
148
Atas permintaan Ibu Wongso, pernikahan Zunaira dan Andrea dilakukan menggunakan adat Jawa, sesuai dari mana wanita itu berasal.
Sesungguhnya, Nai tak peduli adat mana yang akan digunakan untuk pernikahan mereka. Karena yang terpenting baginya, mereka bisa sah secara agama maupun negara. Dan tempat yang disewa, cukup menampung semua para tamu undangannya.
Andrea juga awalnya lumayan keberatan jika harus ini dan itu menjalani segala proses serangkaian nya, sebab dia sudah bukan pria bujangan lagi. Lagipula, selain melelahkan, Andrea tak terlalu suka dengan keramaian dan membuang-buang waktunya untuk menyenangkan orang lain.
Tapi, apa boleh buat? Katanya, menyenangkan orang tua-eh ralat, orang lain adalah pahala.
“Begini yang dibilang sederhana?” Astaga, Andrea heran sendiri. Dia menggelontorkan banyak sekali biaya untuk acara pernikahan ini hingga tabungannya terkuras. Tetapi tidak apa-apa, gadis yang di dapat pun tidak main-main. Setara dengan seberapa anggaran yang dikeluarkan.
Malam sebelum akad, tepatnya pada malam midodareni, Zunaira di rias secara sederhana di rumahnya. Namun, dia tak diperbolehkan menemui calon suaminya yang baru saja datang bersama rombongan keluarga.
“Terus aku ngapain dong kalau nggak ngapa-ngapain?” Nai bertanya kepada Mauza dan orang yang tengah menggoreskan henna di tangannya.
“Urusan kamu sama Papa nanti,” jawab Mauza, lalu ditimpali oleh perempuan di sebelahnya.
“Betul, Mbak. Kedua mempelai malam ini punya tujuan yang beda. Kalau untuk wanita, biasanya akan ditanya-tanya sama ayahnya tentang kemantapan hati putrinya untuk menikah. Kalau yang laki-laki, dia datang ke sini sebagai makna kesiapan pernikahan sekaligus membawa seserahan,” ujar wanita tersebut memaparkan.
Zunaira dan Mauza ber oh ria.
Tak berapa lama, datang sepasang suami istri bergandengan tangan dan membuat si pelukis henna tersebut sontak menoleh. “Ah ya ampun, mimpi apa aku semalem ketemu artis di sini. Aku mau minta foto pokoknya!” ujarnya sangat antusias.
“Bayar lima ribu, Mbak!” jawab Zara membuat semuanya tertawa.
“Jangan ke mana-mana. Di sini aja dulu. Kalau mau turun panggil aku,” pesan Rayyan sebelum pria itu kembali turun. Membantu keluarganya menyambut para tamu.
Zara duduk gabung dengan yang lain. Wanita berperut besar itu mengusap-usap perutnya yang sedari tadi terus bergerak. Glabak-glubuk tak karuan, rasanya seperti hendak brojol saat ini juga.
“Kenapa, Kak?” Mauza bertanya mengenai kondisinya.
“Udah nggak karuan rasanya, Za. Sesak napas, susah tidur, dua-duanya aktif banget.” Zara beristigfar sambil menggelengkan kepala. Tak terbayang jika bayinya lahir dan tumbuh menjadi anak balita, akan seperti apa kelakuan mereka? Pasti tidak mau diam.
“Sepertinya kebanyakan makan es batu,” celetuk Mauza. Membuat Zara yang awalnya sudah lupa, kini jadi teringat makanan itu lagi.
“Ada memangnya, Za?”
“Nyesel gue ngomong,” sesal perempuan itu.
“Kamu sendiri udah positif belum?” Zara menyinggung Mauza karena sebulan lebih pernikahan. Dia santai saja bertanya demikian pada wanita itu karena Mauza bukan tipe orang yang baperan. Kecuali kalau lagi cemburu.
Namun yang ditanya malah memanyunkan bibir. “Aku tadi udah cek, tapi belum berhasil,” ujarnya. “Yang paling kesel, baru aja di cek malah langsung kedatangan palang merah. Oh God ... sesuatu banget rasanya. Pantesan lagi gampang badmood.”
“Nggak papa, masih sebulan juga,” Zara menanggapi. “Boleh khawatir tapi nanti kalau sudah setengah tahun ke sana, padahal aktif dan nggak pernah pakai kontrasepsi. Baru deh, kalian dua-duanya periksa. Sekarang nikmatin aja dulu masa pacarannya. Soalnya ntar kalau udah kayak aku, dah nggak bisa ngapa-ngapain.”
Mauza membenarkan dan setuju ucapan kakak iparnya. Tentu kondisinya tak bisa disamakan dengan wanita itu yang apa-apa harus serba cepat. Sat-set, das-des, bruk dan gol.
Sebab selain diburu usia, Zara memang harus secepatnya hamil karena ada banyak orang yang sudah sangat mengharapkan keturunannya sebagai pewaris. Terutama keluarga Miranda.
