Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Tak Sesuai Harapan


__ADS_3

99


Zunaira menahan langkahnya di pinggir ambang pintu pada saat mendengar teman-temannya berkumpul pagi hari tadi.


“Kenapa Ibu Res? Pagi-pagi dah bete aja mukanya. Belum sarapan?” tanya seorang akuntan bernama Roby. Dari yang Nai dengar, pria ini sudah berkeluarga. Sedangkan dua teman lainnya yang ada di bagian pembiayaan dan pajak adalah perempuan, masih lajang.


“Males gue, capek ngajarin orang melulu kek guru les aja,” jawabnya.


Ketiga orang itu lantas terbahak. Bukan tawa yang lucu, tapi adalah tawa yang cenderung mengejek.


“Gue pikir minggu ini kerjaan gue kelar. Soalnya banyak persiapan yang harus di urus. Eh, malah ngajarin anak orang lagi. Mending kalau cepet ngerti. Lha ini, udah loading nya lama, nggak mau nanya lagi kalaupun ada yang belum dia tahu. Harus gue yang punya inisiatif sendiri buat ngecek sampai ke akar-akarnya. Mending kalau semuanya bener. Udah salah, diam aja sampai sore. Bikin dua kali kerja,” beber Resti serupa orang yang habis kesabaran.


“Omong-omong, cewek yang kemarin ke mana sih?” sahut teman perempuan yang lain, “keknya gue juga lebih cocok ama yang kemarin, sih. Lebih terbuka, enakan lagi orangnya.”


“Dituker ama adeknya.”


“Hah? Serius mereka saudaraan?” mereka saling menatap tak percaya, “kok beda jauh, Cuy?”


“Denger-denger sih, gitu. Ngapain juga mereka bohong.”


“Namanya aja the power off orang dalem ya? Beda jurusan pun, tetep bisa masuk Pak Ekoo!”


“Huum. Apalah kita hanya orang luar yang hanya mengandalkan skill. Orang atas mah tahunya cuman nunjuk-nunjuk doang, nggak tahu faktanya gimana. Tapi ya udahlah, mau diapain juga,” sahut Resti setengah putus asa, “gue minta kerja samanya dari kalian, ya. Ingetin juga kalau aku kelewatan sama dia. Aku juga nggak enak nih kalau sampai ....”


“Iya, iya paham ....” sela mereka mengerti maksud temannya.


Baru saja mereka selesai bicara, Zunaira masuk dan membuat mereka sontak bungkam. Barulah setelah itu, dia meminta kepada Belle agar dia dipindahkan ke bagian lain.


Hal ini diketahui oleh ketiga temannya. Mereka ketar-ketir dan segera saling berkirim pesan, apakah Zunaira mendengar obrolan mereka tadi pagi, sehingga membuatnya ingin hengkang dari tempat ini?


Namun begitu, Belle memintanya untuk menunggu karena dia tidak bisa memutuskan sendiri jawabannya. Dia butuh berunding terlebih dahulu dengan Zara karena gadis ini bukan staf biasa, yang bisa ia pindahkan atau keluarkan menurut feeling nya sendiri. Sebab Zunaira adalah bagian dari keluarga atasannya yang masuk melalui pintu khusus.

__ADS_1


∆∆∆


Kedatangan Mauza siang itu ternyata tak berpengaruh apa-apa bagi Zunaira. Karena setelah panjang lebar Mauza mengajaknya bicara; membujuk dan menasihati, gadis itu tetap kukuh minta pindah ke bagian lain atau keluar jika memang tidak ada lagi sebuah pilihan.


Pemikiran yang cukup egois sebetulnya. Zara juga merasa dipermainkan oleh gadis itu. Dia yang awalnya mendesak masuk, tapi dia juga yang minta di keluarkan. Bahkan sampai mendepak kakaknya sendiri yang tadinya sudah sangat nyaman berada di tempatnya.


Meskipun Mauza keluar atas karena kerelaannya sendiri, apakah tidak ada sedikitpun di hati Zunaira untuk menghargai pengorbanan kakaknya?


Mauza sudah berbesar hati untuk mengalah demi Zunai. Tetapi kenapa balasannya malah seperti ini?


