Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Ketemu Angel


__ADS_3

Bab 42


“Menurutmu?” Zara kembali melempar pertanyaan tersebut.


“Itu dia. Saya juga nggak asing melihatmu. Maaf ... ini bukan bermaksud modus. Saya sungguh-sungguh. Saya memang pernah mengalami kecelakaan yang membuat saya kehilangan ingatan.”


Drama macam apa ini? Lupa ingatan? Hah, yang benar saja!


Ray kembali berujar, “Saya nggak tahu harus memanggilmu siapa. Tapi kalau boleh ... apa saya bisa minta tolong?”


Zara mengatupkan alisnya bingung.


“Bisakah kamu mengantarku pulang?”


“Pulang?”


“Ya, pulang ke rumahku. Mama pasti mencariku sekarang. Tapi kata beliau, jangan asal minta tolong sama sembarang orang, takutnya orang jahat.”


“Terus kalau aku orang jahat gimana?” Zara mencoba mengikuti Ray yang dia duga sedang mempermainkannya.


“Sepertinya kamu bukan salah satunya.”


“Kamu salah, aku ini orang jahat. Dan aku bisa memakanmu hidup-hidup.”


“Orang jahat nggak akan mengakui kalau dirinya jahat. Memangnya nggak takut ditangkap polisi?” Rayyan terkekeh pelan. “Boleh aku pinjam ponselmu untuk menghubungi orang tuaku?”


“Memangnya Hpmu ke mana? Jangan alasan juga kamu nggak punya pulsa. Jaman apa ini sampai pulsa aja nggak punya.”


“Nggak ada HP di sini. Mama nggak bawain aku benda itu,” Ray menunjuk kanan kiri sakunya, “uang juga nggak ada.”


“Hentikan candaanmu, Ray!” seru Zara tak suka dipermainkan seperti ini, “maksud kamu apa, sih?”


“Tuh, kan. Kamu tahu namaku. Pasti kita saling kenal sebelumnya.” Merasa mengenal, dia pun mengganti kata ‘saya’ menjadi ‘aku’. “Demi Tuhan, aku nggak bohong. Aku memang amnesia karena kecelakaan.”


Zara tertegun. Dia menelisik bola mata jernih di depannya. Sepertinya tak ada yang salah dengan ucapan Ray barusan. Tak ada tanda-tanda bahwa pria ini sedang berbohong.


Ternyata waktu telah mengubahnya menjadi sosok yang sangat asing. Apakah Tuhan benar-benar mengabulkan keinginannya, agar mereka tak lagi saling mengenal? Ya, selamanya?


“Kalau nggak percaya, belahlah dadaku,” sambungnya lagi seraya terkekeh pelan.


Eh, apa ini? Pakai disuruh belah dada segala ya ampun.

__ADS_1


“Karena aku kenal papamu, Prof Yudha,” jawab Zara beralasan.


“Kalau begitu, berarti kamu tahu rumahku di mana. Iya kan?” Ray bertanya lagi, “aku benar-benar bingung.”


“Tapi aku sedang sangat sibuk, jadi kamu minta tolong sama orang lain aja, okay?” Zara gegas meninggalkannya menuju ke kasir. Namun diam-diam, di sana Zara memperhatikannya. Seperti apa yang dikatakannya barusan, Ray benar-benar berusaha meminta tolong kepada orang lain. Tapi sayang, mereka yang dimintai tolong, menolaknya. Mungkin mereka takut ini adalah modus baru sindikat kejahatan.


Ya Tuhan ... bisa-bisanya Rayyan; seorang yang ia kenal sangat pintar, hafal ribuan hadis, hukum-hukum islam, ayat-ayat alquran dan lain sebagainya jadi seperti orang bodoh seperti itu?


Ke mana Rayyan yang dulu? Rayyan yang sering dibanggakan oleh banyak orang termasuk dirinya?


Apa karena tak bisa menggunakan ilmunya dengan baik lantas Tuhan mengambilnya secara paksa?


Entahlah.


Usai membayar, Zara menunggu Cici di tempat yang mereka janjikan. Dia berusaha untuk bersikap tak peduli dengan Ray, meski hatinya sangat bertolak belakang.


Sampai kemudian, pertahanannya pun runtuh ketika melihat Ray menuju ke pintu yang mengarah ke basemen. Tatap matanya seperti mencari-cari seseorang dengan sangat bingung.


“Ra?” panggilan Cici dari belakang mengalihkan fokusnya, “kamu lagi liatin apa, sih? Aku dah selesai, nih. Yuk, pulang!” ajaknya menunjukkan hasil borongan belanjaannya sendiri.