Baru saja dibicarakan, wanita itu sudah muncul di sini. Wanita berpakaian sangat elegan tersebut menggerutu sambil melemparkan sepatunya yang katanya menyakitkan.
__ADS_1
“Ada apa sih, Mam? Datang-datang langsung tegang uratnya,” tanya Zara.
“Sepatu mahal nggak jaminan nyaman dipakai. Tahu gitu nggak saya beli sepatu ini. Buang ajalah.”
“Ya nggak papa Onti, buang aja. Nanti biar aku yang mungut, hahaha,” sahut Mauza dengan senang hati. Lumayan, dia bisa dapat satu unit motor kalau berhasil menjualnya.
“Ambillah!” Miranda tak peduli, “ehz calon pengantinnya kok nggak turun? Makanya saya nyamperin ke sini.”
“Nggak boleh katanya, Onti. Bolehnya besok kalau sudah akad,” jawab Zunaira.
“Oh, gitu ceritanya?”
Zunaira menyunggingkan senyum, “Iya Onti ....”
“Maaf nggak tahu. Tahunya cuma tempe.”
“Mam! Mami!” seru Mike dari bawah.
“Mami di atas ini, sama ciwi-ciwi. Kamu di bawah aja, laki-laki nggak boleh ikutan!” seru Miranda.
“Nggak mau, ah. Mike mau nyusul aja!”
“Di bawah aja sama Papi. Ini tempatnya perempuan!”
“Nggak mau, aku mau sama Mami!” Mike tak mau mendengar.
Belum sempat Miranda menjawab lagi, kini Mike sudah ada di atas. Menunjukkan kedua pipi cap lipstiknya kepada semua orang sembari mengadu, bahwa dirinya baru saja di ciumin sama tante-tante gendut yang gemas dengannya.
“Itu, yang pake baju warna kuning.”
“Ohh ... Tante Dara?!” pekik semua orang tertawa.
Wanita itu memang dikenal sangat menyukai berondong-berondong bulat, manis, ganteng dan lucu. Maka tak heran jika dia menyukai Mike.
“Gimana Om Alif nggak marah, istrinya seneng banget bikin orang cemburu,” kata Mauza.
Untung yang dicium Mike. Kalau bapak-bapak, dijamin bisa perang dunia ke delapan.
Di tengah-tengah mereka bercanda, menyusul Sakira dan maminya ikut bergabung. Suasana semakin bertambah ramai karena Mike tak suka dengan kedatangan Dara ke sana. Bocah tersebut meminta maminya untuk menghajar orang yang sudah berani mencium pipinya itu.
“Berani-beraninya kamu cium anak saya, Bu!” ucap Miranda kepada Dara, “gelut yuk!”
“Ayok!” tantang Dara.
Perkelahian pun tak terelakkan. Kedua tante-tante sosialita tersebut saling adu silat. Tentu hanya berpura-pura saja. Mereka hanya ingin menghibur. Berbagi sedikit kebahagiaan dengan kelucuan mereka.
Dan di saat keseruannya, Zunaira mendapatkan pesan dari Calon Mempelai laki-laki.
Mas Kulkas: lagi pada ngapain? Berisiknya kedengaran sampai ke bawah.
Nai pun segera membalas.
__ADS_1
Zunaira: biasa perempuan. Lagi ngerumpi.
Mas Kulkas: nggak bisa turun sebentar aja?
Zunaira: nggak boleh katanya.
Mas Kulkas: sedikit pun?
Zunaira: ya!
Mas Kulkas: biar apa?
Zunaira: mana aku tahu?
Mas Kulkas: ya sudah. Foto saja keadaanmu di situ.
Zunaira: juga nggak boleh.
Mas Kulkas: sial.
“Dih, marah.” Nai membatin sambil menahan tawa.
Zunaira: kamu sendiri lagi ngapain di bawah?
Mas Kulkas: mau VC?
Zunaira: eh, jangan! Nggak boleh juga.
Mas Kulkas: bolehnya apa?
Zunaira: boleh semuanya besok.
Mas Kulkas: aku tunggu kata-katamu yang ini.
Muka Zunaira memerah seperti tomat. Dia merasa sayangnya ke dia udah pake banget.
Pesan-pesan Andrea memang terlihat biasa saja. Namun terasa spesial karena semua pesan itu meluncur dari ketikan jari Si Dingin. Sesuatu yang sangat langka bukan?
Belum sempat menormalkan lagi detak jantungnya, Nai kembali mendapatkan pesan dari pria itu.
Mas Kulkas: keluar sebentar. Aku di depan. Dekat gerbang.
“Kasihan juga kalau aku nggak keluar. Sebentar aja gapapa kali ....”
Zunaira bertindak nekat. Selagi semua orang sibuk bercanda dan tak terlalu mempedulikannya, diam-diam gadis itu berjalan menuju ke balkon. Di sana, Nai melihat pria itu tengah berdiri menatapnya. Dia terlihat sangat gagah dan berwibawa memakai baju adat beserta topinya.
“Ganteng banget!” pujinya tanpa dia sadari.
♧♧♧
Bersambung.
__ADS_1
Yuk ramein komennya biar semangit.