Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
S2-Mungkin Sekarang


__ADS_3

172


Berenang dengan Umar adalah kegiatan yang sangat menyebalkan bagi Alma. Seenaknya saja pria itu menciumnya, memeluknya di tempat itu bagaikan dunia miliknya seorang. Terang saja Alma kaget, ia tak pernah diperlakukan demikian sebelumnya apalagi di tempat yang terbuka. Berkebalikan dengan Umar yang tampak percaya diri dan tak sedikit pun merasa malu.


Apakah Umar sudah sering melakukan hal ini kepada wanita lainnya juga?


Pasalnya bila diperhatikan, sepertinya Umar adalah pria yang sangat berpengalaman. Ah, Alma benar-benar tak tahu dan tidak mau tahu bagaimana masa lalu Umar. Ia hanya berharap, semoga apapun yang dilakukan oleh suaminya itu di masa lalunya, tak berdampak buruk bagi kehidupan mereka ke depan. Karena Alma pun, telah berbesar hati menerima Umar seperti apapun adanya.


Mereka sudah kembali naik ke permukaan. Alma duduk di kursi kolam dengan baju yang basah kuyup. Sehingga mencetak jelas tonjolan dan lekukan tubuhnya yang seksi.


Sedangkan Umar, dia hanya mengenakan bawahan saja karena bajunya sudah kotor. Memamerkan dada bidang yang sempat memeluknya tadi saat mereka berada di kolam. Diam-diam, Alma menikmati momen tersebut meskipun dia tak mengatakannya. Hanya saja, andai bisa, Umar tak melakukannya lagi di tempat ini. Ini memalukan sekali baginya.


“Udah pernah, ya?” tanya Alma. “Sama perempuan lain?”


“Udah pernah apa? Jangan nanya aneh-aneh. Nanti kalau dijawab bikin kesal,” jawab Umar meneguk jus yang Bi Yati sediakan. “Yuk masuk, yuk! Mandi dan ganti bajumu. Kamu bisa sakit.”


“Salahnya siapa?” Alma bertanya lagi.


“Salahmu sendiri kenapa nggak sadar kalau lagi dikerjain. Kamu itu terlalu polos, Alma. Kalau begitu caranya, kamu bisa gampang tertipu sama orang jahat.”


Alma sejenak terdiam. Kalau dipikir-pikir memang ada benarnya. Selama ini, kebaikannya sering dimanfaatkan oleh banyak teman. Paling banyak adalah soal utang-piutang.


Namun sebisa mungkin, ia tidak akan mengungkitnya atau repot-repot mendoakan yang buruk-buruk, terlebih membalas perbuatan mereka. Alma percaya, kelak mereka pasti akan mendapat balasannya masing-masing sesuai perbuatan yang dilakukannya.


“Kenapa diam?” tanya Umar, “merasa?”


Alma mengangguk saat dilempari pertanyaan oleh Umar barusan.


“Ya iyalah. Kalau kamu nggak o on, eh polos, mana mungkin kamu rela ngasih uang segitu banyak ke laki-laki dengan mudahnya.” Umar menyinggung uang 100 juta yang kemarin Alma berikan. Tak hanya itu, Umar juga mengubah kata polos menjadi oon. Demikian membuat Alma ingin sekali mencakar wajahnya. Geram sangat.


Namun, Alma tetap elegan saat disinggung dengan pernyataan itu. “Kalau itu beda konteksnya. Kita suami istri, Bang. Aku kasih uang itu untuk membantu bayarin rumah yang nantinya akan kita tempati sama-sama.”


“Memangnya apa yang sudah 'dia' berikan selama ini? Sampai-sampai kamu sebegitu mudahnya memberikan bantuan uang yang nominalnya nggak sedikit.” Umar sadar diri, selama ini ... dia tak memperlakukan istrinya dengan baik seperti seharusnya.


“Apa berbuat baik itu harus menimbang dulu, pantas atau tidaknya dia mendapatkan bantuan hanya karena kita melihatnya buruk?” tanya Alma. “Kalau dia hampir mati dan nggak ada orang lain lagi? Gimana?”


“Kupikir begitu. Tergantung bagaimana keadaannya dan perilaku mereka terhadap kita. Kita harus berhati-hati dan mawas diri karena yang aku tahu, nggak semua orang di dunia ini baik dan tahu diri.”


“Kalau Abang merasa tidak ada satupun orang di dunia ini yang menurutmu baik, kenapa nggak kita saja yang menjadi salah satunya?” jelas Alma, “sama halnya aku, kalau Abang nggak mau memperbaiki hubungan kita, maka akulah yang akan memulainya.”

__ADS_1


“Dengan cara apa?” tanya Umar segera.


“Apa saja.”


“Termasuk memberikan apapun yang dia mau?”


Alma mengangguk.


“Apapun?” lagi, Umar memastikan.


“Ya, kenapa tidak? Abang berhak atas diriku.”


“Baiklah, kalau gitu kita akan memulainya sekarang juga.” Umar menaikkan alisnya dan tersenyum jahil. Alma dapat menangkap sinyal pikiran yang ada di otak pria itu saat ini. Yang sebagian isinya adalah noda, daki, debu, karat dan kotoran buaya.


