
87
Zunaira merebahkan dirinya di ranjang setelah selesai meminum obat. Di sisi nya, ada Mama yang selalu menemani dalam keadaan apapun.
Terhitung tiga hari Zunaira bisa tidur di kamar ini lagi semenjak kepulangannya dari rumah sakit.
“Istirahat, ya. Biar Mama di sini, nemenin kamu tiduran,” kata Vita menyelimuti anak bungsunya.
“Makasih, Ma,” jawab Zunaira. Sebenarnya dia sudah merasa lebih baik dan sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Tetapi sepertinya mama masih mengkhawatirkan keadaannya, sehingga beliau masih menyarankannya untuk banyak beristirahat.
“Sampai sekarang Mama belum mengembalikan ponselku. Aku ingin tahu gimana kabar Kak Sammy sekarang. Pasti dia sakit hati sekali dengan ucapan Kak Umar waktu itu.”
Zunaira ingin mengirim pesan sekadar untuk meminta maaf. Tetapi, bagaimana caranya?
“Pasti Kak Zara juga sudah tahu masalah kami. Kasihan Kak Sammy kalau dia di pecat gara-gara aku.”
“Kenapa?” tanya Vita melihat anaknya sedang melamunkan sesuatu. “Ada yang Zunai pikirin? Nai bisa cerita sama Mama.”
Namun Zunaira menggeleng. Dia sedang tak ingin bicara kepada siapapun karena sudah tidak ada yang dia percayai lagi saat ini, termasuk mama sekalipun, tepatnya semenjak kejadian itu. Hatinya masih terlalu rapuh untuk dilukai lagi.
Zunaira justru memejamkan mata. Meski tak dapat dipungkiri, Vita dapat mengetahui kepura-puraannya.
“Zunai masih marah sama Papa Mama?” Vita bertanya lagi meski tetap tak mendapat jawaban. Namun dia tetap akan menguraikan semua alasannya agar sang anak dapat mengerti kenapa mereka bisa bersikap seperti ini.
“Mama sama Papa minta maaf, ya?” Vita mengusap kepala anaknya yang dia sayangi separuh jiwa dan raga selain suaminya sendiri.
“Kamu harus tahu, kami hanya orang tua yang terlalu khawatir ....
“Khawatir kamu salah memilih teman.
“Khawatir kamu diperlakukan tidak baik oleh orang lain yang tidak kami kenal setelah kami bersusah payah membahagiakanmu dengan banyak keringat dan air mata.
“Bukan untukmu saja, Kakak-kakak yang lain juga Mama perlakukan sama seperti itu.
“Karena kami sayang anak-anak kami.
“Karena kalian adalah cinta kami semuanya.
”Sekali lagi Mama sama Papa minta maaf kalau kami keterlaluan ....
“Tidak ada lain yang kami lakukan selain ingin yang terbaik untukmu, untuk kalian ....
“Hanya saja, mungkin cara kami yang salah.
“Mama sama Papa janji akan selalu belajar jadi orang tua yang kalian inginkan.”
“Karena Mama sayang Nai ... sayang sekali.”
Vita beranjak. Dia meletakkan ponsel anaknya yang tidak ia apa-apakan apalagi dia buka selama tersita beberapa hari ini.
Ya, kejadian ini membuat Vita lebih banyak belajar lagi, bahwa setiap manusia mempunyai batasan privasi. Dia tidak punya hak untuk mengetahui banyak hal walaupun orang itu adalah anaknya sendiri.
Vita dan Yudha hanya ingin memberi sedikit hukuman saja padanya.
Wanita itu segera pergi dari sana, membawa serta isak tangisnya agar sang anak tak sampai melihat kelemahannya.
Meski dibohongi dan tidak dipercayai oleh anaknya adalah hal yang paling menyakitkan bagi seorang Ibu. Tetapi dialah manusia yang paling pandai menyembunyikan rasa kecewa. Sosok ibu adalah sosok yang selalu mempunyai stok maaf begitu banyak, melebihi kesalahan yang anak-anak mereka perbuat.
Usai Mama pergi, Zunaira bangkit dari tidurnya. Dia pun menangis tergugu. Apa dia sudah terlalu berlebihan mengira Mama dan Papa sejauh itu?
Zunaira menoleh ke samping. Dia melihat ponselnya sudah tergeletak di atas nakas. Tapi kali ini ... benda pipih itu sudah tidak penting lagi baginya. Karena yang terpenting sekarang adalah mengejar Mama untuk mendapat maaf darinya.
“Mama!”
Hingga Vita pun yang sedang menangis bersama suaminya di tangga menoleh cepat. Mereka melihat anak bungsunya menghampiri dengan tangis teraduk-aduk. Tubuh kecil Zunaira menyela mereka dan memeluk keduanya.
Tanpa mengatakan apapun, Vita dan Yudha mengerti bahwa anak ini sudah menyadari dan menyesali kekeliruannya.
