Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Jangan Pedulikan Siapapun


__ADS_3

185


“Ada acara apa ini? Tumben anak Mama lagi akur peluk-pelukan,” tanya Vita saat wanita itu menghampiri. Dia hendak membawakan bekal untuk Mauza dan Sammy di jalan. Ya, mereka berencana menuju ke Semarang hari ini, berlibur di sana bersama Om dan Tantenya.


“Nggak papa, Ma. Kami cuma lagi seneng aja. Ya, aku ikut seneng denger kabar gembira dari mereka,” jawab Mauza mewakili semua orang yang tengah kebingungan mencari jawaban.


Vita menatap Alma dan Umar secara bergantian. Sudah jelas kabar bahagia ini bukan dari anak perempuannya, Mauza. Karena anak itu sudah mengatakannya sendiri tadi.


Bukannya memeluk sang menantu yang baru saja mengabarkan kehamilannya, Vita justru memeluk anak perempuannya dulu. Menciumnya dan mengusap kepalanya dalam pelukan.


“Ya Allah, kasihan anakku, Mauza. Lagi-lagi dia harus mendengar kabar seperti ini. Bukannya aku tak bersyukur, tapi berikanlah Mauza kesempatan yang sama agar bisa ikut merasakan kebahagiaan seperti yang lainnya. Dia anak baik yang sudah banyak berkorban dan mengalah selama ini ....”


Alma tersenyum. Inilah sikap terbaik seorang ibu yang pernah dilihatnya. Niscayalah, sikap ganjil ini hanya bisa diterima oleh orang-orang yang berakal sehat. Bukan sebaliknya.


Yang terjadi, Alma justru ikut memeluk iparnya juga. Karena demikianlah sebaik-baik persaudaraan.


Kabar baik ini sudah sampai di telinga Yudha, Oma dan Opa. Mereka yang sudah tua-tua itu ikut bahagia dan memeluk cucu menantu mereka. Tak menyangka, dari benih mereka, lahirlah dua keturunannya, Yudha dan Alif. Lantas lahirlah ke tujuh cucunya yang kemudian menikah dan kembali melahirkan cicit-cicit dari darah yang sama.


Mauza tersenyum getir saat Alma dan Zunaira saling berbincang soal kehamilan tanpa bisa melibatkannya dalam bahasannya. Beruntung ... ada tangan Sammy yang selalu menguatkan.

__ADS_1


Seperti rencana mereka sebelumnya, mereka pun segera berpamitan untuk pergi. Demi menjaga benteng pertahanan mereka sendiri yang kian rapuh.


Vita yang keheranan lantas bertanya, “Lho, sekarang? Bukannya Om Alif sama Onti Daranya juga belum pamitan ke sini, Nak?”


“Kami mau ngisi bensin sama sekalian mau ke Market, Ma. Ada yang mau dibeli soalnya. Nggak enak kalau Om Alif harus nunggu kami terlalu lama. Belum lagi ngantre panjang di Pom,” jawab Sammy mencari-cari alasan untuk menutupi kenyataan yang ada.


“Ya sudah kalau memang begitu,” kata Vita melepaskan mereka pada akhirnya. “Berapa hari kalian pergi?” tanyanya lagi.


“Insyaallah seminggu,” Mauza menyahuti.


“Hati-hati di jalan kalian, ya! Jangan ngebut-ngebut.”


“Okay, Ma,” jawab Mauza dan Sammy bersamaan.


“Have fun, Za!” seru Umar membuat Mauza tersenyum.


Sammy mulai mengendarai mobilnya meninggalkan halaman rumah yang sudah dia tinggali selama beberapa bulan ini.


“Kalau kamu setuju, aku mau pakai uang tabunganku untuk kita program ke dokter,” ucap Sammy meminta pendapat istrinya saat mereka tiba di pengisian bahan bakar.

__ADS_1


“Tapi bukannya uang tabungan itu buat usaha kita, Sam?” Mauza menanggapi.


“Kita pikirkan lagi nanti.” Sammy sudah tidak tahan lagi hidup kesepian. Dia ingin ada anak di antara mereka jika bisa. Sudah cukup mereka main-main selama ini. Sudah waktunya mereka hidup serius, mengingat usianya yang sudah semakin bertambah.


Mauza menunduk. Setelah beberapa saat terdiam, dia pun berkata, “Apa kamu siap mendengar, andai ada salah satu di antara kita punya masalah. Dan apa tanggapanmu jika misalnya orang itu adalah aku?”


“Sebaliknya, jika orang itu aku?” Sammy malah balik bertanya.


“Aku nggak peduli ... kamu suamiku dan aku mencintaimu,” jawab Mauza begitu ikhlas menerima.


“Sama, aku juga nggak peduli,” balas Sammy pasti.


“Seandainya Bunda atau orang lain meminta kita pisah karena alasan itu?”


“Sudah kubilang, aku nggak peduli. Rumah tangga kita milik kita. Siapapun nggak berhak ikut campur.”


Mauza tersenyum. Keduanya pun berpelukan.


“Kita akan hadapi masalah ini sama-sama,” kata Sammy serupa orang yang tengah berjanji.

__ADS_1


Mauza mengangguk. Mereka saling membenamkan diri dalam keindahan yang nampak.


Bersambung.


__ADS_2