
149
Pagi harinya, semua orang berhamburan ke masjid yang digunakan untuk akad.
Semua keluarga, tak terkecuali, memilih untuk berjalan kaki supaya mobil-mobil mereka tak terlalu memenuhi area parkir masjid karena saking banyaknya. Lagipula, lokasinya juga cukup dekat. Jadi, mereka membiarkan mobil-mobilnya aman di dalam kompleks perumahan tersebut.
“Sekalian olahraga Pak Yudha. Biar sehat,” ujar Pak Ruben kepada besannya.
“Saya juga tiap ke masjid itu pasti jalan kaki, Pak,” balasnya, “malah kalau pagi sekalian beli sarapan.”
Para bapak-bapak itu memisahkan diri dari anggota perempuan. Tak hanya ada Yudha dan Ruben, ada juga Alif, Rio dan beberapa orang lainnya. Sementara mempelai laki-laki beserta keluarganya sudah menunggu di sana.
“Nasi uduk?” Ruben menebak.
“Ya, Indonesian food. Nasi uduk, nasi kuning, lontong sayur, bakwan, tempe goreng, tahu isi, pastel, risoles,” jawab Yudha membuat semua rombongan bapak-bapak tergelak tawa.
“Yang tertawanya paling keras, itu yang paling banyak makan sepertinya,” celetuk Rio yang seketika ditanggapi oleh beberapa orang, “pastinya!”
“Nggak pada takut kolesterol apa? Sudah tua tapi masih pada berani makan gorengan,” Ruben berkata lagi. “Nanti bisa struk, kena serangan jantung.”
“Bisa diserang balik,” sahut Yudha terkekeh.
“Kolestrol juga gampang nurunin nya,” Alif menyahuti.
“Gimana caranya?” sahut yang lain terdengar sangat antusias.
“Sebenernya, kita yang punya kolesterol pun masih tetep bisa beli gorengan atau makanan apapun yang kita mau, kok. Tapi sebaiknya kalau mau beli, jangan naik motor apalagi nyuruh orang,” papar Alif serius.
“Kenapa memangnya, Pak Alif?” tanya Rio sungguh-sungguh.
“Karena lebih sehat kalau kita jalan kaki. Semakin jauh kita jalan kaki, maka akan semakin baik,” jawab Alif lagi sangat meyakinkan.
“Kok perasaanku nggak enak, Lif?” Yudha berpikir keras.
“Oh, berarti nunggu kalorinya kebakar dulu, ya? Baru setelah itu, boleh makan sesukanya. Begitu kan, maksud Pak Alif?” Rio kembali bertanya.
“Nggaaak,” sanggah Alif. “Kalau udah pulang, kasih gorengannya ke tetangga sebelah. Katanya takut kolesterol,” katanya tanpa merasa berdosa.
“Lha, terus tujuan kita beli buat apa?”
“Buat amal!”
“Sialan! Nggak ada yang bisa diambil dari cerita ini, Saudara! bahkan hikmahnya sekalipun. Stop ngayal, tugas kita adalah solat! Solat! Solat!” ujar Yudha menggebu-gebu.
“Yang katanya mau ngawinin anak malah ngamuk di jalanan.” Alif merasa puas setelah membuayai semua orang.
“Baik, akan saya umumkan berita sangat penting ini ke semua warga melalui speaker masjid,” kata Rio dengan wajah serius dan bahasa formalnya.
__ADS_1
♧♧♧
“Gimana saksi? Sah?” tanya Penghulu ketika Andrea selesai menjawab kalimat akadnya.
“Saaah!?” jawab semuanya serentak.
Andrea menoleh. Tatapannya begitu takjub kepada perempuan yang cantik yang kini sudah sah menjadi istrinya.
Sesuai arahan dari pembawa acara, Andrea meletakkan satu tangannya ke atas ubun ubun Zunaira untuk dia bacakan doa.
Nai menyambut uluran tangannya, kemudian dibalas Andrea dengan kecupan di kening untuk yang pertama kali.
