Jangan Sebut Namaku

Jangan Sebut Namaku
Dari Mana Mami Tahu?


__ADS_3

50.


“Belum paham siapa yang Mami maksud?” kata Miranda lagi untuk memastikan.


“Dari mana Mami tahu?” Zara memberanikan diri untuk bertanya. Terus terang, dia belum percaya seratus persen bahwa Fasad yang sedikit dia harapkan malah berpacaran dengan teman dekatnya.


Memang tak ada yang salah karena di antara mereka sudah tidak ada lagi hubungan sebatas apa pun. Tetapi andai itu memang benar, sungguh mereka tak punya etika. Apa dunia ini sempit sekali, sehingga mereka tak peduli menjalin hubungan dengan sembarang orang.


“Mami tahu semua ini karena Mami memang punya someone yang belakangan ini Mami pekerjakan untuk....” Miranda mengangkat dua jarinya membentuk tanda kutip, “karena Mami pikir, Mami sangat memerlukannya. Mami nggak mau kecolongan lagi seperti dulu, yang nggak tahu apa-apa tentang anak Mami.”


Miranda mendekati anaknya dan memeluknya tanpa mengatakan apa pun.


“Mami nggak pernah berubah, Mami egois....” ujar Zara kemudian.


“Karena Mami sayang sama kamu. Ingin yang terbaik buat kamu, Sayang.”


“Yang terbaik menurutmu, belum tentu baik menurutku, Mam. Kenapa nggak ada yang mau mengerti aku?”


“Mandilah, habis itu ganti bajumu. Nanti Mami buatin minuman anget biar tubuhmu fresh lagi.” Miranda melihat anaknya begitu kuyu hari ini, ditambah lagi dengan wajah murungnya.


Merenggang pelukan, Miranda kembali berujar, “Ayolah ... terima dan maafkan mereka. Jangan mempersulit diri dengan mengatakan tidak. Mami menjodohkan kamu dengan keluarga baik-baik, bukan sama sembarang orang. Keluarga mereka jelas dan Mami lebih tenang kalau kamu punya mertua seperti mereka.”


Zara memejamkan matanya dan menghela napas panjang. Sepertinya dia memang sudah tak lagi mempunyai pilihan.


“Kek nonton sinetron gue,” celetuk Mike membuyarkan fokus keduanya.


“Jangan dibiasakan ngomong lo gue sama orang yang lebih tua!” balas Zara melempar bantal hingga mengenai kepala bocah tersebut.


“Kakak ini, mentang-mentang artis jadi suka sekali drama,” dumelnya namun tetap sibuk bermain mobil ganjen di ponselnya.


“Adek ini, banyak omong.” Zara kembali melempar bantal meski itu tak berpengaruh apa-apa bagi Michael yang terus menatap layar. Sepertinya game mobil ganjen lebih seru daripada layar tancap barusan.


Usai mandi, Zara duduk di depan meja rias. Dia telah memakai salah satu dress yang Mami pilihkan untuknya beberapa saat lalu. Sisanya, sedang dibereskan oleh Devi untuk dikembalikan ke tempatnya.


“Dev ....” panggil Zara kepada gadis di belakangnya.


“Iya, Non?”

__ADS_1


“Udah datang tamunya?”


“Tadi, sih belum. Kalau udah Bibi saya dah heboh panggil-panggil saya suruh ngurus depan dulu.”


“Kamu lihat belakang sini udah beres, belum?” Zara meminta Devi mengecek kerudung bagian belakangnya. Sebab hijab syar'i yang dia pakai bukan jenis hijab bergo atau pun khimar, melainkan segi empat panjang yang dimotif sesuai dengan keinginannya.


“Udah, dong, Non... beres, cuakeep. Saya pun kalau laki-laki naksir kayaknya dah!” ucapnya terdengar sedikit lebay di telinga Zara.


“Mba Devi lebay, ih.”


“Itu muka beneran glowing asli atau ....”


“Beraninya kamu tanya gitu, hmmm?” Zara pura-pura marah dengan melebarkan matanya.


“Hehehe, saya yakin sih, asli. Tapi pasti perawatannya mehong, ya, Non?”


“Kepo kamu, mah. Potong gaji nanti.”


“Gapapa, yang penting potongnya jangan banyak-banyak.” Devi terkekeh sendiri dengan ucapannya barusan.


“Enak aja!” sungut Mike menyahuti.


“Giliran yang jelek-jelek aja, dia denger,” gerutu Zara keheranan melihat adiknya, “nggak capek itu mata lihat layar terus? Nanti lama-lama matanya makin mines, lho.”


