Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Pembohong!


__ADS_3

136


Tak dapat di ukur seberapa kekecewaan yang Zunaira rasakan. Dua kali merasakan cinta, dua kali juga dia merasakan luka.


Ada luka perih di dalam dada tepat sebelah kiri yang beberapa saat lalu sudah mulai mengering, kini harus tergores lagi.


Apa maksudmu membohongiku seperti ini? Kenapa harus berbohong? Kamu pikir perbuatan ini keren? Kamu bukan hanya membohongi satu orang, tetapi juga semua anggota keluargaku. Kamu telah membuat mereka kecewa.


Beberapa pertanyaan tersebut, terus bercokol di hatinya. Gadis itu masih belum menemukan cara, bagaimana menyampaikan berita buruk ini kepada orangtuanya agar mereka tidak terlalu marah dengan keadaan yang sebenarnya. Sebab Zunaira pikir, ini bukan masalah kecil.


Zunaira pergi setelah dia bisa menguasai dirinya lagi. Seperti biasa, dia memesan taksi online karena sedang tidak ada yang bisa menjemputnya. Bahkan Umar pun masih belum bisa ke mana-mana. Dia sampai jatuh sakit karena gagal menikah.


Bicara tentang Umar, Zunaira masih ingat benar apa kata-katanya beberapa waktu lalu. Yang mengatakan agar dia tak mengambil keputusan terlalu cepat.


“Kamu yakin? Perasaan kamu belum lama kenal sama dia. Kamu hanya kenal dia di tempat kerja, kan?


“Aku yakin otakmu ini nggak pintar-pintar amat.


“Aku nggak mau kamu salah pilih akibat kamu terlalu cepat ngambil keputusan.


“Semoga kamu juga nggak cuma mau jadikan dia sebuah pelarian karena patah hati kemarin.


“Wajar kalau aku kaget, secepat itu kamu bisa move on dari Si Semut.”


“Kalau dipikir-pikir, semua katamu itu ada benarnya, Kak.”


Tetapi anehnya, Umar sendiri pun belum bisa mempraktekkannya. Buktinya, dia masih belum bisa mengenali calon istrinya sendiri setelah lama berpacaran. Tidak ada wanita baik-baik yang kabur pada saat di ajak menikah.


Mungkin inilah yang dinamakan teori memang lebih mudah daripada praktek.


Zunaira dilema. Apakah orang tuanya harus tahu sekarang juga mengenai apa status Andrea yang sebenarnya?


Namun di sisi lain, Zunaira juga sedang tak ingin menambah bebannya lagi. Belakangan ini, mereka sudah terlalu banyak mengenyam masalah karena ulah semua anak-anaknya. Hingga keduanya tak mempunyai sedikit pun jeda waktu untuk bernapas.

__ADS_1


Akan tetapi, melanjutkan hubungan yang penuh dengan kebohongan ini juga tidak mungkin. Tidak baik untuknya sendiri di kemudian hari.


Pusing membuat Zunaira enggan membahas masalah tersebut. Dia pulang seperti biasa, mandi, makan malam, beribadah dan langsung tidur setelahnya. Kemudian paginya, dia juga masih berangkat bekerja. Entah bagaimana acara besok, Nai tidak terlalu peduli. Pun tidak ada yang menanyakannya juga.


Ya, memang tidak ada yang menanyakan. Bahkan secara kebetulan, kedua orang tuanya pun tidak ada yang terlihat. Padahal biasanya, setiap pagi Mama Vita selalu mondar-mandir membantu menyiapkan sarapan untuk semua anggota keluarga. Terutama untuk kedua mertuanya yang sudah tidak sesehat dulu.


“Loh, Mama sama Papa pada ke mana, Kak?” tanyanya kepada Mauza. Perempuan itu sedang melayani Sammy di meja makan.


“Nggak tahu, mereka baru aja pergi. Nggak bilang ke kami mau ke mana,” jawab Mauza menghentikan aktivitasnya sejenak. “Kamu mau sarapan nggak? Aku siapin?”


“Nggak usah, Kak. Aku sarapan di kantor aja. Aku takut telat, udah jam tujuh lebih.”


“Kalaungitu aku bawain kamu bekel aja, ya?”


Tanpa menunggu persetujuan Zunaira, Mauza bergerak cepat untuk mengambil sandwich buatannya yang tadinya disiapkan untuk dirinya sendiri. “Gampang aku, mah. Toh, aku nggak ke mana-mana, bisa bikin lagi. Sedangkan Nai mau berangkat.”


