Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Aku Tipe Setia, Kok


__ADS_3

Bab 9.


“Syukurlah, kamu sudah sampai, Nak. Ayo, masuk,” ajak Miranda begitu antusias begitu Zara sampai di depan rumahnya. Namun tangannya sontak ditepis saat mendarat di pundak putrinya tersebut. Jika Zara tahu, ini sungguh menyakitkan baginya. Tetapi mungkin ini belum seberapa daripada rasa sakit yang pernah beliau torehkan selama ini—dan dia merasa pantas mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan itu.


“Ada angin apa kalian rutin mengadakan kajian seperti ini?” tanya Zara dengan nada datar, “atau Mami sama Om mau tobat?”


“Nggak, Nak. Mami hanya sedang ingin saja. Mami merasa senang dan bahagia bisa berkumpul dengan orang-orang terdekat,” papar Miranda yang tidak Zara percayai maksudnya.


“Senang kumpul dengan orang dekat. Tapi anak sendiri nggak pernah didekati apalagi dipedulikan,” sindir Zara di depan maminya langsung, “lebih penting orang lain, ya? Atau aku memang orang lain?” Zara sempat berpikir apakah dirinya hanya anak tiri? Namun berdasarkan akta kelahiran, dia memang anak kandung dari pasangan Papi Purnawirawan dan Mami Miranda.


“Sayang ....” panggil Miranda terdengar penuh kelembutan. Mulutnya terbuka seperti hendak menjelaskan sesuatu, tetapi Zara seperti tak peduli dan enggan mendengarnya.


“Aku lagi malas mendengar alasan apa pun, Mam.” Zara melintas dan mengambil air minum untuk menyiram tubuh bagian dadanya yang terasa panas. Matanya berair karena hanya dengan cara seperti inilah cara dia melampiaskan emosinya.


“Pembelaan apa pun nggak akan bisa dibenarkan. Seorang anak, seburuk apa pun dia, tetaplah tanggung jawab orang tuanya yang harus diperhatikan,” batin Zara terasa pedih lagi, “aku nggak seburuk yang kalian pikirkan kalau kalian mampu mengenalku dengan baik.”


Cara buka puasa bersama berjalan dengan lancar dan cukup menyenangkan bagi mereka yang menikmatinya. Semuanya juga bersama-sama mendengarkan kajian yang tengah dipersembahkan oleh pengisi acara.


“Kak, aku punya banyak coklat. Apa Kakak mau?” ujar Michael. Anak itu datang mendekatinya untuk menawarkan kemasan coklat berbentuk persegi panjang.


“Mike bukain, yah!” Michael berusaha membuka kemasannya dan menyodorkan ujung coklatnya di depan mulut Sang Kakak, “buka mulutnya, Kak. Mike suapin.”


Tanpa Zara sadari, hatinya mencair melihat ketulusan Sang adik. Sehingga dia bersedia membuka mulutnya untuk menerima suapan coklat dari bocah ini—bocah yang sering memanggil dirinya sendiri dengan sebutan Mike. Mungkin karena merasa lebih mudah mengucapkan nama Mike daripada nama yang sebenarnya, Michael. Hal tersebut tak luput dari pandangan Miranda yang tengah menatap keduanya dengan mata berkaca-kaca. Momen seperti inilah yang selalu Miranda tunggu-tunggu.


“Kakak, kata Mami, coklat itu bikin mood kita jadi bagus. Jadi Mike suka coklat. Apa Kakak juga?” tanya Michael.


Zara mengangguk. Gadis itu berusaha menguatkan diri agar pertahanannya tak sampai runtuh. Andai hubungannya dengan maminya baik-baik saja, pasti sekarang mereka adalah saudara yang sangat akrab. Karena sesungguhnya, dia sangat menyayangi adiknya.


“Makasih,” ujar Zara sambil mengusap kepala Michael. Sedang yang di usap menyunggingkan senyum bahagia.


“Kakak mau kan, tidur sama Mike hari ini?”

__ADS_1


“Nggak, Mike. Kakak harus pulang,” tolak Zara dengan nada yang lebih lembut.


Sontak raut wajah sedih Michael berubah. Tetapi dia tak dapat menyuarakan protes oleh karena sebab atau sesuatu yang tidak dirinya pahami. Anak ini pun bingung, kenapa keluarganya berbeda?


Kenapa kakaknya selalu pergi dan tinggal sendiri di tempat lain?


Tapi bukankah mereka satu rahim?


