
175
“Rupanya mobilmu yang tak sengaja aku tabrak?” Damian langsung bertanya begitu mengenali wajah pria yang baru saja menggedor kacanya. Yakni seseorang yang ditemuinya beberapa hari yang lalu di kota Tangsel.
“Maaf, istriku terus saja menggodaku, membuatku jadi kehilangan konsentrasi,” sambung Damian karena Umar masih saja membeku. Memperhatikan pria ini dalam sorot mata kelamnya.
Apa?! Istri dia bilang? Lalu, apa status Sarah baginya? Apakah Damian memang salah satu pria hidung belang yang gemar mempunyai banyak wanita simpanan?
Wanita di sampingnya turut berkomentar, “Maaf ... saya sudah mengganggu kenyamanan perjalanan Anda, Tuan.”
“Saya tidak mau tahu, kalian harus tanggung jawab. Panggilkan mekanik untuk datang ke rumah saya!” ujar Umar sangat tegas. “Saya beri kalian waktu 1x24 jam. Saya yakin, kalian paham konsekuensinya jika kalian lamban menanganinya.”
“Jangan khawatir. Mobilmu akan segera kuperbaiki. Berikan alamatmu!” sahut Damian.
Umar mengeluarkan kartu namanya untuk dia berikan kepada pria itu.
“Terima kasih, dan sekali lagi kami minta maaf yang sebesar-besarnya,” kata Damian sekali lagi.
“Di mana Sarah?” tanya Umar sebelum pria itu menutup kacanya kembali.
“Sebenarnya, aku malas menjawab pertanyaan tak penting yang tidak ada sangkut-pautnya denganku. Tapi aku akan menjawabnya daripada kamu penasaran,” jawab Damian membuat Umar naik pitam, namun sebisa mungkin ditahannya. “Dia sedang bersama anak kami di rumahnya. Kenapa kau menanyakannya? Kau menyukai mantan istriku?”
Pertanyaan itu terdengar mengejek di telinga Umar. Beruntung, ada Alma yang memanggil dan menghampirinya sehingga ia tak perlu susah-susah menjawab pertanyaan gila tersebut.
“Bang ...!” Alma menggandeng lengannya, “belum selesai?”
Umar tersenyum, “Sudah, Al. Yuk masuk mobil lagi.”
Alma mengangguk, keduanya pun melanjutkan perjalanan.
“Kenapa, Bang? Orang itu nggak mau tanggung jawab?” Alma bertanya. “Kok kelihatannya alot? Sampai Abang kelihatan marah begitu.”
“Mau, kok. Nanti ada mekanik yang datang ke rumah,” jawab Umar tersenyum dan mengusap kepala Alma.
“Apa yang dijaminkan sama orang itu? Takutnya mereka malah kabur.”
“Nggak ada yang ditinggal,” jawab Umar, “tapi tenang, aku kenal orangnya.”
“Oh iya?” Alma menanggapi antusias. “Kenal di mana?”
“Di Tangsel. Dia orang yang mengontrak di salah satu rumah Papa.”
“Oh ... bisa kebetulan banget, ya?”
“Hmmm.”
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Alma langsung melahap makanan favoritnya yang baru saja mereka beli. Membuat Umar bergidik melihatnya.
“Ihh, Abang kenapa? Kok kelihatannya kayak orang jijik?” Alma menyadari jika dirinya tengah diperhatikan sedemikian intens oleh suaminya.
“Kamu sadar, nggak? Berapa kalori yang kamu makan itu?”
“Nggak tahu, ah. Yang penting enak.” Alma cuek saja.
“Jangan terlalu sering makan junkfood. Kurang baik untuk ginjalmu.”
Umar tak sekacau yang dilihat oleh orang-orang. Adakalanya dia juga memperhatikan setiap makanan yang masuk ke dalam perutnya demi menjaga bentuk tubuhnya, kecuali jika sedang dalam mode reog. Menurut kejadian yang sudah-sudah, semua itu tak berlaku saat dirinya sedang dalam keadaan patah hati.
Sore itu, Umar terlebih dahulu memastikan istrinya tertidur pulas, sebelum akhirnya dia mencuri waktu untuk keluar. Berniat menemui seseorang. Siapa lagi kalau bukan wanita itu.
Ya, dia harus tahu pasti seperti apa sebenarnya keadaan Sarah. Dan mengapa pula Damian malah menggandeng wanita lain di dalam perjalanannya? Apakah Sarah sudah mengetahuinya? Atau mereka memang tidak pernah rujuk seperti yang dia kira selama ini?
Umar terlebih dahulu berpesan kepada Bu Yati bahwa dirinya akan pergi. Pula sebentar lagi akan ada beberapa orang yang datang ke rumah ini untuk memperbaiki mobilnya yang penyok. Gara-gara di seruduk dua sejoli yang tengah mabuk cinta.
“Jadi nanti ada mekanik yang datang benerin mobil?” wanita tua itu mengulang untuk memastikan, jika pendengarannya sudah benar.
