
126
Andrea dan Zunaira berjalan membelah kerumunan orang-orang di sekitarnya, sambil sesekali menyapa tamu yang dikenal. Lantas menghampiri dua orang tua yang mempunyai wajah ramah. Ya, mereka adalah orang tua Andrea.
“Itu Zunaira,” ujar perempuan berbaju batik dan berkerudung merah itu tersenyum. Mereka sudah saling mengenal lantaran sebelumnya, orang tua ini pernah datang kemari bersama Andrea. Memperkenalkan diri kepada keluarga ini yang kemudian mengajak Zunaira untuk ta'aruf.
“Sudah lama di sini Tante?” tanya Zunaira sekadar basa-basi. Gadis itu tersenyum, dia mengulurkan tangannya.
“Nggak, kita baru lima menitan ya, Yah?” beliau menoleh, meminta pendapat dari suaminya yang masih bugar di usia senja. Kulitnya, matanya, rambutnya, semua menurun kepada Andrea. Hanya saja perawakannya lebih berisi, terutama di bagian perut. Ciri khas bapak-bapak pada umumnya.
“Iya, baru nempel di kursi,” Ibra menanggapi sang istri.
“Udah ketemu sama Papa belum, Om?” Zunaira bertanya lagi.
“Udah, tapi biarin aja kalau lagi sibuk sama tamunya. Nggak usah dipanggil-panggil, nggak enak.”
“Nai, tolong ambilkan aku minum,” bisik Andrea hampir tak terdengar.
“Ah iya, sebentar.” Nai berlalu, dia menuangkan jus jambu ke gelas lalu meletakkannya di nampan. Sesekali kedua bola mata itu melirik ke arah Mauza dan Sammy yang tengah saling menatap mesra dan tertawa di pelaminan.
“Emang sah-sah aja kalau kalian mesra-mesraan. Tapi kalau bisa jangan di tempat umum lah. Nggak enak dilihatnya. Terutama ....”
Nai melamun, Hingga tak sadar gelas yang di isi airnya harus tumpah karena kepenuhan. “Ya Allah!” pekiknya.
“Nai?” Vita yang melihat sontak buru-buru menghampiri dan meninggalkan tamunya yang sedang dia ajak bicara.
“Maaf, Ma. Nggak sengaja.”
“Iya, iya nggak papa, Nak. Takutnya kamu yang kena gelas pecah atau apa.”
“Cuma tumpah aja, kok.”
“Biar Mama bantu, ya.” Vita mengambil alih semuanya. Kebetulan, dia juga ingin menemui calon besannya sekarang.
“Bu Vita ....” sambut Ibu Wongso serta Pak Ibra Hirata pada saat wanita tersebut menghampiri. “Ini orang yang nggak pernah tua,” puji beliau. “Muda terus!”
Sementara yang dipuji tersenyum dan mengucap asma Allah. Karena tersebut adalah sebuah pemberian serta karunia dari Nya.
“Mau tahu rahasianya?” sahut Pak Ibra kepada sang istri.
“Apa tuh?”
“Perbanyak hubungan suami istri.”
Vita tergelak. Dia langsung menutup telinga anaknya sehingga Zunaira menyuarakan protes. Namun sayangnya tak dihiraukan.
“Itu sih maunya semua suami kayak gitu ya, Bu, ya?”
“Nggak papa, kalau masih minta sama kita kasih saja, Bu,” balas Vita beranggapan lain, “jaga-jaga.”
“Tuh, bener kata Bu Vita. Daripada saya minta sama orang?”
Bu Wongso mendorong kecil suaminya sambil menggerutu, “Enak saja kalau ngomong. Minta di sepit dua kali.”
__ADS_1
Lagi-lagi mereka tertawa, kecuali Andrea yang tetap datar. Kadang Nai pun bertanya-tanya, kenapa mereka begitu berbeda? Padahal Ayah dan Ibunya suka bercanda, tapi keturunannya malah kayak kulkas dua pintu.
Di tengah-tengah serunya berbincang, datang Yudha menimbrung obrolan mereka. Suasana makin terdengar riuh pada saat lelaki itu mulai mengoceh. Ada saja yang dibicarakannya yang kadang tanpa sadar, terdengar lucu.
Sementara mereka mengobrol persoalan orang tua, Andrea dan Zunaira memisahkan diri. Mereka pun mempunyai topik sendiri yang juga perlu dibicarakan. Terutama, soal pernikahan.
“Kamu mau pernikahan seperti apa?” tanya Andrea.
“Emm ... terserah kamu saja.”
“Aku nggak tahu terserah yang kamu maksud. Ganti kata terserah mu dengan yang lain.”
“Sederhana saja, tapi jangan di rumah ini. Di gedung.”
“Itu namanya mewah, bukan sederhana. Tempatnya saja sudah dikatakan sewa,” kata Andrea menanggapi permintaan Zunaira, “ya sudah, kirimkan gambar dekorasi yang kamu mau.”
“Aku juga mau kita tinggal sendiri ....” pinta Zunaira.
“Jangan khawatir, aku sudah menyiapkan semuanya,” kata Andrea menepis kekhawatiran Zunaira.
Demikian memang sudah Zunaira pikirkan matang-matang, jauh sebelum hari ini. Sebab, gadis itu memang sengaja menghindari pemandangan ganjil yang sangat tidak ingin dia lihat. Yaitu kemesraan pasangan pengantin baru, Mauza dan Sammy. Pria yang sebelumnya menjadi penghuni relung hatinya dan pernah dia pikirkan sepanjang waktu.
