
156
“Ya Allah, Nak ... kamu itu dari mana aja, Mama telepon kamu dari tadi tapi nggak di angkat-angkat juga. Hah, dari mana?” omel Vita begitu Umar sampai di rumah.
Di sana, sudah ada Mauza, Andre dan juga Zunaira yang sedang sama-sama berkemas. Dengar-dengar, Nai akan mulai memindahkan barang-barangnya ke rumah baru mereka.
“Aku dari luar, Ma,” jawab Umar terdengar ambigu di telinga mereka.
“Semua orang juga tahu kamu baru aja keluar, Umar. Tapi keluarnya itu ke mana?”
Umar tak menjawab karena tak mau kembali berbohong kepada mamanya. Sedangkan berterus terang bahwa dia telah menemui Sarah dan apa saja yang telah mereka lakukan, juga tak mungkin.
Vita mendekati anaknya dan memeluknya. “Wajar kalau Mama khawatir. Sebentar lagi kita kan, mau datang ke rumah Alma.”
Umar mengangguk setelah keduanya merenggangkan pelukan.
“Ayo Mama antar kamu ganti baju.” Vita mengajaknya ke kamarnya. Menyuruh anak itu untuk membersihkan diri selama dia menyiapkan pakaiannya.
Serta-merta Vita membantunya merapikan wajah anak itu yang sudah di lebati cambang dan kumis. Terakhir, menata rambutnya dengan sentuhan pomade agar lebih enak di pandang mata.
“Ma, jangan dong, Ma. Malu. Biar Umar aja sendiri,” racau Umar entah sudah yang ke berapa kalinya. Namun, Vita tak peduli karena wanita itu akan tetap melakukannya sampai selesai.
“Aku bukan anak kecil lagi,” Umar kembali mengingatkan.
“Mama lakukan ini ke semua anak-anak Mama, Nak. Bukan masalah anak kecil atau anak dewasa. Kamu itu mau lamaran. Nggak boleh meninggalkan kesan yang buruk di mata mereka. Harus rapi,” ujarnya.
“Aku juga bisa sendiri,” kata Umar tak mau dianggap remeh.
“Bisa. Mama nggak bilang kamu nggak bisa. Tapi sayangnya ... suka asal-asalan,” Vita menanggapi.
Bagian rambut Umar sudah selesai, kini tangan Vita berpindah di kancing-kancing bajunya. “Nanti, kalau sudah menikah, giliran istrimu yang akan melakukannya. Beritahu dia supaya seperti ini.”
Umar terdiam, sebab menyimak pembicaraan mamanya.
“Jadi suami yang baik buat Alma, ya. Jangan kecewakan keluarganya. Kasihan, Alma itu gadis baik,” sambung Vita kembali berpesan.
__ADS_1
“Wajar kalau awalnya Umar nggak punya perasaan. Tapi percayalah, cepat atau lambat, Allah pasti akan ciptakan rasa cinta itu di dalam pernikahan kalian. Karena memang demikian harusnya sebuah pernikahan berjalan, meskipun pada awalnya mungkin ... tak saling cinta.
“Kamu akan mengetahui semuanya nanti kalau kalian sudah menikah dan menjadi satu ....”
♧♧♧
Singkat cerita, sore harinya, Umar bersama keluarganya berbondong-bondong menuju ke kediaman Alma.
Tak banyak yang ikut ke sana. Hanya ada kedua orang tuanya, Mauza, Andre dan Zunaira saja. Pasalnya Sammy masih ada di Bekasi tak bisa ditinggal karena pembangunan sekolah sudah hampir rampung dan harus terus di awasi. Ray dan Zara ada suatu event dah tak bisa mereka tunda/batalkan, sedangkan yang lain masih dengan urusannya masing-masing.
Kedatangan mereka disambut baik oleh keluarga Alma. Mereka mempersilakannya masuk dan memberikannya banyak sekali hidangan.
Alma pun di keluarkan oleh keluarganya pada saat itu untuk ikut duduk di hadapan mereka. Sesaat setelah Yudha mengutarakan niatnya bertandang ke rumah ini.
“Sekarang, giliran Abi bertanya denganmu, Nak. Kedatangan Pak Yudha ke sini bertujuan melamarmu untuk putra keduanya, Umar. Apa jawabanmu? Apakah diterima?” tanya Abi kepada putri bungsunya. Pria itu mempunyai dua orang anak. Anak lelakinya juga masih melajang di usia matang. Terpaksa, harus dilangkahi oleh adiknya karena terlalu lama jika harus menunggu dia menikah terlebih dahulu.