Nai tertegun. Dia tak dapat mendeskripsikan perasaannya saat ini, yang jelas dia sangat bahagia. Jantungnya berdebar saat benda kenyal itu menyentuh kulitnya. Darinya, dia merasakan kenyamanan yang tiada tara.
Keduanya di arahkan untuk menandatangani berkas-berkas pernikahan dan berfoto bersama keluarga.
Acara akad nikah terasa sangat singkat karena semua datang tepat waktu. Dan atas izin Tuhan, acara ini berjalan lancar sesuai doa mereka agar dipermudah kan segalanya.
Berlanjut ke acara resepsi, semua bertolak dari Masjid itu menuju ke TMI. Mereka menyewa salah satu gedung di sana.
Zunaira sendiri kembali di rias setelah ijab kabul selesai dilakukan. Tidak menggantinya, hanya menimpanya lagi sedikit dengan polesan agar lebih bold, sesuai dengan tema resepsi yang akan gunakan.
Semua anggota keluarga pun demikian, mereka mengganti kostumnya dengan seragam yang disediakan oleh pihak wedding organizer.
“Pakai lipstik dulu ya, Mas,” ucap salah satu perias bences yang sedang mengurus Andrea. Dan masing-masing, mereka memiliki periasnya sendiri.
“Jangan terlalu banyak!” tegas Andrea tak suka. Meski pada akhirnya pria itu berpasrah diri, membiarkan Si Bences berbuat semaunya pada wajahnya.
“Sabar ya, Mbak,” ucap Nai tak paham harus memanggilnya siapa.
“Siapa yang kamu panggil?” tanya Andrea sebelum bences tadi menjawabnya. “Ini laki-laki,” tunjuk nya pada jenis manusia langka tersebut dan langsung direspon dengan ucapan protes.
“Enak saja, nggak lihat apa dadaku besar?” sambil menunjuk dadanya sendiri yang sebenarnya disumpal gulungan kain.
“Apa isinya?” sela Andre segera.
“Harapan.” Pria setengah matang tersebut terkekeh.
Mungkin karena make up yang dia pakai lumayan tebal dan pangling, Zunaira sampai tak menyadari bahwa orang ini adalah seseorang yang sesungguhnya sangat mereka kenal. Dia terpaksa mengambil pekerjaan seperti ini lagi mengingat betapa susahnya mencari uang halal di jalan yang lurus.
Beberapa puluh menit berlalu.
Zunaira dan Andrea sudah tampil serasi memakai pakaian berwarna senada. Di depan orang yang sangat banyak, keduanya berdiri saling berhadapan.
Zunaira tersenyum, membiarkan Andrea melempari dadanya dengan gulungan daun sirih, sesuai arahan pembawa acara.
Momen ini membuat Andrea mengenang pertemuan mereka pertama kali, tepatnya saat melihat sosok gadis ini diperkenalkan oleh manajer keuangan lama.
__ADS_1
Tak ada yang spesial di mata Andrea pada sosok karyawan baru itu, sehingga ia melewatkan saja perkenalan tersebut. Sangat kentara bahwa Nai kecewa pada saat dia adalah orang paling mengabaikannya di antara yang lain, tetapi manajer keuangan lama menjelaskan bahwa memang demikian karakternya sehingga Nai dapat segera memaklumi.
Sesungguhnya Andrea tak menyukai Nai, karena selain gadis itu masuk ke Zara.co melalui orang dalam, pihak HRD juga terlihat memaksakan sekali karena pekerjaan yang Zunaira ambil, sangat bertolak belakang dengan jurusannya. Usut punya usut, ternyata ada seorang lelaki yang ingin di incar. Mengetahui hal tersebut membuat Andrea semakin ilfeel padanya.
Apalagi berita yang beredar, ternyata Nai gagal mendapatkannya karena pria yang dikejarnya malah mencintai kakaknya. Ck. Kasihan sekali.
Keadaan tersebut membuat kedirian gadis itu berubah. Jadi semakin sering bengong di kantor, kurang fokus, dan hampir tak pernah mengobrol dengan rekan sesama pekerjaannya. Tanpa sadar, Andre memperhatikannya.