“Nai juga sayang Mama Papa ....” katanya beberapa saat kemudian.
Berikut adalah berakhirnya kesalahpahaman mereka. Meski rasa percaya mungkin tak lagi sama. Itu sangat wajar karena setiap orang membutuhkan waktu.
__ADS_1
∆∆∆
“Itu pengharum mobilnya bisa dibuang aja, nggak?” tanya Zara.
“Lho, kenapa?” Rayyan heran sendiri dengan permintaan aneh ini. Sejak kapan dia tidak menyukai barang yang dia beli sendiri?
Zara menyebutkan alasannya, “Nggak enak baunya, bikin eneg.”
“Bukannya kamu yang beli?”
“Iya, tapi sekarang udah nggak suka lagi.”
Rayyan melepas pengharum itu dari depan lubang AC mobil, kemudian meletakkannya ke laci kecil yang tersedia di depannya. Dia sedang tak ingin pusing karena sedang fokus menyetir.
Tak berapa lama, mereka pun sampai di gerbang kompleks perumahan Papa.
“Selamat pagi, Mas Rayyan, Mbak Zara ...” sapa seorang security setia yang sudah mengabdi di sini puluhan tahun.
“Pagi juga, Pak ....” balas keduanya. Saat turun, Rayyan memberitahukan kepada Zara bahwa security inilah yang dulu sering mengajaknya main. Karena pada saat ia kecil, Mama lebih sering sibuk dengan adik-adik.
“Oh, ya?” kata Zara menanggapi, “udah lama banget berarti?”
“Sudah puluhan tahun, Mbak. Sudah kayak keluarga sendiri,” jawab security tersebut.
Zara hanya mengacungkan jempol. Namun di saat Ray sedang tak fokus dengan mereka berdua, Zara menyelipkan beberapa lembar kertas lipatan bergambar pahlawan ke tangan pria itu.
“Makasih, Mbak ....” wajah beliau sangat kegirangan.
Zara mengangguk dan tersenyum, lalu masuk mengikuti sang suami.
Sesampainya di dalam, mereka langsung menemukan Mama, Zunai dan Mauza langsung beranjak dari duduknya untuk menyambut. Mereka tampak sedang bersantai mengobrol sembari ngemil makanan.
“Zunai udah sehat?” tanya Zara pada saat mereka bersalaman.
“Udah, Kak,” balai Zunaira tersenyum.
“Syukurlah.” Zara duduk di antara mereka.
“Ya Allah suami ... nanti jangan lupa sikat gigi, ya. Takutnya yang orang denger ceramah kamu nanti bisa pingsan,” kata Zara membuat semua orang tertawa.
“Enak.” Rayyan nyengir tanpa merasa berdosa. Dia sedang lapar saat ini dan mengira bahwa apapun dapat masuk ke dalam perutnya. “Ma, Papa mana?” Ray bertanya lagi karena belum mendapat jawaban.
“Eh, iya. Papa udah berangkat, dia ada janji sama orang katanya di Cilincing,” jawab Vita.
“Jauh amat?”
“Iya, nggak tahu dia janjian sama siapa. Mama nggak sempat nanya. Opa sama Oma biasa, mereka udah berangkat ke toko oleh-oleh Haji, kalau Si Umar ke Cafe,” jelas Vita secara rinci.
“Ada makanan apa?” Ray beranjak menuju ke belakang.
“Ada yang mau numpang sarapan rupanya,” Vita pun mengikuti anaknya untuk membantu mengambilkan sarapan.
Zara menyahuti, “Kangen sama masakan Mama katanya.”
“Tapi pagi ini bukan Mama yang masak, Mauza yang lagi rajin.”
“Iya, dong,” Mauza nyengir membanggakan dirinya sendiri, “kan lagi belajar jadi istri yang baik.”
“Mantap, Za.”
“Mantap lah, Kak,” Mauza menanggapi, “omong-omong Kak Zara nggak ikut sarapan juga? Apa lagi diet?”
“Lagi males makan,” jawab Zara demikian adanya, “bau kerupuk jengkol aja tadi aku mual.”
“Eh?” Mauza cepat menangkap garis besarnya. Dia menatap kakak iparnya lamat-lamat meneliti apa Zara mengerti maksud kedua bola mata penuh tanya ini, “Kakak lagi ...?”
“Belum dicek,” jawab Zara langsung tersambung seolah keduanya bisa terhubung lewat telepati. Lain dengan Mauza yang hanya kebingungan, tapi juga tak berani untuk bertanya.
“Sebentar-sebentar. Kakak tunggu di sini,” gadis itu gegas beranjak dari tempat duduknya. Namun kemudian merentangkan satu telapak tangannya kepada iparnya, “minta uangnya hehe ... yang banyak juga gapapa.”
“Kamu itu mau ke mana, sih?” Zara bertanya sambil merogoh dompetnya. Lalu menyerahkan uang padanya.
__ADS_1
“Mau ke depan situ sekalian jajan.”