“Iya, Bibi nggak usah bilang apa-apa ke mereka. Mereka sudah tahu apa yang mau dikerjain.”
“Terus kalau Mba Alma bangun nanya Mas Umar gimana?”
“Suruh telepon saya langsung.”
Umar pun pergi dengan masih mengenakan pakaian yang sama seperti tadi. Dia menuju ke jalan raya Bogor. Ke rumah Sarah yang pernah dia tinggali selama beberapa hari, tepatnya pada saat dia sedang dalam keadaan kacau dan punya banyak masalah.
Sesampainya di sana, Umar langsung menyelonong masuk membuka pintu gerbang. Secara kebetulan, ada Axel yang sedang bermain bola sendirian di halaman.
“Hai, Axel?” sapa Umar mendekatinya.
“Hai Om?” Axel tersenyum manis. Anak itu tidak takut karena sudah sering melihat Umar meskipun mereka belum saling mengenal.
“Di mana Mum, Boy?” Umar bertanya.
“Mum ada di lumah,” jawabnya. Kemudian berlari ke dalam untuk memanggil, “Mum! Mum! Ada olang di depan. Ada Om!”
“Om siapa, Sayang?”
“I dont know,” jawab Axel dengan gaya bahasanya yang masih terdengar kurang jelas.
Sarah yang tengah memasak pun seketika menghentikan aktivitasnya. Ia tak lupa mematikan kompornya untuk segera menemui tamunya tersebut. Yang tanpa diduga adalah Umar. Pria yang pernah ditolaknya karena berbagai alasan yang membingungkan.
“Kamu?” ujarnya segera begitu mereka bertemu. “Bukannya kamu udah janji nggak akan menemui aku lagi?”
__ADS_1
Sarah tak menyukai kehadiran Umar dirumahnya.
“Maaf aku ingkar janji. Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu,” jawab Umar, ia kemudian melanjutkan, “aku melihat Damian bersama seorang wanita tadi siang.”
Kedua bola mata Sarah nampak berkaca-kaca. “Jangan sok jadi pahlawan, Mar. Aku bahkan sudah lebih tahu daripada kamu.”
Sarah membalikkan tubuhnya. Wanita itu berani menghadap lagi setelah berhasil mengusap jejak-jejak kelemahannya tersebut.
“Atau kamu memang sengaja datang untuk mengolok ku, menertawakan ku, setelah apa yang sudah kamu lihat?” lanjutnya.
“Nggak,” sanggah Umar, “kupikir kamu belum tahu. Kalau sudah tahu ya, sudah.” Umar tak peduli.
“Kenapa, Mar?” Sarah menatapnya, “kalau mau tertawa, tertawa lah.”
“Seharusnya aku tertawa. Tapi aku justru kasihan melihatmu begini. Kupikir, itu karma yang harus kamu terima setelah kamu menyia-nyiakan orang yang begitu tulus mencintaimu.”
Umar tersenyum sarkastik. Ada rasa puas dalam hatinya karena rasa sakitnya akhirnya terbalas, tanpa ia harus bersusah payah mengotori tangannya. Bahkan dalam waktu yang secepat ini. Haha. Rasakan lah penderitaan mu, Sarah! Tahu, kan? Bagaimana rasanya diperlakukan sama sepertinya?
“Nikmatilah hari-harimu yang menyedihkan ini, wahai wanita tak tahu di untung!” Pria itu mencolek dagu Sarah sebelum pergi meninggalkannya.
Umar menoleh sekali lagi untuk melihat Sarah. Wanita itu pandai sekali berbohong, dia memaksakan diri untuk tetap tesenyum di hadapan anaknya. Dia berpura-pura ceria, padahal hatinya begitu hancur.
“Jalan lagi, Pak,” perintahnya kepada driver yang mengantarnya barusan. Secara bersamaan itu pula sang istri menelepon.
“Ada apa, Dek? Abang mu ini lagi jalan pulang,” kata Umar begitu panggilan terhubung.
“Habis dari mana? Kok pergi nggak bilang-bilang?” tanya Alma.
“Aku nggak mau bangunin kamu. Lagi pules banget tadi.”
“Iya, mungkin efek obat. Pertanyaanku belum dijawab, Abang habis dari mana?” Alma mendesak.
“Aku habis nyari kopi,” jawab Umar. Dalam hati, ia menyesali kebohongannya. Tetapi dia terpaksa melakukan itu agar Alma tak berpikiran macam-macam padanya. Toh, dia tak pergi untuk berkhianat dan tidak ada dalam pikirannya berniat demikian.
“Bener?” tanya Alma lagi seolah mempunyai firasat. Apa setiap istri akan seperti ini nantinya? Detail sekali.
“Bener.”
“Cepat pulang aku kangen ....”
Umar tersenyum. Dia senang mendengar Alma merindukannya.
“Iya, sebentar lagi sampai.”
Bersambung.
__ADS_1
Kalau ada typo kasih tahu ya?