
176
Bibir Alma manyun saat menyambut suaminya tiba di rumah. Ia kembali mengulang kata-katanya seperti di telepon tadi, “Jahat, ih. Pergi nggak bilang-bilang. Nggak di ajak juga.”
Umar gemas hingga tak tahan untuk me ***** bibir Alma yang monyong itu. Niscaya, semua perempuan pasti akan luluh diperlakukan demikian meski dia sedang ngambek parah sekalipun.
“Maaf,” hanya itu yang Umar katakan lantaran tak bisa menjawab dengan kalimat lain lagi. Pria itu menunjukkan kopi dan camilan yang dia beli sebagai alasan.
“Cuma beli ginian aja musti pergi segala? Kan, tinggal pesan.”
Umar menggaruk kepalanya. Tak habis-habisnya Alma mencurigai kepergiannya, Oh God. Bagaimana jika memang benar dia selingkuh? Pasti bakal runtuh dunia ini.
“Kadang ada saatnya laki-laki juga ingin pergi sendiri. Entah untuk pekerjaan atau urusan penting lainnya. Jadi ke depannya jangan kaget lagi, ya. Yang penting aku nggak macem-macem, kan?” papar Umar menjelaskan bahwasanya, esok hal demikian pasti akan sering terjadi.
“Gitu, ya? Aku cuma takut kamu salah teman atau salah pergaulan.”
“Aku tahu batasan ku.” Umar mengajak Alma ke kamar mereka untuk melakukan pemanasan, setelah beberapa hari ini dia kedinginan di rumah sakit.
∆∆∆
Seminggu berlalu semenjak Alma sembuh dari demamnya. Aktivitas s*ksual juga sudah kembali normal seperti biasa. Tidak ada keluhan sakit atau pedih seperti kemarin lagi, karena kini sudah berganti menjadi sebuah aktivitas yang sangat menyenangkan dan selalu mereka rindukan jika malam bertemu.
Alma pun sudah tak malu-malu lagi dengan Umar. Tak jarang, justru dia yang menggoda suaminya lebih dulu sehingga Umar terpancing kemudian.
Tak melulu di rumah dan bekerja. Alma juga sering mengajak suaminya ke majelis-majelis ilmu. Agar bertambah pengetahuan mereka tentang agamanya. Sesekali pula berkunjung ke rumah Abi dan Umi Zul untuk melepas rindu. Kemudian rumah Mama Vita setiap minggunya untuk berkumpul, berbagi cerita satu sama lain. Seperti sekarang ini.
“Aku seneng lihat Umar lebih adem sekarang, Mas,” bisik Vita kepada sang suami pada saat melihat anak curut itu sudah lebih terdidik.
Yudha menanggapi, “Kalau pasangannya bener, pasti dia juga ngikut. Tapi kalau sebaliknya, makin berantakan dia.”
Para lelaki memisahkan diri untuk membahas keseruan mereka masing-masing. Pun hampir sama dengan perempuan, mereka juga saling membahas cerita kesehariannya.
“Susah nggak sih Al, kalau makan pakai cadar?” tanya Zara sangat ingin tahu karena ia pun tertarik untuk memakainya.
“Kalau udah biasa enggak, Kak,” jawab Alma. Di dalam rumah seperti ini pun, dia tetap memakai cadar lantaran banyak ipar laki-laki yang jelas bukan mahramnya.
“Aku juga pengen pakai cadar,” sahut Mauza, “kok, kayaknya cantik gitu.”
__ADS_1
Sammy yang kebetulan sedang mengambil minum di dekat mereka sontak menyahut, “Halah, makan aja sebaskom. Gayaan mau pakai cadar.”
“Komen aja, kamu, huhh!” Mauza memasang wajah jelek pada suaminya. Sampai saat ini pun, mereka masih sering berantem. Tetapi mudah akurnya pula seperti kisah pertemanan anak-anak. Awalnya, Mauza memang sedikit kaget. Tapi belakangan, dia sudah terbiasa.
Cerita pun berlanjut. Alma menjelaskan bagaimana cara dia makan di tempat yang mengharuskannya tetap memakai cadar. “Usahakan cari tempat duduk yang jauh dari banyak orang, terlebih laki-laki. Kalau bisa di bagian pojok supaya nggak kelihatan kalau kita buka sedikit kainnya,” paparnya Alma dengan suaranya yang lembut. “Kalau makan di tempat umum, ada baiknya kita pilih makanan yang kering. Sebab kalau yang berkuah bisa nyiprat kan?”