“Aku juga mau ikut,” pinta Zunaira.
“Ngapain? Orang cuma sebentar,” tanya Mauza kepada sang adik.
“Nai mau beli itu ....” jawab Zunai, dia juga berpamitan pada Zara, “aku tinggal sebentar ya, Kak.”
Mauza bertanya lagi karena kurang jelas, “Beli apa?”
“Itu ... masa nggak tahu.” Zunaira terlalu malu untuk memperjelas.
“Oh ... pembelet? Ah, gitu aja kamu nggak bisa ngemeng.”
“Jangan keras-keras ih, Kak.”
Zara menggelengkan kepala melihat interaksi mereka berdua yang terus saja ribut sepanjang jalan. Dibandingkan keluarga lain, seorang adik rata-rata akan lebih nakal daripada kakaknya karena beberapa faktor penyebab. Tapi anehnya keluarga ini berkebalikan. Adik kecilnya lah yang selalu banyak mengalah demi kakaknya yang nakal dan cerewet.
“Mauza mang nggak ada lawan.”
Hanya sebentar mereka pergi, mereka sudah kembali dengan membawa beberapa kantong plastik. Tak hanya membeli testpack, Mauza dan Zunaira juga membeli susu hamil dan camilan buah yang sangat banyak untuk dirinya.
“Ya ampun, Za. Belum tentu dugaanmu bener kamu beliin ini segala.” Zara penuh tanda tanya saat menerimanya. Rupanya Mauza adalah adik pertama yang paling antusias menyambut kabar bahagia ini.
“Gapapa, kalau belum, disimpan aja dulu. Terus coba lagi, coba terus sampai berhasil hehehe ....”
Mauza menyerahkan alat itu, dia membelinya lima stick sekaligus. Sebab satu saja tak akan cukup untuk meyakini hasil pastinya. “Nih, Kakak bisa coba sekarang. Di jamin akurat, kok.”
Serta Merta Mauza mengantarkan kakak iparnya ke kamar atas. Ke kamar di mana dulu Rayyan sering menghabiskan waktunya di sana.
Zara masuk ke dalam kamar mandi. Harap-harap cemas, dia menaruh urinnya di wadah kecil untuk kemudian dimasukkan lima tespack yang sudah dia buka. Lalu menunggu dengan menutup matanya.
“Kak, udah belum? Kok lama?” tanya Mauza setia menunggunya di depan.
Zara membuka pintu. Sedangkan dia sendiri masih duduk di atas closet dengan kaki gemetaran.
“Gimana? Udah belum?” tanya Mauza lagi. Gadis itu memperhatikan wajah iparnya yang terlihat memucat. Sangat kentara karena dia sedang tak memakai make up hari ini.
“Za, kamu yang cek aja, deh,” kata Zara akhirnya lantaran takut akan hasilnya.
Mauza segera mendekati dan memperhatikan lima benda itu. Hingga beberapa detik kemudian, Mauza membuat Zara terperanjat. Sebab gadis itu berteriak sangat keras ketika mendapati dua garis merah meskipun masih terlihat samar.
“Wahhh! Selaaammmaaattt! Aku bakal punya ponakan! Punya ponakan!?”
Zara melongo. Dia haru hingga air matanya langsung jatuh saat Mauza menubruk tubuhnya cukup keras.
“Ini aku nggak mimpi, kan?” Zara mencubit-cubit pipinya dan punggung tangannya.
Mauza melepas pelukannya, “Serius. Ini Kakak nggak mimpi. Kak Zara beneran hamil, aku bakalan punya keponakan, yeay! Selamat, ya!”
“Kakak nggak bisa berdiri, Za ....” ucap Zara lirih.
“Ya udah, jangan dipaksain. Tetep di sini, jangan ke mana-mana ya, Kak. Takutnya nanti nggak seimbang terus jatuh.”
Mauza gegas keluar berniat untuk memanggil Rayyan. Namun baru saja di pintu, dan hendak kembali berteriak memanggilnya, orang itu sudah ada di depannya bersama Zunaira.
“Kak-”
“Ada apa kamu teriak-teriak?” tanya Rayyan menghentikan mulutnya bersuara. Pria itu panik sampai meninggalkan sarapannya setelah mendengar jeritan keras Mauza dari dalam sana. “Zara mana?”
Mauza tak mau menjawab pertanyaan itu karena ingin segera menyampaikan kabar bahagia ini, “Selamat, ya! Akhirnya kamu jadi seorang ayah, Kak!”
“M-maksudmu?”
Belum sempat Mauza memperjelas, Ray segera masuk ke kamar dan menutup pintunya sangat keras hingga tubuh kedua adiknya sampai berjingkat.
BRAKKK!
Lebih parahnya lagi, pintu langsung dikunci setelahnya.
“Ugh! Di situ saya merasa sedih. Kalau kata Umar sih, sempakk,” kata Mauza sangat dongkol.
__ADS_1
Bersambung.