Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Bad Mood


__ADS_3

193


Sammy seperti laki-laki pada umumnya. Dia tidak mempunyai banyak kosakata untuk mengungkapkan suatu hal yang bergejolak dalam benaknya, ketika tengah mendapati suatu kenyataan. Tidak perlu lagi ditanya bagaimana perasaannya saat ini. Mata berembun nya sudah dapat membuktikan bahwa dia begitu luar biasa. Seperti sedang jatuh cinta lagi.


“Kamu nangis ...” ucap Mauza setelah dia melepaskan diri dari dalam pelukan.


“Nggak. Siapa yang nangis,” elaknya. Kemudian bergerak untuk kembali merengkuh istrinya lagi. “Aku seneng banget, hari ini Za. Nggak nyangka.”


Malam itu, keduanya lebih banyak di kamar. Satu pun dari mereka, belum ada yang membuka suara tentang kabar bahagia tersebut lantaran terlalu bingung, bagaimana cara mengabarkannya.


“Sebaiknya kita ke dokter dulu,” kata Mauza. “Baru setelah itu, kita umumin.”


Mereka pun pergi keesokan harinya. Ke rumah sakit yang biasanya mereka datangi dan kembali bertemu dokter yang sama seperti kemarin lalu.


“Pagi Pak Sammy, Bu Mauza. Kita ketemu lagi,” sapa dokter itu.


“Pagi juga, Dok,” jawab mereka bersamaan seraya menghempaskan tubuhnya di kursi yang disediakan.


Dokter kembali mengatakan, “Gimana? Mau konsultasi atau mau program?”


Mauza tersenyum malu, “Mau periksa kandungan, Dok.”


Mendengar hal tersebut, dr. Farel spontan berjingkat dan berkata, “Lho, diam-diam udah positif aja?”


“Iya, saya cek kemarin sore pakai testpack. Dua-duanya positif.” Mauza menunjukkan hasilnya.


“Program di mana sebelumnya?”


“Alami, Dok,” jawab Sammy.


“Masyaallah, luar biasa. Kalian adalah orang-orang terpilih,” puji dr. Farel. “Ya sudah, langsung saja kita periksa.”


Seorang suster membantu Mauza naik ke atas brankar. Di sana, Mauza mulai diperiksa. Perkiraan janin masih berusia empat atau lima minggu karena baru terdapat kantong dan titik kecil saja. Bahkan belum terdengar denyut jantungnya. dr. Farel mengatakan demikian umum terjadi karena usianya masih sangat muda.


“Nggak apa. Biasanya DJJ akan terdengar di usia kehamilan delapan minggu,” tutur dr. Farel menjelaskan. “Yang penting jaga kondisi. Makan-makanan yang banyak mengandung asam folat dan jangan sampai stres.”

__ADS_1


“Untuk ngurangin mualnya, Dok?” Mauza bertanya.


“Nanti saya kasih resep obatnya, ya.”


“Baik, terima kasih, Dok.”


Sammy dan Mauza keluar setelah mereka saling menjabat tangan dengan cara berbeda.


♧♧♧


“Habis dari mana kelen?” tanya Umar pada saat mendapati keduanya turun dari mobil.


“Kepo kamu, Mar,” jawab Mauza yang sontak disahuti oleh saudara iparnya, Alma.


“Iya, Umar emang kepo emang kayak emak-emak.”


“Heh, jangan buka aib suamimu. Bisa kena laknat!” Umar lantas berang.


“Kaulah yang kena laknat karena marah-marah terus setiap hari,” balas Alma tidak kalah galak. Begitu memang seharusnya menghadapi suami yang garang, supaya kaum perempuan tak mudah ditindas.


“Kapan datang, Mar, Al?” tanya Mauza duduk di samping Alma.


“Barusan, Za. Lima menitan lah kira-kira.”


Ya, seperti biasa, Alma dan Umar pasti akan mampir ke sini paling banyak, seminggu tiga kali. Buat apalagi kalau bukan untuk numpang makan?


Demikian yang selalu Mauza lihat setiap kali mereka datang. Masih mending kalau mereka bawain mamanya oleh-oleh. Lha, sering-sering malah bikin repot banyak orang. Meresahkan masyarakat setempat saja, terutama penghuni rumah asli.


“Dua-duaan mulu, nggak kerja lu, Mut?” Umar bertanya kepada pria itu yang tengah menyulut benda berasap.


“Nggak, habis nganterin bini ke dokter,” jawab Sammy.


“Dah gol kamu, Mut?”


“Iyalah! Mang kamu doang yang bisa?”

__ADS_1


“Serius lu, Za?” kali ini tatapan sepasang suami istri itu mengarah ke Mauza.


“Iya, doain kami supaya sehat terus, ya!” katanya membuat Alma spontan memeluknya. Sebagai saudara, dia ikut merasakan kebahagiaan saudaranya.


♧♧♧


Kabar kehamilan Mauza sudah sampai ke semua anggota keluarga Al Fatir. Bahkan sudah sampai ke telinga keluarga Zara.


“Tuh kan, aku bilang juga apa. Nggak salah kan, kemarin aku kirimin kamu tespack,” ucap Zara saat dia kembali terhubung dengan Mauza di sambungan telepon.


“Thanks ya, Kak. Udah jadi salah satu orang yang paling care buat aku.”


“Harus dong, Za. Karena kamu juga pernah jadi orang yang paling antusias saat aku mengalami hal yang sama,” balas Zara. “Gimana kata dokter hasilnya? Aman-aman aja kan?”


Mauza pun menjawab semua yang disampaikan oleh dokter kepadanya beberapa saat yang lalu. Bahwa semuanya tampak baik-baik saja.


“Ada sedikit problem, kalau janin aku tuh belum berkembang. Tapi itu nggak masalah kata dr. Farel, karena menurut usia, memang belum waktunya.”


“Oh iya. Ditunggu aja, Za. Jangan dibuat stres, ya. Stay positif.”


“Iya, Kak. Betewe makasih udah mau nampung air dari ember bocor ini.”


“Ada-ada aja kamu.” Zara terkekeh pelan.


Zara menoleh setelah dia menutup panggilannya. Ya, ada yang sedang menunggunya semenjak tadi.


“Sampai di mana tadi ya, By?” tanya Zara pada sang suami yang tampak kesal. Sebab perjalanannya yang hampir tiba ke tepian, harus terputus karena panggilan telepon dari adiknya sendiri.


Rayyan berdecak. “Udah nggak mood,” katanya.


“Aku nggak enak kalau nggak angkat telepon. Siapa tahu penting. Mau disalahkan juga dia nggak bakal tahu.”


Rayyan balik badan. Dia marah sekali kepada adiknya. Awas kamu Mauza, batinnya sangat kesal.


Zara tersenyum. Kalau sudah begini, itu pertanda bahwa dialah yang harus bekerja keras.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2