“Kalau Abi merestuinya, insyaallah ... Alma terima lamaran Umar, Bi,” jawab Alma penuh keyakinan.
Alma sudah beberapa kali melalukan salat istikharah sebelumnya. Dan jawabannya selalu tertuju kepada pria itu, sehingga dia merasa begitu yakin bahwa Umar adalah jodohnya.
Kedua wanita itu berpelukan dan saling berbicara layaknya seorang menantu mertua lainnya, agar bisa mengenal lebih dekat.
Beberapa menit setelah acara lamaran selesai, Yudha mengajak Umar keluar. Hanya mereka berdua karena ada hal sangat penting yang harus pria itu sampaikan.
“Ada yang melihatmu berpelukan di pinggir jalan siang tadi. Awas saja kalau kejadian itu terulang, apalagi setelah kamu menikah. Karena Papa tidak akan segan-segan mencabut semua fasilitas mu dan mengeluarkan mu dari rumah,” ancamnya tegas. Pria itu tak peduli akan tinggal di mana dia kemudian.
Umar terkesiap. Tubuhnya menegang. Jadi siapa melihat kejadian itu dan mengadukan hal ini kepada papanya? Sialan!
Pun dengan Yudha, tak mungkin dia memberitahukannya karena bisa terjadi perang antar saudara, atau saling membenci satu sama lain.
“Kalau saja Papa tahu sebelum lamaran ini terjadi, sudah Papa batalkan! Sayangnya Papa baru baca pesannya barusan. Papa menyesal telah melamar kan dia untukmu, Mar.”
Seandainya bisa, Yudha akan memukulnya saat ini juga. Sayang, mereka sedang bertamu sekarang. Mereka tak bebas melakukan apapun.
Lalu, bagaimana jika Alma mengetahui hal ini?
__ADS_1
“Itu yang terakhir kali untuk kita, Pa,” kata Umar bersungguh-sungguh. Namun malang, sudah hilang rasa percaya pria itu kepadanya.
“Menusuk kepala dengan jarum dari besi, itu jauh lebih baik buat seorang Muslim di antara kalian dibandingkan jika ia bersentuhan dengan wanita yang bukan halal baginya.”
Yudha menjelaskan suatu hadis yang sering di dengarnya. Sebenarnya, Umar pun mengetahui banyak tentang itu. Tetapi dia tetap melanggarnya. Padahal demikian lebih besar dosanya daripada mereka yang tak mengetahuinya sama sekali.
“Aku bahkan sudah melakukannya lebih dari sekedar bersentuhan, Pa ....”
“Papa?”
Panggilan Vita membuat Yudha menoleh ke belakang. Dia melihat wanita itu berdiri bersisian dengan Alma.
“Ya, kenapa?” Yudha bertanya. Lain halnya dengan Umar yang cenderung abai. Umar tetap menghadap ke lain arah karena tak merasa namanya dipanggil. Padahal dia tahu, Mama memang sedang mengantarkan Alma untuknya.
“Bukankah mereka berdua juga harus bicara?”
“Tentu saja. Bicaralah kalian!” Yudha tersenyum kepada calon menantunya tersebut.
“Umar!” panggil Vita agar anak itu menoleh.
“Oh? Iya, Ma,” Umar menyilakan Alma untuk duduk di teras. Kemudian menyusul dirinya di sampingnya. Tentu setelah orang tuanya pergi.
Alma menunduk. Ini pertama kalinya dia duduk bersampingan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Wajar jika dia malu dan merasa sedikit gugup.
Sekitar lima menit mereka dalam keadaan sunyi. Tak ada suara dari mereka berdua selain suara kendaraan yang berlalu lalang.
“Alma,” panggil Umar pada akhirnya menyapa terlebih dahulu. Sebenarnya ... Umar pun juga bingung. Apa yang harus dibicarakan karena sedikit pun belum tergambar di pikirannya, planning ke depan bersama perempuan ini.
“Iya, Bang?” jawab Alma kemudian.
Umar sedikit terkejut. Apa katanya? Abang? Abang tukang bakso?
Ya ampun. Padahal mood Umar sedang kurang baik setelah mengalami berbagai kejadian yang menimpanya hari ini. Akan tetapi, Alma justru malah membuat perasaannya semakin buruk lagi gara-gara panggilannya itu.
Bersambung.
__ADS_1