Mami selalu bilang, bahwa mereka adalah adik dan kakak yang sama-sama lahir darinya. Michael sering memperhatikan hubungan adik-kakak dari teman-temannya, tetapi, mereka tetap hidup bersama satu rumah. Mereka juga sama-sama memanggil papi kepada ayah mereka. Tidak dengan panggilan Om yang sering kakaknya ucapkan.


Ini membingungkan. Michael sangat butuh penjelasan. Tapi sayang, jawaban mami selalu mengecewakan. Tidak ada jawaban lain kecuali mengatakan bahwa Kakaknya adalah seorang artis yang selalu sibuk di tempat syuting.


🌺🌺🌺


Tepat jam sembilan malam, acara sudah selesai. Mungkin pada saat itu, Zara tak berniat untuk menyapa Rayyan terlebih dahulu. Sebab ia tidak ingin terkesan mencari perhatian lebih padanya. Tetapi pada saat keluar, mereka justru kembali dipertemukan karena suatu sebab.


“Sendal aku mana, sih?” gumam Zara mencari-cari ke banyak tempat, namun tak kunjung menemukannya.


“Oh, iya. Benar. Makasih, Taz,” kata Zara menerimanya dengan senang dan memakainya sekaligus.


“Dengan siapa kamu pulang?” Rayyan bertanya lagi, “sendirian lagi?”


Dengan segera Zara menjawab, “Habis sama siapa?”


Kebiasaan, batin Rayyan mengkhawatirkannya. “Ini sudah malam, apa tidak sebaiknya kamu menginap saja di rumah orang tuamu?”


Zara menggeleng, “Nggak, aku mau pulang saja.”


“Nggak trauma sama kejadian kemarin lagi?”


“Nggaklah. Masa Cuma gitu aja trauma,” kata Zara menunjukkan diri agar Rayyan tak mengira dirinya wanita yang manja dan selalu hidup dalam ketergantungan orang lain.

__ADS_1


Keduanya berjalan mendekati mobil mereka masing-masing.


“Kalau boleh tahu ... siapa yang menyuruhmu datang ke sini? Apa Om yang menyuruh?” tanya Zara setelah agak jauh dari bangunan rumah orang tuanya, “nggak biasa-biasanya mereka mengadakan kajian di rumahnya seperti ini.”


Rayyan menoleh, “Bukankah itu baik?”


Ucapan Rayyan terdengar ambigu sehingga membuat Zara berpikir, baik untuk siapakah? Aku atau kamu?


“Memang, tapi aku juga ingin tahu alasannya.”


“Nggak ada alasan untuk berbuat baik apalagi untuk menjalin silaturahmi seperti mereka. Terlebih di Bulan Ramadan seperti sekarang ini,” jelas Rayyan kemudian masuk ke dalam mobil masing-masing. Dari pintu kaca kemudi Rayyan yang terbuka, Zara melihat pria itu tersenyum manis kepadanya, “Hati-hati dijalan. Jangan ngebut. Ingat belum nikah.”


Zara pun ikut tertular senyum, “Memangnya hanya orang yang sudah menikah saja yang boleh ngebut.”


“Minimal kalau jatuh atau kecelakaan, ada yang merawat,” balas Rayyan yang ternyata bisa bercanda juga.


“Belum tentu Si Doi mau merawat. Banyak pasutri di dunia ini yang nggak setia. Baik laki-laki mau pun perempuan, kalau lagi sakit-sakitan suka ditinggal cari yang baru.”


“Aku tipe setia, kok.”


“Gak nanya!” cebik Zara memutar bola matanya. Hih, apaan, sih! Batinnya sebenarnya merasa amat senang. Terlihat di mata Rayyan pipi gadis ini mengeluarkan rona alami berwarna merah muda. Tapi berusaha disembunyikan.


“Apa kamu tahu, kedekatan kita mulai tercium di media?”


Sorot mata Zara menelisik bola mata pria yang baru saja bertanya demikian, “Kalau kamu kurang nyaman, aku bisa mengonfirmasikan yang sebenarnya.”


“Nggak perlu. Biar saja.” Rayyan pun mulai menyalakan gas dan menginjak pedalnya, “Assalamualaikum,” salamnya seperti tak rela memutus tatapan yang masih saling bertaut.


“Waalaikumsalam ....” Zara merasa debaran tak biasa yang bergemuruh di dadanya. Sedikit berharap, Rayyan juga bisa merasakan hal yang sama.


***

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2