“Sebentar. Sepertinya aku harus pikir-pikir dulu.” Alma termenung sesaat. “Memangnya apa yang sudah dia berikan selama ini, sampai-sampai aku harus repot memberikan apapun yang dia minta?” gadis itu tersenyum mengejek setelah berhasil mengembalikkan kata-katanya dan membuat Umar terdiam. Kalah telak.


“Sial,” makinya pelan saat Alma beranjak.


Tidak. Dia tidak akan melepaskan Alma lagi malam ini. Begitu janjinya.


♧♧♧


Umar melepaskan kausnya. Suatu kebiasaan jika dia berada di kamar saja. Dan kali ini, dia tidak akan menjaga image nya lagi di hadapan Alma seperti hari kemarin. Mulai sekarang, Alma harus menerima semua keadaannya yang suka bertingkah sedemikian rupa.


“Aku biasa begini kalau di kamar, Al. Panas,” kata Umar pada saat melihat tatapan horor dari gadis itu. “Nggak peduli misal pun kamu nggak suka. Tapi kalau nggak suka payah, sih. Karena berarti kamu punya kelainan,” sambungnya membuat Alma lantas menyela.


“Sembarangan aja kalau ngomong.”


“Kan biasa cewek-cewek suka cowok yang bertelanjang dada.”


“Aku nggak terlalu meskipun aku cewek seribu persen,” sanggah Alma.


“Masa?” Umar tak percaya. Oleh karenanya, ia meraih tangan Alma untuk meletakkannya di atas perutnya, “Coba ....”


Alma pun merespon, “Tuh, aku biasa aja kan?”


“Kalau yang ini,” Umar menarik lagi tangan Alma ke bawah sehingga gadis itu sontak menarik tangannya kembali. Kedua matanya membeliak meskipun kali ini Alma tak bersuara.


Jahil sekali abang tukang bakso ini, ya ampun!

__ADS_1


Alma geli sendiri dan membayangkan jagung bakar yang sempat ia sentuh tersebut.


Keduanya menghadap layar televisi yang menggantung di dinding. Di sana, ada tayangan seorang presenter yang tengah menjelaskan: seorang istri tega menusuk suaminya karena diketahui telah berselingkuh dengan sahabatnya sendiri.


“Sadis amat,” Umar bergumam pelan.


“Makanya jangan main-main sama perempuan,” sahut Alma serupa sedang mengancamnya. “Perempuan itu ajaib. Jika seorang pria memberikannya kasih sayang, maka dia akan memberikanmu rumah tangga yang bahagia. Sebaliknya, jika seorang pria memberikannya luka, maka dia akan membalas mu dengan memberikan prianya gunungan sampah atau kotoran.”


Umar mendelik dibuatnya.


“Tapi tenang, aku bukan perempuan yang begitu. Aku nggak diajarkan jadi orang yang pendendam. Jadi Abang aman-aman saja kalau berbuat seperti itu. Kecuali dapet surat cerai.”


Umar berdehem, sekadar menanggapi. Dia sedang tidak ingin membahas masalah perceraian. Karena sebait pernikahan pun, belum sempat mereka mulai.


“Ceritakan tentang masa lalu mu,” pinta Umar. Pria itu ingin mendengarkan kisah Alma selain masa kuliah yang pernah Mauza ceritakan. “Apa yang paling terkesan atau yang paling buruk yang pernah kamu alami.”


“Masa lalu aku semuanya indah, nggak ada yang jelek. Abi sama Umi mendidik kita jadi anak-anak yang bahagia.” Tidak seperti kemarin saat baru menikah denganmu, batinnya menambahkan.


“Kamu nggak pernah kerja di mana, gitu?”


“Abi nggak ngebolehin. Karena menurutnya, perempuan itu adalah tempatnya fitnah dan mereka lebih baik di rumah. Kalau Ais iya kerja bantuin Abi.”


“Memangnya nggak bosen nggak ada kegiatan?”


“Kenapa harus bosen?” kata Alma, “biarpun aku nggak kerja, aku selalu hadir di majelis-majelis ilmu.”


“Katanya lebih bagus di rumah.”


“Majelis ilmu perempuan dan laki-laki itu dipisah.”


“Usia kita bahkan sama. Memangnya di usiamu yang sudah sedewasa ini, kamu nggak ada keinginan buat dekat sama laki-laki?”


Umar hanya ingin mengetahui, apakah di antara mereka tidak ada kesamaan?


Sebab Umar merasa dirinya sudah terlalu lepas kendali. Dia pun tak habis pikir. Padahal, dia tak dibiarkan liar. Ia hidup bersama orang tuanya dan di didik baik-baik. Sama seperti anak mereka yang lain.


“Keinginan udah pasti ada, tapi aku nggak khawatir karena suatu saat, pasti akan ada masanya. Dan mungkin waktunya adalah sekarang ....”


Bersambung.

__ADS_1


Skip apa enggak, nih?😂


__ADS_2