Wanita itu mencari box untuk kemudian dia masukkan ke dalam sana.


Sedangkan di meja makan, tersisa dua orang yang sebelumnya pernah dekat dan kini menjadi saudara ipar. Keduanya sempat melihat sekilas sebelum kemudian mereka membuang pandangannya lagi ke arah lain.


“Ini, Nai. Kamu bisa sambil makan di jalan nanti. Box nya buang aja kalau kamu lagi malas bawa. Itu cuma sekali pakai, kok.” Mauza menyodorkan benda itu yang diletakkan dalam paper bag kecil.


Zunaira menerimanya, “Thanks, Kak. Aku berangkat ya.”


Namun sesampainya di kantor, lagi-lagi Zunaira mendapat kabar dari warehouse langsung bahwa Andrea tidak masuk lagi hari ini. Padahal, ada banyak hal yang sedang ingin Nai bicarakan. Utamanya tentang 'anak sakit' yang dia dengar kemarin dari rumah sebelah.


Gemas dan tak fokus kerja membuat Nai kembali menghubungi Andrea. Secara kebetulan, nomor pria itu sedang aktif dan nyambung saat dihubungi.


“Kamu itu ada di mana? Kenapa nomornya baru aktif? Aku sampai cari ke rumahmu kemarin. Sebegitu antinya kah kamu kuhubungi Ndre? Ada apa sebenarnya?” cecar Nai berusaha menahan emosinya yang memuncak.


“Aku di rumah sakit,” jawab Andrea dengan suara tertahan. Zunaira seperti menangkap nada kesedihan di dalamnya.


“Siapa yang sakit?” pancing Zunaira ingin mengetahui sejauh mana Andrea akan terus berbohong.

__ADS_1


“Fero. Anakku.”


Namun apa yang diucapkan Andrea barusan adalah kejujuran. Dan itu membuatnya semakin kesal dan kecewa.


“Pembohong kamu, Ndre. Pembohong!?” serunya dengan napas yang memburu disertai air mata yang berjatuhan.


“Bukan saatnya kita bahas soal itu. Nanti aku ceritakan semuanya. Kemarilah kalau kamu ingin menyusul ku.” Andrea menyebut nama rumah sakit yang dia singgahi.


“Jangan sembunyi dibalik kemalangan mu, Ndre. Kamu hanya berlindung dari kemarahan ku, iya kan?”


“Kemarilah. Akan aku jelaskan semuanya.”


“Aku membencimu, Ndre!” semburnya.


“Tapi aku mencintaimu,” ucap Andrea sebelum mematikan panggilan.


“Kamu pembohong besar. Kamu pembohong Ndre. Aku nggak mau percaya sama kamu lagi ....”


Zunaira mempercepat pekerjaannya hari ini agar cepat selesai lantaran ada tempat yang ingin dia tuju. Dan tepat pukul jam tiga sore, dia pun segera meninggalkan kantor setelah izin kepada semua teman-teman yang ada di manajemennya.


♧♧♧


Langkah Nai tergesa-gesa menuju ke kamar yang dituju. Pikirannya kalap. Apakah Andrea bersama dengan wanitanya? Wanita yang pernah melahirkan anaknya?


Dan dia ingin pertanyaan ini segera terjawab. Lalu melakukan sesuatu yang bisa mempermalukannya karena sudah berani berbuat macam-macam pada wanita lain di saat statusnya masih berdua.


Tap.


Kini langkahnya terhenti di kamar tersebut. Pelan, dia pun membuka pintu. Dan yang membuatnya semakin tak mengerti adalah, kenapa selain ada Pak Ibra dan istrinya, ada Papa dan Mamanya juga di sana?


Zunaira masuk. Air matanya menggenang. Dia melihat pria bertubuh atletis itu menciumi seorang anak lelaki yang hanya diam saja. Wajahnya pucat. Sedangkan Pak Ibra dan istrinya menangis. Begitu juga dengan Mama dan Papanya yang ikut terbawa suasana.


“Saya turut berbela sungkawa atas meninggalnya cucu Bapak,” ucap dokter lelaki itu memberi usapan di pundaknya.

__ADS_1


“Selamat jalan jagoan Papa. We love you,” ucap Andrea. Dia melihat setetes air matanya menjatuhi wajah sang anak. Wajah yang pernah di lihat di dalam dompet Andrea pada saat itu. Anak laki-laki tampan yang rambutnya berdiri seperti habis kesetrum listrik.


Bersambung.


__ADS_2