakak ipar supaya tahu gimana kronologinya. Lagian udah ada, kok beritanya di internet.” Mauza yakin media tidak kekurangan konten karena hal sekecil itu pun bisa jadi berita.
Mauza duduk bergabung dengan Zunaira yang sedari tadi hanya fokus untuk menyimak. Kemudian meneguk minum dan menyiduk nasi ke piringnya. Terus terang Mauza sangat kelaparan karena seharian ini belum ketemu makanan yang cocok.
“Ma, mulai besok bawain Mauza bekel aja, ya.”
“Kenapa? Lebih enak bawa dari rumah?” tanya Vita ikut duduk di seberangnya.
“Makanan di sana selain mahal, mon maap bukannya nggak enak, tapi kurang cocok di lidahku,” jawab Mauza, “mungkin karena udah biasa makan masakan rumah kali, ya?”
“Nggak papa, selera orang kan beda-beda,” Vita menanggapi, “ya sudah, besok Mama bawakan dari rumah ....”
Keduanya berbincang banyak hal, sesekali menoleh atau bertanya kepada Zunaira meski soal yang ditanyakan mungkin cukup sepele.
Demikian yang mereka lakukan supaya Zunaira terlibat dan tak terkesan di abaikan. Karena dengan seperti inilah cara mereka menghargai. Namun tetap saja ... Zunaira seperti merasa sendiri. Dia sibuk dengan lamunannya hingga makanan yang ada di piringnya, masih saja utuh semenjak tadi.
“Zunaira kenapa, Nak?” tanya Vita mengkhawatirkan anak bungsunya, “apa masakan Mama kurang enak?”
Mauza justru berpikir lain, apa mungkin Zunaira masih sakit?
“Nggak papa ...” jawabnya seperti takut untuk mengungkapkan.
“Kenapa, Sayang?” Vita bertanya sekali lagi karena seorang ibu selalu tahu bahwa anaknya sedang menyembunyikan sesuatu. Wanita itu mendekat, lalu menggeser kursi di sebelahnya, “sini, lihat Mama....”
Zunaira menuruti perintahnya.
“Mama kan sudah berkali-kali bilang sama Zunaira, sama Mauza, sama anak-anak Mama yang lain. Kalau ada apa-apa atau ganjalan di hati kalian, diungkapkan saja. Jangan seperti ini. Kalau Zunai hanya diam, kita nggak akan pernah tahu apa yang sedang Zunai mau, Sayang ....”
Zunaira menunduk dan matanya mengembun. Lantas beberapa saat kemudian, dia mendongakkan kepalanya lagi, “Nai juga ingin kerja kayak Kak Za ...” ucapnya lirih, “apa nggak boleh juga?”
Bersambung.
__ADS_1