“Walau pun matanya Mike minus, tapi Mike tetep bisa bedain mana uang mana daun. Mana cewek tulen mana bukan.” Ada sedikit sindiran di sana jika Zara menyadari, tapi tampaknya tidak.


“Ada aja jawabannya!”


Tak berapa lama, mereka mendengarkan suara sedikit gaduh dari arah tempat parkir. Miranda setengah menyerukan nama semua orang rumah agar mereka keluar.


“Tamunya sudah datang sepertinya, Non,” ucap Devi yang sontak diangguki oleh Zara. Gadis itu pun keluar. Dia menyambut ke semua orang yang memenuhi ruang tamu: Tante Vita dan suaminya, Umar, Mauza, Zunaira, dan tentu saja Ray yang paling beda sendiri. Zara enggan menyebutkan dia ....


Mengingat betapa sombongnya pria ini dulu padanya, yang mengira dia perempuan rendahan dan nggak pantas berteman dengannya.


Luka memang sudah kering. Tapi bekas, selamanya tidak akan pernah hilang.


Setelah bersalam-salaman dan saling menyambut, semuanya duduk dan menikmati hidangan yang tersedia. Sesekali anak-anak Vita melempar canda tawa, karena Umar dan Mauza akan tetap berantem di mana pun mereka berada.

__ADS_1


“Maaf kalau terganggu, ya, Bu. Anak kembar saya ini memang berisik...” ujar Vita merasa tidak enak kepada keluarga Zara.


Tapi tampaknya mereka tak mempermasalahkannya, karena Miranda justru lebih tertarik dengan ucapan anak kembar yang Vita katakan. Wanita itu takjub, kok bisa mereka punya anak kembar laki-laki dan perempuan? Mengingat dirinya sendiri yang sangat sulit hamil.


“Oh, jadi dua anak ini kembar?” tanya Miranda segera sambil menunjuk anak yang dimaksud.


“Iya, kembar sialan,” seloroh Yudha membuat semua orang tergelak tawa, “berantem terus di mana-mana. Biang masalah, bikin pusing. Cuma ini yang paling kalem.” Pria itu mengusap puncak kepala Zunaira yang menunduk malu.


“Anak sendiri kok, dibilang sialan,” Umar menggerutu tak terima dikatakan demikian. Dia dengki sekali dengan Zunaira yang tak pernah disalahkan. Tak seperti dirinya yang kena omel setiap hari, terutama dari mamanya. Untung dia memiliki mental beton. Jadi tetap kuat walau tertimpa omongan deras sebesar badai pun.


“Umar, Mauza kalau lagi bertamu itu harus sopan... nggak enak sama Tuan Rumah,” Vita menasihati.


“Ah, gapapa, Bu Vita ... buat seru-seru. Daripada terlalu kaku. Kalau seperti ini kan, jadi gampang akrab.” Miranda menimpali.


“Oh, ya. Anak Bu Miranda satu lagi di mana?”


“Dia lagi di kamar kakaknya tadi. Mungkin lagi main game. Biasalah, kalau udah main itu, nggak bakal bisa diganggu kecuali gempa bumi.”


“Kecanduan, ya, Bu?”


“Iya, mana bisa dilarang anak sekarang? Bisa-bisa barangku pecah semua kalau hpnya diumpetin.”


“Ngeri juga, ya?”


“Anak jaman sekarang jarang ada yang berguna. Jadi beban keluarga, mah iya.”


Sementara mereka mengobrol, Ray sesekali melihat gadis cantik yang paling diam sendiri. Dia tengah mengaduk-aduk makanan di depannya seperti tanpa selera. Dari wajahnya seperti tengah memikirkan sesuatu yang teramat berat. Lantas ketika gadis itu beranjak ke belakang, Ray pun ikut menyusulnya.


Ini disadari oleh semua orang yang ada di sana, tapi mereka seolah tak peduli dan berbisik setelah mereka pergi.


“Biarin aja mereka ngobrol. Memang seharusnya begitu. Anggap aja supaya mereka bisa lebih dekat lagi. Siapa tahu, memang ada hal yang perlu mereka selesaikan,” ujar Vita yang langsung disahuti oleh Umar.


“Mang kaga ngapa-ngapa, nggak ditemenin?”


“Emangnya mereka sama kayak kamu?” kata Mauza kesal bukan main.


Lagi-lagi mereka dibuat terpingkal-pingkal. Ya, ampun ... kena lagi gue. Senjata makan tuan, hati Umar amat jengkel.

__ADS_1


__ADS_2