Dia terlihat semakin tidak tahu diri.


Semenjak kapan hatinya berubah menjadi batu?


Apakah semenjak kenal dengan Sammy?


Yudha dan Vita sama sekali tak pernah mengajarkannya demikian.


“Alasannya apa, Nai?” Zara bertanya.


“Aku nggak mampu, Kak,” Zunaira menjawab, “benar apa kata Mama waktu lalu, ini bukan bidangku. Jadi aku agak kesulitan.”


Zara menempuh ilmu di institusi pendidikan tinggi di dunia perfilman yang juga termasuk dunia akting. Bukan hal yang sulit untuk menilai eskpresi seseorang menurut psikologi yang selama ini dia pelajari. Dan apa yang dilihatnya kali ini, jelas bahwa Zunaira tak sepenuhnya berkata jujur. Ada sesuatu besar yang masih dia sembunyikan.


“Kamu belum jujur, Nai,” ujarnya sehalus mungkin karena gadis di depannya ini mempunyai hati yang cukup sensitif. Zara tak ingin Zunaira sampai salah paham atau merasa terintimidasi oleh karena ucapannya. “Kamu bahkan baru datang dua hari. Semua orang pun, yang baru saja masuk kerja, pasti mereka akan mengalami hal yang sama sepertimu. Sangat wajar kalau masih banyak yang salah. Apa ada yang membuatmu nggak nyaman?”


Zunaira lantas menunduk dan terisak.


“Nggak papa, jujur aja. Kalau nggak jujur, kita nggak akan pernah tahu, apa masalahmu sebenarnya.”


“Teman di kantor ngomongin aku, Kak,” setelah beberapa lama terdiam, akhirnya Zunaira mau mengakui.

__ADS_1


“Teman yang mana?”


“Ibu Resti dan bawahannya.”


“Apa yang Nai dengar?”


“Banyak ...” jawab Zunaira pelan, “singkatnya, mereka bilang aku nggak cekatan seperti Kak Mauza yang tentu saja lebih pintar daripada aku. Aku ... aku nggak enak sama Bu Resti karena beliau ....”


Zara paham ke mana arah bicara Zunaira meskipun gadis ini tak berani mengungkapkan semuanya.


Intinya, mau tak mau Resti harus tertahan lebih lama dari perkiraan akibat pergantian suka-suka ini. Dan mungkin inilah yang membuat mood Resti berubah buruk. Sehingga kurang memperlakukan Zunaira dengan baik.


Pada dasarnya, wanita itu juga belum mengetahui karakter Nai seperti apa yang sejatinya sangatlah perasa.


“Nai kerja sama siapa?” Zara bertanya tanpa tanggapan. “Tentu sama Kakak, kan? Jadi, apa pedulinya?” jeda sejenak, Zara melanjutkan, “kalau Kakak nggak papa dan nggak mempermasalahkan apapun, kenapa harus pusing, Nai? Lanjutin aja apa yang menjadi pekerjaanmu. Lingkungan kerja emang begini, kalau nggak ada masalah sama teman ya sama atasan. Itu hal biasa.”


“Maaf kalau aku terlalu terbawa perasaan, Kak ... lain kali, aku coba lebih menebalkan telingaku lagi,” kata Zunaira akhirnya mencoba untuk bertahan di tengah-tengah kesusahan yang dia jalani.


Hari-hari pun berlalu begitu cepat. Zunaira mulai menikmati suka dukanya bekerja di sana demi Sammy agar mereka lebih sering bertemu.


Namun mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Sebab apa yang dia harapkan lagi-lagi tak bisa sepenuhnya dia dapatkan. Karena begitu dia mencoba bertahan, Sang Pujaan malah semakin jarang menemuinya.


Sammy justru sibuk menghabiskan waktunya di luar karena akhir-akhir ini, Zara lebih banyak melakukan pemotretan di luar ruangan. Yang secara otomatis, Sammy malah lebih sering bertemu dengan Mauza daripada dirinya.


Lalu apa tujuannya kerja di tempat ini?


Zunaira merasa sia-sia.


Bersambung.


Vote mana vote?

__ADS_1


__ADS_2