Namun seiring berjalannya waktu, entah sejak kapan rasa suka mulai bersemi, tepatnya pada saat gadis ini dengan berani menginjak kakinya. Padahal semua orang takut padanya, tetapi anehnya gadis ini malah menentang. Tak sesuai dengan wajahnya yang terlihat lemah dan penakut.
Ternyata, Nai tak seburuk yang diterka oleh orang-orang. Dia sesungguhnya gadis yang baik meski kelihatan manja. Wajar, karena notabenenya dia adalah anak yang paling terakhir.
Andre pernah mengira bahwa dia sudah tak bisa jatuh cinta lagi setelah kepergian istrinya. Namun ternyata anggapannya salah besar, sebab Zunaira adalah satu-satunya wanita yang bisa mematahkan niatnya untuk menduda selamanya.
Daun sirih telah habis Andrea lemparkan, lalu dilanjutkan dengan prosesi menginjak telur. Bermakna sebagai harapan agar pengantin memiliki keturunan yang merupakan tanda cinta kasih berdua.
Kemudian Nai lah yang membersihkan kaki Andrea, yang merupakan lambang kesetiaan seorang istri pada suaminya.
Setelah selesai, keduanya di bentangkan kain dari belakang tubuh mereka dan berjalan menuju ke pelaminan.
Masih ada beberapa prosesi lagi termasuk saling tarik ayam, di mana yang paling banyak di dapatkan oleh Andrea karena Nai hanya mendapatkan sebelah kakinya saja. Dan hal tersebut membuat dia di tertawa kan oleh semua orang.
Di bawah pelaminan, semua orang sudah mulai mengantre naik ke atas sana untuk menemui pengantin, sekadar mengucapkan sepatah dua kata kalimat selamat atas hari bahagianya.
Berbeda dengan Umar yang justru menggunakan waktunya untuk bertemu perempuan yang papanya maksud. Di temani oleh Rayyan dan Zara--karena Mama dan Papanya sedang sibuk menyambut tamu, keduanya diberi kesempatan untuk saling bicara.
Alma sempat sedikit kecewa karena kesempatan ini tak digunakan Umar dengan baik. Dia berpikir positif, mungkin Umar memang seorang pria yang pemalu. Memaklumi sikap tersebut karena dari penuturan abinya, konon anak-anak Pak Yudha tak pernah diperbolehkan untuk pacaran.
“Umar, sebelum hubungan kalian berlanjut ke jenjang yang lebih serius lagi, Kakak sarankan kamu untuk nadzor terlebih dahulu. Kamu boleh melihat wajahnya,” ujar Rayyan kepada sang adik sambil menunjuk Alma yang duduk dengan anggun.
Namun dengan tegas, pria itu justru menolak. “Nggak perlu, Kak.”
“Apa mau aku wakilkan Umar?” tanya Zara menawarkan diri.
“Nggak perlu juga, Kak. Begini saja sudah cukup,” jawab Umar lebih halus daripada sebelumnya meskipun kesan acuh masih terlihat kentara. Bahkan melihat Alma pun enggan.
Oke, lagi-lagi Alma memaklumi. Mungkin Umar demikian karena memang sedang menjaga pandangannya dari perkara yang diharamkan.
“Mungkin Umar sudah sangat yakin sama pilihan orang tuanya, Um,” kata Zara kepada kedua orang tua Alma dengan sangat tidak enak.
“Baiklah kalau begitu, kami tunggu kedatangan kalian ke rumah,” lelaki yang dipanggil Abi oleh Alma itu tersenyum ramah.
“Insyaallah, secepatnya akan kami kabari,” jawab Rayyan. Pria itu pun memberikan banyak pesan-pesan kepada Umar setelah keluarga Alma pergi. Namun sepertinya sia-sia saja karena tanpa Ray ketahui, setiap perkataannya hanya dianggap angin lalu oleh Umar.
Masuk ke telinga kiri, lewat telinga kanan. Tak ada yang tersangkut satu pun gara-gara terus memikirkan janda itu. Umar sedang sangat merindukan Sarah.
♧♧♧
__ADS_1
Bersambung.