“Tapi sepertinya kali ini kamu pulang sendiri, deh, Ci.”


“Kenapa?” tanyanya sambil nyengir, “ciye, mau pulang bareng ayang, ya?”


“Ya udah, aku pesen taksi online sendiri aja.”


“Sorry, ya, Ci...” Zara menahan rasa tak enak hati.


“Biasa aja, kali.”


Cici duduk di kursi tunggu yang di sediakan di depan kasir. Mengambil ponselnya untuk memesan taksi yang dia perlukan sekarang. Sebelum akhirnya mereka pun, berpisah. Zara keluar lebih dulu untuk menemui Rayyan yang masih berdiri di sana.


“Baiklah, aku akan mengantarmu pulang,” kata Zara akhirnya membuat Ray menoleh.


“Aku dah minta tolong sama sekuriti tadi. Dia sedang mencarikan taksi untukku. Tapi kalau kamu menawarkan, lebih baik aku ikut kamu aja,” katanya dengan senyum menyebalkan yang membuat Zara sontak memutar bola matanya.


Orang amnesia masih bisa genit juga, ya?


“Kamu pegang ini,” Zara menyodorkan kantong plastik bawaannya, “aku mau ambil mobilku dulu di sana,” dia menunjuk ke mobil Ford Mustang Ecoboost berwarna merah menyala.


Tak sampai lima menit, Zara kembali dengan membawa mobilnya. Di perjalanan, Ray menceritakan bahwa dirinya tadi ke tempat ini dengan Mamanya untuk ikut berbelanja. Tapi karena beliau pergi terlalu lama, Ray merasa bosan sehingga dia mencoba mencarinya ke dalam. Tapi malah tersesat.

__ADS_1


“Ini pertama kalinya aku keluar selama aku sakit. Dan aku suka melihat banyak orang,” katanya usai mengisahkan dirinya yang bosan karena terus di kurung di dalam rumah. “Kau belum memberitahukan namamu.”


“Angel,” kata Zara singkat.


“Ya, kamu memang Angel. Karena kamu seperti malaikat yang suka menolong.”


Zara hanya menatapnya sekilas. Hingga beberapa puluh menit berlalu, mereka sampai di kediaman Prof. Yudha Al Fatir yang dia browsing melalui perangkatnya.


“Wah, hebat. Kamu tahu rumahku tanpa bertanya,” kata Ray seolah merasa hal ini sangatlah menakjubkan baginya.


Namun Zara enggan menanggapi perkataan yang menurutnya aneh tersebut, “Turunlah. Pasti keluarga mencemaskanmu.”


“Nggak mau mampirkah?”


Zara menggeleng dan samar tersenyum, “Terima kasih. Tapi aku harus segera pulang.”


“Sampai ketemu lagi, Ngel...” kata Rayyan sebelum dia turun. Melambaikan tangannya dan mengucapkan terima kasih.


Sementara itu, Zara segera putar balik lantaran tak ingin keluarga Rayyan memergoki mobilnya yang sangat gampang sekali dilacak. Bukan karena benci atau sebab apa pun. Zara hanya tak ingin keluarga Rayyan jadi menduga-duga nantinya.


Sedangkan yang ditinggalkan justru senyam-senyum masuk ke dalam rumah. Tak peduli keluarganya begitu mencemaskannya.


“Ya ampun, Kakak!” pekik Mauza dan Zunaira mendapati kakaknya pulang seorang diri.


“Mama lagi nyariin Kakak di Mall, loh. Kok kamu malah pulang sendiri?” cecar Mauza, “Zunei, kamu telponin Mama, gih! Pasti Mama lagi panik sekarang.”


“Iya, Kak.” Zunaira kembali masuk ke dalam rumah.


“Kakak tadi cari-cari Mama di sana, Dek ... tapi nggak ketemu.” Rayyan menjawab pertanyaan Mauza.


“Lain kali kalau di suruh nunggu jangan ke mana-mana dulu sampai Mama balik, Kak....”


“Mama terlalu lama perginya. Aku bosan.”


“Tapi jadinya begini, kan... gimana kalau Kakak hilang? Besok-besok kalau kayak gitu lagi malah nggak dibolehin keluar lagi sama Mama, loh...” ancam Mauza yang tak terlalu di dengarkan. Sebab Kakaknya masih saja tersenyum tanpa merasa bersalah.


“Terus Kakak pulangnya sama siapa?” Mauza bertanya lagi.


“Sama malaikat.”


“Hah?” Mauza sontak melebarkan mata, “Malaikat apa?”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2