Zara pun meminta Alma untuk mencontohkannya serta.
“Tinggal buka aja sedikit, terus kita dekatin sendoknya dari bawah. Pelan-pelan aja. Gimana pun, perempuan itu harus anggun.”
“Kenapa tanya-tanya cadar, mau pakai juga?” Ray lewat dan mencium pipi istrinya sehingga membuat semua perempuan di sana sontak memalingkan muka. Kecuali Mauza yang mengomel layaknya emak-emak.
“Hei sembarangan aja!” matanya melotot.
Ray hanya tersenyum, kemudian melintas lagi setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.
“Aku pengen pakai, tapi masih ragu ...” kata Zara bimbang, “harapannya sih, istiqomah. Tapi aku cuma manusia biasa. Takut suatu saat aku berubah pikiran atau lain sebagainya, dan itu bakal jadi cibiran banyak orang. Aku nggak sebebas kalian. Selalu ada kamera menyertaiku.”
“Nggak papa sih, kalau nggak pakai pun, Kak,” Alma menimpali dengan bijak, “toh, cadar menurut madzhab kita adalah Sunnah. Udah mau berhijab syar'i aja udah bagus banget.”
“Makasih penjelasannya, Alma.”
Zunaira sendiri hanya menjadi pendengar karena semua pertanyaan yang ada dalam benaknya, sudah terwakilkan. Dia justru tengah sibuk berkirim mesra dengan Andrea, padahal, jarak mereka tak lebih dari lima meter.
Mas Kulkas: jangan senyum-senyum terus. Nanti gigimu kering.
Zunaira: nggak papa. Kan ada Mas Kulkas yang selalu menyimpan air es di dalamnya.
Mas Kulkas: ganti kontak ponsel ku dengan nama suami tersayang.
Zunaira: wani piro?
Keduanya saling lirik dan tersenyum.
“Nih anak, deketan aja pakai chat segala!”
“Hussst!!” Zunaira membungkam mulut Mauza yang gemar sekali bocor.
__ADS_1
Saat sedang seru-serunya saling berbagi cerita, datang lagi beberapa orang ke dalam rumah ini. Yaitu Mike, Miranda dan Ruben.
“Assalamualaikum!” seru mereka bersamaan.
“Waalaikumsalam,” balas semua orang di dalam rumah ini.
“Maaf aku telat. Ibu Dirut sangat sibuk,” ucap Miranda pada besan perempuannya yang menyambutnya dengan antusias.
“Nggak papa, Bu. Kami maklum,” balas Vita saling cium pipi kanan-kiri.
“Hai semuanya,” sapa Miranda kepada semua orang yang ada di sana.
“Hai juga, Onti!”
“Eh, ada Si Mike. Si gemas berondong manisku!” Dara langsung menghampiri begitu melihat anak gembul tersebut.
“Yieeeek! Ada orang itu lagi, Mi! Nggak mau, ihhh! Nggak mau!” Mike sangat takut dicium lagi oleh Dara seperti tempo hari lalu. Anak itu bersembunyi di belakang tubuh maminya meskipun ia tahu, ini tak dapat mencegah tante-tante ganjen itu menyentuhnya.
“Sini sayang, sama Tante. Tante banyak duit, lho ...” ucap Dara membuat semua orang tergelak tawa.
“Mike nggak butuh duit kali, Mami. Dah kebanyakan,” sahut Sakira.
“Oh, jadi butuh apa dong? Belaian?” semakin ditolak semakin membuat Dara gemas untuk meledek anak gembul itu. Siapa yang tak gemas dengan Mike? Gembul, putih, sipit, lucu. Sayang, dia galak sekali seperti kakaknya dan maminya. Sudah keturunan memang.
“Ih, sorry emang Mike cowok apaan,” balas Mike masih bersembunyi, kali ini di ketiak maminya.
Tak berapa lama, Alif datang memelototi istrinya.
Seketika Dara bertanya, “Apa?”
“Kalau mau cuci mata di rumah aja, yuk!”
“Malas, ah. Buaya buduk sudah keriput. Aku maunya yang berondong!”
“Ya Tuhan, ada-ada saja kalian.” Miranda tertawa hingga perutnya terguncang.
Bersambung.
__ADS_1
Maaf sibuk agustusan😆