“Kamu mau minta mahar apa dariku?”
“Yang pasti nggak memberatkan mu, tapi juga nggak mempermalukan ku. Sesuai syariat saja.”
“Ada lagi yang kamu inginkan?” tanya Andrea lagi dan ditanggapi dengan gelengan kepala.
“Ya sudah. Lainnya menyusul.”
Ada banyak pengharapan yang Nai inginkan dari sosok Andrea. Utamanya, dia ingin secepatnya pergi dari sini menghindari Sammy dan Mauza. Lainnya, dia ingin Andrea menjadi obat sakit hatinya. Namun, jika demikian kenyataannya, apakah harapannya akan terwujud?
Entahlah. Nai hanya menjalani garis takdir yang sudah dipersiapkan oleh Tuhan untuknya. Pasrah, andai harus seperti ini.
♧♧♧
Resepsi sudah benar-benar selesai. Para dekorator pun, sudah mulai membongkar kembali barang-barang mereka untuk diangkut pergi.
Terkecuali orang tua. Hampir semua anggota keluarga inti pun saling membantu untuk membereskan perabot, lantai dan semua makanan yang tersisa. Membuatnya rapi kembali.
“Eh, udah-udah. Siapa yang suruh kamu bantuin?” Ray menghentikan tangan istrinya yang hendak mengambil piring kotor. Terlihat aneh di matanya seorang Zara melakukan pekerjaan remeh-temeh seperti itu. Sebab tak pernah sekalipun dia melakukannya.
“Tapi aku mau bantuin mereka cuci piring,” jawabnya tak mau dilarang.
Ray menahan tawa. Di saat semua perempuan telah jenuh melakukannya, istrinya malah ingin mencoba merasakan bagaimana repotnya pekerjaan itu.
Hmmm. Jangan sampai alasan lagi karena keinginan anaknya, ya. Kasihan anak kembarnya sudah terlalu banyak di fitnah oleh Mommy nya.
“Aku nggak izinin. Nanti baju kamu basah, tanganmu jadi buduk.”
“Masa sih?” Zara memang tak pernah percaya jika dia tak merasakannya sendiri.
“Udah, taruh piringnya di situ. Nanti banyak yang ngerjain. Kamu sudah harus istirahat, udah malem.”
__ADS_1
Zara menggelengkan kepalanya. “Nggak mau ... aku masih mau di sini liat orang.”
Rayyan keheranan. “Kayak nggak pernah liat orang aja.”
Wanita itu belum tahu bagaimana lelahnya suaminya hari ini. Belum lagi besok harus berangkat pagi untuk mengisi kajian di tempat yang lumayan jauh. Huh, gimana cara membujuknya? Ray berpikir keras.
Namun beberapa saat kemudian, dia terpikirkan sesuatu.
“Aku ambilin es batu, mau?”
“Mana?” jawab wanita itu terlihat antusias. Tanda pancingannya cukup berhasil.
“Ada tapi di kulkas atas, di bawah abis.”
“Kamu bohong, ya?” Zara menunjuk Ray dengan jarinya agar pria itu mau mengaku.
“Dih, nggak percaya!” sahutnya. “Kalau nggak dipaksa, dia nggak bakal mau secepatnya istirahat.”
Ray menunggu momen yang pas, hingga saat Zara kehilangan konsentrasi, Ray pun segera mengangkat tubuhnya dan sontak membuat wanita itu memekik. Mereka sempat diteriaki oleh orang-orang tatkala wanita itu dilarikan ke lantai dua.
“Duh, ada-ada aja ya anak muda, ya ampun!”
“Di usia pernikahan segitu mah, lagi seneng-senengnya, Jeng!”
Bisik orang-orang yang melihat.
“Mereka yang mau bulan madu sepertinya!” sindir Mauza kepada Sammy di sampingnya. Mereka sedang mempunyai kesempatan untuk dinner berdua saja. Karena kebetulan, semua orang sedang melakukan kesibukannya masing-masing.
“Siapa bilang cuma mereka? Kita juga mau bulan madu nanti malam, Miauw,” balas Sammy dengan senyum menyeringai.
Mauza tersenyum membayangkan apa yang akan terjadi nanti di sana. Ugh, nggak sabar cepet-cepet minta adegan seperti kakaknya tadi.
“Za ...” panggil Sammy.
“Hmmm.”
“Love you, Za,” ujar Sammy. Terkekeh sambil menunjukkan jarinya yang membentuk lambang cinta.
“Love u to, Sam,” balas Mauza tersenyum salting. Dia bahkan sampai menundukkan kepalanya dalam-dalam karena saking tak beraninya menatap wajah Sammy secara langsung.
“Kamu tahu nggak?”
“Apa?”
“Kamu itu cantiiiiik banget hari ini,” puji Sammy membuat Mauza semakin tak karu-karuan.
“Ah, masa, sih?”
Namun saking saltingnya, gadis itu malah justru mendorong Sammy terlalu keras sampai pria itu terjungkal dari kursinya.
Sammy mengaduh sakit, “Kenapa kamu dorong aku?”
Kedua bola mata Mauza melebar melihat Sammy terpental di lantai. “Eh, maap-maap, aku nggak sengaja, Sam!”
__ADS_1
Huh. Belum apa-apa udah KDRT.
Bersambung.