
170
“Alma!” Umar mengejar Alma yang terus berjalan ngodor tanpa memedulikan dirinya. Bahkan, dia hampir saja terkunci di luar kamar jika saja Umar tak kuat menahan dorongan dari dalam sana. “Jangan gitu sama suamimu, Alma sayang. Kamu bisa kena azab.”
“Bukan cuma istri yang kena azab. Suami juga bisa kena azab kalau dia zalim kepada istrinya.”
“Maafin aku ya, Al.” Umar mendekati Alma dan menyentuh dagunya yang sontak ditepis oleh gadis itu. “Aku sayang kamu, Al.”
“Bohong! Nggak usah sentuh-sentuh!”
“Jangan lupa, aku ini suamimu. Jangankan menyentuh, memasuki mu pun boleh.”
Hihhhh, Alma geli sekali mendengar bahasanya yang begitu vulgar.
“Al ...” Umar tersenyum mencoba merayu dirinya dengan segala cara. “Dua hari nggak ketemu ternyata kamu makin cantik aja.”
“Basi!” Alma membalikkan tubuhnya untuk membelakangi.
“Galaknya ... bikin aku jadi gemes.” Umar tak kehabisan cara. Pria itu mencium kepalanya yang tertutup hijab sehingga hadis itu memekik.
“Berhentilah bermain-main denganku, Bang!” Alma terlihat sangat kesal. “Segampang itukah kamu datang lagi seolah nggak pernah terjadi apa-apa di antara kita dan setelah semua yang udah kamu lakuin ke aku? Aku juga punya perasaan,” paparnya.
“Jelasin gimana caranya supaya aku bisa dapat maaf dari kamu, Al,” ucap pria itu merendahkan suaranya. “Waktu itu aku lagi emosi. Maaf ya ....”
Alma diam saja. Tidak sampai hati Alma berbuat seperti ini. Sesungguhnya, ia hanya ingin memberikan pelajaran agar suaminya itu sedikit jera dengan semua perbuatannya.
“Tidur di mana Abang kemarin?” tanya Alma setelah beberapa saat kemudian.
“Oke, aku jelasin sekarang. Aku emang nggak ke mana-mana dari kemarin karena aku nggak mungkin ninggalin kamu sendirian. Aku tidur di kamar atas. Kalau nggak percaya tanya aja sama Bi Yati,” Umar berterus-terang. “Aku selalu bangun lebih pagi daripada kamu. Berangkat lebih awal dan pulang kalau kamu sudah masuk kamar. Sekali lagi aku minta maaf, ya ....” Umar mengusap kepala Alma. Namun kali ini dibiarkan oleh wanita itu sehingga Umar merasa sedikit senang.
“Al, aku kangen masakan mu. Dua hari nggak makan sayur BAB ku jadi keras. Sakit, Al. Tolong dong!” titah Umar.
“Oh, jadi Abang datang cuma mau menyuruhku? Karena Abang merasa butuh aku?”
“Nggak juga. Aku datang ke sini buat minta maaf sama ngasih kamu penjelasan. Bisa saja aku nyuruh Bi Yati atau delivery order dari luar, tapi aku nggak mau, karena aku mau dilayani istriku. Kalau kamu nggak mau juga, nggak masalah.”
Umar pergi setelah itu.
__ADS_1
Alma memperhatikan diam-diam suaminya pada saat pria itu berada di dapur. Umar tidak berbohong, dia menyeduh minuman pelancar BAB sambil menepuk-nepuk perutnya yang dia rasa keras.
“Suami juga bisa kena azab!” sesungguhnya Alma ingin menegaskan ulang kalimat itu, tapi Alma rasa percuma saja. Makan hati.
Tak tega melihatnya demikian, Alma pun melakukan sesuatu setelah Umar pergi. Gadis itu memasang celemek di tubuhnya untuk berjibaku dengan pekerjaannya di dapur.
Kurang lebih satu jam kemudian, masakan terhidang. Dia pun memanggil Umar untuk makan bersama.
“Wah, terima kasih, Sayangku,” Umar memuji karena sedang ada maunya.
“Tapi bukan berarti kita baikan, ya?” ucap Alma begitu pria itu duduk.
“Sampai kapan kita mau musuhan? Nggak bosan apa?”
Umar bertanya dengan begitu entengnya. Padahal setiap kali konflik itu terjadi, dia sendirilah yang memulainya dan Alma lah yang selalu menjadi korbannya. Ihh, Alma greget sekali dengan pria itu. Dia memang benar-benar bebal.
“Sampai kamu sadar kalau kamu butuh aku,” jawab Alma.
“Aku membutuhkanmu setiap hari, Alma ....”
Alma menuangkan nasi untuk Umar. Lalu dia serahkan piringnya agar pria itu mengambil sendiri, makanan apa saja yang dia inginkan.
“Kenapa laki-laki selalu diberikan porsi yang lebih banyak?” pria itu membandingkan isi piring mereka yang berbeda.
“Karena laki-laki selalu meminta banyak dari apa yang bisa diberikan oleh perempuan.”
“Apa hubungannya?”
“Ada,” jawab Alma singkat.
“Apa permintaan maaf ku terlalu banyak?”
“Ya, tapi begitu kamu minta maaf, kamu akan mengulanginya dan lagi. Begitu seterusnya.”
“Aku yakin kamu mempunyai banyak stok kata maaf.”
“Tentu saja. Aku seorang mukmin yang selalu diajarkan untuk saling memaafkan. Tapi bukan berarti kamu bisa berlaku seenaknya.”
__ADS_1
“Kamu terlihat masih kesal sekali denganku.”
“Kamu pikir aku menyukaimu?”
“Jelas!” jawab Umar sangat yakin, “dengan kamu seperti ini, kamu sudah menunjukkan bahwa kamu mempunyai perasaan.”
“Nggak, kamu salah. Perbuatan mu tidak layak untuk disukai,” Alma mengelak. Dia tidak mau Umar besar kepala jika dia mengakui perasaannya.
“Jangan alihkan bahasan. Kita membahas soal perasaan, bukan perbuatan. Perbuatan ku memang nggak layak untuk disukai. Anak kecil juga tahu itu.”
“Lantas kalau kamu sadar perbuatan mu tak layak disukai, kenapa kamu terus melakukannya?” sembur Alma. “Aku sungguh membencimu!”
“Lihat, mata dan bibirmu berlainan.” Umar menyeringai karena mata Alma kini berembun.
Seketika Alma terdiam dan menatap Umar dengan sangat intens. Jeda keheningan selama hampir satu menit, Alma pun membalas, “Mencintai atau tidak, itu tidak penting. Sebab tujuan menikah bukan melulu soal cinta, karena utamanya adalah untuk beribadah, menyempurnakan separuh agamanya.”
“Tapi pernikahan tanpa cinta adalah bencana,” balas Umar segera, “kali ini aku kurang setuju dengan pendapatmu.”
“Kamu blunder,” Alma tersenyum sarkastik, “bisa-bisanya kamu bicara soal cinta, sementara hatimu sendiri berkhianat. Kamu mencintai wanita lain di pernikahan kita,” Alma menegaskan kalimatnya.
“Dengan cara apa aku mencintaimu? Jika kamu saja tak mau memberiku celah sedikit pun untuk masuk?” tanya Umar.
“Karena kedatanganmu selalu membawa badai.” Alma beranjak. Perdebatan ini tidak akan berhenti kalau salah satu dari mereka tidak ada yang mau mengalah. Maka solusinya dia sendirilah yang harus pergi.
“Alma ....” Umar menghentikannya. “Jangan tinggalkan mejamu.”
Karena tak kunjung duduk kembali, Umar pun menuntunnya. Mereka makan dalam keheningan. Tidak ada suara yang terdengar selain bunyi sendok dan piring yang sedang beradu.
Hingga pada saat selesai, mereka pun beranjak bersama. Umar mengikuti Alma dibelakangnya pada saat wanita itu masuk ke dalam kamar mereka.
“Malam ini aku tidur di sini,” ujar pria itu memberitahu. “Aku mau minta hak ku yang belum kamu kasih. Sudah cukup kamu bikin aku uring-uringan.”
Umar berterus-terang, berharap Alma dapat memahaminya.
Hah? Apa dia bilang? Alma tak habis pikir begitu mendengarnya. Seenaknya saja dia bicara demikian setelah apa yang sudah dia lakukan selama beberapa hari ini. Oh, God. Benar-benar makan hati anak curut itu.
Bersambung.
__ADS_1